Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Terungkap


__ADS_3

Hari itu akan jadi hari kepulangan Bunda dari rumah sakit. Bersama dengan Mba Rina dan Hugo, aku pergi ke rumah sakit untuk setidaknya membantu membawakan barang-barang dari rumah sakit kembali ke rumah. Sebelum berangkat, aku sudah sangat antusias sampai dengan ketika dalam perjalanan. Karena setelah itu, aku akan memeriksakan kandungan, lalu menjemput Ummi di Bandara.


Sampai di rumah sakit, kami segera pergi ke ruangan tempat Bunda dirawat.


"Ayah? Bunda mana?" tanyaku memasuki ruangan dengan ranjang kosong yang kehilangan pasiennya.


"Bunda ada check up terakhir sebelum pulang."


"Kok Ayah nggak ikut temani?"


"Sudah ada Kakakmu yang menemani. Jadi Ayah tinggal beres-beres barang aja."


"Oh, ya. Barangnya ada lagi yang perlu Hanna bantu bawa?" tanyaku menawarkan bantuan.


"Iya, mungkin ada yang bisa kami bantu, Pak," tambah Mba Rina.


"Tinggal satu tas ini saja. Saya bisa bawa sendiri kok."


Aku mengambil tas yang semula dipegang Ayah. "Nggak apa, Yah ..., Biar Hanna bantu bawa sini!"


"Nggak usah, Hann. Ayah bisa bawa sendiri."


"Nggak apa-apa, Yah. Hanna bis- ukh!" Spontan aku menjatuhkan tas itu ke lantai. Cepat-cepat aku pergi ke kamar mandi terdekat untuk mengeluarkan gejolak mual dalam perut ini. Semua makan pagiku keluar dari dalam perut sampai terasa kosong.


Kenapa harus sekarang sih? Timingnya nggak tepat banget! Aku menatap diri dalam pantulan cermin kamar mandi setelah membersihkan mulut dan wajahku.


"Sudah berapa lama?" Ayah menyusulku ke kamar mandi lantas berdiri di ambang pintu.


"Ayah?"


"Sudah berapa lama?" Beliau mengulang pertanyaan itu.


"Se- sebelas Minggu," balasku lirih.


"Adrian sudah kamu beritahu?" tanyanya lagi menatapku tajam dari pantulan cermin.


Aku memutar badan sembilan puluh derajat menghadap Ayah. Sorot pandangan itu membuatku tak dapat menahan air mata. Melangkah aku menuju tubuh itu berdiri, lantas memeluknya, dan menumpahkan air mata di sana.


"Mas Adrian belum tahu, Yah. Hanna takut memberitahu Mas Adrian. Gimana kalau nantinya ia akan mengabaikan Khadija." Tangisku makin menjadi ketika beliau mengusap kepalaku.


"Segera beritahu Adrian. Dia sangat mengharapkan keturunan dari rahimmu. Ayah percaya, meskipun Adrian mengetahui kehamilanmu, ia tidak akan mengabaikan Khadija. Adrian adalah pria yang bertanggung jawab, Hann. Percaya sama Adrian."


"Akan lebih menyakitkan baginya, jika ia tidak tahu tentang kehamilan istrinya sendiri," tambah Ayah seraya menghapus bulir-bulir air mata di ujung pelupuk ku.


Setelah Ayah mengetahui kehamilanku, beliau memintaku untuk memeriksakan kandungan di tempat dokter kandungan yang juga kenalannya. Dari sana, aku diharuskan untuk tidak memaksakan diri melakukan aktivitas fisik. Di usia kini, biasanya bumil akan mengalami masa-masa lemas dan semakin sering mual, apalagi jika ada rangsangan bau yang mengganggu.


Benar saja, selama beberapa hari itu, aku lebih banyak istirahat dan tidur di kamar karena rasanya badan sangat lemas. Apalagi Mas Adrian juga sering pulang larut malam, sudah pasti aku akan melewatkan makan malam dan memilih merebahkan badan. Hampir setiap malam, Mas Adrian pulang setelah aku mencapai alam mimpi. Dan begitu aku bangun, pria itu berbaring di sebelahku dalam lelap tidurnya.


