Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Om


__ADS_3

Pukul enam petang, aku menyiapkan makan malam dengan porsi yang lebih banyak. Dibantu Adrian yang belum lama pulang dari tempat kerjanya. Meski ia membantuku tanpa senyum karena ke bete an-nya, tapi tenaga Adrian sudah lebih dari cukup untuk meringankan kerjaku.


Tak ingin membuatnya semakin bete nan marah, aku hanya diam dan tak banyak berbicara, hanya sesekali saat diperlukan aku akan mengeluarkan suaraku. Beberapa menit berlalu, akhirnya makan malam pun siap tersaji di meja. Bel pintu pun berbunyi beberapa kali tak lama setelah aku meletakkan tudung saji untuk menutupnya.


“Biar aku aja yang buka.” Adrian bergegas jalan ke depan ketika mendengar bel pintu berbunyi.


“Nggak usah, Om. Biar Harun aja,” cetus Harun mendahului laki-laki yang baru saja melepas celemek nya itu. lagi-lagi Adrian harus menghela napas panjang, menahan amarah.


“Sabar, Sayang …,” ucapku menenangkan bahunya yang naik turun.


“Dia manggil aku ‘Om’. Mentang-mentang aku udah tua, dia nggak mau manggil aku ‘Kak’. Aku, kan Kakak Iparnya,” keluhnya kesal.


“Sabar, Sayang …, namanya juga anak kecil. Udahlah, senyum dulu. Itu Ayah sama Bunda udah di depan, masa muka kamu bete gitu di depan Ayah-Bunda?” tutur ku mengalihkan kemarahannya.


Sesudah memperbaiki ekspresi dan penyaluran mood tambahan dariku, kami berdua berjalan ke depan untuk menyambut Ayah-Bunda. Tapi masih saja, Adrian tetap tak bisa menutupi ekspresi bete saat tatapan matanya bertemu dengan Harun.


“Ayah …, Bunda …, gimana kabarnya?” sapaku diikuti pelukan hangat keduanya bergantian.


Ayah dan Bunda berdiri sejenak dari duduknya menyabut kedatanganku dan Adrian dari dapur . “Alhamdulillah baik.”


“Kalian berdua gimana?”


Adrian merengkuhku merapat padanya. “Baik, Yah, alhamdulillah.”


“Sebentar, ya …, Hanna ambilkan minum dulu.” Aku berdanjak ke dapur.


Langkah pelan kakiku menuju dapur hampir membuatku tak sadar seseorang mengikutiku dari belakang. Saat air panas hendak kutuangkan, barulah aku sadar, Bunda berdiri di sebelahku. Beruntungnya air panas itu tak sampai mengenai kulitku dan berujung pada kecelakaan.


“Bunda kok ikut ke sini sih, harusnya tunggu aja di sana.”


“Nggak apa-apa …, kamu mau bikin apa?”


“Hmm …, Bunda mau apa? Teh? Kopi? Atau coklat panas?” tawarku.


“Teh aja, gulanya jangan banyak-banyak,” ujarnya mengambil duduk di kursi meja makan.


“Okay.”


“Gimana ‘perkembangannya’ sama Adrian?” tanyanya lirih.


“Masih usaha, Bund. Inshaa Allah nggak akan lama lagi kok.”


Bunda bangkit dari duduknya, berdiri di belakangku. Kedua tangannya merengkuh lenganku. “Yang sabar, ya, Hann. Kadang Allah menguji kita dengan cara ini, supaya kita lebih memperkuat ibadah lagi.”


“Bunda selaluuu bawa nama kalian berdua di setiap doa. Bunda nggak pernah lupa doain kalian berdua supaya selalu dapat jalan yang terbaik. Yang sabar, ya.” Petuah Bunda yang kudengar tanpa terasa memantik air mataku.


“Bun ..., Bunda, maafin Hanna. Selama ini …, sejak awal pernikahan kami berdua emang menunda untuk punya anak, tapi nggak bilang ke siapa-siapa,” seduku memeluk Bunda.


Setiap kali aku berbohong, lantas Bunda menatapku tepat di mata, atau aku mendengar suaranya yang begitu tulus itu, sontak air mataku pasti tumpah. Dan saat itu pula, dinding kebohonganku akan runtuh. Aku sama sekali tak bisa berbohong di depan Bunda. Kata-kata seorang Ibu layaknya sihir yang menghipnotisku hingga tak sanggup lagi bibir ini berdusta.

