Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Tanggapan Mertua


__ADS_3

Ruang makan sepi senyap sejak Adrian menahan Ayah-Bunda yang telah selesai dengan santap malam mereka. Giliranku sendiri menunggunya memulai pembicaraan serius antara kami. Karena lusa Ayah-Bunda akan pulang ke rumah mereka, maka malam ini adalah kesempatan terbaik untuk membicarakan permintaanku.


"Kok pada diam-diam an aja? Katanya tadi mau minta saran Ayah sama Bunda."


"Iya nih, dari tadi kita nunggu kalian ngomong loh."


"Sebenarnya Aleesa ingin kuliah lagi, Yah, Bun. Tapi... Adrian belum kasih izin karena pasti akan banyak waktu tersita nantinya, dan kita harus menunda lagi setidaknya dua tahun. Mungkin setelah anak pertama, Adrian baru setuju."


Ayah-Bunda bertatapan beberapa saat. "Memangnya harus sekarang, Hann? Kamu sudah pikirkan baik-baik?"


"Semalam Hanna udah ngobrol sama Mas Adrian sih. Setelah Hanna pikir-pikir lagi, Mas Adrian juga ada benarnya. Tapi Mas Adrian masih berikan Hanna kesempatan kalau mungkin ada alasan lain Hanna ambil master sekarang."


"Kalau Ayah, lebih setuju dengan Adrian. Untuk sekarang ini kalian fokus dulu dengan tujuan kalian berdua aja. Kamu kan masih dua puluh dua, misal ambil master setelah punya anak nanti juga nggak akan ketuaan." Respon Ayah mendukung keputusan Adrian.


Adrian melihatku dengan tatapan yang dapat kuartikan sebagai, "Gimana?"


"Kami hanya bisa memberi arahan. Keputusan kembali ke kalian berdua. Kamu juga pasti bisa memilih yang terbaik untuk diri kamu sendiri. Pikirkan lagi, ya?" Bunda menggenggam tanganku di bawah meja.


"Iya, Bun. Selamat istirahat." Aku beranjak pergi meninggalkan Ayah-Bunda dan Adrian di ruang makan.


Memang tak ada alasan kuat untukku mengambil master saat ini, tapi firasatku mengatakan ini adalah saat yang tepat. Biasanya firasatku tak pernah salah, tapi sekarang Ayah dan Bunda saja sampai tak membela permintaanku. Selesai membersihkan diri di kamar mandi, aku keluar dengan masih memikirkan hal yang sama.


Seketika terlintas di benakku, pikiranku akan lebih jernih setelah melihat hehijauan. Inisiatifku pun mengantarku berjalan turun. Tapi ketika aku membuka pintu kamar baru akan keluar, Adrian bersamaan membuka pintu kamar untuk masuk.


"Mau ke mana?"


"Turun."


"Kebetulan, kayaknya Ayah juga mau bicara sama kamu."


Adrian berjalan ke kamar, menutup pintunya lebih dulu dari dalam sebelum aku berjalan lebih jauh. Kupikir memang saat ini aku harus mendengar petuah bijak dari Ayah menyangkut hal ini. Lagipula mood Adrian juga seperti tak sedang baik-baik saja saat ini. Pasti lelah dengan urusan kantor. Masih ditambah dengan permintaanku yang membuatnya kepikiran.


Di lantai satu, seperti yang dikatakan Adrian, Ayah duduk sendiri, diam dalam suasana yang hening dengan hanya melihat ke beranda samping rumah. Aku memelankan langkahku sebelum akhirnya kuputuskan duduk di sebelah beliau tanpa menyapa atau berkata apapun lebih dulu.


"Ayah mau tidur dulu, ya, ngantuk. Kamu jangan begadang." Ayah bangkit dari tempat duduknya sembari mengangkat cangkir di depannya.


"Barusan Ayah minum kopi, kan? Mana bisa langsung tidur," balasku.


Ayah kembali duduk setelah mendengarku. "Kamu mau minta saran apa dari Ayah? Hidup kalian itu sudah terlalu sempurna sampai hampir tidak ada celah Tuhan tidak memberikan ujian kenikmatan dunia untuk kalian."