Dari Senin hingga Rabu, rasanya belum ada kesempatan waktu untukku manfaatkan bersama Mas Adrian. Ia masih terlalu sibuk karena mengambil cuti selama seminggu kemarin. Ditambah juga dengan Pak Erwin yang tengah cuti menyambut kelahiran anaknya, maka pekerjaan pun mau tak mau harus dikerjakan dua kali lipat. Karena itu selama seminggu ini, kami tak banyak mengobrol.


Malam itu, sekira pukul sembilan malam, aku sudah siap untuk tidur. Ketika kantukku membawa pikiran ini untuk beristirahat, aku merasakan sentuhan jari di hidungku, kemudian beralih ke pipiku sebelah kiri dan kanan bergantian.


"Udah tidur, ya?" Suara bariton itu terdengar pelan.


Cup!


"Selamat tidur, Sayang ...."


Aku mencoba membuka pelan kedua mataku, "Mas? Kamu udah pulang?" tanyaku kemudian.


"Iya ... kamu capai, ya? Kata Mba Rina akhir-akhir ini kamu cuma diam di kamar aja. Hari ini pun jam segini kamu udah tidur. Kamu sakit?" Mas Adrian meletakkan tangannya di keningku.


Memangnya malam ini, waktu Mas Adrian tidur di sini, ya? Aku sampai tak ingat karena terbiasa tidur sendiri. Pikirku.


"Aku enggak apa-apa kok," ucapku menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Eh ... kamu udah mandi? Mau dibikinin kopi? Udah makan malam belum?" Aku memberondongnya dengan pertanyaan ketika baru teringat malam ini giliran Adrian tidur di sini.


"Barusan aku selesai mandi, aku juga udah makan malam di bawah. Sendirian lagi."


Aku membangkitkan tubuhku dari posisi berbaring ke posisi duduk bersandar pada kepala ranjang. "Kalau gitu ... kamu perlu apa? Kopi?" tawarku.


"Aku perlu Hanna Aleesa."


Adrian meraih leher belakangku, membawaku mendekat, mencium bibir ranum ini. Tak hanya kecupan, ia mulai memainkan lidahnya dan menyentuh seluruh gigi-gigi ku. Ia menguasai permainan hingga aku terbawa jauh ke dalam rayuannya. Tangan itu menyelinap dalam baju piyama yang kupakai, membuat gambar-gambar abstrak di atas kulitku.


Mas Adrian mengalihkan ciumannya ke telingaku. Berbisik lirih dengan nada rendah. "Kapan terakhir kali kita melakukannya?"


Pertanyaan itu disusul dengan pergerakan tangannya yang semakin liar. Bukan hanya menyusup ke atas, ia mulai bergerilya ke bagian bawah. Hingga aku tersadar akan satu hal, aku segera mendorong tubuh itu sekuat tenaga. Menghentikannya sebelum Mas Adrian benar-benar kepalang basah.


"S stop." Kedua tanganku membungkam mulutnya.


"Kenapa? Kamu nggak sakit, kan?"


"Iya, aku nggak ... sakit, tapi itu ...."


"Kamu datang bulan?"


"Bukan ...." Aku masih menunduk kebingungan bagaimana menjawabnya.


"Itu ... kata dokter jangan berhubungan sebelum usia kandungannya empat bulan. Bisa melukai baby di dalam sana," pungkasku lirih.


"Apa?" Adrian mengernyitkan dahinya.


Aku segera membuka laci meja di sebelah ranjang, kemudian memberikan benda itu kepada Adrian.


"Kamu ... hamil?" Adrian menanyakannya dengan kedua mata berbinar memandangi hasil dari lima test pack berbeda.


"Masuk minggu ke sebelas."


"Kenapa kamu nggak bilang ...?"


"Berapa usianya?" tanyanya masih terkejut memandangku.


"Sebelas minggu."


