Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Kabar Gembira


__ADS_3

Pernikahan Kak Zahra dan Kak Ali akhirnya digelar setelah sebulan lalu lamaran. Dimulai dari akad hingga resepsi, semuanya berjalan dengan sakral sampai-sampai membuat para kerabat dan tamu yang datang menitikkan air mata hari. Di tempatku duduk saat ini, aku masih tak percaya Kakakku menikahi mantan pacarku.


Aku terus-terusan tersenyum, merasa bahwa di balik sakralnya serangkaian acara ini, ada kisah konyol sebuah cinta monyet. Tapi kurasa Kak Ali memang cocok dengan Kak Zahra, keduanya sama-sama pintar, baik akhlaknya, lemah lembut, dan taat agama. Bahkan Harun yang tak mengenal jauh Kak Ali pun mengatakan hal yang sama berdasarkan insting bocah.


“Awas jangan baper! Gue belum siap ngelamar lu soalnya. Masih harus kerja keras ngumpulin duit nih. Kalau udah cukup, tunggu aja.” Garrin mendatangiku dengan kalimat-kalimat bualannya yang penuh omong kosong.


“Lo dapat undangan dari mana, kok bisa datang ke sini? Lagian siapa juga yang mau dilamar sama lu, Garrin Wijaya?”


“Ada, cewek namanya Hanna Aleesa, dia mau nikah sama gue kalau gue udah sukses nanti,” ungkapnya dengan mata berkilat.


“Terserah deh. Lu dapat undangan dari mana?” Aku mengulangi pertanyaan yang sama.


“Dari calon mertua gue dong,” ucapnya bangga.


“Hah? Siapa?”


“Dari Bapak dan Ibu Darmawan,” bisiknya lirih.


“Dih, pede banget,” sungutku.


“Serius tahu.”


“Bodo amatlah, pokoknya jangan usil, ya. Jangan bikin ribut di acara sakral kakak gue.” Aku meninggalkan laki-laki itu menuju ke tempat berkumpulnya para wanita gosip yang sudah pasti akan dihindarinya.


Berada di dekatnya, aku takut, melihat parasnya hatiku kembali bergetar, menatap sepasang matanya aku serasa ingin pingsan. Tapi menengok realita antara kami berdua membuatku hampir menitikkan air mata. Masalahnya sekarang aku sedang tak ingin bermain-main dengan hubungan antar manusia yang merepotkan.


Percuma juga aku menjalin hubungan dengan laki-laki itu kalau tahu akan berakhir seperti apa. Komitmen juga tak akan cukup, selagi iman kami berbeda. Jarak yang jauh itu tak bisa ditepis dengan mudah. Karena ini adalah masalah yang berat, aku tak bisa membiarkan hati dan otakku memikirkannya untuk sekarang. Pada akhirnya hanya satu rasa yang akan kutanggung sendirian, kekecewaan.


Sejak awal ini adalah kesalahanku, mengapa hati ini terlalu lemah hingga jatuh pada orang yang salah. Parahnya aku juga bermain-main dengan perasaanku sendiri, tapi sekarang aku benar-benar terjebak rasa dengan cucu seorang pastur, Garrin Wijaya.

__ADS_1


*****


Sejak hari pernikahan itu, Kak Zahra pulang ke rumah keluarga Kak Ali dan tinggal di sana. Ayah dan Bunda bilang kalau suasana rumah menjadi semakin sepi, apalagi hanya ada Harun yang lebih sering tinggal di asrama pondok dari pada pulang ke rumah. Kini hanya ada dua asisten yang menemani Ayah-Bunda di rumah itu. Waktuku masih tersisa satu tahun sebelum akhirnya mendapat gelar sarjana. Tapi aku pun memiliki tekad untuk mewujudkan angan-anganku dan lulus dalam 3,5 tahun.


Semakin kesibukanku bertambah, semakin sering pula manusia itu menggangguku. Ya, manusia itu, siapa lagi kalau bukan Garrin Wijaya. Setiap kali aku pergi ke perpustakaan, ia akan menungguku dengan membaca bukunya di depanku. Berkali-kali logikaku mengabaikannya, maka saat itu pula hatiku bersikeras menanggapi setiap perkataannya. Memang kebaikan dan tulusnya seorang Garrin tak bisa lagi ditolak kebenarannya. Tapi kata-kataku telah tertancap kuat di kepala ini, “Pikirkan masa depan, Hanna.”


“Gue enggak akan ganggu, fokus aja sama laptop dan ribuan kata itu,” bisiknya kemudian duduk di depanku.


“Selalu deh,” desisku pelan.


“Udah, lanjutin aja, gue janji bakal diam, asal lu enggak pergi dari sini.”


“Awas lu berisik!” ancamku lirih.


“I promise, Queen,” ucapnya seraya mengacungkan jari tengah dan telunjuknya.


