Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Perjalananku pun Berakhir


__ADS_3

Setelah keram di perut bagian bawah dan rasa ketat yang seperti dikatakan dokter adalah tanda-tanda kontraksi, Agatha segera menjemput Dokter Jennie datang. Aku sendiri juga khawatir karena ini jauh dari perkiraan tanggal kelahirannya. Tapi setelah Dokter Jennie datang dan memeriksa, ternyata itu hanya bagian dari kontraksi palsu yang biasa terjadi. Untuk baby sendiri masih belum ada tanda-tanda akan lahir, sehingga aku lebih tenang.


Kejadian seperti ini tetap saja tak bisa kuceritakan pada Adrian. Kalau sampai ia panik dan meninggalkan tugasnya di sana, aku juga yang tidak enak hati. Utamanya Agatha, Mba Rina, dan Hugo. Tiga orang itu sudah kuminta untuk tutup mulut rapat-rapat dari Adrian soal ini.


Terlepas dari kondisiku, Johana pada akhirnya tak pulang ke rumah sampai dua hari. Aku sudah mengatakan padanya 'tak apa tinggal di sini' jika memang sedang perlu tempat untuk menjernihkan pikiran. Tapi kemudian ia meminta kakak laki-lakinya, Alex untuk menjemputnya pulang ke rumah orang tua mereka. Sudah kuduga masalah ini akan menjadi besar karena Garrin yang tak mau jujur.


"Makasih, ya, Hann, atas tempat, waktu, perhatian, dan semuanya. Makasih banyak. Aku harap bisa jadi tetangga kamu lagi nanti," ungkapnya sebelum pergi.


"Iya, pokoknya dalam beberapa hari lagi, kita harus jadi tetangga. Kamu harus balik ke sini lagi. Aku akan doa in yang terbaik."


"Makasih ya. Oh ya, baju ini ..., kapan-kapan pasti aku balikin." Ia melihat bajuku yang pas dikenakannya.


"Iya, aku tunggu kamu balikin baju itu ke sini lagi."


"Bye, Hann. Assalamualaikum." Jo melambai ketika kami semakin menjauh.


"Waalaikumsalam warahmatullah," balasku turut melambaikan tangan ke arahnya.


Kuharap mereka segera baikan.


...----------------...


Hari lahiran pertamaku semakin dekat. Tapi rasa takut dan susah tidur di malam hari itu kini telah berubah. Jujur, pikiranku yang semula memikirkan berbagai resiko dan kemungkinan terburuk saat melahirkan, perlahan mulai teralihkan dengan nasib hubungan Garrin dan Johana. Sudah hampir seminggu, dan dua orang itu sama sekali tak ada yang menemuiku setelah kejadian hari itu. Bagaimana nasib mereka? Kumohon berikan keajaiban untuk memperbaiki kembali hubungan mereka, Ya Tuhan ...


"Agatha? Belum pulang?" tanyaku pada wanita yang tengah memeriksa isi tasnya.


"Iya, ini sebentar lagi pulang sih. Aduh, mana Dena rewel banget, demam dari kemarin belum turun juga."


"Rindu Papanya kali, tuh?"


"Ah ..., mana ada sih yang begituan. Paling cuma kecapaiam main aja. Ah, ya sudah Bu, saya pulang dulu."


"Diantar Hugo, kan?"


"Iya."


"Ya udah, hati-hati di jalan, ya!"

__ADS_1


Aku mengantar kepergian Agatha sampai di ruang tamu. Karena kebetulan di atas mejanya ada majalah tergeletak, inisiatif aku membacanya sembari duduk di sofa. Beberapa waktu berlalu, Mba Rina menyusul keluar untuk membeli barang di minimarket. Aku mengizinkannya, lalu ia pergi membawa serta dua asistennya.


[Voice Call]


Bunda : Halo, Assalamualaikum, Hann ..., kamu di rumah?


Hanna : Waalaikumsalam, iya Bunda. Hanna di rumah aja kok. Ada apa Bun? Nggak biasanya Bunda telepon duluan?


Bunda : Kita mau ke situ rencananya. Yah, sekitar jam sembilan inshaallah kita sampai situ. Nggak apa, kan?


Hanna : Oh, nggak apa-apa kok, Bunda. Di sini juga Hanna nggak ada teman ngobrol sih. Ajak Kak Zahra sekalian aja


Bunda : Ya udah, gampang lah nanti kita jemput Zahra sekalian jalan ke situ. Bunda lanjut siap-siap lagi kalau gitu. Kamu jangan tidur dulu loh ya. Ini Bunda bawain martabak kesukaan kamu nih.


Hanna : Enggak Bunda ..., ini Hanna tungguin di ruang tamu nih


Bunda : Kalau gitu , Bunda tutup teleponnya ya? Assalamualaikum


Hanna : Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh


Perlu kukasih tahu Mba Rina, nggak ya, kalau Bunda mau datang malam ini? Tapi kalau kukasih tahu sekarang, nanti dia buru-buru pulang dari minimarket. Nggak usahlah, nanti aja kalau Mba Rina udah pulang.


Kulanjutkan lagi majalah yang sudah nyaman memposisikan diri di kedua tanganku. Baru beberapa kalimat kubaca, ponselku kembali berdering. Panggilan baru masuk dari Garrin Wijaya. Pria yang akhir-akhir ini menduduki list teratas dari nama-nama pira paling kubencidi dunia.


[Voice Call]


Hanna Aleesa : Halo? Assalamualaikum. Ada apaan?