Adrian memelukku erat, memegang lenganku dan menciumi keningku berkali-kali. "Kenapa kamu nggak bilang dari awal, Sayang ... Maaf, ini salahku, sampai nggak tahu tentang hal ini." Air matanya mengalir deras dengan suara sembab.


"Hey? Assalamu'alaikum Baby ... halo, ini Papa! Kenapa Mama kamu nggak bilang kalau kamu udah ada di sana?" Adrian membelai lembut perutku yang belum tampak perubahan signifikan.


Adrian memelukku hangat sekali lagi. "Ini salahku karena nggak kasih tahu kamu dari awal, maafin aku, ya," sesalku.


"Ini salahku. Aku aja yang kurang perhatian selama ini." Ia melepas pelukannya, menyembunyikan kedua matanya yang berkaca dan kembali beralih ke perutku.


"Kamu baik-baik, ya di sana ... jangan bikin Mama kamu susah. Mama kamu memang wanita kuat, tapi kalau kamu rewel di dalam sana, Mama kamu jadi kerepotan," bisiknya kembali menciumi perutku.


"Maafkan Papa, ya, Nak. Baru hari ini Papa tahu kamu ada di sana, padahal usia kamu sudah sepuluh Minggu."


"Udah bisa lihat jenis kelaminnya, belum?" tanya Adrian antusias.


"Belum. Nanti kita lihat sama-sama, gimana?"


"Boleh."


Cukup lama Adrian tiduran di atas pahaku sembari berbicara dengan baby dan mengelus perutku. Aku hampir terabaikan karena pria ini yang tak bisa menutupi rasa bahagianya.


"Jadi diagnosis dokter Jennie waktu itu ...?" tanya Adrian saat bangkit dari posisi tiduran.


"Ini semua mukjizat yang Allah berikan kepada kita."


Cup!

__ADS_1


Entah itu sudah keberapa kalinya ia mencium puncak kepalaku. "Sebentar, ya. Aku mau sujud syukur atas mukjizat Allah," pamitnya pergi ke kamar mandi guna mengambil air wudhu.


Kami pun melewati malam itu penuh keharuan dan bahagia. Aku sendiri akhirnya bisa lega karena tak perlu menyembunyikan apa-apa. Dan setelah sekian lamanya penantian ini, akhirnya Adrian akan menjadi "Papa" di usia ke-36, sedang aku akan menjadi "Mama di usia 22 tahun. Wajah bahagia Adrian tak pudar dalam keremangan lampu tidur di kamar itu.


" انت حامل السعادة في حياتي "


~Kamu adalah pembawa kebahagiaan dalam hidupku


Berkali-kali Adrian mengusap perutku dan menciumnya. Aku bersyukur akhirnya tak perlu lagi menyembunyikan kehamilanku dari Adrian. Sungguh takdir Allah tidak pernah terduga akan jadi seperti apa. Diagnosis tentang kemungkinan aku bisa hamil hanya 20% dan sekarang aku mengandung anak pertamaku dan Adrian. Sungguh tak ada yang bisa mengetahui kuasa Tuhan. Saat itu pula aku berjanji pada diriku sendiri. Bahwa apapun yang terjadi, aku akan menjaga anak kami dengan pertaruhan nyawa sekalipun.


...----------------...


Pagi yang kembali, membawa suasana hati yang berbeda dari Adrian dan aku. Aku bisa melihat perubahan sikap dan raut wajah Adrian sejak kami bangun tidur hingga sarapan di meja makan. Aku juga bisa melihat perubahan sikap dan ekspresi Khadija yang memandang kami dengan tatapan tak nyaman pagi itu. Selesai sarapan pagi, sama seperti sebelumnya Khadija mengantarkan Mas Adrian sampai ke depan. Sementara aku membereskan peralatan makan dan membawanya ke tempat cuci.


"Ada apa dengan kalian berdua?" Khadija mendatangiku ke tempat cuci.


"Memangnya kelihatan seperti ada sesuatu? Tidak ada apa-apa kok."


"Mas Adrian berubah sangat lembut setelah keluar dari kamarmu. Dia tidak pernah berbuat selembut itu bahkan sejak hari pertama pernikahan kami."


