
Sudah tiga hari Khadija pergi dari rumah. Bukannya pergi menjemput, Adrian justru menghubungi Khadija dan dengan santai berkata, "Kalau udah nggak marah bilang, ya, nanti biar aku jemput." Aku sendiri tak habis pikir dengan sikap Adrian yang seperti itu, tapi di sisi lain, rumah kami terasa kosong. Adrian jadi bisa bergerak bebas semaunya, seakan tak ada sesiapa yang berhak melarangnya melakukan apa yang ia kehendaki.
Selama tiga hari itu, aku menyiapkan sarapan eksklusif untuk Adrian dari dapur atas. Rasanya sangat excited untuk memegang alat-alat dapur dan menguasai private kitchen bahkan untuk seharian. Selagi Adrian pergi ke kantor, maka aku akan membuat adonan pastry untuk simpanan. Di lain kesempatan, ketika aku sedang bosan, maka adonan itu tinggal kumasak menjadi berbagai pastry yang rasanya tak pernah mengecewakan.
"Bu, ada telepon yang bilang mencari anda. Saya harus katakan apa?"
"Dari siapa?" tanyaku segera mencuci tangan.
"Suara laki-laki, tapi tidak memberitahukan namanya. Hanya menyebutkan kalau dia informan yang ingin berbisnis dengan Nyonya Al-Faruq. Katanya ini bukan pertama kalinya menghubungi anda."
*Orang itu lagi*?
"Apa perlu saya beritahukan Pak Adrian, kalau Ibu merasa tidak mengenalnya?"
Aku segera mengeringkan tangan, kemudian melepas celemek. "Nggak perlu. Saya kenal dengan orang itu. Biar saya turun, tolong kamu lanjutkan kerjaan aja."
"Baik, Bu."
Setelah menghela napas, aku mengangkat gagang telepon.
[Voice Call]
Hanna Aleesa : Assalamualaikum?
Henri : Wa'alaikumsalam Nyonya Al-Faruq. Bagaimana kabar anda? Sepertinya susah sekali untuk sekedar bicara dengan anda. Sampai saya harus menunggu selama lima menit hingga anda datang.
Hanna Aleesa : Langsung saja katakan. Ada apa?
Henri : Saya punya informasi tentang sahabat anda. Oh, maaf. Maksud saya istri kedua Tuan Adrian. Hahahaha.
Hanna Aleesa : Lupakan saja. Saya tidak berminat.
Henri : Baiklah kalau anda tidak berminat. Tapi saya sarankan anda berhati-hati ketika keluar rumah. Istri kedua Tuan Adrian tidak ingin tinggal diam melihat kebahagiaan anda dengan kandungan anda.
Hanna Aleesa : Apa maksu-
[Call Ended]
Aih, sial! Memangnya ada apa lagi? Hubunganku dan Khadija sudah baik-baik saja sejak beberapa waktu lalu.
"Bu, baru saja Pak Erwin menelepon, Pak Adrian tidak akan pulang malam ini. Pesan dari beliau, jangan sampai anda telat makan." Mba Rina menghampiriku sambil memegang kertas-kertas bekas.
"Oh, iya. Makasih, ya. Nanti coba aku hubungi Adrian langsung."
"Baik, Bu."
"Oh ya. Nanti malam Mba Rina yang masak makan malam, ya, kalau gitu."
"Siap, Bu."
Setelah mendengar pesan Mba Rina, aku berniat kembali ke dapur dan menyelesaikan adonan pastry. Berhubung Adrian tidak pulang malam ini, maka aku juga tidak akan membuat masakan untuk makan malam. Tugas memasak sepenuhnya kuserahkan pada Mba Rina dan asisten-asistennya.
Selesai dengan adonan pastry, aku kembali ke kamar untuk bersih-bersih. Lalu salat dzuhur dan makan siang. Belum pindah dari meja makan, aku berusaha menghubungi Adrian. Mungkin ia sedang istirahat siang, pikirku. Tapi panggilanku tidak dijawab sampai tiga kali. Baru aku menghubungi Pak Erwin. Dan benar, Pak Erwin lebih cepat menanggapi panggilan dariku daripada Adrian.
