
“Tanya apa?”
“Bukan apa-apa. Udah, kamu mandi dulu aja sana.” Aku mendorong Adrian sampai ke depan pintu kamar mandi.
“Kamu udah mandi? Mau ikut nggak?” godanya.
“Ish, buruan mandi, Sayang.” pintaku sekali lagi, segera diturutinya dengan menutup pintu kamar mandi.
“Beneran enggak mau ikut nih?” tanyanya lagi dengan kepala melongok keluar dari pintu kamar mandi kemudian segera masuk dengan tawa setelah aku menunjukkan wajah kesalku.
Aku menyiapkan piyama senada dengan yang kupakai saat itu, mengeluarkan hair dryer dari loker, dan membuka lagi macbook berisikan hal-hal yang membuatku kehilangan waktu istirahat siangku hari ini.
Mana mungkin Adrian nggak teliti untuk hal segamblang ini? Pasti ada yang nggak beres. Pikirku.
Lima menit menunggu Adrian dengan duduk memangku macbook, akhirnya pria itu keluar juga dari kamar mandi. Seluruh badannya yang masih basah cukup membuatku memerah seraya menelan salivaku sendiri. Aku hanya melihatnya sekilas kemudian membantunya mengeringkan rambut yang selalu saja indah bagiku.
Fokus Hanna! Ini bukan saatnya.
“Ada apa?” tanyanya memegang tangan kiriku yang menganggur di atas pundaknya.
“Nggak bisa dijelasin di sini,” jawabku cepat.
Adrian menatapku dari pantulan cermin. “Kalau kamu 'mau', bilang aja, aku belum cape kok.”
“Apa sih, enggak,” protesku.
"Terus apa? Aku nggak ngeri kalau kamu koe-kode an begini."
"Pokoknya bukan itu." Aku semakin memerah mengelak dari tudingannya yang mengarah ke sana.
“Kamu mau ini?” rayunya seraya mengarahkan tangan kiriku ke perut kotak-kotaknya itu dengan bangga.
“Aw!” jeritnya ketika jari telunjuk dan ibu jariku bersamaan mencubit kecil pinggangnya.
Aku mematikan hair dryer, kemudian mengembalikannya ke tempat semula. “Sayang, kamu pakai piyamanya terus ke sini deh,” pintaku akhirnya diindahkannya.
Meski dengan setengah hati, Mas Adrian berdiri meraih piyama yang kusiapkan dan memakainya. Setelahnya, ia mendekat padaku yang sudah tak sabar menunjukkan hal itu sejak siang tadi.
"Gimana? Gimana?"
__ADS_1
“Jadi … siang tadi aku iseng-iseng buka data keuangan kita. Terus aku nemuin ada pengeluaran tapi enggak ada detil deskripsinya. Aku bahkan udah tanya sama Pak Erwin, kalau mungkin ada kesalahan perhitungan, tapi dia bilang nggak ada yang salah. Lihat deh,” tunjukku.
“Yang warna merah itu … jumlah pengeluaran seluruhnya. Nominalnya bahkan lebih besar dari pemasukan kamu tiga bulan lalu. Aku curiga ada yang enggak beres dengan keuangan perusahaan.”
“Hmm … keuangan?” gumamnya kemudian mengamati detil yang tertera di layar.
“Emang penting banget, ya?” tanyanya gampang.
“Penting dong, kita enggak tahu loh uang sebanyak ini pergi ke mana.”
Adrian menarik napasnya panjang, “Bukannya ada yang lebih penting?” tanyanya menatapku dalam.
“Huh?”
“Memenuhi keinginan Ayah-Bunda. Bukannya itu jauh lebih penting daripada keuangankita sekarang? Uang masih bisa dicari, tapi kesempatan begini nggak bisa datang dua kali.” Tangan kanan Adrian menutup macbook dari pangkuanku dan melemparnya ke karpet bulu di lantai kamar.
Seperti biasa Adrian selalu memberi kejutan, dengan cepat ia melahap bibirku, ********** dari atas ke bawah bergantian. Aku yang terpancing turut mengimbangi serangan Adrian yang semakin menjalar. Hingga rasa panas itu menguasaiku, membuatku lupa dengan pertanyaan yang ingin kutanyakan. Ia membuatku lupa pada keuangan dan segala keganjalannya.
Ia tak membiarkanku diam begitu saja. Dengan kelihaiannya, ia mempengaruhiku untuk melakukan apa pun yang dia inginkan. Kami bergerak ke sana ke mari tanpa arah dengan keinginan kami yang menggebu. Memang benar kesempatan seperti ini tak bisa datang dua kali, besok bisa saja Mas Adrian pulang malam, dan tugas ini kembali tertunda.
“Kamu enggak cape, Mas? Ini udah hampir tengah malam, loh.”
“Tiba-tiba tenagaku pulih setelah melihat istri manisku yang begitu pintar dan teliti ini. Lagi pula kamu nggak lupa sama kata-kataku pagi tadi sebelum kita pulang dari rumah Ayah-Bunda, kan?” tanyanya menggoda.
“Ayolah, kamu bahkan sampai ganti bed cover tempat tidur kita, parfum ruangannya juga wangi banget malam ini. Kita nggak mungkin sia-sia-in kesempatan ini, kan?”
“Tapi udah malam, Mas. Kamu juga harus istirahat,”
“Terus kenapa?" Pertanyaan itu sudah pasti tak bisa dijawab dengan pertanyaan logis lagi, hingga hanya membuatku terdiam.
