Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Hari yang Semakin Dekat


__ADS_3

"Garrin senang banget waktu aku bilang, kalau kita mau jalan hari ini," cetus Johana tak memelankan laju mobil yang dikemudikannya.


"Oh ya? Kenapa?"


"Katanya, kalau aku bisa temenan sama Hanna Aleesa, nggak lama lagi aku pasti kebawa sama caranya berpakaian, dikit-dikit bisa tahu ilmu agama dari setiap kita ngobrol. Jadi gitu, dia dukung banget begitu tahu sekarang kita temenan."


"Apa sih, aku nggak sehebat itu kok. Aku juga kayaknya dapat ilmu dan pengalaman dari bergaul sama ibu-ibu kompleks."


"Oh iya, ngomongin soal ibu-ibu, aku kemarin ada lihat kursus masak bikin-bikin kue gitu. Kalo nggak salah kamu juga jago bikin kue, kan Hann? Kenapa nggak coba juga?"


"Udah lama sih aku punya pikiran itu, tapi boro-boro mau ngadain kursus, Mas Adrian aja nggak kasih aku bikin kue-kue lagi."


"Sorry to say it, tapi aku nggak ngerti dengan kehidupan kalian berdua. Dari luar kalian kelihatan seperti pasangan sempurna, bahkan Pak Adrian bisa sampai sesayang itu sama kamu. Tapi kenapa juga pada akhirnya harus masukin Karinda ke tengah-tengah kalian?"


"Okay, maaf banget kalau kesannya aku jadi ikut campur."


"Nggak kok, sebenarnya aku juga penasaran sama jawaban dari pertanyaan kamu tadi." Aku menurunkan pandanganku.


"O, okay ..., kenapa kita nggak bahas yang lain aja? Kamu nggak ada niat mau ambil master? Selagi masih muda, kan? Atau jangan-jangan ..., Pak Adrian juga nggak kasih izin?" tanyanya beruntun.


"Yah, begitulah."


"Maaf ya, Hann. Tapi kalau menurutku, seorang suami itu nggak berhak menghalangi impian istrinya. Justru peran suami itu mendukung terus selagi bisa, mendukung secara finansial juga emosional. Jadi, kalau emang kamu serius mau ambil master, kamu harus tahu betul alasan apa yang mendasari Pak Adrian menolak kamu ambil master. Kalau alasannya nggak masuk akal, pasti akhirnya dia luluh juga kok."


"Thanks, Jo. Tapi untuk sekarang aku belum minat ambil master sih. Mungkin nanti setelah lahiran."


Jo menatap ke arah perutku yang belum tampak adanya perubahan. "Sehat-sehat di dalam sana, ya, Nak .... Mama kamu orang yang kuat banget loh, Tante Jo sampai salut," ucapnya mengusap lembut perut rata itu.


Pukul tujuh malam, ketika mobil itu sampai di pekarangan rumah untuk mengantarku. Setelahnya aku berterimakasih, sementara Jo mengarahkan mobilnya keluar, menuju ke rumahnya. Seharian ini cukup melelahkan, tapi alhamdulillah sangat menyenangkan karena bisa tahu banyak hal yang belum kutahu sebelumnya, bertukar opini, dan banyak hal lain yang menyenangkan hari ini.


Begitu tangan ini meraih gagang pintu masuk utama, seseorang berjalan mendekat. Yah, sepertinya Mas Adrian juga baru pulang dari pekerjaannya. Ia berjalan dari garasi mobil.


"Assalamualaikum, Barusan pulang juga? Siapa yang antar?" tanyanya.


"Wa'alaikumsalam. Iya, diantar Jo barusan. Kamu juga baru pulang?" tanyaku melihatnya dari atas ke bawah.


"Iya." Mas Adrian menggaruk tengkuknya kikuk.


Apa-apaan ini? Kenapa jadi canggung gini?


"Masuk, yuk!" ajaknya dengan nada aneh.

__ADS_1


"Iya."


Semua yang dikatakan Johana tadi tak dapat dipungkiri membuatku kepikiran meski sudah sampai rumah. Di samping itu, ini bukan hal biasa ketika tiba-tiba Mas Adrian berlaku canggung seperti sekarang. Bahkan untuk menanyakan kabar atau apapun yang ia lakukan hari ini saja rasanya sangat kaku. Kami tak berbicara lagi satu sama lain dalam beberapa puluh menit, hingga kami yang sama-sama akan masuk ke kamar mandi.


"Oh, mau mandi? Duluan aja," ujarku spontan mundur dari pintu.


"Nggak usah, aku mandi di luar aja. Kamu aja yang pakai." Mas Adrian berjalan ke arah pintu kamar.


"Nggak kok! Masuk aja, aku masih bisa mandi agak nanti. Lagian kamu bau banget." Aku mengatakannya tanpa berpikir, tapi kalimat yang terakhir sengaja kuucapkan agak pelan.


Mas Adrian berjalan kembali ke tempatku berdiri. "Bau?" tanyanya tak berani kutatap sedikit pun.


"Nih, bau!" Ia mengejutkanku dengan pelukan eratnya yang tiba-tiba."


