Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Dugaan


__ADS_3

"Ukh!" Aku menyingkap selimut yang menutupi setengah tubuh, bangkit dari tempat tidur menuju ke kamar mandi. Lagi-lagi rasa mual itu datang dan mengganggu tidurku. Padahal belum mendekati waktu subuh, tapi aku harus bangun dan mengeluarkan gejolak aneh itu.


Sepertinya maagku makin sering kambuh. Mungkin sebaiknya aku periksa ke dokter. Pikirku sebelum membuka pintu kamar mandi dan hendak keluar dari sana. Adrian berdiri di depan pintu kamar mandi, melihatku dari atas ke bawah, lalu dengan kikuk memberikan testpack yang entah ia beli sejak kapan.


"Coba pakai, ya?" ujarnya lirih seraya memberikan benda itu kepadaku.


Aku menerimanya ragu. "Mungkin maagku kambuh, Mas.. Akhir-akhir ini makanku nggak teratur," ujarku tak ingin membuatnya terlalu berharap.


"Nggak apa-apa, coba pakai aja dulu. Ya?" Ia melihatku penuh harap sampai membuatku ingin menangis saat itu juga.


Aku nggak mau bikin kamu kecewa, Adrian. Tolong mengerti!


Aku pun mengiyakan permintaannya, kembali ke kamar mandi untuk menggunakan testpack itu. Dari dalam kamar mandi, air mataku tak sanggup kutahan. Adrian di luar sana sedang menunggu dan berharap padaku setelah enam bulan mengikuti anjuran dokter untuk program kehamilan. Tapi aku tak sanggup bila sekali lagi membuatnya menahan kecewa.


Kuatur napasku, kubilas lagi wajahku yang sembab oleh tangisan, lalu perlahan aku membuka pintu kamar mandi. Tapi sepertinya aku keluar dari sana di waktu yang sangat tidak tepat. Adrian tengah mengangkat telepon. Meski aku tak sempat melihatnya langsung. Aku bisa mendengar suaranya dari pintu kamar mandi yang kubuka sedikit.


"Iya.., aku udah bangun dari tadi. Bukan begitu.., tapi Aleesa tiba-tiba mual, jadi ikut kebangun." Nada suara Adrian membuatku menelan salivaku sendiri.


"Ini tadi langsung aku suruh coba pakai. Ya.., bisa jadi sih."


Ayo Hanna! Kalau kamu nggak berani keluar dari kamar mandi sekarang, mau sampai kapan kamu nggak berani menghadapi kenyataan?


"Eh, ini Aleesanya udah keluar, Ummi."


Adrian menjauhkan speaker ponselnya. "Gimana, Sayang?" tanyanya dengan nada antusias dan tatapan berapi.


"Cuma maag." Aku mengatakannya tanpa berani melihat ke arah Adrian sedikit pun. Kuberikan alat itu kepadanya, lantas berlalu keluar dari kamar. Jujur, aku tak sanggup melihat langsung senyum mempesonanya itu luntur seketika. Karena itu aku memilih pergi walau hanya berdiri di balik pintu kamar.


"Sepertinya belum, Ummi. Barusan Aleesa bilang akhir-akhir ini maagnya sering kambuh. Iya, kami juga sedang mengusahakan, Ummi bantu doa saja. Jangan terlalu dipikirkan, kami bukannya mau menunda lagi kok." Suara Adrian terdengar lebih pasrah dari sebelumnya.


"Ya udah, Ummi, Adrian tutup dulu ya teleponnya. Iya..., makasih udah ingetin Adrian untuk salat malam. Iya, Ummi juga. Wa'alaikumsalam warahmatullah."


*****


Sesuai yang ku angan-angankan, hari ini aku memang sudah berencana untuk pergi ke dokter memeriksakan maagku yang akhir-akhir ini kambuh. Tanpa Adrian, karena kutahu ia sibuk, tanpa Agatha, karena ia tengah mengandung besar, aku pergi ke rumah sakit sendirian. Dan dari yang dikatakan dokter, aku memang perlu memperhatikan pola makanku agar tidak timbul rasa mual dan muntah lagi.