[Voice Call]
Erwin : Selamat siang, Nyonya?
Hanna Aleesa : Siang, Pak Erwin. Ehm, maaf mengganggu Pak, Adrian ada di situ?
Erwin : Pak Adrian baru saja selesai makan siang, sepertinya sedang mencari musholla. Ah, anda sudah mendapat pesan dari Mba Rina?
Hanna Aleesa : Iya, tadi Mba Rina sudah memberi tahu saya
Erwin : Sore nanti akan ada petugas keamanan tambahan yang berjaga di sekitar rumah. Pak Adrian yang meminta mereka. Tapi saya akan pastikan keberadaan mereka tidak akan mengganggu kenyamanan anda
Hanna Aleesa : Iya, terimakasih. Ehm.., bisa sampaikan pada Adrian untuk menghubungi saya jika ada waktu luang?
Erwin : Baik, Nyonya. Akan saya sampaikan.
Hanna Aleesa : Okay, makasih, Pak Erwin
[Call Ended]
Beberapa saat setelah aku menyelesaikan makan siang, Agatha datang bersama Dena. Itu adalah perintah langsung dari Adrian. Ia mempercayakan Agatha untuk menjagaku. Khususnya dengan ada Dena di rumah ini, aku juga bisa sedikit banyak belajar soal anak-anak. Sepanjang siang hingga petang, tak hanya aku yang mengajak Dena bermain. Tapi juga Mba Rina dan beberapa asisten yang lain.
__ADS_1
Rumah ini seketika ramai dengan kehadiran tangis bayi yang sekaligus menjadi pusat perhatian para penghuni rumah. Beberapa pengetahuan yang bisa kuambil adalah bahwa mengasuh bayi tak semudah yang kubayangkan. Apalagi Agatha juga bercerita tentang Erwin yang biasa pulang malam, dan seorang bayi sangat sensitif terhadap kedatangan seseorang, yang secara otomatis Dena akan menangis. Dan itu adalah kerjaan tambahan untuk Agatha menenangkannya.
"Alisnya mirip dengan Pak Erwin," kataku menyentuh ujung hidung mungilnya.
"Kulit bayi lembut banget, ya?" tambahku.
Agatha tertawa kecil. "Maaf saya tertawa. Tapi bagi saya lucu membayangkan anda menggendong bayi, sementara Pak Adrian yang kekanakan itu berperan sebagai Ayah. Rasanya mungkin seperti melihat anak-anak yang sedang bermain rumah-rumahan."
"Tapi belum tentu. Kadang, laki-laki yang di luarnya terlihat agak kekanakan seperti Pak Adrian, justru bisa jadi sosok suami dan ayah yang paling pengertian," komentar Mba Rina.
"Ah ..., benar juga. Mungkin kalau sedang berdua saja dengan Nyonya, Pak Adrian bertransformasi menjadi seorang suami pengertian. Kita nggak pernah tahu."
Suami pengertian? Jenis makhluk macam apa itu? Sepertinya aku yang setiap hari harus menjadi istri pengertian kepada suami.
"Maaf interupsi. Kamar tamu untuk baby Dena sudah selesai dibersihkan dan bisa dipakai." Asisten Mba Rina datang ke tengah-tengah kami.
"Makasih, ya," ucapku.
"Sama-sama, Bu. Hari ini Ibu kelihatan cerah sekali, tidak seperti sebelumnya."
"Itu namanya aura positif seorang bumil," sela Agatha membalas pernyataan itu.
Bermenit-menit berlalu dan kami masih saling berbincang. Mba Rina dan Agatha saling bertukar pengalaman mengenai kehamilan dan persalinan juga masa-masa mengasuh anak. Mungkin inilah definisi "Belajar tak harus selalu dari sekolah." Selama seharian kami menghabiskan waktu bersama di ruang keluarga. Bahkan beberapa asisten Mba Rina lainnya turut bergabung.
