
“Kami pulang dulu, ya, terima kasih untuk makan siangnya, maaf jadi merepotkan kalian berdua,” pamit Bunda dari dalam mobil dengan kaca terbuka.
“Nggak merepotkan sama sekali, Bun. Justru Adrian senang Hanna jadi punya teman di rumah, kalau Bunda dan Ayah datang. Maaf kami jarang ke rumah Ayah-Bunda, tapi kalau kami luang, pasti kami menyempatkan ke sana nanti.” Respon Adrian yang merangkul bahuku mengantar kepulangan Ayah-Bunda.
“Lain kali sering-sering ke rumah kami, ya, jangan nunggu kita yang datang ke rumah kalian terus-terusan.”
“Iya, Yah.”
“Sudah, ya, Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam warahmatullah.”
Sepeninggal Ayah dan Bunda, pergi pula senyum indah dan ramah tamah Adrian yang sedari tadi melekat pada dirinya. Meski ia tak marah atau membentak, tapi perubahan sikapnya yang mendadak cukup membuatku tak nyaman. Kembalilah sosok Adrian yang dingin dan pendiam.
Setelah itu pun ia kembali ke kantor dan baru pulang lagi sekira jam sepuluh malam. Raut wajah pria itu tampak begitu lelah, ia juga tak sempat menceritakan masalahnya karena kantuk menyerang lebih awal sehingga memaksa kami terlarut dalam lautan mimpi.
Pagi harinya, ia juga masih tak menceritakan hal yang membuatku penasaran itu. Ia pergi ke kantor begitu saja, membuatku terdiam menelan rasa penasaran yang belum juga terjawab. Aku kembali menyibukkan diri dengan memeriksa data keuangan di ruang tengah sembari menunggu waktu makan siang tiba.
“Permisi Nyonya, di depan ada Pak Erwin datang.” Mba Rina memberitahuku dengan raut takut.
“Langsung masuk aja, mungkin mau ambil beberapa barang Adrian yang ketinggalan.”
“Tapi, sepertinya bukan itu tujuannya, Nyonya.” Mba Rina menundukkan pandangannya.
Aku segera beranjak menemui Pak Erwin yang duduk di sofa ruang tamu bersama beberapa orang lainnya. Tak banyak bicara, salah seorang dari mereka menyerahkan beberapa lembar kertas bertanda tangan yang hampir saja membuatku pingsan saat itu juga setelah membacanya. Tak perlu waktu lama sampai Adrian datang. Hanya beberapa saat setelah Pak Erwin dan orang-orang itu pergi.
“Ada apa?” tanyanya panik segera menemuiku yang duduk di pinggir ranjang, menata baju ke dalam koper.
“Kamu punya hutang apa sama Pak Erwin?” aku balik bertanya setibanya Adrian di depanku.
“Aku enggak punya hutang apa-apa.”
"Kalau gitu, kamu ada masalah apa sama perusahaan kamu itu?"
"Nggak ada masalah apapun."
“Jangan bohong. Aku udah bilang sama kamu berapa kali sih, kalau ada masalah cerita sama aku, aku pasti bantuin kamu sebisaku. Tapi kenapa kamu nggak pernah jujur soal masalah kamu?”
“Erwin ke sini? Dia bilang apa sama kamu?” Adrian menahan emosinya.
__ADS_1
“Iya, Pak Erwin baru dari sini. Dia cuma kasih surat-surat ini.” Aku menyerahkan kertas-kertas itu, membiarkan Adrian membacanya.
“Erwin sialan!” geram Adrian membanting kertas-kertas itu.
Aku mendekatinya, memegang bahu Adrian yang naik-turun karena amarahnya. “Istighfar … nggak ada gunanya kamu teriak-teriak sekarang. Pak Erwin juga nggak akan dengar. Mendingan sekarang kita beres-beres.”
“Kamu … gimana bisa kamu tenang setelah semua yang udah dilakuin Erwin?”
“Sabar Adrian, ini hanya kerikil kecil yang dilempar untuk menghantam rumah tangga kita.” Aku tersenyum sekilas menatapnya.
"Nggak ada yang perlu ditakuti kalau kita bisa saling percaya. Dan harapanku kedepannya, semoga kita bisa lebih saling percaya satu sama lain. Mungkin ini emang waktu untuk kita saling memperbaiki diri." lanjutku.
Jujur saja ketika pertama kali aku membaca surat-surat itu, hampir aku pingan di tempat setelah membacanya. Emosiku ingin segera kuluapkan kepada Adrian yang belum mau berkata jujur, juga pada Pak Erwin yang kukira dia adalah orang baik. Tapi setelah aku teringat dengan nasihat Ayah, aku tahu bahwa semua hal di dunia ini hanyalah fana.
Makanan, pakaian, rumah, bahkan orang tercinta pun bisa lenyap dari genggaman kita atas izin Allah. Aku hanya bisa berlari dan menutup pintu kamar kemudian menangis. Bukan menangisi apa yang hilang, tapi aku menangis atas kebodohanku yang terlalu mencintai perhiasan dunia fana ini. Aku lupa bahwa Allah sedang mengajakku berbicara melalui ujian ini.
Setelah kuceritakan hal itu kepada Adrian, ia terdiam sebentar kemudian mendudukkanku di pangkuannya. Dengan nada sendu ia berbisik seraya memelukku, “Maaf aku belum bisa membahagiakanmu, Aleesa. Maaf membuatmu menderita, seperti ini.”
