Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Malam Pertama -2-


__ADS_3

“Tapi ... bagaimana kalau aku memintanya malam ini juga?” tanyanya menatapku tajam tanpa senyuman.


Mendengarnya mengucapkan kalimat itu, jantungku semakin tak karuan, bercampur dengan perasaan takut. Sesaat kemudian, ia tersenyum, lantas tertawa lirih setelah puas melihat ekspresiku.


"Becanda kok. Siapa yang bisa melarang kita? Aku akan tunggu sampai kapan pun kamu siap," balasnya seraya mengecup bibirku sekilas.


Aaargh! Aku bisa gila dengan kontak fisik yang tiba-tiba seperti ini!


"Kalau begitu, apa ada kegiatan lain yang bisa kita lakukan?" tawarku coba mencairkan kekakuan antara kami.


"Ehmm, mungkin kita bisa membicarakan tentang uang bulanan, karena sebentar lagi kamu akan jadi menteri keuangan di rumah ini, Nyonya Al Faruq," Adrian memakai bajunya, ngambil laptop dari atas maja, kemudian duduk di sebelahku, bersandar pada kepala ranjang.


"Oh ya, Aleesa. Sebenarnya aku nggak terbiasa tidur malam pakai baju. Khusus malam ini pengecualian karena sepertinya kamu perlu adaptasi. Tapi kuharap kamu segera terbiasa, karena ke depannya kamu pasti lebih sering melihatku telanj-"


"Bisa kita mulai pembahasan alokasi anggarannya, Pak?" tanyaku memotong ujarannya yang semakin menjurus.


"Okay."


Ia menunjukkanku data keuangan masuk dan keluar, sumber penghasilan pokok, jenis-jenis pengeluaran seperti : infaq, tabungan, hingga pengeluaran yang tak penting pun tertulis di dalam data bulanan itu. Ia bilang Pak Erwin yang sengaja melakukannya sejak Adrian masih berusia dua puluh lima tahun, atau sepuluh tahun yang lalu.


Jika di bayangkan, sepuluh tahun lalu Pak Erwin sudah membantu Adrian mengelola keuangannya. Sementara aku, sepuluh tahun lalu, saat itu aku masih berusia sebelas tahun, sebagai anak-anak yang tak mengerti apa pun tentang keuangan. Namun kini sepuluh tahun berlalu, anak kecil yang tak tahu apa-apa tentang keuangan itu berubah menjadi gadis dewasa yang akan mengatur keuangan rumah tangganya.


Waktu sepuluh tahun bisa mengubah seseorang begitu drastis, dan itu pula yang kini kurasakan. Adrian menjelaskan semuanya begitu detil sampai-sampai mengundang kembali kantukku datang. Meski harus memaksakan membuka mata, tapi aku masih sanggup mendengar penjelasannya hingga akhir.


"Mau ke mana?" tanyaku lirih seperti orang yang mabuk ketika Adrian beranjak hendak meninggalkanku.


"Enggak ke mana-mana," Pria itu mengurungkan niatnya berjalan ke sofa dan kembali duduk di sebelahku.


"Kamu perlu sesuatu?" tawarnya.


“Enggak … untuk sekarang.”


“Kalau gitu mau tidur … atau melakukan sesuatu yang lain?”


"Sebentar lagi subuh, gimana kalau kita buka hadiah dan ucapan selamat dari para tamu tadi," usulku segera diiyakannya.


Adrian membawa berkotak-kotak hadiah yang diberikan oleh teman-temannya, kerabat, serta partner kerja. Tentu juga ada beberapa yang merupakan hadiah dari teman-temanku. Jadilah malam hari itu aku dan Adrian membuka hadiah dan amplop yang diberikan para tamu. Semalaman kami tak tidur dan menghabiskan waktu dengan membuka kado-kado yang beragam. Tawa, haru, dan bahagia menghiasi kami malam itu. Malam pertama yang katanya istimewa, memang benar istimewa.


