Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Sonichi


__ADS_3

Setelah mendapat pelatihan dan memahami penjelasan Agatha tentang tugasku sebagai Kepala direksi, hari yang mendebarkan pun tiba. Sejak pagi, aku sudah tak sabar sekaligus tertantang untuk menghadapi pekerjaan baruku. Di hari pertama ini, Adrian Al-Faruq sang Presdir AA Corporation secara eksklusif mengantarkanku langsung ke kantor AA Publisher.


Tepat di mana Portofino itu berhenti, seakan jantungku juga ingin berhenti. Sebelum turun dari mobil, Adrian memotivasi, dan menenangkan diriku dengan kata-katanya. Tapi tetap saja kegusaran ini tak bisa dikendalikan.


"Calm down dear ..., you're not go to war." Ia menggenggam kedua tanganku.


^^^Tenang, Sayang ..., kamu bukannya mau berangkat perang^^^


"Kamu ingat setahun lalu aku datang ke sini untuk interview kerja? Dan sekarang aku ke sini untuk menggantikan posisi kepala direksi. Gimana komentar karyawan lain nantinya?"


"Sejak kapan kamu peduli dengan anggapan orang lain? Semua ini yang terbaik untuk kamu. Ayo, semangat."


"Harusnya aku mulai dari awal tahu."


"Nggak ada yang lebih cocok untuk ngisi posisi itu selain kamu. Lihat tuh, Agatha udah nunggu di luar," tunjuknya ke luar pintu mobil di sebelahku.


"Beneran nggak apa-apa ya?" Aku kembali menoleh ke arahnya. Cup! Kecupan manis di kening itu yang membalas pertanyaanku tanpa sepatah kata.


"Silakan, Nyonya." Agata menyambutku turun dari mobil.


"Yang berdiri di sebelah kanan itu adalah ketua editor yang baru, orang yang akan sedikit banyak berurusan langsung dengan anda. Namanya Zola, 29 tahun, dan di sebelahnya itu adalah asistennya, Marie," bisik Agata yang berjalan di sebelah kiriku.


"Selamat datang, Pimpinan Direksi." Pria itu menunduk hormat menyambut kedatangan kami, diikuti karyawan lain.


"Mulai hari ini kita akan belerja sebagai partner. Saya Hanna, dan saya mohon kerjasamanya."


"Saya ketua Editor, nama saya Zola, dan ini asisten saya Marie. Suatu kehormatan kami bisa mengantarkan anda berkeliling kantor ini."


Wanita itu menyilakanku berjalan di depan mereka. "Silakan, Bu."


Hari pertama harus membawa kesan yang baik pula. Hampir selama setengah hari kami berkeliling dan melihat-lihat seluruh ruangan yang ada di perusahaan penerbit ini. Saat tiba waktu makan siang, barulah pengenalan tempat itu selesai, dan aku bisa menikmati ruanganku.


Agatha menyodorkan iPad berisi jadwalku hari ini dan besok. Tak begitu banyak, dan hari ini pun berhubung masih hari pertama, akan ada acara makan bersama perusahaan sebagai ucapan selamat datang. Sisanya, Agatha bilang hanya tinggal pekerjaan-pekerjaan ringan yang kecil untuk kuselesaikan.


"Presdir juga menyarankan untuk acara makan malam ini diselenggarakan di restoran Asia dekat rumah utama."


"Emangnya bisa kita booking tempat dadakan?" kataku sembari melirik ke arahnya.


Agatha tersenyum mendengarku. "Masih belum terlambat untuk booking dari sekarang. Dan kalau ada kendala, anda tinggal menaikkan fee nya."


"Ya udah, tolong pesan tempatnya, ya."


"Baik, Nyonya."


"Oh ya, satu lagi. Khusus hari ini, abis istirahat makan siang, semua karyawan bisa pulang."


"Baik, Nyonya." Lagi-lagi Agata tersenyum lalu pergi.


Aku memeriksa sekali lagi daftar schedule yang disiapkan Agata untukku itu. Belum ada event besar dalam waktu-waktu dekat ini. Dari semua hal yang sudah kupelajari tentang perusahaan ini, memang hampir tak ada yang spesial sehingga menarik perhatian banyak orang. Mungkin itu juga salah satu penyebab utama pemasukan dari perusahaan ini tak sebanyak perusahaan di bidang lain.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk." Aku menutup lalu membalikkan layar iPad.


"Permisi, ada yang perlu saya tanyakan."


