Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Koki Rumahan


__ADS_3

Berhubung kulkas di dapur Ummi berisikan banyak bahan makanan yang bisa kupakai untuk memasak makan siang, aku memilih daging ikan Tuna, salmon, dan Bayam. Karena, menurut penjelasan dari salah satu dosenku dulu, daging ikan tuna dan salmon mengandung vitamin B6 yang baik untuk dikonsumsi penderita vertigo guna meringankan rasa sakit yang diderita


Selain itu, daun Bayam kaya akan vitamin E yang mampu menjaga elastisitas pembuluh darah dan membantu melancarkan peredaran darah. Sehingga, secara tidak langsung, bayam mampu meringankan pusing bagi penderita vertigo. Selain itu juga, tiga jenis bahan utama ini adalah kesukaan Mas Adrian. Jadi, kemungkinan besar masakanku kali ini tak akan mengecewakan.


Setelah kupikir-pikir dan mempertimbangkan berbagai bahan masakan yang tersisa di dapur, ide pun keluar dari kepalaku. Untuk daging ikan salmon yang tersedia, sudah kuputuskan aku akan mengubahnya menjadi Sup Salmon. Sedangkan daging ikan Tuna akan kubuat menjadi Tuna patties, dan daun bayam akan kuolah menjadi tumis bayam tomat. Dengan ini waktu memasak pun di – mu – lai!


Sekitar tiga puluh menit berada di dapur dengan peralatan selengkap itu membuatku lupa sedang berada di rumah siapa. Semua terasa seakan milikku sendiri dan bisa kupakai semauku. Hingga hampir saja aku tak menyadari kehadiran Ummi yang terduduk menghadap meja granit hitam itu. Beliau bahkan tak bersuara dan hanya diam melihatku memakai semua peralatan memasaknya.


“Eh, astaghfirullah, Ummi.” Spontan aku meletakkan kembali teflon yang baru saja kuambil dari tempatnya.


Aku mencuci kedua tanganku, kemudian menyalami Ummi. “Maaf Ummi, Hanna sampai nggak sadar ada Ummi di sini.”


“Nggak apa-apa …, lanjutin aja, Ummi cuma mau lihat kamu masak,” balasnya lirih.


“Oh iya, Hanna izin pakai peralatan masak Ummi, ya? Tadi Hanna mau izin tapi Ummi masih tidur.”


“Iya, pakai aja semuanya, nggak apa-apa. Ummi justru senang kalau akhirnya ada anak Ummi yang masak di sini. Udah, lanjut aja masaknya, nggak usah sungkan. Ummi cuma mau lihat aja kok.”


“Iya, Ummi.” Aku kembali memegang peralatan masak dan melanjutkan masakan keduaku selagi menunggu masakan pertamaku jadi.


“Jadi, mau masak apa, Hann?”


“Hanna mau masak Sup Salmon, Tuna Patties, sama Tumis Bayam Tomat. Ummi suka yang mana?”


Ummi tersenyum cukup lama sampai akhirnya menjawab pertanyaanku, “Ummi suka Tumis bayam. Dan, kamu udah tahu kalau Adrian paling suka sup salmon?”


“Hanna juga tahunya setelah waktu masak-masak sendiri. Abisnya Mas Adrian nggak pernah mau ngaku kalau ditanya hal-hal yang dia suka.”


“Adrian memang begitu anaknya. Tapi dia nggak ngerepotin kamu, kan?”


“Sama sekali. Mas Adrian itu selalu baik banget dan mau bantu-bantu kerjaan rumah kalau Hanna kerepotan.”


“Padahal dulunya dia manja banget. Alhamdulillah deh kalau ternyata dia udah berubah sejak nikah sama kamu.”


“Ngomongin siapa nih?” Baru beberapa saat jadi topik pembicaraan, Mas Adrian telah datang bergabung.


Wajah cerahnya setelah salat dzuhur sangat mempesona, seakan berkali-kali lipat lebih mempesona dari wajahnya yang biasa. Ia mencium tangan Ummi kemudian mengambil celemek dan mencuci tangan bersiap membantuku. Meski aku sudah mencoba menolaknya berkali-kali, tapi tak ada yang bisa melawan tekadnya untuk membantuku memasak.


Melihat aku dan Mas Adrian yang sesekali tertawa dan bergurau, Ummi lantas undur diri dari dapur. Menyilakan kami melanjutkan persiapan makan siang, dan kembali ke kamarnya.


“Kamu gimaa sih, Mas, motongnya jangan gitu, ih.”


“Kenapa? Ini juga bagus, kok. Lebih estetik dari hasil potongan kamu tuh.”

__ADS_1


“Tapi nanti kalau dimasak jadinya jelek, Sayang ….”


“Iya deh, aku ngalah. Aku potong bawang aja, dari pada istriku marah, nanti susah ngobatinnya. Hahaha.”


“Apaan sih.”


“Loh, kamu masak sup salmon?” tanya Mas Adrian menyadari wangi masakanku yang mulai tercium.


“Kebetulan daging salmon di kulkas masih segar, jadi aku masak sup salmon kesukaan kamu aja,” jelasku singkat, tanpa menghentikan tanganku memotong-motong tomat.


“Istriku emang yang paling perhatian,” bisik Mas Adrian meletakkan dagunya di atas kepalaku.


“Udah, ah. Jangan ganggu, nanti masakannya berantakan, Sayang ….”


“Mau aku bantu potong?” tawarnya, sementara tangan kananya memegang tanganku yang menggenggam pisau.


“Mas Adrian! Udah! Ini kita di rumah Ummi loh,” protesku lirih.