Hanya saja sedikit berbeda untuk kami. Karena untukku dan Adrian, malam pertama adalah satu momen untuk kami saling mengenal satu sama lain. Malam itu, pertama kalinya ia menatapku dalam dengan mata teduhnya. Pertama kalinya pula untukku memandangi keindahan ciptaan Tuhan dalam wajahnya. Pertama kalinya ia menyentuhku, dan pertama kalinya aku pun terpesona karena bersentuhan dengan kulitnya.

__ADS_1


"Yang ini lebih bagus. Mungkin lain kali kita bisa pakai ini buat bed cover."


"Tapi aku kurang suka warnanya sih. Dari siapa itu tadi? Seleranya agak berlebihan."


"Setuju. Agak norak, ya, kan?"


"Eh, Nikki siapa? Dia kasih kita cek loh."


"Wah, mana, lihat? Ya ampun ... nominalnya nggak seberapa juga. Hahahha."


"Hush ... jangan gitu, nominal nggak seberapa, toh kita juga nggak mungkin pakai semua pemberian ini, kan?"


"Iya, aku udah punya rencana sih, mau di apain semua pemberian ini.Tapi lihat deh, hadiah dari teman-teman kamu kreatif, Sayang. Semua kadonya barang yang bermanfaat dan dibungkus nyentrik."


Sayang? Pertama kalinya ada yang memanggilku seperti itu selain kedua orang tuaku


Malam itu adalah malam pertama yang begitu berharga, karena pada akhirnya, benteng kecanggungan antara kami mulai runtuh perlahan. Ketika waktu subuh tiba, kami pun segera menunaikan salat subuh berjamaah di musholla rumah ini, yang juga pertama kalinya untukku diimami oleh suami. Mendengarnya membaca An Naba’ dan Ar Rum, membuatku merasa tenteram dalam batin.


Baru setelah salat subuh, kantukku kembali datang setelah semalaman tak tidur sama sekali. Meski melanggar peraturan, akhirnya kami baru tidur pukul lima pagi. Beralas lengannya sebagai bantal, aku terlelap hingga hari menuju terik. Sungguh malam pertama yang melelahkan untuk dilalui.


*****


Apakah aku bermimpi mendapat suami seistimewa Adrian?


Memandanginya membuatku semakin tak bisa tenang karena harus mengatur getaran-getaran aneh dalam diri ini. Apalagi tubuh indahnya yang hanya ia tunjukkan padaku. Setelah puas mengamati Adrian yang tidur lelap, aku pun beranjak keluar dari pelukan selimut menuju ke kamar mandi dan melaksanakan ritualku.


Beberapa menit kemudian aku keluar dari kamar mandi, Adrian masih belum membuka matanya. Aku pun turun, berjalan ke dapur untuk melihat apa yang bisa kumasak pagi ini. Aku penasaran, ada apa di dalam kulkas seorang pria yang melajang selama tiga puluh lima tahun itu. Mungkin sesuatu yang bisa dimasak untuk sarapan pertama kami.


Jreng!


Saat dua pintu kulkas terbuka dan menunjukkan isinya, aku tak terkejut. Meski rumah ini besar, dan kulkas itu mewah, apa yang pria lajang pedulikan tentang dapur dan isi kulkasnya? Kulkas sebesar itu hanya berisi minuman, roti tawar yang hampir kedaluwarsa, telur, dan beberapa potong sayur yang sudah layu. Mau tak mau aku mengambilnya, dan dengan kemampuanku, kusulap bahan yang apa adanya itu menjadi sarapan menggugah selera.


"Kok enggak bangunin aku?" Adrian yang baru saja menuruni tangga segera mendekati meja makan berisi olahan seadanya.


Sejujurnya aku agak terkejut dengan kedatangannya, tapi aku mencoba keras agar terlihat rileks di depannya. "Bapak tidurnya pulas banget tadi, enggak tega banguninnya. Anyway, ini aku udah siapin sarapan buat kita,"


"Sarapan? Mungkin … makan siang lebih tepatnya," komentar Adrian tersenyum simpul.


"Ini bahan masakan dari kulkas?"

__ADS_1


"Iya, Pak, kenapa?"