__ADS_1


Ditambah lagi dengan hangat pelukan Bunda seakan memberi kenyamanan yang berbeda. Di dapur itu, air mata yang mengalir tak bisa lagi kutahan. Aku menumpahkan segalanya di depan Bunda. Berkali-kali aku meminta maaf atas kebohonganku selama ini, dan banyak hal yang seharusnya tak kulakukan. Hanya di depan Bunda.


“Nggak apa-apa, Hann…, namanya juga belajar berumah tangga. Bunda dulu juga melakukan banyak kesahalan tanpa disadari kok. Pelan-pelan …, semua itu belajar.”


“Sebenarnya Hanna mau periksa ke dokter kandungan Bund, tapi Hanna takut kalau ternyata hasilnya akan bikin aku dan mas Adrian sedih.”


Lagi-lagi Bunda memelukku makin erat. “Kamu jangan berpikir negatif, Hanna. Di keluarga kita inshaa allah nggak ada riwayat penyakit macam-macam, kok. Tapi kalau soal itu, memang harus kalian berdua yang obrolin sendiri.”


“Iya, Bund. Hanna lega banget akhirnya bisa cerita jujur ke Bunda,” isakku masih berlanjut.


“Nggak apa-apa …, kamu juga harus ingat kalau ada Adrian yang sekarang jadi teman kamu diskusi. Ibaratkan sekarang ini kamu nggak bisa hidup sendirian, kamu nggak bisa memutuskan segala sesuatu sesuai keinginan kamu sendiri. Ngerti?”


“Iya, Bund.”


“Bagus …, selalu libatkan Adrian dalam setiap hal yang akan kamu pilih. Itulah pernikahan yang sebenarnya. Dan begitulah, menjadi istri yang sebaik-baiknya.” Bunda melepas pelukannya seraya menatapku dalam.


“Sekarang kamu ke kamar mandi dulu gih, cuci muka, biar nggak kelihatan abis nangis. Masa anak Bunda nangis. Bunda yang bantu bawa minumannya ke depan, yah?”


Aku mengangguk setuju, lantas Bunda mengantarkan nampan berisi gelas-gelas itu ke depan. Sementara aku membasuh muka dengan air untuk menghilangkan kesan mata sembab sehabis menangis tadi. Tapi tak terbantah, sesaat aku merasa lebih lega dengan bercerita kepada Bunda, dan kembali menjadi Hanna yang apa adanya di depan wanita paling berjasa itu.


“Kamu kenapa?” tanya Adrian menyambutku keluar dari kamar mandi.


“Nggak kenapa-napa, kok.”


Tangannya segera menarik pinggangku, merapat dengannya. “Kamu beneran nggak kenapa-napa?” tanyanya sekali lagi sembari memegangi pipiku.


“Ayah sama Bunda baru aja aku ajak makan, mereka udah di meja makan. Terus aku nyariin kamu karena kamu ngilang tiba-tiba.”


“Aku nggak apa-apa, kok …, percaya deh. Mending kita ikut makan. Yuk!” ajakku diiyakannya dengan melangkah bersama ke meja makan.


“Makanan sebanyak ini kamu sendiri yang masak, Hann?” tanya Ayah memandangi makanan yang tersaji di meja makan.


“Enggak, Yah. Abis pulang kerja Om Adrian juga ikut bantuin Kak Hanna masak kok,” sela Harun.


“Loh? Nak Adrian bisa masak juga?” sambung Bunda memandang berbinar.


“Alhamdulillah, sedikit-sedikit bisalah bantuin Hanna, Bun.”


“Enggak Yah, Bund, jangan percaya. Skill memasak Mas Adrian itu bahkan lebih bagus dari Hanna. Soalnya, kan lama tinggal di luar negeri, jadi udah biasa masak sendiri. Mas Adrian mah merendah gitu.”


“Nggak kok, masakan Hanna lebih enak, Yah, Bund, beneran deh.”


“Ih! Percaya sama Hanna, Mas Adrian ini jago banget masaknya. Waktu itu aja Mas Adrian masak rendang sendiri, dan rasanya bener-bener pas banget.”


“Kamu juga, kan jago masak sup salmon sama ikan tuna.”


“Tapi kamu lebih jago lagi tahu ….”


“Enggaklah, enakan juga masakan kamu. Udah kayak chef di restoran bintang lima.”

__ADS_1


“Bohong deh, masih enak masakan kamu tahu.”


