
Trimester pertama kandungan ini terlampaui, aku menyambut kedatangan Adrian dari Batam, sekaligus menyambut kedatangan Khadija kembali ke rumah kami. Kehidupan kami bertiga pun berlanjut sebagai satu keluarga. Sejak posisi Mba Puput dipindahkan, hari demi hari keharmonisan dalam rumah itu berangsur membaik. Bahkan tak jarang kami bertiga saling bercanda dan tertawa di satu meja.
Kecemburuanku, rasa curiga, dan pikiran negatif tentang Khadija pun mulai terkikis. Seperti sebuah kehidupan baru, tak jarang Khadija menemaniku belanja dan memeriksakan kandungan di rumah sakit. Semua benar-benar berjalan dengan baik seiring perutku yang semakin membesar.
“Kita benaran nggak mau tahu jenis kelaminnya?” Mas Adrian yang tiduran di pangkuanku sembari mengusap perut itu terus-terusan menanyakan pertanyaan yang sama setiap waktu.
“Kan kita udah sepakat untuk tebak-tebakan aja sampai baby lahir.”
“Iya sih. Tapi rasanya makin penasaran aja.”
“Dua bulan lagi. Tinggal dua bulan sampai baby terlahir ke dunia. Sabar, ya …,” hiburku mengusap kepala Adrian.
“Oh ya, tinggal dua bulan, kan. Berarti sekarang berapa usia kandungannya?”
“Tujuh bulan berapa hari, ya?”
“Artinya …, boleh dong?”
Aku mengerutkan dahiku menanggapinya. “Huh? Boleh apa?”
“Itu …, kan kita belum pernah coba selama kamu hamil.”
Setelah sedikit merenungkan ucapan Adrian, aku baru mengerti bahwa topik pembicaraan ini diarahkan ke sana. “Ehh?! Tiba-tiba aja kamu minta.”
“Nahh, kan. Paham juga akhirnya.”
Adrian segera duduk bersandar pada bantal yang bertumpuk. Tangannya memukul-mukul pahanya, “Sini, sini!”
“Ayolah .., duduk sini, biar aku pijitin. Tinggal bilang bagian mana yang mau dipijit.”
Huuuft, dari kata-katanya saja sudah jelas apa maksud terselubungnya. Tapi karena memang tak memiliki banyak alasan untuk menolak, aku pun mengiyakan. Dan benar saja, dalam beberapa saat setelah aku duduk di pangkuannya, kedua tangan itu sudah bergerilya ke sana kemari. Bibirnya juga tak mau kalah menyusuri leher bagian dalamku, hingga ke bahu.
“Ahh!” Suara itu tanpa sadar lolos dari bibirku.
Aku menahan satu tangannya. “Sayang …, udah.”
“Kenapa? Kamu nggak kangen sama aku?” bisiknya terdengar bersamaan dengan napas yang berembus panas. Degup cepat jantungku dan Adrian yang saling bersahutan. Tak tahu lagi degup siapa yang lebih kencang atau degup siapa yang lebih cepat. Keduanya beradu terbawa suasana begitu saja. Mungkin saat itu juga mukaku sudah merah semerah tomat.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pintu dari luar kamar seketika berhasil menghentikan Adrian. Samar aku mendengar suara Khadija di balik pintu memanggil namaku. Mau tak mau, aku harus membuka pintu kamar itu, meski Mas Adrian dengan manjanya menahanku untuk tak beranjak pergi. Siapapun yang mengetuk pintu kamar jam sebelas malam, pasti sedang dalam keadaan terdesak.
*Click**!*
“Khadija? Ada apa?” tanyaku pada wanita yang berdiri di depan pintu kamarku itu.
__ADS_1
Raut mukanya tampak panik, bahkan ia sampai harus mengatur napas karena berlari dari lantai bawah sampai kemari. “Itu …, Mas Adrian ada di sini? Aku perlu bantuan untuk tugasku. Laptop di perpustakaan tiba-tiba mati.”
“Iya, Mas Adrian ada kok. Sebentar, ya.”