"Harusnya kalau kamu mau masak, tinggal bilang sama Erwin suruh beliin bahan-bahannya," ujar Adrian sembari mengangkat ponselnya.


"Jangan ... enggak usah lah, bisa, kan … kita makan seadanya aja dulu." Aku segera menahannya untuk tak menghubungi Pak Erwin, atau kecanggungan yang sama seperti semalam akan terulang.


"Kalau gitu kita akan butuh asisten rumah tangga," gumamnya.


“Inshaa Allah, aku bisa kok masak buat kita tiap hari,” ucapku.


“Tapi aku nggak mau perhatian istriku terbagi untuk mengurusku dan mengurus rumah ini sendirian. Kalau kamu terus-terusan mengurus rumah ini, lalu siapa yang akan mengurus suamimu?"


Aku tersenyum menunduk, melirik sekilas wajah gemasnya. Segera kuambilkan makanan pertama itu ke piring kosong di depannya. Tak kusangka laki-laki yang sekarang menjadi suamiku itu menghabiskan makanan buatanku tanpa sisa. Tentu saja aku tersenyum bangga dengan hasil karya pertamaku di rumah ini. Koki amatiran ini berhasil mempesona lidah seorang direktur.


"Biar aku bantu," pintanya melihatku membawa peralatan makan itu ke tempat cuci.


"Aku enggak tahu kalau kamu ternyata enggak hanya pintar akademik. Urusan rumah tangga juga ternyata kamu jago," pujinya.


"Aku juga berpikir begitu tentang Bapak. Aku kira sebagai direktur, Bapak enggak akan mau mencuci piring, tapi ternyata Bapak mau membantu saya mencuci piring tanpa sungkan," balasku.


"Direktur itu, kan kalau di kantor, kalau di rumah udah bukan direktur lagi,” pungkasnya diakhiri dengan senyum.


"Hmm ... Bapak rencananya hari ini mau ke mana?"


"Rasanya rumah punya magnet yang menahanku pergi ke mana-mana, jadi aku memutuskan akan tinggal di rumah seharian, kamu ada rencana?"


"Ah, enggak kok, kalau gitu biar aku tenemani Bapak di rumah saja. Lalu ... soal 'itu' ... kalau Bapak menginginkannya, aku ... enggak masalah, kok." Aku menunduk malu setelah mengucapkan kata-kata yang kupendam semalaman.


Adrian terbatuk sesaat setelah aku menyelesaikan kalimatku itu. Begitu aku mendongak, tampak kedua telinga Adrian memerah seperti yang kulihat semalam. Kami pun mempercepat cuci piring yang terasa canggung, dan semua aktivitas berakhir di dalam kamar itu lagi.


Rasanya tak ada hal yang bisa dilakukan di luar kamar mewah yang didominasi warna-warna vintage itu. Berada di dalam sana membuat rasa malas semakin menjadi karena tak perlu keluar kamar untuk mendapat apa yang kumau.


Hingga pukul delapan malam, setelah mandi dan salat isya' berjamaah, Adrian tak lekas bangkit berdiri. Aku pun meninggalkannya dan segera berganti dengan piyamaku. Dalam hatiku bertanya-tanya, Apakah malam ini, ‘Itu’ benar-benar akan terjadi? Pikirku sejenak dengan jantung yang berdebar.


Aku duduk bersandar pada kepala ranjang, melihat ke arah Adrian yang masih duduk di atas sejadahnya. Ketika pria itu bangkit, aku segera mengangkat buku yang kuambil dari perpustakaan di basement rumah ini, menutupi sebagian mukaku. Aku pura-pura fokus membaca untuk menutupi kegugupan yang tak terelakkan.


Sesaat kemudian Adrian menanggalkan bajunya, memperlihatkan otot-otot yang terbentuk di tubuh itu. Padahal kemarin ia juga telanjang dada, tapi kini kegugupanku semakin menjadi karena kata-kataku siang tadi. Ia berjalan mendekat dan duduk di sebelahku seperti ketika kami membahas keuangan kemarin malam.


“Lagi apa, Sayang?”

__ADS_1


"Baca bu--"


__ADS_2