Aku memegang bahu Khadija, dan menarik senyum. "Mas Adrian punya pengumuman yang ingin disampaikan malam ini. Mungkin di sana kamu akan tahu jawabannya."


Bukan berarti aku menutup-nutupi tentang kandugan ini, tapi Mas Adrian yang memintaku untuk tak mengatakannya dulu kepada siapa-siapa sampai Mas Adrian sendiri yang akan mengumumkan kehamilanku malam nanti.


"Hanna!" Panggil Khadija saat aku telah berdiri beberapa langkah darinya.


Ia berjalan mendekat. "Jika ada sesuatu yang kamu lakukan sampai mengubah Mas Adrian menjadi sangat lembut seperti hari ini, tolong tetap lakukan hal yang sama. Karena aku tidak bisa melakukan hal itu. Pasti hanya kamu yang bisa memberikannya."


"Maaf kalau permintaanku terdengar aneh. Tapi ..., aku ingin melihat Mas Adrian seperti hari ini lagi esok, lusa, dan seterusnya." Ia mengakhiri kalimat itu dengan senyuman, lalu pergi kembali ke lantai dua dengan setengah berlari.


Kenapa? Rasanya aku jadi mengiba saat mendengar Khadija mengatakan hal itu dengan raut wajahnya yang tulus.


...----------------...


(Malam hari, Kediaman Adrian Al-Faruq)


"Terimakasih, Ayah, Bunda, dan Ummi yang sudah menyempatkan hadir malam hari ini. Kak Danar, Kak Erika, Kak Ali, dan Kak Zahra. Juga Tante Jihan sekeluarga, Om Nuril, Pak Erwin, dan semuanya saja yang hadir hari ini, terimakasih banyak. Malam ini, tujuan saya mengumpulkan anda-anda semua adalah untuk sebuah pengumuman yang saya rasa, anda semua perlu dengar." Adrian berdiri di hadapan para kerabat, memulai pidatonya.


"Hanna Aleesa Al-Faruq, wanita yang duduk di sana, istri saya. Kini dalam rahimnya, ada darah daging saya yang berusia sepuluh Minggu dan terus bertumbuh."


"Waah!"


"MashaAllah, Hanna!"


"MashaAllah tabarakallah."


"Ini serius?"


Berbagai reaksi mereka terdnegar saling bersahutan satu sama lain. Ada yang tak percaya, ada yang terkejut, ada yang biasa aja, dan ada yang sampai menangis haru lantas memelukku erat. Bunda dan Ummi.


"Untuk itu, saya memohon dengan sangat kepada semuanya, turut mendoakan yang terbaik untuk istri saya dan kandungannya agar sehat selalu sampai proses persalinan nanti."


"Aamiin."


"Demikian pengumuman ini disampaikan. Dan untuk besok, di tempat yang sama, akan ada santunan yatim-piatu. Untuk kerabat terdekat, anda disilakan datang memeriahkan acara esok hari. Terimakasih."


Bund belum juga selesai menangis meski beliau sudah melepas pelukannya dari tubuhku. Berikut Tante Jihan yang mengucapkan selamat atas kehamilanku. Lalu juga Agatha dan Pak Erwin yang datang bersama baby mereka ikut mengucapkan selamat atas hari bahagia ini.


Di kejauhan, berdiri Khadija yang melangkah ragu ke arahku. Gambaran wajahnya tak bisa kuanalisis dengan baik. Bisa diartikan sedih, kecewa, sesal, atau haru, aku juga tak mengerti.


"Selamat, ya, Hann." Ia mengulurkan tangannya padaku. Tapi aku tak segera menerima uluran tangan itu, melainkan aku memeluknya.


"Terimakasih," lirihku memeluknya erat.


"Kita masih bisa bersahabat lagi, kan, Hann?" suara itu keluar dari bibir Khadija yang sesenggukan memelukku.

__ADS_1


"Kita masih selalu bersahabat."


Setelah memeluk Khadija dalam, aku melihat bagaimana Mas Adrian tersenyum ke arah kami dari tempatnya berdiri.


__ADS_2