
"Selamat datang di rumah kita!" sambutnya senang, menunjukkan senyum yang tak jauh berbeda dari yang kulihat sebelumnya.
Setelah meletakkan koper merah berisi pakaianku ke lantai marmer putih bercorak abu itu, aku menatapnya heran. Beberapa menit yang lalu ia tak mengajakku bicara, bahkan membuat suasana antara kami begitu canggung. Kenapa sekarang ia berteriak tampak seperti tak memiliki beban sama sekali? Apakah ia sengaja berakting untuk menghalau kecanggungan ini?
Jantungku seperti melompat-lompat ketika Pak Adrian tiba-tiba memelukku dari belakang, "Maaf udah bikin suasana jadi canggung selama di mobil tadi, sebenarnya aku enggak nyaman karena ada Erwin dan driver pribadinya ummi." Bisiknya lirih tapi masih sanggup kudengar. Tak hanya bisikannya saja, napasnya, bahkan detak jantung pria itu sanggup kudengar walau hanya beberapa saat.
"Okay, sekarang udah enggak perlu sungkan lagi, sekarang saatnya house tour!" Ajaknya seraya menarik tanganku.
Ia mengajakku berkeliling, mulai dari basement hingga ke lantai tiga. Ia menjelaskan ruangan-ruangan yang ada seperti : dapur, kamar tidur, home theater, ruang makan, ruang tamu, aula, ruang cuci, ruang keluarga, ruang penyimpanan koleksi, kamar mandi luar, ruang kerja, gudang, mini studio, ruang billyard, ruang pengetahuan, perpustakaan, mushalla, ruang gym, ruang kendali, gudang, kolam renang, hingga ruang kosong yang belum difungsikan. Ia menjelaskan begitu detil layaknya seorang tour guide.
Sepertinya Adrian berusaha kerasa agar tembok canggung antara kami bisa runtuh. Aku pun tak ingin membuatnya kecewa karena usaha kerasnya itu tak berhasil. Meskipun jujur saja aku sangat takut dan jantungku berdegub tak menentu, tapi aku tak boleh menunjukkan ketidaknyamananku di depan Adrian yang kini telah sah menjadi suamiku
"Hmm ... boleh saya tanya satu hal?"
"Silakan, mau nanya apa? Hm?"
"Malam ini ... sa, saya ... tidur ... di mana, Pak?"
Hening sejenak, aku terdiam karena memikirkan pertanyaanku. Kenapa aku bertanya “Saya tidur di mana?” apa artinya malam ini aku dan Adrian enggak akan tidur di satu tempat?
"Kamu pasti cape, ya? Maaf sampai lupa kalau kita juga butuh istirahat. Sebelah sini, ikut aku," ajaknya lagi tanpa canggung. Kami menaiki tangga sampai ke lantai tiga. Ia berjalan di depanku membawakan koper merah milikku.
Aku menghela napas panjang setelah memasuki satu ruangan luas dan mewah yang ditunjukkannya. Kurasa kehidupannya sebelum ini terlalu boros untuk ukuran pria lajang. Kamar semewah dan seluas ini hanya untuk satu orang, bukankah agak keterlaluan. Lebih dari penampakan kamar di hotel bintang lima, kamar ini memiliki fasilitas yang lebih lengkap.
Kamar yang sangat luas ini diisi oleh mini bar yang lengkap dengan mesin kopi, sofa, ruang kerja, proyektor, bahkan peralatan untuk bermain VR game. Kamar ini juga memiliki walk-in closet sendiri, kursi bantal, mini akuarium, dan kolam ikan. Siapa yang menyangka akan menemukan ruangan seperti ini di dunia.
Dengan gerakan tiba-tiba, kembali Pak Adrian mengejutkanku. Kurasakan satu tangannya melingkar di perutku, mengunci pergerakanku. Pak Adrian bernapas panjang hingga terdengar embusan napas hangatnya menyentuh kulitku. Degup jantungnya pun terdengar dari posisiku saat ini. "Kalau di rumah, lepas aja hijabnya, ya?" bisiknya sembari melepas perlahan hijab yang kupakai saat itu.