“Udah dong …, kalian ini kenapa sih!” potong Harun menatapku dan Adrian bergantian.


“Yang jelas semua ini masakan kalian berdua. Enak, atau nggak enak, pokoknya hasil dari kerja keras kalian berdua. Bisa nggak sih kita makan dengan tenang?” pungkas Harun masih menatap kami dengan sorot mata tak suka.


Tawa Ayah meledak sesaat kemudian, diikuti Bunda yang juga menertawakan kami bertiga. “Sudah, sudah …, ini jadinya mau dimakan kapan?”


“Dasar, orang-orang aneh.” Harun melanjutkan gerutuannya seraya mengambil nasi ke atas piringnya.


Makan malam pun berlanjut di meja persegi panjang itu dengan tenang. Setelah semua selesai menikmati masakan mahakaryaku dan Adrian itu, barulah kembali terdengar perbincangan antara kami berlima, meski sempat ada per cek-cok an dengan si bocah menyebalkan tapi lucu, Harun Aji Darmawan.


“Eh, udah adzan isya’ itu, ya?” celetuk Ayah kemudian.


“Iya, Yah. Om, masjidnya di sebelah mana? Kita ke masjid sekarang, yuk!” ajak Harun sekali lagi masih memanggil dengan sebutan ‘Om’.


Sejenak menghela napas panjang, Adrian pun bangkit dari kursinya. “Aku salat isya’ ke masjid dulu, ya …,” pamitnya kubalas dengan anggukan.


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam warahmatullah.”


Ia pun berjalan ke depan mengiringi langkah Ayah dan diikuti Harun di belakangnya menuju ke masjid. Sementara aku membereskan peralatan makan yang selesai digunakan sebelum Bunda mendahuluiku.


“Bunda salat isya’ dulu aja, Bund. Biar piring-piringnya Hanna yang beresin.”


“Jangan, biar Bunda bantu, sini.”


“Nggak usah Bund .., lagian ini, kan rumah Hanna, tuan rumahnya juga Hanna, masa Bunda yang beresin. Udahlah, Bunda salat dulu aja.”


Meski sempat menawarkan bantuan berkali-kali, namun akhirnya Bunda mengalah dan membiarkan anaknya yang keras kepala ini menyelesaikan pekerjaan yang memang seharusnya diselesaikan sebagai tuan rumah. Saat air wastafel mengucur dan spon berbusa itu menggosok permukaan piring keramik, aku tiba-tiba terpikir bagaimana jadinya kalau nanti aku punya anak dan harus mengurus semua pekerjaan rumah tangga sekaligus.


Tapi …, jangankan sibuk ngurus rumah tangga, punya anak aja belum. Apa ini salahku juga? Mungkin karena aku sempat berbohong kepada Ayah-Bunda dan Ummi, akhirnya kami belum juga diberikan momongan?


Selepas membereskan semua peralatan makan dan mengembalikannya ke tempat semula, serta membereskan meja makan, aku menyusul salat isya empat rakaat. Ketenangan dan kedamaian kembali pada diriku setelah selesai mengucap salam dan berdzikir. Memang dari semua tempat yang ada, Tuhan adalah tempat terbaik untuk mencurahkan segalanya.


Di sofa ruang tamu, ketika waktu hampir menunjukkan pukul delapan malam, kami kembali berkumpul. Ayah-Bunda kembali berbicara serius.


“Begini, mungkin Adrian sudah tahu maksud kedatangan kami ke sini untuk menitipkan Harun. Tapi lebih detilnya, kami mau kalian berdua menjaga Harun selama Harun libur sekolah, atau kira-kira selama dua minggu ke depan. Karena, Ayah-Bunda harus ke Samarinda,” jelas Ayah.


“Iya, jadi kami berdua ada keperluan di Samarinda. Karena tidak bisa mengikut sertakan Harun, jadi, kalau nggak keberatan, bolehlah Harun tinggal di sini selama dua minggu,” tambah Bunda.


Adrian melihat ke arahku sesaat. “Kalau saya jujur saja tidak keberatan. Silakan saja kalau memang Harun nyaman tinggal di sini.”


“Alhamdulillah kalau begitu. Soalnya kami juga nggak enak kalau menitipkan Harun ke rumah Ali dan Zahra, mereka kan sudah direpotkan dengan menjaga si kembar.”


“Iya, Bunda, kami mengerti, kok.”


“Terimakasih, banyak ya .... kalau begini kami jadi lega.”

__ADS_1


__ADS_2