Hingga malam tiba, dan aku meminta Agatha, Mba Rina, juga beberapa asistennya untuk ikut menemaniku makan malam. Beberapa saat setelahnya, petugas keamanan yang dikirim oleh Erwin atas perintah Adrian datang. Dua orang di antaranya datang untuk melapor padaku, sebelum mulai bertugas.
"Jika mungkin ada saran atau masukan dari Nyonya agar kami memperketat pengamanan di beberapa daerah tertentu, kami bisa mendiskusikan lagi untuk mengatur ulang formasi anggota kami.
"Oh, nggak perlu. Udah cukup, sesuaikan aja dengan rencana yang kalian siapkan. Inshaa Allah nggak akan ada sesuatu yang tidak inginkan selama kalian bekerja dengan serius."
"Baik, Nyonya. Kami permisi."
"Eh, tunggu!" cegahku. "Mba Rina?"
Mba Rina datang dari belakang, berjalan sembari mendorong meja troli berisi makanan ringan dan minuman-minuman energi.
"Ini tolong kamu bawa, ya. Buat bagi-bagi ke yang lain juga. Yah, itung-itung bisa jadi penyemangat kalian untuk kerja malam ini."
"Tidak perlu, Nyonya. Tuan sudah me-"
"Terimakasih banyak, Nyonya."
"Saya yang harus berterimakasih. Selamat bekerja."
Dua orang berpakaian serba hitam itu keluar dari rumah sembari membawa serta meja troli yang kuminta dari Mba Rina. Bagaimanapun juga, mereka bekerja keras untuk melindungi ku. Apa yang kuberikan tak sepadan dengan apa yang mereka lakukan demi kebaikan penghuni rumah ini.
Semakin malam, Dena yang seharian menghibur para penghuni rumah pun lelah. Aku memainta Agatha membawanya istirahat, pun dengan asisten yang lain. Sendiriku, aku juga kembali ke kamar untuk sekedar membaca buku-buku yang dibawakan Adrian ke kamar, tapi belum sempat dikembalikannya ke perpustakaan rumah.
Mataku mulai pedih ketika satu buku habis kubaca. Jujur saja, membaca buku-buku itu hanyalah alasanku menunggu telepon dari Adrian. Ponsel itu masih saja sepi tanpa notifikasi. Begitu ada satu notifikasi panggilan masuk, segera aku mengambil dan menjawab panggilan.
[Voice Call]
Hanna Aleesa : Assalamualaikum
Adrian Al-Faruq : Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Cepet banget angkat teleponnya, nungguin, ya?
Hanna Aleesa : Pake nanya lagi. Kamu di mana?
Adrian Al-Faruq : Di Cikarang
Hanna Aleesa : Maksudku spesifiknya sekarang lagi di mana?
Adrian Al-Faruq : Oh ..., ini di kamar hotel. Baru aja selesai telepon Khadija, abis mandi. Erwin juga baru banget pergi.
Hanna Aleesa : Cape, ya?
Adrian Al-Faruq : Iya, hari ini aja dadakan banget ketemu sama klien dari Jepang. Yah, kira-kira untuk satu minggu ke depan akan terus begini. Gimana baby?
Hanna Aleesa : Baik-baik aja. Sayang, malam ini belum bisa tidur sambil dipeluk Papanya
Adrian Al-Faruq : Sabar, ya, Nak ..., nanti kalau Papa udah nggak sibuk, Papa akan temani kamu lagi
Hanna Aleesa : Anyways, kalau kamu belum bisa pulang, nggak usah maksa pulang dulu lah, Mas. Kasihan Pak Erwin kalau dia yang harus selesaiin semua urusan kerjaan kamu.
Adrian Al-Faruq : Iya ... Tapi aku nggak mau kamu sendiri di rumah. Apalagi baby. Aku nggak bisa jauh-jauh dari baby.
__ADS_1
Hanna Aleesa : Semua baik-baik aja, yang penting Papanya jangan sampai lupa jalan pulang ke rumah aja.
Adrian Al-Faruq : Astaghfirullah, ya enggak dong .... Amit-amit deh, jangan sampai begitu.
Hanna Aleesa : Oh ya, hari ini aku bikin adonan pastry lagi. Buat kusimpan untuk kapan-kapan lagi.