Garrin Wijaya : Halo? Waalaikumsalam. Akhirnya diangkat juga. Gue udah telepon dari kemarin cuma masuk pesan suara dong


Hanna Aleesa : Ada apa jam segini telepon? Mau ngomong apa nggak usah pakai basa-basi deh


Garrin Wijaya : Johana masih di situ, kan? Dia cerita apa aja sama lo?


Hanna Aleesa : Garrin Wijaya, dengar baik-baik, ya. Gue nggak tahu lo sekarang ada di mana, tapi Johana udah nggak di rumah gue lagi sejak tanggal empat September, dia dijemput pulang sama Kakak sulungnya, Kak Alex. Dan ini udah tanggal sembilan September, lo baru tanyain Jo di mana. Emang gila, sih, lo


Garrin Wijaya : ****!

__ADS_1


Hanna Aleesa : Sekarang percuma kalau lo mau ngomong kasar sebanyak apapun juga. Lebih baik kalau lo bisa jelasin ke Jo, sebenarnya ada apa antara lo sama Karinda. Gue aja yang lama sahabatan sama kalian nggak ngerti situasinya


Garrin Wijaya : Sebenarnya gue udah cerita ke Adrian juga soal ini. Gue udah minta saran dari dia tentang posisi sulit gue ini, dan gue belum sempat kasih tahu apa-apa ke Jo


Hanna Aleesa : Berani-beraninya ya, lo gangguin suami orang. Gue aja istrinya mau telepon Adrian harus mikir dua kali dulu takut ganggu dia sibuk. Kesel gue dengernya


Garrin Wijaya : Tapi, Hanna. Gue rasa gue perlu bantuan lo untuk sekarang. Please, bantuin biar gue bisa ketemu sama Jo. Gue janji nggak akan ngacau. Gue akan cerita semuanya dan selesaikan secara dewasa kali ini. Gue tahu di mana letak kesalahan gue, dan gue akan berusaha memperbaikinya


Garrin Wijaya : Mungkin lo nggak tahu, dulu banget sebelum lo pulang dari Australia dan masuk ke kampus kita, mahasiswa, utamanya senior udah banyak yang tahu kalau Karinda bukan cewek biasa. Seterkenal itu sampai ada dosen yang yang pernah pakai dia juga


Hanna Aleesa : Tunggu! Pembicaraan ini ....


Garrin Wijaya : Iya. Gue juga salah satu orang yang pakai dia untuk senang-senang. Dan dari pagi hari itu, seakan kehidupan tiba-tiba berubah. Gue ketemu sama Paman Karinda. Dia tanya tentang hubungan gue dan Karinda. Waktu itu gue lihat ekspresi wajah ketakutan Karinda, sampai akhirnya gue bilang kalau kita ini emang punya hubungan, gue berusaha untuk nggak menceritakan pekerjaan yang dilakukan Karinda di kampus


Hanna Aleesa : Terus?


Garrin Wijaya : Sampai di sana, gue dapat blackmail dari Paman Karinda. Dia yang ternyata menyelidiki latar belakang keluarga Wijaya, berusaha memeras gue untuk kepentingannya. As you know, Kakek gue seorang pastor Katolik yang taat, kalau gue nggak kasih apa yang Pamannya minta, mereka akan mencemarkan mana keluarga gue. Dan gue nggak mau itu sampai terjadi


Garrin Wijaya : Yang terjadi sekarang, Pamannya masih melakukan blackmail yang sama. Dia akan menyebarkan semua informasi yang memperburuk citra keluarga gue. Sebagai imbalannya, dia mau gue biayai Karinda dan kasih kompensasi ke mereka dalam nominal yang lumayan besar


Hanna Aleesa : Dan lo bisa diam aja dengan blackmail itu?


Garrin Wijaya : Enggak. Selama ini gue sedang berusaha untuk meretas device yang mereka punya, dan menghapus semua jejak informasi yang ada. Bukan cuma untuk gue sendiri, tapi gue nggak mau sampai suami Karinda tahu aib istrinya, dan berujung menelantarkan Karinda lagi. Semua usaha gue itu berakhir hari ini. Semua udah selesai sekarang


Hanna Aleesa : Kalau gitu kenapa nggak bilang ke Karinda sekarang! Dia masih berharap lo bakal mengajaknya baikan. Gue juga salut sama Jo yang mau maunya terima lo setelah semua perlakuan kasar lo selama ini!


"B- Bu? I- Ibu nggak apa?" Salah seorang asisten menghampiriku dengan tatapan cemas.


"Akh! Aaaahh!!"


Perutku semakin mengencang di bagian bawah. Keram itu semakin menyakitkan dan rasanya bagian bawahku sudah basah. Apa itu air ketuban? Apa? Sekarang?


"Aw!" Tanganku mencengkram sofa menahan rasa sakit itu.


Aku sudah tak ingat lagi apa yang yang kukatakan atau apa yang terjadi di sebelilingku setelahnya. Aku hanya ingat saat Garrin akhirnya datang dan membawaku ke rumah sakit dengan mobilnya. Lalu pria itu meninggalkanku dan membiarkanku masuk ke ruangan itu sendirian. Tempat di mana aku melihat Dokter Jennie, dan rasa sakit itu semakin menjadi.


Rasa sakit itu tidak lama, karena setelahnya aku mendengar suara Adrian memanggil namaku berulang kali. Mungkin kalimatnya terdengar seperti, "Sayang ..., kembalilah! Kita akan menjaganya bersama, kan? Kamu tidak akan meninggalkan aku sendirian, kan?"

__ADS_1


__ADS_2