Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Benang Merah


__ADS_3

"Bagaimana kalau kita buat kontrak?"


"Kontrak?"


Adrian menuliskan sesuatu di atas kertas yang diambilnya dari dalam tas. Setelah menunggu beberapa saat, Adrian menyerahkan kertas itu padaku.


"Khadija harus mulai pakai jilbab, Khadija harus kembali sekolah dengan biaya yang akan ditanggung oleh Adrian, Khadija tidak akan pernah kembali ke tempat itu." Aku membacanya satu per satu poin yang tertulis di kertas itu.


"Terus? Yang terakhir?" Adrian menatapku tajam.


"Yang terakhir aku nggak ngerti deh. Maksudnya apa?"


"Baca dulu dong..,"


Aku mendehem pelan seketika. "Hm! Tunggu Adrian beberapa tahun lagi, dan Adrian akan datang untuk melamar Khadija?" Aku menatapnya malu, lalu pria itu tersenyum.


"Kecuali Khadija sudah menemukan orang yang sesuai dengannya, Khadija tidak berhak untuk menunggu Adrian lagi." Aku mengakhiri membaca tulisan tangan itu.


"Aku akan menunggu!" spontan suara itu keluar dari mulutku.


"Hahahaha, baguslah. Kalau begitu kita sepakat, kan?" Lagi-lagi jantungku tak bisa dikendalikan karena melihat senyumnya itu.


Setelah pertemuan kami itu, Adrian kembali berangkat untuk melanjutkan pendidikan dan pekerjaannya. Ia meninggalkanku dengan kontrak itu, aku pun diminta untuk tinggal bersama dengan sepasang suami-istri yang katanya adalah teman ayahnya. Mereka tidak memiliki anak karena kondisi sang istri, jadi mereka dengan senang hati mengurusku. Aku juga mendapat uang saku setiap bulan, dan kebutuhan sekolah, serta kebutuhan hidup lainnya dari Adrian sampai aku lulus dari SMA.


Ayahku sudah tak peduli padaku sejak aku melunasi utang-utang keluarga kami dari uang yang diberikan oleh Adrian. Ketika aku menanyakan keberadaan Ibu kandungku pada Ayah, dia hanya bilang, "Ibu kandungmu meninggal saat kamu dilahirkan. Makamnya ada di Palu." Dari sana, aku memutuskan pada diriku sendiri untuk tidak ikut campur lagi dalam urusan keluarga Ayah. Mungkin setelah Adrian kembali, aku bisa memintanya mengantarku ke Palu dan bertemu Ibu.


Tapi, setelah menunggu cukup lama hingga aku memasuki semester keduaku, aku tidak pernah mendapat kabar dari Adrian. Suami-istri yang merawatku selama kurang lebih empat tahun itu akhirnya meninggal dalam sebuah insiden kecelakaan. Aku yang bukan siapa-siapa ini hanya bisa pergi dari rumah mereka, setelah pihak keluarga besar mereka mengambil alih kepemilikan rumah beserta tanah yang sementara itu kutinggali. Uang yang diberikan Adrian masih ada, tapi semakin menipis seiring aku memerlukan banyak biaya untuk tinggal di kost-anku sendiri.


Ketika uang pemberian Adrian benar-benar habis dan aku tak bisa bergerak tanpa uang\, akhirnya aku bertransformasi menjadi 'a**m kam**s'. Aku putus asa karena tak ada jalan lain\, dan itu adalah cara termudahku mendapatkan uang. Yang paling memalukan adalah salah satu pelangganku\, pada akhirnya menjadi sahabatku. Tapi kemudian kami sepakat untuk tidak membahas itu\, dan melupakan apa yang terjadi antara kami berdua sebelumnya.


Sampai ketika, suatu hari aku bertemu seorang pria yang mirip sekali dengan Adrian. Ia berlari dari mobil ke arah stasiun, karena penasaran, aku mengikutinya. Tapi saat kami berpapasan, ia tak menyapaku. Bahkan saat aku meminta tolong padanya untuk mengambilkan barangku yang terjatuh, ia memberikannya kepadaku seperti orang asing. Tapi fakta bahwa pria itu adalah Adrian yang aku kenal, tak bisa terelakkan. Ada sesuatu yang akhirnya membuat ia lupa padaku.


Hingga kini, tiba saatku untuk menangisi pria yang jatuh ke dalam pelukan sahabatku sendiri. Padahal setelah aku bertemu dengannya di stasiun kereta saat itu, aku sudah memutuskan untuk berhenti pekerjaan haramku. Tapi terlambat. Orang yang baru mengenal Adrian, yang akhirnya menikah dengannya.