“Istighfar Adrian … demi Allah aku bahagia bertemu denganmu, bukan karena hartamu.”
“Tapi ini salahku belum mampu menjadi suami yang baik.”
Semalaman kami membereskan pakaian dan barang-barang lain yang akan kami bawa entah ke mana. Dalam surat itu, tertulis jelas Pak Erwin memberi kami waktu hingga tiga hari untuk mengosongkan rumah ini, dan menarik aset yang memiliki kaitan dengan perusahaan. Meski aku tahu Adrian sangat terpukul dengan hal ini, tapi kucoba untuk tak menambahi beban pikirannya dengan menghibur sebisaku.
Malam itu juga kami mendiskusikan tentang nasib Mba Rina dan Mba Puput juga empat security yang bekerja di rumah ini. Karena dengan sisa uang yang ada, kami tidak bisa menggaji mereka semua sekaligus. Selain itu, Adrian juga memohon padaku untuk tak memberitahukan tentang pindah kepemilikan aset dan perusahaan penerbit itu kepada Ummi, maupun kedua orangtuaku. Ia tak ingin membuat lebih banyak orang terlibat dan khawatir dengan kami.
Keesokan harinya, setelah selesai sarapan, aku dan Adrian duduk di ruang tengah menghadap Mba Puput, Mba Rina, dan empat security. Setelah terdiam dan saling berpandangan, akhirnya Adrian membuka suara. Dan dengan berat hati, kami terpaksa memberhentikan keduanya mulai besok.
“Maaf, dan terima kasih banyak karena sudah mau membantu menjaga sekaligus merawat istri saya dan rumah ini,” kata terakhir Adrian seraya menyerahkan amplop-amplop coklat berisi uang sebagai gaji terakhir mereka.
Dengan kepala menunduk, Mba Rina, Mba Puput, dan para security itu hanya bisa menerima keputusan kami meski berat pula untuk kami memberhentikan dua asisten baik dan jujur seperti mereka. Juga security yang rela tak tidur siang-malam untuk menjaga keamanan rumah ini.
“Maaf, ya, lagi-lagi kamu harus berkorban. Uang tabungan kamu harus kepakai untuk gaji mereka,” sesal Adrian masih berlanjut.
“Sudahlah, Mas, tabunganku juga jadi uang kita berdua.”
“Terima kasih banyak, kamu udah mau berkorban untuk kita. Inshaa Allah, aku akan ganti tabungan kamu, nanti kalau aku udah dapat kerjaan lagi.” Adrian membawaku dalam dekapannya.
“Nggak apa-apa, toh aku juga nggak butuh banyak uang, jangan dijadiin beban. Yah? Sekarang kita fokus sama uang yang tersisa aja,” ujarku dibalasnya dengan anggukan.
__ADS_1
Saat kita tak memiliki apa-apa, sebenarnya Allah tengah menyadarkan kita bahwa masih banyak yang kita miliki. Bersyukur tak harus tentang kesuksesan, keberhasilan, atau harta yang melimpah. Bersyukur adalah bagaimana kita berkaca bahwa diri ini masih sanggup hidup, masih sanggup bernapas, masih bisa melihat dan mendengar. Saat ini, adalah saat bagiku dan Mas Adrian untuk lebih bersyukur.
Drrt … getar notifikasi dari ponsel yang tergeletak di atas ranjang, membuatku segera mengangkatnya.
[Voice Call]
Hanna : “Halo? Assalamu’alaikum Ummi …”
Ummi : “Wa’alaikumsalam … gimana kabar kamu? Sehat?”
Hanna : “Alhamdulillah sehat, Ummi. Ummi sendiri sehat-sehat aja, kan?”
Ummi : “Alhamdulillah … ini kamu lagi di mana?”
Hanna : “Di rumah aja, Ummi.”
Ummi : “Oh …, hmm … ini … Ummi cuma mau kasih tahu, ada surat dari Kota B dikirim ke alamat Ummi, tapi tujuan suratnya kepada Adrian. Kalau ada waktu, kamu sama Adrian ke sini ambil suratnya, ya? Sekalian main ke rumah Ummi.”
Hanna : “Oh iya Ummi, nanti Hanna kasih tahu Mas Adrian.”
Ummi : “Iya, sekalian makan malam di rumah Ummi juga, ya.”
Hanna : “Iya, Ummi.”
Ummi : “Ya udah, Ummi tutup teleponnya, ya … Assalamu’alaikum.”
Hanna : “Wa’alaikumsalam warahmatullah.”
Aku meletakkan kembali ponsel ke atas meja.
“Ummi? Ada apa?” tanya Mas Adrian mendekat.
“Katanya ada surat buat kamu, tapi dikirimnya ke alamat Ummi. Kalau ada waktu kita disuruh ambil suratnya ke rumah Ummi sekalian makan malam di sana,” terangku singkat.
“Kalau gitu, malam ini aja kita ke sana. Gimana?" usul Mas Adrian antusias.
“Iya, aku ikut kamu aja.”
Pukul tujuh malam, sesuai kesepakatan, kami pergi ke rumah Ummi yang kira-kira berjarak empat puluh kilometer dari rumah ini. Ummi menyambut kedatanganku dan Mas Adrian dengan raut wajah gembira. Kami pun berakting seolah tak ada masalah apa pun yang mengganggu pikiran kami, agar tak membuat beliau khawatir.
__ADS_1