Aku kembali masuk ke kamar, menuju ranjang yang dikuasai oleh pria tiga puluh enam tahun itu. “Udah?” tanyanya sambil menyingkirkan guling di pangkuannya.
“Udah apanya? Khadija nungguin kamu, tuh. Kayaknya ada masalah sama laptop di perpustakaan, dan tugas Khadija ada di dalam sana.” Adrian sejenak menghela napas berat dan justru merebahkan tubuhnya.
“Ayo dong Mas…, bangun buruan. Udah ditunggu tuh! Nanti aku bikinin kopi deh,” ucapku memohon seraya menarik tangannya agar segera turun dari atas tempat tidur.
“Iya, iya ….”
Aku mengantarnya sampai pintu kamar. Mas Adrian dan Khadija berjalan menuruni tangga menuju ke perpustakaan rumah di basement.
“Laptopnya tiba-tiba mati dong …, mana tugasku belum ada backupnya,” keluh Khadija masih terdengar dari tempatku berdiri. Aku yang mendengarnya mengeluh, hanya bisa tersenyum.
“Kamu sih. Harusnya bikin salinan dulu, gitu.”
“Ya, kan aku nggak tahu kalau bakal kejadian begini, Mas. Bukan salahku dong.”
"Iya, iya ..., kamu nggak salah deh. Terus tugasnya seberapa banyak?"
Sesuai janjiku, aku pergi ke dapur untuk membuatkan kopi setelah membenahi pakaianku yang acak-acakan akibat perbuatan Adrian barusan. Di dapur bawah, Mba Rina yang mengecek persediaan makanan di kulkas menawarkan bantuannya. Tapi karena hanya membuat secangkir kopi, aku pun menolak bantuan itu. Selama menunggu air mendidih, Mba Rina masih menunggu tak jauh dari tempatku berdiri.
“Enggak. Adrian cuma bantuin tugas kuliah Khadija. Kayaknya juga ada masalah sama laptop yang di perpustakaan.”
“Enak betul, ya, jadi Mba Khadija. Kalau mau bimbingan sama dosen, tinggal ketuk pintu,” cetus Mba Rina.
Benar juga, semenjak Adrian mengambil kesempatan posisi dosen pengganti di universitas kota B, secara tak langsung memang sangat membantu Khadija yang juga baru memulai kembali kuliahnya. Selain bisa berangkat dan pulang bersama, Adrian bisa dimanfaatkan sebagai penghubung relasinya dengan dosen-dosen lain. Atau bahkan sesekali menanyakan materi dan beberapa sumber, atau rekomendasi buku dari Adrian langsung.
Aku mengangkat teko yang berisi air panas dari kompor. Menuangkan airnya perlahan ke dalam cangkir berisi bubuk kopi toraja dan sedikit gula. Mengaduk komposisi bahan-bahan itu, baru kemudian mengambil nampan untuk membawanya ke perpustakaan.
“Biar saya yang bawakan, Bu.” Mba Rina dengan inisiatifnya membawakan nampan itu untukku.
Tak semena-mena aku menyuruhnya mengantar sampai perpustakaan, aku memintanya cukup mengantar kopi itu sampai depan pintu perpustakaan. Sisanya, aku yang mengantar. Lagi pun aku penasaran dengan progres tugas Khadija sekarang. Dulu ia sering merepotkanku dan Garrin, sekarang, ketika hanya ada Mas Adrian yang bisa direpotkan, apa dia bisa lebih mudah menyelesaikannya.
“Assalamu’alaikum,” ucapku memasuki perpustakaan.
Perpustakaan ini memiliki ruang belajar khusus yang biasa digunakan Khadija untuk belajar, sesekali kugunakan untuk ruang baca karena lebih hening, dan kadang pun digunakan Adrian untuk mengerjakan beberapa hal terkait posisinya sebagai dosen. Seperti hari biasanya, Khadija selalu ada di sana menghadap layar monitor berjam-jam. Dan bahkan pintu ruang belajar terbuka lebar ketika aku hendak masuk ke dalamnya.