"Hari ini kamu minum 'itu' lagi?” bisiknya lirih hanya kubalas dengan gelengan pelan.
Deru napasnya terdengar panas, seakan mengalirkan energi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku. Kecupan-kecupan yang ia tinggalkan di leher dan dada, mungkin sudah menjadi corak yang memenuhi tiap inchi kulitku. Caranya menggodaku selalu berhasil, bahkan dengan sentuhannya di kulitku sanggup membuatku rindu akan kehangatannya di dalamku.
“Aku lanjut, ya?”
Padahal pertanyaan itu bukanlah pertanyaan yang bisa kubalas dengan tolakan. Jika sudah seperti ini, tak mungkin lagi Mas Adrian akan mengalah dan mengubur sisi laki-lakinya. Kami pun kembali merasakan apa yang sama-sama kami tahan. Ya, karena kesempatan tak akan datang dua kali.
Waktu demi waktu yang berlalu, suasana sepi serta suhu ruangan yang dingin tak mampu menghentikan Mas Adrian dalam waktu singkat. Aku hanya mampu menyetujuinya mewujudkan kata-katanya pagi tadi di rumah Ayah-Bunda. Dan benar saja Mas Adrian sukses membuatku terjaga semalaman.
__ADS_1
“Aku bingung kenapa kamu selalu manis buatku,” bisiknya memelukku yang terkapar berbantal lengannya.
“I’ll answer your question,” bisiknya lagi menarik perhatianku.
“Soal uang yang hilang itu … bukan berarti aku nggak peduli kok. Aku pasti cari tahu ke mana perginya. Kamu tenang aja, dunia begitu sempit untuk mengetahui hal sesederhana ini,” ungkapnya dengan satu tangan yang tak berhenti bergerilya.
“Remember, if you need a help, I’ll help you then. No matter what, I promise.”
*****
Sinar matahari menerobos melalui dinding kaca, masuk menerpa tubuh lemah yang masih terkulai tak bergerak sejak bangkit dari salat subuh. Ini adalah pertama kalinya aku tak bangun untuk melaksanakan salat dhuha karena begitu lelahnya tubuh ini.
Rasanya tulang-tulangku linu seperti pulang dari pendakian gunung. Kantukku juga mendukungku untuk tetap memejam karena tak tidur selama dua puluh tujuh jam. Rasanya badan semakin malas untuk digerakkan, lebih lagi hari ini akhir pekan dan Mas Adrian akan tinggal di rumah seharian.
Sebenarnya aku masih kesal dengan Mas Adrian. Bukan hanya kesal karena keuangan kami yang mendadak lenyap dan tak dipedulikannya, tapi aku lebih kesal karena pria itu tak memberiku istirahat sama sekali. Baru selesai, dengan mudahnya ia meminta lagi seakan tenaganya selalu terisi penuh setiap waktu.
Pagi ini aku tak mengajaknya bicara karena kantukku lebih berkuasa dari pada apapun saat itu. Dalam lelap tidurku, aku masih sanggup merasakan sentuhan tangannya di kening, kemudian pipi kanan dan kiri. Aku yang membuka mata tak terkejut melihat Adrian dengan rautnya mencemaskanku.
“Kamu sakit? Sayang, badan kamu panas,” ucapnya tanpa rasa bersalah bahwa keadaanku kini adalah akibat dari apa yang dilakukannya semalam.
“Aku panggil dokter, ya.” Aku segera menarik tangan pria itu menahannya pergi.
“Kamu butuh sesuatu?”
“Aku cuma kecapean, ini juga gara-gara kamu semalam, jadi kamu yang harusnya tanggung jawab.”
Adrian menurutiku dan segera memasuki selimut yang kini menutupi bagaian bawah tubuhku. Aku kembali tertidur dengan menghadapnya, sembari menyandarkan keningku pada dada bidang itu. Setelah puas tertidur sampai siang hari, Mas Adrian dengan rasa bersalahnya tetap berada di dekatku dan menawarkan bantuannya berkali-kali.
Meski sudah berkali-kali pula aku menolak untuk dipanggilkan dokter, tapi ia tetap memaksa dan mendatangkan dokter keluarganya untuk memeriksaku. Isi pikiranku tak jauh beda dengan diagnosis dokter bahwa aku hanya kecapean. Bayangkan saja seorang wanita yang tak tidur seharian, harus melayani suami yang terbiasa olahraga berat.
“Nyonya Hanna hanya perlu cukup istirahat, dan makan makanan bergizi tepat waktu. Untuk jaga-jaga, saya berikan paracetamol kalau demamnya naik.”
“Pil kontrasepsi yang saya berikan … masih diminum?”
“Udah enggak minum lagi,” sosor Adrian datar.
“Baik, mungkin akan ada sedikit pengaruh setelah berhenti minum, jadi, kalau ada gejala-gejala yang nggak biasa, bisa langsung panggil saya, saya akan segera datang ke sini.”
Triiing!
__ADS_1
“Mohon maaf tuan, nyonya, ada tamu yang sedang mencari anda. Sepertinya tetangga baru, tapi beliau sudah lebih dulu duduk di ruang tamu sebelum saya sempat bertanya apa-apa.” Suara Mba Puput dari telepon.
Sekilas Adrian melirik ke arahku, kemudian segera mengakhiri panggilan itu. Dokter Reni pun pamit setelah mengakhiri pemeriksaannya, meninggalkan aku dan Adrian yang masih saling terdiam satu sama lain.