Dari rumah sakit, aku berencana ingin mengunjungi Khadija di kost-annya yang baru dan lumayan dekat dengan kampus. Tapi tepat saat aku datang, salah seorang tetangganya memberitahuku bahwa ia sedang tidak ada di rumah. Aku pun terpaksa harus menitipkan makanan yang ingin kuberikan untuk Khadija itu kepada tetangganya. Berikutnya aku segera pulang agar tak terjebak macet di siang hari.


Ketika aku sampai di rumah, Ummi menyambutku di ruang tamu. Beliau duduk di sofa, berbincang dengan Mba Puput. Aku segera mencium tangan Ummi lantas duduk di sofa yang sama untuk sekedar menanyakan kabar.


"Ummi udah lama di sini?" tanyaku ketika kulihat ekspresi beliau sangat bersahabat, tak seperti biasanya.


"Udah dari tadi. Kamu dari mana, Hann?"


"Hanna barusan dari rumah sakit periksa-"

__ADS_1


"Yang katanya maag kamu kambuh itu?" tanyanya menyela.


"Iya, memang salah Hanna sih, sering teledor makan."


"Makanya, mulai sekarang jangan sampai teledor lagi makannya. Kalau ngurus diri sendiri aja belum benar, gimana mau ngurus suami sama anak nantinya."


Maski kalimat Ummi barusan terdengar ketus, tapi aku tak merasa sakit hati. Memang apa yang beliau katakan ada benarnya, jadi kupikir, memang nasehat Ummi tidak salah. Hanya penyampaian beliau yang sedikit kurang bersahabat.


Aku mengangguk. "Iya, Ummi. Ummi sendiri dari mana atau mau ke mana?"


"Dari rumah, emang sengaja mau ke sini. Malam nanti Ummi harus berangkat ke Turki."


"Malam nanti? Ummi pergi sama siapa?"


"Ummi pergi sama asistennya Ummi. Abisnya suamimu sibuk, Danar juga sibuk, apalagi Erina yang harus ngurusin anak-anak. Elena juga udah mulai masuk sekolah."


"Kalau Hanna yang pergi temani Ummi, gimana?" tanyaku tanpa sadar kuucapkan secara spontan.


Ummi tersenyum kecil, tangannya menggenggam tanganku. "Ummi bukannya pergi ke Turki untuk waktu yang singkat. Ada banyak hal yang ingin Ummi lakukan di sana. Lain kali saja kamu ajak Adrian dan anak kalian mengunjungi Ummi dan Baba di sana."


Dengan cepat air mataku menitik. Kata-kata Ummi seakan memberiku semangat, 'Kamu masih punya harapan untuk memiliki seorang anak'. "Iya, Ummi. Hanna akan usahakan untuk bisa ke sana bersama Mas Adrian dan cucu untuk Baba."


"Sudah, sudah.., jangan nangis. Ummi harus pulang untuk siap-siap sekarang. Kamu jaga Adrian baik-baik, ya.., di sini."


"Iya, Ummi. Eh, Mas Adrian udah tahu Ummi berangkat ke Turki hari ini?"


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatu." Aku mengantarkan Ummi sampai ke depan beranda rumah.


Hanya beberapa detik setelah mobil yang membawa Ummi pergi, datang mobil berwarna hitam dengan kaca gelap memasuki pekarangan rumah. Dari dalam mobil itu, keluar dua orang, pria dan wanita. Garrin dan Johana.


Dalam waktu yang singkat saja, keduanya sudah kupersilakan masuk dan kutanya apa alasan keduanya datang ke rumah ini. Mereka sempat saling berpandangan beberapa saat, baru kemudian Garrin angkat bicara.


"Seperti yang lo tahu, perusahaan gue adalah partner bisnis perusahaan Adrian di bidang pertambangan. Beberapa hari terakhir gue sempat meeting sama perwakilan perusahaan, tapi Adrian nggak pernah datang. Lo tahu alasannya?"


