
“Iya, aku tahu kamu pasti mau bilang kalau itu hanya persoalan dunia, tap–”
Dua tanganku telah berhenti pada leher Adrian dengan posisi sedekat ini. Aku menghentikan kalimat Adrian seperti ketika ia menghentikan kalimatku. Berebut oksigen dan saling mengimbangi kemampuan kami hingga AC ruangan tak sanggup mendinginkan tanganku yang bersentuhan langsung dengan epidermis dada bidang itu.
Adrian melepaskan napas besar-besar dengan sedikit terengah, “Should we ....”
“Continue on the bed?” Aku menatapnya dengan tatapan intens.
Setelah mengunci pintu kamar, kami seolah lupa di mana kami berada, dan bagaimana sebelumnya Mas Adrian bersikeras menolak untuk tidur di sini. Kami juga tak lagi memikirkan pil kontrasepsi yang belum diminum, atau apa pun lagi selain menuntaskannya malam ini. Seakan tak ada malam lain selain malam ini.
Aku bahkan lupa pada suara-suara yang spontan keluar dari mulutku akibat semua yang dilakukan Mas Adrian. Tak peduli apakah orang di luar akan mendengar kami yang berisik semalam, ataukah suara kami mengganggu. Hasrat mengalahkan waktu.
Saat suara Adzan subuh berkumandang, seperti biasa Mas Adrian telah duduk di atas sejadahnya dengan jari-jari yang terus bergerak. Setelah turun dari tempat tidur menuju kamar mandi, aku pun segera menyusulnya kemudian melaksanakan alat subuh berjamaah seperti biasa. Mungkin rumah mewah, asisten rumah tangga, kamar yang luas dan bagus itu akan hilang, tapi aku berharap keindahan salat subuh berjamaah tak hilang begitu saja.
Selepas salat subuh dan tadarus seperti biasa, pagi itu Adrian merebahkan badannya. Menjadikan kedua pahaku sebagai bantal dan menutup matanya dengan kedamaian. Meski ini sudah 3 bulan setelah kami menikah, tapi rasa berdebar ketika ia menggenggam satu tanganku masih selalu ada. Lirih suara yang keluar dari bibir itu, sanggup menggetarkanku kapan saja. Mungkin itulah rasaku yang hanya mengalir pada satu orang, Adrian Al-Faruq.
“Selama ini aku terlalu sombong karena merasa hartaku di dunia ini akan selalu jadi milikku. Tapi di sisi lain aku juga sangat beruntung karena memiliki seorang wanita sebaik Hanna Aleesa,” tuturnya seraya meletakkan tanganku di atas dada bidang yang juga berdebar itu.
“Kamu satu-satunya yang pernah dan akan selalu kucintai, Aleesa” lanjutnya.
Mendengarnya memanggilku dengan nama Aleesa, seakan aku menjadi satu-satunya wanita paling beruntung di dunia mendapati pria sebaik Mas Adrian menjadi suamiku. Aku juga merasa Mas Adrian adalah satu-satunya yang istimewa hingga memanggilku dengan nama yang jarang disebut orang lain.
Setelah cukup lama berada di posisi itu, mengeluarkan kata-kata indahnya yang memerahkan pipiku, dan becanda melepaskan gusar, kami segera bangkit ketika matahari mulai naik dengan cahaya silaunya memasuki celah jendela kaca. Aku memberikan surat dari Ummi malam tadi kepada Mas Adrian untuk dibaca. Ketika membuka amplop itu dan membaca isinya, seketika guratan gusar dan sedih pudar dari wajah Mas Adrian.
“Apa isinya, Sayang?”
“Tawaran untuk jadi dosen di kampus kamu,” balasnya tersenyum tak menyangka.
Aku pun membelalak sekaligus menganga, “Hah? Yang bener?”
“Iya, masya Allah, aku nggak nyangka rezeki akan datang secepat ini setelah musibah kemarin.” Mas Adrian memelukku dalam, enggan melepasnya sampai bermenit-manit berlalu.
“Alhamdulillah.”
“Tapi, untuk jadi dosen di Univ itu, kita harus cari kontrakan dekat-dekat sana,” ucapnya lirih.
“Nggak apa-apa, biar aku yang bantu cari kontrakan dengan harga termurah, nanti aku juga bisa tanya ke teman-temanku rekomendasi kontrakan murah dekat sana,” timpalku menghiburnya.
__ADS_1
“Syukron katsiron, yaa Zaujah,”
“Afwan,”
Kebahagiaan pagi itu sungguh membuka sedikit jalan buntu yang membebani kepala kami. Kegusaran, gelisah, dan takut yang menyelimuti sedikit terkikis bersama dengan datangnya berita itu. Kami pun memutuskan keluar setelah terdengar suara Asisten Rumah Tangga Ummi memanggil dari luar untuk sarapan.
Hanya memerlukan beberapa menit untuk menghabisakan makan pagi itu bersama Ummi dan keluarga kakak ipar. Kebahagiaan yang kami rasakan juga sepertinya menular kepada mereka meski tanpa harus kami ceritakan detilnya.
Pukul sembilan pagi, aku dan Adrian keluar dari rumah Ummi mertua. Mobil ini mengantarkan kami pada rumah mewah yang beberapa hari ke depan akan kami tinggalkan. Hilang beban satu, akan datang beban lainnya, begitulah ketika kita menghadapi persoalan dunia. Kini kami tinggal mencari kontrakan dengan harga yang terjangkau untuk tempat tinggal kami di sana.
Aku juga mulai berpikir untuk mencari pekerjaan agar ekonomi keluarga kami bisa membaik. Karena kini, aku bersama Mas Adrian benar-benar akan memulai semuanya dari garis start dan meninggalkan finish yang sudah pernah kami rasakan bersama.