"Hey! Hey! Jangan asal peluk, mandi dulu sana!"


"Nggak mau ...!"


"Mas ..., jangan gitu dong. Iya iya, kamu nggak bau, aku cuma nggak mau Mba Rina sama Mba Puput lihat pemandangan yang nggak seharusnya mereka lihat."


Oh wait, aku ngomong apa barusan!


Mas Adrian bungkam, ia meraih tanganku, membawanya menyentuh langsung perut enam kotaknya. "Maksud kamu .... ini?"


"Hey! Mau pergi gitu aja?" Lagi-lagi jantungku tak terkontrol ketika tangannya menahanku.


"Kalau kamu mau tinggal bilang, nggak perlu malu-malu gini. Emangnya berapa kali kamu lihat aku ng-"


Cepat, kutempelkan kedua tanganku ke mulutnya. "Udah, aku mau mandi."


"Ikut ...!"


"Enggak!"


"Ikut dong ...."


"Nggak mau!"


...----------------...


Pukul sepuluh malam, sebelum aku merebahkan tubuh dan bersiap untuk mengarungi alam mimpi, tak sengaja aku melihat kertas dalam amplop coklat di atas meja dekat ranjang. Persetujuan pernikahan. Tulisan yang tertera di sana semakin meyakinkanku untuk membacanya. Sebelumnya aku belum pernah serius membaca isi kertas itu.

__ADS_1


Yah, pada intinya memang tidak ada yang perlu aku cemaskan mengenai tindakan-tindakan kurang adil. Semuanya hanya tentang pembagian dan pembagian. Mulai minggu depan, aku akan tetap menempati kamar ini. Setiap hari Senin sampai Rabu Mas Adrian akan tidur di sini, dan Kamis sampai Sabtu ia akan tidur di kamar Khadija. Sisanya, di hari Minggu, Mas Adrian bisa menentukan sendiri ingin tidur di mana.


Awalnya kukira keluarga Khadija tak begitu mempedulikan soal harta dan keuangan, tapi sepertinya ekspektasiku bertolak belakang dengan realita. Mereka juga mencantumkan berapa nominal uang belanja dan nafkah istri yang harus diberikan kepada Khadija setiap bulannya. Berhubung status Khadija yang saat ini masih menjadi mahasiswi, aku tak menyalahkan nominal yang mereka minta.


Dan lagi, Mas Adrian hanya menarik kartu kreditku yang tidak bisa ia berikan ke Khadija. Selain kartu-kartu itu, ia sama sekali tak mengurangi jatah uang bulananku sedikit pun. Jujur, ini cukup mengkhawatirkan jika dibiarkan.


"Belum tidur lagi?"


Aku segera mengembalikan kertas itu ke tempatnya. "Ini mau tidur," cetusku menarik selimut setengah badan.


"Sayang, aku punya sesuatu. Mau baca nggak?" tanyanya menyodorkan sebuah amplop.


"Dari siapa?" tanganku menerima amplop itu diikuti dengan tubuhku yang perlahan keluar dari selimut.


"Baca dong ...."


"Kepada yang terhormat, Adrian Al-Faruq di tempat. Bla bla bla, dan pengajuan kepada saudara untuk mengajar mata kuliah ekonomi makro selama satu tahun atau dua semester. Kontrak ini masih bisa diperpanjang dengan ketentuan yang ditetapkan oleh universitas kota B."


Aku melihat senyum di wajah Mas Adrian. "Kamu terima?"


"Rencananya sih gitu. Bosan juga lama-lama di kantor. Mau coba cari suasana baru."


"Aku dukung kalau itu yang kamu mau. Asal jangan aneh-aneh aja sama mahasiswinya."


"Iya, istriku ...."


"Oh ya, Mas. Aku boleh tanya sesuatu tentang keuangan kita?"


"Tanya apa?"


"Itu .... soal jatah bulanan sama uang belanja. Cuma mau mastiin aja emangnya uang bulanan kamu aman kalau harus dibagi ke dua orang dengan nominal sebesar itu?"


"Kamu lebih khawatir soal itu daripada kartu kredit kamu yang aku ambil?" Mas Adrian balik bertanya dengan nada heran.


"Abisnya aku bukan berasal dari keluarga kaya raya yang selalu dituruti kemauannya. Jadi, hidup sederhana pun aku udah biasa. Karena itu, kupikir akan lebih baik kalau mulai bulan depan uang bulananku dikurangi aja."


"Aku udah perhitungkan semuanya. Kamu nggak perlu khawatir, dan jangan menahan diri kalau ada sesuatu yang mau kamu beli. Bilang aja."


Nyatanya kini, satu-satunya yang nggak rela untuk aku bagi dengan orang lain bukan lagi uang atau kekayaan.


...----------------...

__ADS_1


Waktu yang berganti jauh lebih cepat dari bayanganku. Enam hari yang tersisa sangat cepat berlalu hingga hari itu pun datang. Bertempat di aula rumah kami yang telah didekorasi sedemikian rupa, aku menyaksikan langsung.


__ADS_2