"Adrian emang cerita soal meeting yang digantikan sama asistennya. Soalnya dia harus turun tangan langsung di beberapa cabang perusahaan."


"Dan siapa orang yang gantiin Adrian di meeting itu?"


"Pak Erwin?"


"Iya. Di tempat terakhir kita meeting kemarin, gue menemukan amplop ini di antara berkas-berkas perusahaan. Kayaknya asisten Adrian nggak sengaja, sampai amplop ini keselip di antara berkas perusahaan." Garrin meletakkan amplop putih ke atas meja.


"Apa isinya?"


"Gue emang sempat baca sekilas isi kertas itu, tapi kayaknya harus lo sendiri yang baca isinya. Gue ke sini buat antar amplop itu, karena gue rasa lo yang paling pantas melihat isinya, Hann."

__ADS_1


Jo memegang lengan tangan Garrin beberapa saat. "Kita berdua pamit pulang, ya. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatu."


Buru-buru banget sih.


Setelah mengantar keduanya hingga keluar dari pintu terdepan, aku kembali ke kamar untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum membaca kertas dalam amplop putih yang diberikan Garrin. Jika dilihat dari tampilan luarnya, amplop itu tampak tua. Kupikir akan ada sesuatu yang cukup menarik di dalamnya untuk kubaca.


Tapi karena malam tiba, dan aku melakukan banyak hal, aku hampir melupakan amplop itu. Kepulangan Adrian pun semakin membuatku lupa pada amplop putih pemberian Garrin, hingga aku tak sempat membukanya. Tak sampai situ, Adrian memintaku menemaninya lembur hingga pukul satu dini hari, karena Pak Erwin tidak bisa mengambil alih pekerjaannya sementara ini.


Hampir pukul dua, akhirnya ia memintaku tidur lebih dulu, sedangkan ia masih melanjutkan sisa pekerjaan. Lagi pun kantukku saat itu benar-benar tak bisa ditahan. Tepat sebelum aku merebahkan diri di atas ranjang nyaman itu, mataku menangkap amplop putih di atas meja. Aku pun meraihnya dan membaca seksama kertas dalam amplop itu.


****


...Surat Pernyataan ...


Yang bertanda tangan di bawah ini,


Nama : Adrian Al-Faruq


Tempat, tanggal lahir : Antalya, 11 Maret 19XX


Selaku pihak pertama


Nama : Karinda Amarini Nasyuf


Tempat, tanggal lahir : Palu, 3 Januari 19XX


Selaku pihak kedua


Menyatakan bahwa :



Pihak pertama dan pihak kedua telah berjanji untuk "Menikah" tanpa paksaan dan bukan atas dasar paksaan, karena kehendak kedua belah pihak.


Pernikahan akan dilaksanakan selambat-lambatnya "sepuluh tahun" sejak surat pernyataan perjanjian ini dibuat.


Selanjutnya apabila dikemudian hari pihak pertama melanggar perjanjian (*perjanjian terlampir), maka pihak kedua berhak menuntut ke jalur hukum dan meminta ganti rugi setara dengan pendapatan pihak pertama setiap tahun seumur hidup. Dan berlaku sebaliknya.



Demikian surat pernyataan pernyataan ini dibuat dalam keadaan sadar sepenuhnya dan telah disetujui oleh kedua belah pihak.


...[Tanda tangan pihak 1] [Tanda tangan pihak 2]...

__ADS_1


...----------------...


Bagai disengat listrik berkekuatan tinggi, kantukku hilang seketika setelah membaca surat pernyataan perjanjian itu. Aku hampir tak percaya Adrian sampai membuat surat pernyataan perjanjian itu demi mengikat Khadija. Bagaimana mungkin aku tahu kalau Adrian tak pernah serius mencintai Karinda sementara ia sampai berlaku demikian jauh.


__ADS_2