“Mas …, harusnya malam ini tanggalnya loh. Kamu nggak mau coba lagi?”
“Bukan nggak mau, tapi, emang kamu nggak cape? Terus kalau besok bangun kesiangan gimana? Dilihatin Aleesa sama ART yang lain, pagi-pagi udah keramas.”
“Nggak apa-apa. Aku bisa bikin alasan. Yang penting kamunya mau, nggak?”
__ADS_1
“Aku mah ngikut kamunya aja.”
“Kalau gitu, ayo. Akhir-akhir ini kamu lebih sering berduaan sama Hanna, kan? Aku udah ngalah terus loh.”
“Yah, namanya juga bumil, pasti mintanya ditemenin terus.”
“Nah itu, Mas …, makanya, aku juga mau jadi bumil dan dapat perhatian dari kamu.”
Belum sampai satu meter aku melangkah masuk, kaki ini segera terhenti oleh pemandangan yang tak seharusnya kulihat. *Ayo pergi, Hanna! Kenapa tubuhku kaku begini? Ini privasi mereka berdua, kan? Ayo Hanna, cepat pergi dari tempat ini*! Ketika otak dan tubuh tak bisa sinkron, apa lagi yang bisa kulakukan.
...----------------...
Pagi hari, kami menyantap sarapan bertiga seperti biasa. Tapi sengaja aku datang agak telat dari biasa. Mas Adrian dan Khadija sudah menungguku lebih dulu di meja makan. Keduanya saling bercanda mengenai sesuatu yang tak kumengerti dengan jelas detilnya.
“Semalam gimana?” tanyaku, seketika mengundang keheningan dari keduanya. Mas Adrian dan Khadija bertatapan cukup lama dengan ekspresi terkejut.
Maksudku bertanya tentang tugas Khadija semalam, bukan aktivitas "itu" kalian semalam :(
"Tugasnya Khadijah semalam gimana?" Aku mengulangi pertanyaanku.
“Oh, Alhamdulillah ternyata nggak sepenuhnya file itu hilang. Tapi ada beberapa yang nggak bisa dibalikin sih, jadi harus bikin lanjutan dari tugas-tugasnya Karinda," jawab Adrian.
“Iya. Untung Mas Adrian ikut bantu. Kalau enggak, mungkin aku harus begadang sendiri sampai pagi,” tambah Khadija.
“Oh ya, semalam kamu tidur di mana, Mas? Kayaknya kamu baru masuk kamar waktu adzan subuh, ya?”
“Aku ketiduran di perpustakaan.”
“Nggak tahajud dong?”
“Masih sempat tahajud kok.” Aku mengangguk-angguk mendengar jawabannya.
“Oh ya, Hann. Hari ini abis pulang ngampus, kita mau ke mall untuk beli beberapa gadget baru buat di perpustakaan. Kamu ikut?” tawar Khadija menatapku.
Aku terdiam untuk berpikir sejenak. “Ehm, kayaknya kalian berdua aja deh. Hari ini aku ada jadwal parenting class. Materinya penting banget, jadi nggak bisa ditinggal gitu aja.”
“Oh, okay. Lain kali deh kita belanja sama-sama.”
Siang harinya, aku pergi mengikuti parenting class dengan diantar Hugo dan ditemankan oleh Mba Rina. Namanya juga parenting class, sudah seharusnya menemui pemandangan sepasang suami-istri. Dan berada di sana benar-benar membuatku ingin segera pulang. Pasalnya, semua orang membawa pasangan masing-masing. Mereka jadi menatapku seakan-akan aku janda. Padahal aku hanya berusaha membagi adil suamiku.
Jujur, mood-ku semakin rusak setelah selesai kelas. Tapi kucoba menjadi baik-baik saja ketika aku mulai menginjakkan kaki di rumah lagi. Kuubah segala emosi dan rasa kesal ke dalam masakan sebagai perwujudan ekspresi seniku. Memasak benar-benar membuatku relax. Perasaanku bisa cepat membaik setelah memasak.
"Bu, ada telepon dari pria yang mencari anda."
Orang itu lagi?
__ADS_1