Ketika rambut hitam sebahuku terurai, aku berbalik namun hanya berani menundukkan pandangan. Peralahan, tangan kanannya mengangkat daguku sehingga arah pandanganku pun ikut berubah. Tanpa mengatakan sesuatu, Pak Adrian sudah membawaku mendekat padanya. Bibir kami bersentuhan untuk pertama kalinya, sentuhan itu secara bertahap berganti menjadi kecupan, pagutan, hingga permainan lidah yang tak bisa kuimbangi.
Pak Adrian paham betul apa yang harus dilakukannya untuk menyibukkan bibirku. Lamanya bibir kami saling berpagutan, hingga kami saling berebut oksigen, dan akhirnya Pak Adrian pun melepasnya. Menempelkan keningku dengannya, membuat jarak kami menjadi sangat dekat. Aku tak tahu lagi detak jantung siapa yang kudengar saat itu, karena yang kutahu Pak Adrian pun sama berdebarnya.
"Setelah ini ... apa kamu masih akan memanggilku dengan sebutan 'Pak'?" tanyanya.
"Kenapa emangnya?"
__ADS_1
"Apa enggak ada panggilan lain untuk suamimu ini?"
"Kamu mau dipanggil apa?" Aku melihat kedua telinganya yang memerah. Kuberanikan tangan ini menyentuh sebelah pipinya.
Ia mengembuskan napas berat, menatapku sejenak, "Cepatlah mandi, aku setelahmu. Kita harus segera istirahat kecuali kamu mau bangun kesiangan, besok," ucapnya seperti anak kecil yang merajuk berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
Aku pun mengambil piyama dari koper kemudian bergegas menuju kamar mandi. Setelah mengunci pintu kamar mandi, tubuhku terjatuh ke lantai kamar mandi itu. Kedua kakiku lemas, detak jantungku tak bisa dikontrol untuk berdetak konstan. Bahkan dapat kulihat mukaku memerah dari cermin kamar mandi. Amat sangat menakutkan setiap saat berada dekat dengan Pak Adrian.
Jantungku serasa mau copot dibuat melompat-lompat olehnya. Pikiranku seakan kosong bila ia terlalu dekat denganku. Apalagi suara baritonnya itu seakan mantra yang menghipnotis. Pikiranku rancu berargumen macam-macam tentang Pak Adrian yang bahkan tak mampu bibir ini menyebut namanya secara langsung.
Dua tanganku mengipas-ngipaskannya ke muka yang terasa panas. Sejenak melihat ke cermin di kamar mandi, tanganku beralih pada bibir ranum yang baru saja terjamah untuk pertama kalinya.
Ayah! Bunda! Anakmu ini akan melalui kehidupan dewasa sebagai istri orang …! Teriakku dalam hati membuat jantungku seakan hendak meledak.
Setelah dua puluh menit di dalam kamar mandi, aku telah selesai membersihkan badan dan sedikit rileksasi dengan air hangat, tubuhku pun terasa jauh lebih segar dari sebelumnya. Saatnya benar-benar istirahat di ranjang empuk nan nyaman untuk sekarang. Aku baru hendak mencari hair dryer, namun ternyata apa yang aku cari sudah tersedia di atas meja rias.
Click! Pintu kamar terbuka dengan kedatangan seseorang.
"Apa semua wanita selalu mandi selama ini, aku barusan mandi di bawah karena enggak tahan udah gerah banget nungguin kamu keluar dari kamar mandi," tuturnya berkacak pinggang.
Dengan wajah santainya ia mendekat ke meja rias tempatku mengeringkan rambut. "Mau aku bantu?" tawarnya singkat yang segera saja kutolak.
"Terima kasih, aku bisa sendiri."
"Baiklah." Adrian kembali menjauh dariku.
Aku melanjutkan aktivitasku mengeringkan rambut sampai benar-benar kering, agar bisa tidur lebih nyenyak. Beberapa menit berlalu, Pak Adrian kembali bungkam tak bersuara, juga tak mengajakku bicara. Kulihat dari pantulan cermin, ia sedang fokus duduk di sofa kamar dengan laptop di pangkuannya. Di atas meja di sebelahnya, secangkir kopi yang masih panas tersaji. Aku pun mendekatinya meski jantungku tak bisa diminta berhenti berdebar.
"Sedang apa, Pak?"
Aih ... Bibirku ini masih saja memanggilnya 'Pak'. Padahal dalam pikiranku aku bisa menyebut 'Adrian' dengan sangat mudah.