Adrian Al-Faruq : Aku mau larang pun kamu pasti tetap bikin. Ya sudahlah, yang penting kamu nggak kecapean. Ingat, sekarang ini ada dua jiwa yang harus kamu jaga keselamatannya.
Hanna Aleesa : Siap Boss.
Adrian Al-Faruq : Oh ya, besok sebelum berangkat lagi ke Batam, aku harus mampir dulu ke rumah. Kamu bisa siapin pakaian buat kubawa? Mungkin tiga aja cukuplah
Hanna Aleesa : Okay, aku siapin sekarang juga.
Tanpa diminta, aku telah beranjak dari tempat tidur ke walk-in closet untuk memilih pakaian yang bisa dibawa Adrian besok
Adrian Al-Faruq : Besok pagi aja.
Hanna Aleesa : Nggak apa-apa. Sekalian aja disiapin sekarang, daripada besok buru-buru
Adrian Al-Faruq : Sebenarnya aku mau bilang sesuatu sama kamu
Hanna Aleesa : Bilang aja. Aku dengerin kok
Adrian Al-Faruq : Aku nggak enak mau bilangnya.
Hanna Aleesa : Bilang aja, Mas. Makin nggak enak kalau kamu tahan-tahan.
Aku masih fokus memilih jenis dan motif dasi untuk menyesuaikan dengan penampilan Adrian besok. Kalau dibayangkan, Adrian memang cocok memakai apapun.
Adrian Al-Faruq : Aku beli rumah
Hanna Aleesa : Huh?
Adrian Al-Faruq : Aku baru beli rumah. Di Bandung
Hanna Aleesa : Dalam rangka apa?
Adrian Al-Faruq : Atas permintaan Karinda
Hanna Aleesa : Tunggu, tunggu. Khadija tiba-tiba minta dibeliin rumah? Dia nggak akan tinggal di rumah ini lagi? Terus tiap hari kamu harus bolak-balik Bekasi-Bandung gitu?
Adrian Al-Faruq : Enggak. Dia minta dibeliin rumah itu untuk ditempati keluarga pamannya
Hanna Aleesa : O ..., kay. Terus rumah itu atas nama siapa?
Adrian Al-Faruq : Tetap atas nama Karinda. Tapi aku juga sempat kaget begitu dia kirim surat pernyataan jual-beli dan minta aku bayar
Hanna Aleesa : Well, aku nggak tahu harus komentar gimana.
Adrian Al-Faruq :Kayaknya keputusanku terlalu gegabah, ya?
Hanna Aleesa : Enggak kok. Ehmm, kamu beli harga berapa?
Adrian Al-Faruq : Lima koma enam
Aku seketika duduk di bangku terdekat, mengembuskan napas panjang seraya melihat ke langit-langit. Wow! Rumah seperti apa yang Paman Khadija minta, sampai harganya setara dengan sebuah sportcar
Hanna Aleesa : Ya udahlah, semoga bisa bermanfaat untuk pamannya Khadija sekeluarga.
Adrian Al-Faruq : Kamu nggak marah?
Hanna Aleesa : Mau marah sekarang pun apa gunanya. Tapi lain kali kalau mau beli sesuatu, ajak aku diskusi dulu, ya? Terus juga kalau suatu saat kamu kesulitan soal uang, jangan ragu kashi tahu ke aku.
Adrian Al-Faruq : Jujur, sebenernya aku nggak enak sama Ayah-Bunda. Aku belum bisa kasih sesuatu yang benar-benar mereka inginkan sampai sekarang
Hanna Aleesa : Jangan bikin aku sedih. Cukup itu yang Ayah-Bunda mau dari kamu. Dan kamu udah selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk nggak bikin aku sedih
Adrian Al-Faruq : Aaah, manis banget sih kamu. Semanis kue pastry
Hanna Aleesa : Dih, Cheesy. Udah, ya, Mas ..., aku ngantuk banget karena nungguin telepon dari kamu
Adrian Al-Faruq : Kasihannya istriku. Ya udah, selamat tidur. Jangan lupa doa. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Hanna Aleesa : Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh
__ADS_1