"Yah..., sebenarnya besok hasil pemeriksaan medisku keluar. Hanna takut berita buruk yang akan kita dengar. Yang Hanna takutkan, jika ternyata Hanna sendiri yang menyebabkan keguguran itu."


"Hanna. Jika itu yang kamu khawatirkan, Nak. Maka kamu belum mengingat Allah dalam hatimu."


Aku tersentak mendengar pernyataan Ayah yang tanpa ekspresi itu. "Astaghfirullah, Yah. Mana mungkin Hanna melupakan Tuhan yang setiap hari Hanna sembah dalam lima waktu salat wajib dan sunnah yang Ayah ajarkan?"

__ADS_1


"Kamu ingat kisah Nabi Musa yang diminta seorang wanita untuk mendoakannya kepada Allah agar memiliki seorang anak? Wanita itu datang kepada Nabi Musa sebanyak dua kali dan Allah mengatakan bahwa wanita itu ditakdirkan untuk mandul selamanya. Lalu wanita itu tak lagi meminta Nabi Musa untuk mendoakannya. Dan setelah beberapa lama wanita itu tak menemui Nabi Musa, akhirnya dia datang kepada Nabi Musa sembari menggendong seorang anak dan mengatakan kalau anak itu adalah anaknya."


"Kenapa wanita itu akhirnya memiliki anak?"


"Nabi Musa juga menanyakan hal itu kepada Allah, lalu Allah menjawab, 'Wahai Musa, hamba-Ku ini tidak henti-hentinya berdoa dengan memanggil namaku. Ia berdoa, lalu Aku tentukan dia mandul, ia berdoa lagi dan Aku tentukan tetap mandul. Kemudian dia berdoa terus menerus sambil memuji-Ku. Maka akhirnya Aku kabulkan doanya kerena kasih sayangku lebih dari ketentuanku.' Ingatlah Hanna, kamu masih memiliki Allah."


Air mataku terpantik setelah Ayah menuturkannya. Aku tak pernah sedetail itu menceritakan kekhawatiranku pada Ayah, tapi beliau dengan tanggap mengerti seperti apa yang anak perempuannya rasakan. Aku bersandar di pundak Ayah, menghabiskan sisa tangisku. Kukira aku sudah cukup dewasa setelah mengetahui bagaimana hidup berumah tangga. Tapi ternyata aku masih terlalu muda sampai perlu Ayah untuk mengingatkanku bahwa aku punya Tuhan yang maha segalanya.


"Ayah tahu, kamu akan sangat frustasi jika hasil pemeriksaan medis besok seperti yang kamu bayangkan. Karena itu kamu berencana untuk mengambil master setelahnya. Tapi itu bukan jalan keluar, melainkan kamu lari dari kenyataan yang memang sudah seharusnya kau hadapi."


"Kenapa Ayah bisa tahu apa yang aku pikirkan sementara Mas Adrian sendiri tidak pernah tahu apa yang aku inginkan."


"Jangan berkata seperti itu. Ayah sudah hidup denganmu selama dua puluh satu tahun, dan untuk selanjutnya Ayah sudah memberikan tanggung jawab hidup dan kebahagiaanmu kepada Adrian. Kalau kamu takut Adrian akan menceraikanmu, kamu punya Ayah dan Bunda untuk kembali. Tapi Ayah percaya, kamu tidak akan kehilangan Adrian yang tulus ingin membahagiakan Hanna."


Aku mengatur napasku untuk mengurangi sesenggukan yang muncul karena tak bisa menolak benarnya kata-kata Ayah.


"Kembalilah, Nak. Temui suamimu dan katakan 'aku sudah berubah pikiran', katakan apa yang sebenarnya kamu inginkan, buat dia mengerti, itu akan membuatnya tenang. Satu tahun belum cukup untuk bisa memahami manusia. Apalagi laki-laki adalah makhluk yang paling susah memahami wanita, kecuali Ayah kepada anak gadisnya." Ayah menepuk punggung tanganku. Beliau bangkit dari sofa lebih dulu, berjalan menuju kamar.