*****


Enam bulan berlalu sejak aku mendapatkan buku diary itu dari Garrin. Aku telah membaca semuanya, dan aku menyesuaikan tiap tulisan itu dengan cerita-cerita Adrian di masa lalu yang kudapat dari Kak Danar, Tante Jihan, dan kerabat yang lain. Semuanya hampir sama, atau justru semuanya memang adalah satu alur yang jelas sejak awal.


"Sayang, aku berangkat dulu, ya."

__ADS_1


"Ke mana?" Aku meletakkan kembali ponselku ke atas meja.


"Ke acara itu.., launching. Kan aku udah bilang dari semalam."


Aku memeriksa jam di layar ponsel serentak berdiri. "Oh, iya. Aku yang lupa. Ya udah, hati-hati ya... Kalau udah selesai acara langsung pulang, kan?"


"Inshaa Allah.., begitu acaranya selesai aku langsung pulang kok."


Tanganku yang tak segera melepas keberangkatannya dengan iseng memegang ujung kemeja Adrian. "Kenapa? Kamu perlu sesuatu?" tanyanya berbalik.


"Nanti makan malamnya di rumah ya? Aku mau masak buat kamu." Meski dengan kikuk akhirnya kalimat itu kuutarakan. Adrian sontak tersenyum ke arahku dan meninggalkan kecupannya di dahiku.


"Nanti kita makan malam sama-sama, ya."


Adrian keluar dari kamar menuju ke lantai bawah, tempat Pak Erwin yang telah menunggunya. Mulanya aku hanya ingin mengantar Adrian sampi ke luar kamar. Tapi sepertinya ekspresi itu tak menunjukkan bahwa aku telah melakukan hal yang benar. Jadi kuputuskan mengantar keberangkatan suamiku itu sampai di beranda rumah.


Jika dihitung, usia rumah tangga kami saat ini sudah satu setengah tahun. Tak terasa bulan demi bulan kami lalui bersama tanpa gangguan berarti. Masalah memang sesekali muncul, tapi di sisi lain, kami berdua sama-sama bisa menghadapinya. Meski memang masih ada beberapa hal yang belum bisa dituntaskan, seperti sikap Ummi kepada kami berdua yang masih sama seperti enam bulan lalu. Aku tak bisa menyalahkan siapapun, tapi beliau masih ketus denganku hingga kini.


Seakan sosok mertua baik hati itu telah hilang dari kehidupan pernikahanku. Aku mulai mengerti bagaimana rasanya menjadi menantu dari seorang nyonya besar seperti di film-film. Mungkin aku tak sempat menceritakan semua yang kualami pada Adrian, tapi perlakuan Ummi padaku sesekali lebih dari sekedar tak mengenakkan. Tentu aku tahu awal mula sikap Ummi tiba-tiba berubah sejak mengetahui aku bukan wanita subur. Mirisnya aku pernah sekali mendengar beliau membicarakan tentang perceraian dengan Adrian.


"Nyonya, kapan saya harus berangkat?" Hugo datang menghampiriku beberapa saat setelah mobil yang membawa Adrian pergi meninggalkan rumah.


"Baiklah, saya berangkat, Nyonya." Hugo menunduk singkat, lantas masuk ke mobilnya dan pergi.


Bawalah kabar baik, dan kesabaranku selama enam bulan ini tidak akan sia-sia.


[Voice Call]


Hanna Aleesa : Assalamualaikum, iya, lo bisa pergi sekarang


Garrin Wijaya : Kalau apa yang lo pikirkan selama ini benar, demi apa pun gue nggak mau rumah tangga kalian berdua yang dipertaruhkan


Hanna Aleesa : Tenang aja Rin, gue nggak mungkin merencanakan sesuatu yang besar tanpa menyiapkan semuanya. Gue udah tahu apa yang bakal gue lakuin kalau benar semuanya terjadi


Garrin Wijaya : Gue harap, ini emang yang terbaik buat lo dan Adrian, dan buat gue juga


Hanna Aleesa : Setelah Adrian nggak terbukti bertemu dengan Khadija malam ini, gue rasa itu cukup untuk bisa memaafkan semua kejadian di masa lalu


Garrin Wijaya : Gue tahu di balik kata-kata lo sekarang, lo juga takut, Hann, tapi gue cuma bisa mencoba yang terbaik untuk bantu lo dengan cara gue ini

__ADS_1


Hanna Aleesa : Makasih sebelumnya, Rin. Gue berharap barita baik yang akan gue dengar


[Call Ended]


Selama enam bulan ini, aku hanya duduk diam mendengar cerita dari Garrin dan Hugo tentang Adrian yang menemui Khadija langsung, tanpa sepengetahuanku. Hanya karena aku tak memiliki bukti apapun, sampai sekarang hanya diam yang bisa kulakukan. Tapi hari ini, Garrin akan membantuku dengan berbicara bersama Khadija untuk membuatnya berkata jujur. Aku harap ia benar mengatakan yang sejujurnya selagi aku mendengar percakapan mereka melalui earphone yang tersambung dengan perekam suara di sana.


