
“Nyonya, anda baik-baik saja?” Suara cemas Mba Rina kembali terdengar ketika aku berusaha bangkit dari tidurku.
“Berapa lama saya pingsan?”
“Dua menit.” Agatha menghampiriku, merebahkan kembali tubuhku.
“Anda harus ke rumah sakit setelah ini. Kecuali anda mau menuruti perkataan saya, saya bisa memberitahu Presdir kalau anda tak perlu kembali ke rumah sakit.”
“Bukankah sebaiknya membawa Nyonya ke rumah sakit demi kebaikan Nyonya,” sela Mba Rina dengan nada meninggi.
“Nggak, nggak usah ke rumah sakit. Saya baik-baik saja.” Kilahku menolak saran Mba Rina.
Agata tersenyum memandangku, kemudian melihat pada Mba Rina. “Mba Rina dengar sendiri, kan?”
“Kalau begitu anda hanya harus berbaring selama sepuluh menit, sementara saya siapkan makanan. Ingat lagi kapan terakhir kali anda duduk dan makan dengan benar.” Agatha berlalu setelah mengucapkan kalimat panjangnya itu.
Yang dikatakan wanita itu tak sepenuhnya salah karena aku ingat terakhir kali aku makan adalah beberapa saat sebelum Bu Aris dan suaminya datang. Itu artinya sarapan kemarin adalah terakhir kali makanan masuk ke dalam tubuhku. Setelah itu, aku belum mengisi perutku karena terlalu antusias belanja dan membuat kue pesanan.
Berbeda dengan Agatha yang berujar datar namun tetap memperhatikanku, Mba Rina tulus mengungkapkan kehawatirannya terhadap keadaanku setiap waktu. Setelah meninggalkan dan membiarkanku beristirahat selama lebih kurang sepuluh menit, Agatha kembali membawakan nampan berisi piring, mangkuk, dan gelas.
“Silakan nikmati sarapan anda, Nyonya.”
Mba Rina membantuku duduk. “Sebanyak ini?” tanyaku agak terkejut melihat isi nampan yang diletakkan di meja sebelah ranjang.
“Atau anda lebih memilih tinggal di rumah sakit?” bisik Agatha mengancam dengan senyuman.
“Saya tidak mengerti apa motifmu memberikan makanan sebanyak ini. Kamu ingin membuat saya cepat pulih, atau obesitas?”
Wanita itu tertawa mendengar tuduhanku. “Percayalah, Nyonya, tidak mungkin saya melakukan hal buruk kepada orang yang saya layani.”
“Agatha benar, perut anda sudah terlalu lama kosong, dan anda bahkan berdiri selama berjam-jam untuk membuat kue pesanan, ini lebih baik daripada harus ke rumah sakit, Nyonya. Tolong turuti saja.” tuntut Mba Rina membenarkan ucapan Agata.
Di awal aku memang menggerutu tak percaya Agatha memberiku makanan sebanyak ini. Tapi begitu waktu berlalu, ketika mereka memberikanku waktu untuk sendiri, aku mampu menghabiskan semuanya tanpa sisa. Ajaib, bagaimana perutku bisa muat untuk makanan sebanyak ini? Tapi untuk tangan seorang asisten profesional, masakan itu memang memiliki rasa yang sesuai dengan lidahku.
Aku sudah kembali segar dan memilih untuk sedikit berjalan ke luar rumah ketika matahari sudah muncul sepenggalah. Mba Rina dan Agatha yang bersikeras untuk mengerjakan sisa pesanan tanpa bantuanku pun ku-iya-kan. Di sisi lain, Mba Puput datang ke rumah, mengambil pakaian untuk dibawa ke tempat laundry.
“Pagi, Nyonya.” Ia menunduk sekilas lantas berjalan melewatiku.
“Pagi.”
“Selamat pagi, Nyonya. Bagaimana kondisi anda? Presdir sangat mencemaskan anda, karena ponsel anda tidak bisa dihubungi sejak semalam.” Pak Erwin berganti menyambutku.
“Saya tidak apa-apa. Mungkin ponsel saya habis baterai, saya lupa isi daya dari kemarin.”
Ia segera mengulurkan ponsel di tanganya. “Sebaiknya anda segera menghubungi Presdir. Mungkin beliau masih ada waktu sebelum berangkat ke pertemuan dengan rekan kerja. Setidaknya, anda bisa menyelamatkan hari Presdir dari kekhawatiran.”
Aku menerima ponsel itu setelah beberapa saat hanya memandanginya. “Terimakasih, Pak Erwin.”
__ADS_1
“Saya akan membantu Agatha dan Mba Rina di dalam. Anda bisa mengembalikannya kepada saya kapan pun.”