Ternyata seperti ini rasa menjadi seorang istri yang sebenarnya. Aku mungkin hanya terlalu banyak menuntut Adrian untuk memahamiku, tapi aku sendiri tak mengenalnya dengan baik. Kata-kata Ayah mengangkat beban berat di pundakku, memercikkan cahaya terang yang akan menuntun pada tujuan hidup sejati. Tak pernah salah aku bercerita kepada Ayah, beliau selalu mengingatkanku pada Tuhan, membenarkan jalanku selama dua puluh satu tahun aku hidup.


Benar, namun kini, tanggung jawab hidup dan kebahagiaanku ada pada Adrian. Ayah sudah memercayakan hidup bahagiaku kepada Adrian, maka aku harus percaya akan hal itu. Adrian, pria yang namanya sering kusebut dalam hati dan pikiranku itu kini tertidur pulas dengan laptop masih menyala di atas ranjang. Aku yang berdiri di ambang pintu kamar, melihatnya, barulah aku mengerti. Betapa kerasnya ia memperjuangkan kebahagiaanku.


Aku yang salah. Aku yang tidak sadar mendapat dukungan dari Adrian selama ini, tapi mataku terlanjur tertutup keraguan. Aku belum percaya padanya sepenuh hati, itulah satu-satunya alasanku masih seperti ini. Perlahan kututup laptop itu, kuambil dan pindahkan ke meja. Kubenahi pula posisi tak nyaman Adrian, menjadi posisi paling nyamannya.


"Aku berubah pikiran," bisikku pelan di dekat telinganya.


*****


"Kami pulang, ya... Kalian juga harus sering-sering mampir ke rumah Ayah-Bunda loh."


Ayah memeluk tubuh Adrian, membisikkan sesuatu yang tidak sanggup kudengar. Lalu memelukku sebagai salam perpisahan. Kepulangan mereka kembali ke rumah, kini diisi oleh kembalinya Pak Erwin dan Agatha dari liburan selama satu minggu di Maldives. Mereka kembali bekerja dengan kami, diiringi wajah berseri dan penuh semangat, sehingga menularkan semangat yang sama kepada staff yang lain.


"Ini beberapa file yang anda minta." Pak Erwin memberikan pad kepada Adrian, lantas memperlihatkannya padaku.


'Pendaftaran Mahasiswa S2 University of Mannheim'


Tagline itu membuatku tersenyum. Aku berjinjit untuk sedikit lebih dekat dengan telinga Adrian. "Aku udah berubah pikiran."


"Hah?" Adrian tercengang mendengarku.


"Aku tidak ingin mengambilnya. Belum sekarang. Aku juga ingin mundur dari posisi pimpinan direksi AA Media."


"Kenapa? Kamu bahkan memutuskannya dalam semalam."


"Aku ingin fokus menjadi istri. Mungkin juga mulai mengatur keuangan kita," bisikku menarik kembali senyuman di wajahnya.

__ADS_1


Adrian tiba-tiba menarikku, berjalan cepat ke basement, tepatnya di perpustakaan rumah, ruangan yang hening sekaligus kedap suara. "Hanya ini yang terpikirkan olehku saat ini."


Adrian memegang wajahku dengan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri pipiku. Bibirnya dengan cepat *******, menghabiskan semua di depannya seakan tak ada hari esok untuk melakukan ini. Permainannya semakin mengundangku, mengikis jarak kami, membawaku dalam tempat tersempit dari ujung suasana yang berjalan. Atmosfer sekitar seketika berubah menjadi kehangatan.


"Agatha sudah memegang hasil pemeriksaan medisku. Bagaimana ka-"


"Aku..., aku nggak akan meninggalkanmu, apapun hasil yang keluar dari pemeriksaan itu."


"Sungguh?"


Adrian menghela napas besar-besar. "Kamu bisa pegang kata-kataku."


Yang membuatku takut, kini sudah di depan mata. Hanya ada aku, Adrian, Dokter Jennie dan Dokter Rani di ruang pertemuan. Sementara Pak Erwin seperti biasa menghandle pekerjaan Adrian, dan Agata menyelesaikan beberapa urusan di kantorku. Karena setelah ini Adrian harus pergi ke luar kota dengan Pak Erwin selama tiga hari, maka dokter Jennie bersama dokter Rani datang langsung ke rumah untuk membincangkan hasil pemeriksaan medisku. Ia tahu aku gugup dan takut di saat yang bersamaan.