"Nyonya, ada orang yang ingin bertemu dengan anda di bawah." Mba Puput memberitahuku hal itu lantas berlalu.


"Siapa?"


"Laki-laki. Katanya kenalan anda."


Aku segera membenahi penampilanku, menyembunyikan earphone dalam hijab yang kupakai, baru kemudian turun. Setelah sampai di lobby rumah, tampak seorang pria duduk di kursi tunggu dengan tatapan serius. Kalau sampai security rumah menyilakannya masuk, pasti ia memiliki hal khusus yang dibawa. Tapi meski aku mengamati gerak-geriknya dari jarak beberapa meter, aku juga tetap tak tahu siapa pria itu. Ketika aku berjalan mendekat, serentak ia berdiri.


"Nyonya pemilik rumah?" tanyanya sambil tersenyum.


"Iya, saya sendiri. Lalu anda?"


"Nama saya Henri, saya hanya seorang informan yang ingin menawarkan jasa informasi saya untuk tuan Adrian Al-Faruq. Tapi karena beliau sedang tidak ada di rumah, saya bisa mengalihkan informasi ini untuk anda, Nyonya Al-Faruq."


"Maaf, sayang sekali, tapi sepertinya kami tidak memerlukan informasi yang anda bawa. Silakan pergi, pintu keluar di sebelah kiri."


"Mungkin anda memang belum memerlukannya, tapi Tuan Al-Faruq akan sangat tertarik dengan informasi mengenai dua wanita berharga dalam hidupnya. Keduanya sama-sama memberi pengaruh pada kehidupan seorang Al-Faruq. Yang satu adalah wanita dari masa lalunya, dan satu lagi adalah wanita yang saya hadapi saat ini."


"Mohon jangan lancang berbicara demikian selagi suami saya tidak ada."


"Oh, maaf atas kelancangan saya. Saya hanya ingin anda mendengar apa yang saya bawa."


Di kursi yang berada di pinggir dinding ruang lobby itu, pria yang mengaku sebagai Henri, membuka perlahan dokumen yang dibawanya. Dari tempatku berdiri, aku menunggu hingga ia mengeluarkan apa yang ingin ia ungkap.


"Hanna Aleesa Al-Faruq, golongan darah A, didiagnosis, maaf, mandul, sejak beberapa bulan lalu. Dan sempat mendapatkan transfusi darah dari seseorang tak dikenal sewaktu terjadi perdarahan berat. Sampai di sini benar?"


"Anda mencuri data pasien dari rumah sakit tempat saya dirawat?"


"Saya adalah informan, data seperti ini terlalu mudah untuk didapatkan. Tapi bukan itu poin terpentingnya. Saya sudah menemukan potongan puzzle dari kasus ini. Sama dengan kejadian kecelakaan mobil tujuh tahun lalu yang menyebabkan Tuan Al-Faruq mendapat operasi, ternyata ada benang merah takdir yang mengikat kalian berdua." Pria itu menarik dua lembar kertas dari dalam amplop coklat.


"Dua orang, sepasang suami-istri yang pernah ada di ambang kematian, diselamatkan oleh satu orang yang sama, Karinda Amarini Nasyuf." Pria itu tersenyum mengakhiri kalimatnya.


Tanganku spontan menarik dua lembar kertas itu, dan membacanya sendiri. "Bagaimana saya tahu kalau data ini asli atau palsu? Anda bisa saja memalsukannya demi mendapatkan apa yang anda inginkan dari saya."

__ADS_1


"Hanna Aleesa, selama lima bulan saya menahan diri untuk tidak mengatakan apa-apa karena tidak ingin mengacau keluarga terpandang Al-Faruq. Tapi sampai di sini, sepertinya anda tidak mengerti bagaimana kejamnya anda, yang hidup di atas kesengsaraan orang lain. Anggap saja informasi ini gratis untuk anda sebagai buah tangan pertemuan pertama kita." Henri berdiri, lalu meninggalkan ruangan sepi itu tanpa pamit.


__ADS_2