Pak Erwin berjalan masuk ke dalam rumah, meninggalkanku di pekarangan rumah yang sepi. Sejak kemarin, aku memerintahkan staf keamanan untuk berjaga dari dalam mobil yang terparkir di depan rumah agar kehadiran mereka tak begitu disadari oleh tetangga sekitar. Suasana yang sepi ini sudah lebih nyaman dibanding sebelumnya, ketika staf keamanan berjaga dengan sangat kaku.
Kakiku berjalan beberapa langkah ke untuk menepi, mencari tempat yang tepat sembari mempersiapkan hati sebelum menghubungi kontak Adrian. Satu sisi hatiku berkata untuk segera menghubunginya agar mengurangi sedikit saja kekhawatirannya terhadapku. Di sisi lain, aku merasa aku terlalu baik padanya. Harusnya aku masih marah karena penipuan ini.
Incoming call …. Ponsel yang kupegang itu bergetar, menampilkan nama ‘Presdir’ di layarnya. Belum sempat aku membuat keputusan, orang itu sudah lebih dulu menghubungi.
Adrian Al-Faruq : Kenapa harus tunggu aku yang hubungi duluan sih? Bukannya udah jelas kamu harus laporkan keadaan Aleesa sebelum aku berangkat bekerja?
Adrian Al-Faruq : Gimana keadaan Aleesa? Halo? Erwin? Hey! Gila ya! Suaraku kedengaran nggak sih? Apa perlu aku pulang hari ini juga, kalau kalian berdua nggak bisa menjaga istriku?
Hanna (Erwin’s phone) : Istri Presdir baik-baik saja. Tidak perlu cemas karena semua orang di sini telah bekerja keras untuk menjaga istri anda dan memperlakukannya dengan sangat baik.
Adrian Al-Faruq : Sayang? Kenapa kamu ...?
Hanna (Erwin’s phone) : Pak Erwin yang kasih aku ponselnya karena ponselku habis baterai sejak kemarin. Sepertinya Pak Erwin sangat khawatir kalau kamu akan mencemaskanku seharian ini nanti.
Adrian Al-Faruq : Kamu nggak apa-apa? Agatha bilang kamu pingsan pagi ini.
Hanna (Erwin’s phone) : Aku nggak apa-apa. Kecerobohanku sendiri sih, karena terlalu antusias sampai lupa makan dan istirahat. Tapi Agatha sangat pengertian sampai akhirnya aku bisa bangun dengan badan yang jauh lebih segar.
Adrian Al-Faruq : Aku lega kamu baik-baik aja.
Hanna (Erwin’s phone) : Aku senang dengar suara kamu pagi ini. Jangan khawatirkan aku, cepat selesaikan pekerjaan di sana dan pulanglah. Aku menunggu.
Hanna (Erwin’s phone) : Ya udah kalau gitu, kamu mau berangkat kerja, kan? Ingat untuk selalu hati-hati kapan pun, di mana pun. Au tutup teleponnya, ya?
Adrian Al-Faruq : Iya, Assalamu’alaikum
Hanna (Erwin’s phone) : Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakaatuh
[Call End]
Aku menutup panggilan itu selepas membalas salamnya. Hati dan kepalaku sedikit lebih ringan setelah mengatakan semua apa adanya. Kuharap kekhawatirannya benar-benar berkurang setelah mendengar suaraku baik-baik saja ini. Karena aku sendiri, hanya dengan mendengar suaranya sudah lebih dari cukup untuk mengobati kerinduan ini.
Meski begitu, dalam hati ini tetap saja ada pertanyaan serupa “Kapan Adrian akan pulang?” atau “Berapa lama lagi pekerjaannya di Surabaya akan selesai?”
“Mari, Nyonya.” Mba Puput lagi-lagi menunduk singkat lantas berlalu dari hadapanku dengan membawa sekantung penuh pakaian untuk dibawa ke laundry.
Jika diperhatikan dengan seksama, ada yang salah dari perilakunya setelah tiga bulan kami tak bertemu. Setiap ekspresi dan sikapnya yang ditunjukkan di depanku terasa janggal karena berbeda dengan Pak Erwin, Agata, apalagi Mba Rina. Masih jadi tanda tanya besar di kepalaku, tentang ada apa gerangan dengan perubahan sikap Mba Puput itu.
Memang semua bisa saja tiba-tiba berubah, seperti halnya kehidupanku yang berubah karena satu malam hari itu. Masih tak bisa dipercaya.