"Setelah tes fisik, Tes darah, USG panggul, dan serangkaian tes lainnya, ditemukan fakta bahwa Nyonya Hanna menderita polycystic ovarian syndrom. Akibat dari PCOS ini dapat menyebabkan penderitanya sulit hamil karena sel telur tidak dapat dilepaskan atau tidak terjadi ovulasi. Bahkan penderita PCOS yang hamil pun bisa saja berisiko melahirkan bayi secara prematur, mengalami keguguran, menderita tekanan darah tinggi, dan mengalami diabetes gestasional."


"Selain sebab meminum obat yang tidak diresepkan, PCOS ini juga yang menjadi penyebab janin dalam kandungan Nyonya Hanna, gugur. Untuk mengantisipasi penderita PCOS yang sulit hamil, kami sarankan Nyonya Hanna rutin memeriksakan diri ke dokter kandungan."


"Benar, seperti yang Dokter Jennie katakan. Akan lebih baik lagi jika Tuan Adrian, juga Nyonya Hanna datang langsung ke rumah sakit. Kami akan mengu-"


Pintu ruang pertemuan terbuka saat Dokter Jennie memaparkan kelanjutannya. Perhatian kami terhenti sampai pintu masuk, tepat di mana Mba Puput berdiri. "Permisi, maaf Tuan, Nyonya, ada Nyonya besar datang. Beliau memaksa mas-"


"Bukannya nggak masalah kalau Ummi ikut duduk di sini dan dengar apa kata dokter? Kecuali kalian menutup-nutupi sesuatu dari Ummi." Ummi berjalan masuk, memotong perkataan Mba Puput.


Aku segera bangkit dari kursiku. Menyambutnya dengan senyum ramah dan mencium tangannya seraya mengucap salam. Tapi tanggapan Ummi sangat berbeda dari biasanya. Ataukah hanya perasaanku saja, Ummi terasa lebih ketus dan dingin terhadapku. Menimbulkan suasana yang agak tak nyaman dari sebelumnya.


"Kita lanjutkan nanti saja, Dok-"


"Kenapa berhenti? Lebih baik lanjutkan sekarang, Ummi juga ingin dengar."


"Ummi, biarlah urusan di sini jadi urusan Adrian dan Hanna. Kami akan menjelaskannya ke Ummi setelah ini," pinta Adrian dengan sungguh-sungguh.


"Apa bedanya mendengar penjelasan langsung dari dokter dan penjelasan dari kalian berdua? Bukannya sama saja?" sangkal Ummi.


"Kalau Ummi ikut mendengarkan di sini-"


"Terserah saja apa yang kalian rencanakan. Berikan hasil pemeriksaan medisnya padaku." Ummi menatap langsung kedua Dokter itu.


Keduanya saling bertatapan sesaat, juga agak tersentak dengan perilaku Ummi. "Berikan saja," kataku dari tempat duduk ini.


Adrian menatap bingung ke arah Ummi ketika beliau mengambil kertas itu dan membacanya. Cukup lama Ummi memeriksa hasil pemeriksaan medisku, tanpa berkata. Setelah selesai, Ummi bangkit dan meletakkan kertas itu kembali ke atas meja.


"Sudah kuduga memang ada yang kalian sembunyikan. Kalau memang istrimu mandul, akui saja." Ummi berlalu meninggalkan ruangan ini.


Aku menunduk gemetar melihat beliau berjalan pergi. Tanganku menggenggam erat di bawah meja kayu yang menutupiku bergetar. Berkali-kali kucoba menelan saliva, tapi aku masih tak bisa tenang karena ucapan Ummi tadi. Suara yang biasanya menasihatiku lembut, kini memjokkanku dengan kata yang sulit kuterima. Bahkan pergi dari hadapan kami tanpa sedikitpun berbalik, seakan aku hanya sampah yang dipungut oleh anak bungsunya dari jalanan. Jangan menangis Hanna.

__ADS_1


Kenapa tiba-tiba Ummi begini?


__ADS_2