"Marie? Kalau nggak salah nama kamu Marie, kan? Ada apa?"

__ADS_1


Wanita itu mengangkat kepalanya. "Jadi benar kan orang itu kamu," cetusnya dengan nada non-formal.


Aku masih terdiam, lalu wanita itu berjalan mendekatiku sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Kamu cewek sombong yang interview kerja di sini setahun lalu, kan? Lulus 3.5 tahun? Double degree? Cumlaude?"


"Tujuh puluh lima persen benar. Hanya dua puluh lima persen pernyataan Marie masih kurang tepat." Aku menggerak-gerakkan kursiku.


"Sombongnya masih tuh? Gimana ceritanya bisa langsung dapat posisi ini? Nikah sama pemilik perusahaan?" tanyanya diikuti tawa mengejek.


Aku menghela napas mencoba meredam emosi. "Sepertinya tidak ada hal penting yang perlu dibicarakan. Saya juga tidak berniat untuk menceritakan detail kehidupan pribadi saya. Jika tidak ada hal lain anda bisa keluar, Nona Marie." Aku tersenyum seraya mengarahkan tanganku menunjuk pintu.


"Terimakasih atas waktu anda yang sangat berharga, saya permisi." Wanita itu akhirnya berjalan keluar.


Benar juga, aku ingat dulu pernah bertemu dengan seorang wanita. Aku memang tak sempat menanyakan namanya waktu itu, tapi dari caranya bicara dan wajahnya masih jelas kuingat. Inilah hal yang kutakutkan ketika berada di posisi tinggi tanpa memulai karir dari bawah. Pasti akan ada pandangan buruk lain setelah ini.


*****


Sesuai dengan permintaanku, Agatha memberitahukan kepada para karyawan bahwa hari ini pulang kerja akan dipercepat. Ditambah lagi dengan malam nanti diadakan acara makan malam penyambutan pimpinan direksi yang baru. Setelah itu kami pulang kembali ke rumah.


"Hari ini Presdir ada rapat dengan klien, kemungkinan beliau akan pulang ke rumah saat malam," ucap Agatha ditengah fokusnya mengemudi mobil.


"Terima kasih sudah bekerja keras, Agatha. Cincin yang bagus," celetukku melirik emas putih di jari manisnya.


"Saya tidak percaya akhirnya bisa memakai cincin ini saat bekerja. Terima kasih, Nyonya."


"Bukan apa-apa kok."


Sampai di rumah, Mba Rina dan Mba Puput menyambutku. Mereka juga melaporkan hal yang sama mengenai Adrian. Tapi tak berapa lama kemudian, orang yang disebut-sebut namanya itu menghubungiku. Aku tersenyum seraya berjalan naik ke kamar melalui anak tangga.


[Voice Call]


Aleesa : Wa'alaikumsalam, Alhamdulillah baik. Lebih baik dari yang kukira.


Adrian : Kenapa? Dari suara kamu kayaknya ada masalah.


Aleesa : Nggak ada. Semuanya baik-baik aja. Oh ya, katanya kamu ketemu klien hari ini. Siapa? Di mana?


Adrian : Iya, dia klien lama aku. Belum lama ini ada peluncuran produk baru dari AA Tech, dan perusahaan dia mau coba kolaborasi. Ini aku ada di private room restoran yang kemarin.


Aleesa : Klien lama yang kemarin kirim paket ke rumah Ummi itu?"


Adrian : Huh? Klien yang mana?


Aleesa : Bukan ya?


Adrian : Oh itu ..., Iya, bener kok. Sorry ini baru selesai rapat sih, otaknya belum sinkron.


Aleesa : Ya udah, istirahat sana.


Adrian : Ini juga sambil istirahat. Perut kamu gimana? Nggak mual lagi?


Aleesa : Enggak sih. Anehnya dari tadi aku sama sekaki belum- Ukh!!


Aku berlari ke kamar mandi terdekat sembari menutup mulutku dengan dua tangan. Ponselku sudah terlempar ke atas sofa dan tak kupedulikan lagi. Hampir semua makanan yang kumakan siang ini terbuang sia-sia. Mba Rina dan Agata segera mendatangi dan membantuku dalam keadaan yang serba salah itu.


Perasaanku kembali lega setelah berhasil memuntahkan semua rasa mual dalam perut. Ketika sudah berangsur tenang, Mba Rina mengambilkan air minum dan makanan untukku di atas nampan. Setelah mengeluarkannya, sudah pasti perutku harus diisi dengan pengganti. Meski rasanya jadi tak senikmat yang biasanya, tapi tetap kupaksakan memakan apa yang diambilkan oleh Mba Rina.