Matahari makin naik, dan sinarnya pun makin terik. Sesuai dengan permintaan Bu Aris, pukul sembilan pagi, kue yang sudah selesai dikemas, langsung kami antar ke rumah. Kali ini aku pergi dengan Agatha dan Pak Erwin sebagai driver yang membawa mobil ini menuju rumah Bu Aris, kemudian berlanjut ke rumah Ummi.
Kedatanganku di rumah tetangga komplek itu segera disambut oleh Bu Aris sang pemilik rumah dan kerabatnya yang ikut bantu membawakan kue ke dalam rumah. Sepertinya di dalam rumah itu juga cukup ramai, terdengar suara orang-orang berbicara dari dalam. Menurut dugaanku, persiapan kenduri dalam rangka perayaan khitanan itu mungkin hampir selesai dan akan segera dimulai.
__ADS_1
“Eh, masuk dulu, Hann. Ada ibu-ibu komplek juga pada ngumpul tuh, ngerewang di dalam.” Bu Aris menawarkanku untuk masuk.
“Maaf, Bu, tapi saya masih harus pergi ke rumah mertua dulu, sekarang. Inshaa Allah sore nanti saya ke sini lagi.”
“Kalau begitu terimakasih banyak, ya, Hann.”
“Iya, Bu, sama-sama. Kami permisi dulu, assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Aku kembali ke dalam mobil, begitu pula Agatha dan Pak Erwin yang melajukan mobil ini melewati jalan yang biasa kulewati ketika hendak pergi ke rumah Ummi.
“Sepertinya Tuan akan pulang dalam seminggu. Beliau meminta saya menggantikan rapat dengan klien di Jakarta. Apa anda akan ikut?”
Aku mengangkat kepalaku, melihat Pak Erwin dari kaca. “Kenapa saya ikut?”
“Presdir ingin memberikan penawaran untuk anda, barangkali anda ingin ikut serta dengan salah satu cabang perusahaan. Anda hanya perlu mengikuti serangkaian tes dari manager perusahaan, dan anda akan ditempatkan di posisi paling tepat, sesuai kemampuan anda,” paparnya.
“Adrian membolehkan saya kerja?”
“Bukan bekerja. Tapi anda disilakan untuk menjadi apa yang anda mau di tempat yang anda inginkan. Begitu pesan dari Presdir.”
“Di mana tesnya?” tanyaku antusias.
Agata berbalik menatapku. “Nyonya, anda serius akan mengambil tes itu?”
“Tentu saja. Mana mungkin aku akan menyia-nyiakan kesempatanku untuk bekerja. Dan lagi, apa gunanya aku selama tiga setengah tahun belajar managemen bisnis bahkan sampai ke Australia.”
Agatha mendengar dengan seksama jawabanku. Kemudian ia membenarkan posisi duduknya, lantas memandang ke arah Pak Erwin. Kedua orang yang duduk di bangku depan itu saling berkode mata tanpa suara.
“Baiklah, saya akan segera menyiapkan jadwal tes untuk anda.”
Moodku kembali setelah mendengar hal itu. Aku tak menyangka akhirnya Adrian memberiku kesempatan untuk memanfaatkan pengetahuan yang kudapatkan selama tiga setengah tahun di perkuliahan. Selama sisa perjalanan, aku lebih banyak tersenyum sampai kami tiba di supermarket guna membeli buah tangan untuk Ummi.
Sesampainya di rumah Ummi, pelukan hangat itu menyambutku. Syukur keadaan Ummi baik-baik saja sejak terakhir kali aku berkunjung ke mari. Lebih bersyukur lagi karena Tante Jihan tidak ada di rumah itu. Menurut penjelasan Ummi, Tante Jihan belum lama pulang ke rumahnya. Sungguh beurntung sekali aku hari ini, karena tak perlu bertemu dengannya.
“Kemarin, kurir datang lagi ke rumah ini untuk mengantar barang. Tertulis di sini tertuju kepada Adrian, jadi, lebih baik nanti kamu bawa pulang, ya?” pintanya menyerahkan kotak berbungkus kertas dan segel rapi.
“Iya, Ummi.”
“Oh, iya. Kalian pasti belum makan siang, kan? Kebetulan Ummi mau masak, jadi kalian bertiga sekalian makan di sini aja.”
“Wah, jadi merepotkan Ummi dong kalau begini.”
“Nggak repot, kok. Ummi memang suka masak, kamu juga suka masak, kan?” Ummi berdiri hendak menuju ke dapur.
Aku segera mengikutinya mengangkat tubuh dari sofa. “Kalau gitu Hanna bantu, ya, Ummi.”
__ADS_1
“Boleh deh. Bisa kolaborasi, kita. Hahaha.”