"Gimana kalau kita tinggal di rumah yang aku tempatin waktu kuliah?" cetusku antusias.
"Rumah siapa?" tanyanya bingung.
"Secara teknis itu rumahku sih. Ya, walau nggak sebesar rumah ini, tapi lebih baik daripada kita bingung nyari kontrakan. Gimana?"
"Aku nggak perlu rumah besar, Sayang. Aku cuma mau bikin kamu senang nerima kondisiku, aku khawatir kamu akan berpaling dengan keadaan kita yang sekarang."
"Ini janjiku sebelum kita menikah, Mas. Aku nggak akan berpaling sebelum kamu yang berpaling lebih dulu dariku. Kecuali kamu bikin aku sakit hati, aku janji untuk bertahan sama kamu apapun kondisinya."
"Sepertinya Tuan muda masih perlu adaptasi dengan lingkungan baru. Aku ngerti kok," candaku diiringi gelegak tawanya.
"Tapi ... yakin kita bisa tinggal di sana tanpa asisten rumah tangga?"
"Why not? Aku udah empat tahun tinggal sendiri, bahkan dua tahun tinggal sendiri di negeri orang. Kan kamu sendiri yang bilang kalau aku juga cukup kompeten soal urusan rumah tangga," ujarku membanggakan diri sendiri.
Tangannya mengusap kepalaku lembut, "Kamu lebih dari istri pintar, kamu yang paling bisa diandalkan, Hanna Aleesa-ku," pujinya membuatku tersenyum sendiri.
“Sekarang, gimana kalau kita ke rumah Ayah-Bunda. Meskipun rumah itu udah atas nama kamu, tapi lebih baik kita minta izin sama Ayah-Bunda dulu, kan?”
“Sekarang? Sepagi ini?” tanyaku tak bersemangat.
“Kenapa enggak? Lebih cepat lebih baik, kan ….”
“Emang kamu nggak cape, ya?” tanyaku lagi menatapnya gemas.
__ADS_1
“Cape kenapa?”
“Ah, kamu selalu gitu deh, secepat itu lupa sama kejadian semalam. Atau kamu ini emang nggak pernah ada capenya? Kita ini manusia loh, butuh istirahat. Pinggangku aja masih linu gara-gara semalam.”
“Oh, itu toh. Maaf deh, lain kali aku lebih cepat, Sayang,” ucapnya kemudian menciumi bahu hingga leherku.
*****
“Sebenarnya Ayah minta kalian bisa sering-sering ke sini. Tapi Bunda ngerti, Adrian pasti sibuk, jadi Ayah yang harusnya bisa ngertiin anak-anaknya,” curhat Bunda.
“Siapa sih? Ayah mana pernah bilang gitu,” sahut Ayah membela diri.
“Ayah mah gitu, giliran anak-anaknya udah ngumpul sok nggak peduli. Padahal kalau seriap hari kerjaannya ngomel-ngomel, Zahra kenapa nggak ke sini ... Hanna kapan mau ke sini ... Adrian sama Ali juga kenapa sibuk banget setiap harinya.”
“Sekarang, kan Kak Hanna udah di sini, emang Ayah mau kasih apa gitu buat Kak Hanna? Wejangan? Atau warisan mungkin,” canda Harun ikut berkomentar.
“Normalnya seorang Ayah, pasti senang kalau anak-anaknya ngumpul begini. Kalau pun nggak ada warisan untuk dibagi, Ayah masih punya wejangan untuk kalian.”
“Oh iya, gimana kabar Ummi?” tanya Bunda.
“Alhamdulillah Ummi sehat-sehat, Bun, kami juga baru dari sana kemarin,” jawab Mas Adrian lugas.
“Alhamdulillah, soalnya beberapa hari yang lalu Bunda ketemu sama Ummi kamu di Apotek. Katanya cuma nggak enak badan, tapi syukur deh, kalau sudah sehat-sehat saja sekarang.”
“Kak Zahra nggak main ke sini lagi, Bun?”
“Nggak … dia kan udah masuk bulan ke delapan, jadi … yah, Bunda ngertilah.”
Seusai bincang-bincang di ruang keluarga sembari menunggu waktu salat Isya’, Harun yang sejak tadi mendengarkan obrolan kami memilih untuk kembali ke kamarnya. Sepeninggal Harun, Mas Adrian pun mulai mengganti topik sesuai dengan tujuan kedatangan kami.
“Sebenarnya tujuan kami datang ke sini malam ini untuk meminta izin kepada Ayah dan Bunda. Mengenai rumah yang ditinggali Hanna sewaktu kuliah, kalau diizinkan kami mau menempati rumah itu untuk sementara waktu,” ungkap Mas Adrian akhirnya.
“Iya, Yah, Bun, jadi Mas Adrian dapat tawaran menjadi dosen di kampus Hanna dulu. Kalau kami menempati rumah itu, Mas Adrian jadi lebih mudah pulang-perginya,” tuturku menambahi.
“Tentu saja kami mengizinkan, lagipula rumah itu sudah jadi milik Hanna sepenuhnya. Tentu saja kalian berhak menempatinya. Ayah juga senang kalau rumah itu ditempati lagi, rumah itu punya nilai sejarah tersendiri untuk kami.”
“Alhamdulillah, terima kasih banyak, Yah.”
__ADS_1
“Nggak perlu terlalu berterima kasih."
"Meski rumah itu nggak besar, jauh dari kata mewah, tapi Inshaa Allah tetangga di sana baik-baik semua.” Mendengar penuturan Ayah, Mas Adrian tersenyum senang seraya melihatku.