Yang selalu kuingat ini, bahwa aku makan bukan hanya untuk kesehatanku, melainkan juga kesehatan calon anakku. Walau begitu aku masih memikirkan kenapa mual itu bisa datang tiba-tiba. Sejak aku di kantor, tak pernah ada rasa mual atau tak enak badan. Kenapa baru sekarang?

__ADS_1


"Nyonya, saya sarankan anda tidak ikut dalam makan malam perusahaan nanti. Kondisi anda sepertinya belum bisa terbiasa dengan keadaan baru."


"Agatha. Makan malam perusahaan nanti adalah acara penyambutan untukku. Mana mungkin aku nggak datang?"


"Tapi kalau dilihat dari kondisi anda saat ini, sepertinya belum bisa."


"Saya bisa datang."


Makan malam perusahaan yang dilaksanakan di restoran Asia dekat rumah terselenggara dengan lancar berkat bantuan Agatha. Semua tampak puas, dan yang terpenting, di kesempatan ini aku bisa saling mengenal langsung dengan seluruh karyawan di perusahaan. Syukurku, ketika tak ada sedikitpun rasa mual terasa.


"Permisi, Hanna?"


Aku menoleh ke arah suara. "Iya? Oh, Pak Editor. Ada apa, ya?"


"Cukup panggil aku Zola. Ini kan kita sedang di luar kantor."


"Iya, tapi kebetulan kita sedang dalam acara kantor. Jadi, ada apa Pak Editor Zola?"


"Emm, itu..., Bu Hanna setelah ini ada acara?"


"Sepertinya tidak ada. Kalau mau membahas tentang pekerjaan sebaiknya besok saja, Pak. Hari ini biarkan seluruh pegawai bersantai dulu," paparku lugas.


"Baiklah. Bagaimana kalau selesai makan malam ini saya antarkan Bu Hanna pulang?"


"Oh, saya rasa tidak perlu, Pak. Saya bersama dengan sekretaris saya."


"Agatha? Sepertinya Bu Hanna belum tahu kalau wanita itu dikabarkan memiliki hubungan dengan orang dalam. Saya juga kurang tahu detilnya, tapi mohon Bu Hanna berhati-hati dengan Agatha. Dia itu wanita penjilat."


"Izin berbicara Nyonya. Tapi sepertinya rumor itu sangat terkenal di semua cabang AA Corporation. Saya salut dengan diri saya sendiri yang begitu terkenal ini." Agata muncul dari arah belakang dan mengambil duduk tepat di sebelah Zola.


"Saya permisi dulu." Pria itu segera mengangkat tubuhnya pergi dari meja kami.


"Banyak orang yang tidak tahu tentang pertemuan saya dan Erwin di perusahaan ini. Karena itu mereka kerap kali mengira saya mendapat bantuan orang dalam," ungkap Agatha seraya menuangkan air ke dalam gelasnya.


"Kalian cinlok?" tanyaku diiringi tawa kecil.


"Bisa dibilang begitu. Karena faktanya kami dipertemukan di perusahaan ini lalu terjalin kisah cinta. Bukankah yang seperti itu bisa dikategorikan sebagai cinlok," jawabnya serius.


"Jujur aja, aku juga baru kemarin tahu kalau kamu dan Pak Erwin itu suami-istri," lugasku.


"Pfft!" Agata hampir menumpahkan air minum ke atas meja mendengar penyataanku.


"Anda serius, Nyonya?" Aku mengangguk mengiyakan.


"Berarti waktu itu, saat saya dan Presdir bertemu di hotel malam itu. Anda benar-benar cemburu?"


"Ah, jangan bahas itu lagi."


"Iya. Tinggal mengakui kalau kamu cemburu apa salahnya sih?"


Aku memutar badanku. Kehadiran Adrian di sana sukses membuatku terkejut. "Kok kamu bisa di sini?"


"VIP access." Adrian menunjukkan kartu di tangannya.


"Dasar. Selalu seenaknya. Kalau pegawai yang lain tahu kamu di sini, gimana?"


"Dari seluruh pegawai yang bekerja di berbagai cabang perusahaan, hanya sekitar 10% yang pernah bertemu denganku sebagai Adrian Al-Faruq. Sisanya, mereka hanya berpikir aku ini pegawai AA Corporation."

__ADS_1


__ADS_2