Akhir-akhir ini sikapnya juga semakin aneh, ia masih sering membaca buku di depanku ketika aku fokus pada laptop di hadapanku ini. Tapi ia tampak lebih serius membaca tiap katanya. Yang kutahu seorang Garrin lebih tertarik pada komik dan sebagainya, tapi buku yang ia baca itu tampaknya lebih menarik jika dibandingkan dengan komik mana pun.


“Ada apa Hann?” Khadija menghampiriku khawatir.


“Kelilipan, bentar ya, aku toilet dulu,” pamitku berlalu pergi.


“Hanna kenapa?” tanya Garrin samar masih terdengar dari tempatku berada.


Setelah kembali dari toilet untuk menumpahkan perasaan campur aduk ini, aku kembali bergabung dengan Khadija dan Garrin yang menungguku. Meski mereka berdua meberondongku dengan pertanyaan, namun segera aku menjawab dengan jawaban menenangkan, dan aku sendiri bertekad untuk tidak akan menanyakan perihal buku itu secara langsung. Aku harus menghargai privasi dan hal-hal yang sensitif seperti itu. Dan yang terpenting, aku tidak ingin terlalu berharap.


*****


Hari di mana aku harus mempertanggungjawabkan skripsiku pun tiba. Tentunya aku bahagia, namun juga takut dan berdebar menguasai diriku. Kedua orangtuaku yang mendengar kabar itu hanya bisa mendoakanku dari rumah kakek. Memang saat itu kakekku tengah sakit. Aku juga secara spontan memberitahukan kabar bahagia ini kepada Nyonya Al-Faruq.

__ADS_1


Meski tanpa dukungan langsung dari kedua orangtuaku, tapi di sini, aku beruntung karena masih ada Kak Zahra, Khadija, dan Garrin yang menyemangatiku langsung di luar ruang sidang. Dengan pakaian rapi kemeja putih, dan rok hitam, aku memasuki ruang sidang berbekal doa dan segala yang telah kupersiapkan matang-matang sebelumnya.


Kukira sidang begitu menakutkan, tapi ternyata tak begitu menakutkan untukku. Meski di awal aku sempat nervous karena proyektor yang kugunakan tak sesuai dengan macbookku ini, tapi akhirnya semua bisa diatasi. Bahkan di tengah aku sedang menjelaskan, sempat tercium bau nasi goreng yang masih panas menusuk hidung, menggoda perut.


*Tok! Tok! Tok*!


Pintu ruang sidang yang diketuk tiba-tiba mengejutkanku. Tiga dosen yang yang duduk di depanku itu melihat siapa yang datang. Rupanya salah satu di antara mereka bertigalah yang memesan nasi goreng dan sempat membuatku ngiler. Namun segera aku kembali fokus setelah bapak pengantar makanan itu keluar dari ruang sidang.


Belum lama aku melanjutkan presentasiku, pintu ruang sidang kembali diketuk. Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan setelah melihat bapak pengantar makanan itu kembali masuk ke ruang sidang.


“Mohon maaf, ternyata nasi goreng ini pesanan Prof. Dhani di ruang sebelah. Saya mohon izin ambil lagi, ya?” ujarnya meminta izin pada tiga dosen yang awalnya gembira mendapat jatah nasi goreng di siang bolong.


“Untung belum saya buka, padahal saya juga lapar loh.” Ungkap salah satunya.


“Sama, saya juga lapar sebenarnya,” tambah yang lain.


Sepeninggal bapak pengantar makanan itu, para dosen menunjukkan wajah kecewanya. Namun aku tetap melanjutkan dan mencoba agar tak terpengaruh oleh suasana yang berubah sejak tragedi nasi goreng itu.Dengan waktu yang bergulir, tetesan keringat dingin, akhirnya momen menegangkan itu pun berlalu.


"Hanna Aleesa Putri Darmawan NPM XXXXXXXX, nilai huruf mutu A, dan IPK 4,00 maka dinyatakan lulus dengan predikat summa cum laude."


Spontan aku menutup wajahku yang tak bisa menahan keharuan. Ketiga dosen penguji mengangguk tersenyum melihatku. Alahamdulillah!  Rasa ingin berteriak sat itu juga karena meluapkan kebahagiaan yang begitu besar. Tapi refleks saja tubuhku tiba-tiba sudah bersujud menghadap kiblat.


Setelah melalui keharuan di dalam ruang sidang, aku keluar dari sana dengan kelegaan dan kebahagiaan yang tak terkira. Selangkah aku keluar dari ruangan itu, Garrin menyambutku dengan pelukan dan ucapan selamatnya yang spontan.


“*Congratulations!*” teriaknya seraya memelukku.


“Makasih,” balasku dengan nada canggung.


“Selamat ya! Ketegangan kamu udah terlampaui. Sebentar lagi Ayah-Bunda akan dapat dua kabar gembira sekaligus.” Kak Zahra memelukku setelah Garrin mendahuluinya.

__ADS_1


“Dua kabar gembira?” tanyaku bingung sembari mengernyitkan dahi.


__ADS_2