Ia memandangiku beberapa saat begitu mendengarku masih tak memanggil namanya, "Ada ... sedikit urusan kantor," balasnya kemudian.
"Di malam pertama pun masih harus ngerjain urusan kantor?" cetusku tanpa pikir panjang.
__ADS_1
Ia segera menutup laptopnya, meletakkannya ke atas meja di depannya. Tangannya tiba-tiba menarik tubuhku duduk dipangkuannya dengan posisi memunggungi Adrian sebelum aku sempat menghindar.
"Emangnya kalau malam pertama kita harus ngapain?" Tanyanya dengan nada menyeringai.
Aku membelalak serta merta menelan salivaku sendiri. "Ti, tidurlah, Pak. Istirahat," balasku gugup. Posisi ini benar-benar mengganggu keberanianku untuk berbicara leluasa. Apalagi Adrian masih telanjang dada di suhu ruangan sesejuk ini.
“Oh … tidur, sepertinya kamu lebih paham soal malam pertama, ya, aku enggak tahu apa-apa tuh soal malam pertama, jadi … kamu bisa mengajariku, kan?” bisiknya dengan napas yang langsung mengenai kulit bahuku.
Kukira Pak Adrian adalah pria yang sangat menjaga harga dirinya. Tapi dia tetap seorang pria yang menginginkan kontak fisik, dan berbicara dengan nada seksi untuk menggodaku. Sisi Pak Adrian yang seperti ini sama sekali tak terbayang di pikiranku sebelumnya. Sebelah tangannya tak mau diam ketika tangan kirinya melingkar erat di perutku.
"Hmm, Bapak kenapa minum kopi malam-malam gini? Kalau enggak bisa tidur gimana?" lanjutku berusaha mengalihkan topik.
“Mungkin itu artinya ... kita nggak akan tidur di malam pertama,”
"Mmh ...!"
Aku merutuki diriku sendiri dalam hati. Semua perkataanku yang berusaha menjauh dari topik 'malam pertama' terus-terusan dipatahkannya hingga aku kehabisan ide untuk berpikir lagi.
“Sa, saya mulai mengantuk Pak ….”
"Kalau kamu terus manggil aku 'Bapak', aku jadi terdengar seperti pria tua yang menikahi gadis kecil. Jangan bikin aku nggak nyaman dong," keluhnya, namun justru mempererat pelukannya di perutku.
Aku memutar badanku tanpa beranjak dari pangkuan Pak Adrian. Tiba-tiba aku bertekad untuk bisa menyebut nama itu di depannya. Kutatap tajam mata elang bersorot teduh itu, menarik napas dalam, dan....
"A, ad-- , Ad ... A ... Aku enggak bisa."
Adrian tertawa kecil beberapa saat. "Enggak apa-apa, nggak perlu buru-buru, kita bisa coba lagi lain waktu," tuturnya tersenyum simpul.
Aku tak pernah merasa sekikuk ini sebelumnya, tapi duduk di pangkuan Pak Adrian terasa sangat nyaman. Aku tak bergerak dengan posisi masih yang begitu canggung ini. Hanya menyembunyikan wajahku di ceruk leher Pak Adrian yang menyebarkan semerbak wangi sabun dan harum tubuhnya. Hingga rasa kantuk menguasaiku. Menyentuh kulitnya seperti ini membuatku merasa nyaman, dan tenang, meski juga sangat berdebar.
Beberapa menit kemudian, kurasakan tubuhku terangkat. Pak Adrian menggendongku dengan gaya bridal lalu menurunkanku di tempat tidur nyaman itu. Meski kantuk sempat menguasaiku, tapi tiba-tiba mataku terbuka saat itu juga. Samar kulihat wajah Pak Adrian ketika menurunkan tubuhku dengan penuh hati-hati.
"Pak, apa boleh kalau kita melakukan ‘itu’ lain waktu?" tanyaku lirih ketika kulihat Pak Adrian memandangi bagian tubuh atasku. Memang setiap malam aku terbiasa tidur tanpa mengenakan bra, dan kemungkinan ia melihatnya dari balik piyama yang kukenakan.
Pak Adrian diam sebentar tanpa ekspresi, “Tapi ... bagaimana kalau aku memintanya malam ini juga?” tanyanya menatapku tajam.
__ADS_1