“Terus kenapa? Ummi juga pasti paham kalau anaknya memerlukan hal-hal yang menyangkut kebutuhan biologis manusia.” Aku tak lagi menanggapinya, membiarkan ia melakukan sesuai keinginan, karena memang tak ada celah untuk menolak seorang Adrian.


Ketiga menu telah siap, dan aku baru terbebeas dari belenggunya ketika tiba saat plating. Ini adalah bagian yang paling kutungg-tunggu dari semua tahap dalam membuat olahan rumahan. Tuna patties kususun rapih di piring keramik persegi panjang, Sup salmon kupindahkan dalam mangkuk besar, dan Tumis bayam tomat–


“Aw! Ah!” Spontan aku terduduk memegangi perutku. Tangan kiriku pun menutup mulut, agar suara kesakitan itu tak lolos keluar.


"Aw! Perutku ..., sakit banget."


"Sayang? Aleesa?"


Beberapa saat setelahnya Mas Adrian segera menggendongku dengan gaya bridal. Setengah berlari ia membawaku hingga ke kamar dan menurunkanku di atas ranjang. Aku pun meringkuk mencari posisi yang pas agar sakit itu tak menguasaiku. Aneh. Sejak aku menikah, ini adalah kali pertama aku kembali merasakan sakit akibat menstruasi.


Mas Adrian berlalu setelah menurunkanku. Aku tak lagi memperdulikan sekitar, demi meringkuk menahan rasa sakit. Kenapa tiba-tiba datang? Bahkan aku hampir saja lupa dengan rasa sakit ini. Oh Tuhan ...


Bertahan dengan posisi meringkuk selama beberapa belas menit, akhirnya rasa itu perlahan memudar. Kedua tanganku segera menyeka air mata yang menitik ketika Mas Adrian datang membawa kompres dan air hangat dalam gelas.


Tangan kanannya membawakan gelas berisi air hangat sementara tangan kirinya membantuku duduk bersandar pada kepala ranjang. "Minum dulu, biar mendingan,” ucapnya pelan.


Setelah meneguk habis minuman itu, aku pun kembali merebahkan badan. Lantas Adrian memberikan kompres hangat itu kepadaku. “Sakit banget, ya?”


“Iya …,” jawabku mengundang air mata kembali turun.


“Udah …, tiduran aja dulu senyaman kamu, jangan dirasain.” Kurasakan tangannya mengusap punggung tanganku.


Selama beberapa detik, Adrian tak berpindah tempat. Hingga rasa kantuk menyerangku, membawaku terbang ke alam mimpi. Siang yang panas itu kulalui dengan mengistirahatkan badan di atas ranjang empuk dengan kompres hangat di perutku. Saat mengerjapkan mata, dan mulai mengumpulkan kesadaran, tampak jam di dinding menunjukkan pukul dua siang. Yang artinya aku telah tidur selama lebih kurang dua jam.

__ADS_1


Rasanya nyeri haid yang tadi menyerang pun sudah berkurang jauh dari sebelumnya. Aku pun bangkit perlahan, sebelum akhirnya Mas Adrian menghentikanku dan memintaku kembali beristirahat.


“Udahlah, nggak usah ke mana-mana dulu. Istirahat aja, Ummi juga nggak apa-apa kok. Kita itu ke sini cuma ngisi absensi aja, cukup tahu kita datang ke sini, Ummi udah senang.” Mas Adrian memegang bahuku.


“Iya, Mas, tapi aku juga nggak enak kalau di sini nggak ngapa-ngapain. Yang bersih-bersih rumah siapa coba?”


“Ada suruhan Kak Danar kok yang ke sini tiap pagi sama sore. Udah, yang paling penting sekarang perut kamu dibikin nyaman aja dulu.”


Click!  Pintu kamar terbuka, menampilkan Ummi dan Tante Jihan berdiri di sana.


“Gimana nyerinya? Udah mendingan?” Tante Jihan mendahului seraya mendekat.


“Alhamdulillah udah mendingan, Tan. Nyerinya tinggal dikit aja.”


Mendengar jawabanku, Tante Jihan memukul lengan Adrian. “Pijitin, biar sembuh.”


“Hah?”


“Iya, pijitin punggungnya, biar rasa nyerinya nggak balik lagi,” tambahnya menyodorkan minyak urut.


“I, iya, Tan.”


“Cepat sembuh, ya, masih banyak yang mau Tante obrolin sama kamu,” ujarnya kemudian undur diri dari ruangan ini.


“Tante kamu emang beda,” komentarku begitu pintu kembali ditutup.


“Iya, kan? Emang gitu orangnya. Baik, tapi kadang juga suka ngeselin.”


“Gimana? Nyerinya masih ada? Perlu dipijitin?”


“Emang bisa?”


Aku berjalan menuju kamar mandi, bahkan Adrian sampai menunggu di depan pintu kamar mandi sebegitu takutnya aku kenapa-napa. Dan dengan rasa sakit yang tersisa aku setuju Mas Adrian memijatku. Aku pun mengganti gamisku dengan baju tidur agar lebih mudah untuknya memijat punggungku.


“Sini,” perintahnya memintaku tengkurap di bantal yang ia siapakan.


Setelah merebahkan diri, mencari posisi yang nyaman, tangan itu menyingsingkan baju tidurku. Meski aku tahu Adrian tak akan mungkin lupa dengan menstruasiku yang belum berakhir, tapi tetap saja jantung ini bereaksi karena sentuhan tangannya itu.


“Gimana rasanya?” tanyanya melihatku.


“Enakan.”


“Alhamdulillah.”

__ADS_1


“Ahh! Mas!”


__ADS_2