Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Sesuatu Untukmu (2)


__ADS_3

Tangan kiriku telah memegang test pack di belakang punggung. Kuatur napas dan hatiku, bersiap menunjukkannya setelah ini. Sementara Adrian terus memandangku dari posisi bersandar di kepala ranjang, aku duduk menghadapnya menahan grogi.


Apa sekarang saatnya?


"Sekarang ayo kita tidur. Rasanya sudah sangat lama tidak tidur sambil memelukmu. Aku sangat kesepian selama seminggu ini." Mas Adrian menarikku ke dalam pelukannya.


"Wait, aku mau bilang soal-"


"Udah, besok lagi aja ceritanya. Aku perlu kamu sekarang."


"Tapi aku mau bicara so-"


Cup! Bibir itu membungkam kalimatku.


"Kamu nggak tahu, kan. Selama seminggu ini aku nggak bisa tidur nyenyak karena nggak ada kamu, Sayang." Ia mengeratkan pelukannya, hingga hampir saja aku tak bisa bernapas.


"Hmph! Baiklah. Selamat tidur, bayi besar," ucapku setengah kesal, menyelipkan kembali testpack ke dalam saku celana piyama yang kukenakan saat itu.


Malam yang kurindukan pun datang. Sejujurnya bukan hanya Mas Adrian yang merasa kesepian tiap malam, aku pun sama. Setelah menikah, jadi agak aneh rasanya untuk tidur di ranjang sendirian. Memang jatuh cinta setelah menikah tak dapat dipungkiri bisa semanis ini.


*****


Sebelum adzan subuh berkumandang, aku sudah terbangun dari tidur lebih dulu. Alhamdulillah pagi ini mualku tidak separah sebelumnya, hanya sedikit rasa tak nyaman di perut ini yang kurasakan. Selebihnya aku bisa beraktivitas seperti biasa lagi.


Sepertinya benar yang dikatakan Mas Adrian, pria itu tak bisa tidur nyenyak selama seminggu ini. Semalaman ia memelukku erat dan tidur dengan pulasnya sampai-sampai telat pergi ke masjid. Alhasil, kami salat subuh jamaah sendiri di kamar. Kami menghabiskan momen pagi itu seperti pengantin baru yang masih lengket, ngapa-ngapain serba berdua. Sangat mirip dengan masa awal-awal pernikahan kami. Tadarus berdua untuk menunggu matahari terbit.


Demi waktu yang berlalu, cahaya matahari pun perlahan masuk menembus jendela kaca. Kami mengakhiri rutinitas pagi itu.


Mungkin ini waktunya?


Jantungku berdetak kencang setelah melepas mukena dan mengembalikan ke tempatnya semula. Biasanya, setelah selesai tadarus subuh sembari menunggu matahari terbit, Mas Adrian akan mengganti pakaian dan pergi ke ruang gym. Aku pun duduk di pinggir ranjang, menunggunya keluar dari walk-in closet seraya menyiapkan mental.


"Loh, kamu belum turun?" Aku menelan saliva melihatnya berjalan keluar dari walk-in closet dengan kaos yang belum terpakai dengan benar hingga menampakkan perut enam kotak itu.


Aw! Padahal udah jadi pemandangan biasa tiap hari, tapi masih aja suka ngiler kalau lihat roti sobek pagi-pagi gini.


"Oh anu, itu ..., Mas. Satu hal penting yang mau aku bilang ke kamu waktu itu." Aku tersenyum antusias menatapnya.


Mas Adrian turut duduk di pinggir ranjang menghadapku. "Iya, aku juga belum bilang soal itu."


"Mmm ..., Jadi Mas. Sebenarnya aku ...."


"Aku setuju untuk menikahi Karinda."

__ADS_1


"Huh?"


Kalimat itu sukses mengubah senyumku menjadi sendu. Kedua mataku berair menahan sakit dan sesaknya dalam dada. Bibirku tak mampu berucap satu kata pun di depan manusia ini. Ia meraih tangan kananku, mencium punggung tangan itu berkali-kali. Satu tanganku yang masih menggenggam test pack itu meremasnya erat.


Apa? Aku harus merespon seperti apa?


"Setelah kamu pergi ke rumah Mba Rina hari itu, aku mulai berpikir. Aku terpikirkan semua yang kamu bilang. Dan aku juga nggak bisa memaksakan usiaku dengan keadaan kamu saat ini. Apalagi akhir-akhir ini kamu juga kurang sehat."


"Kemarin aku bertemu dengan walinya Karinda. Mereka setuju lantas menyambut niat baikku," tambahnya makin membuatku tercengang.


Senyum, Hanna! Tersenyumlah! Ini, kan yang kamu inginkan sejak awal?


"Oh, baguslah ...." Pandanganku beralih pada dinding kamar.


"Aku akan menikahi Karinda kalau itu yang kamu mau. Aku sadar, kondisi kamu emang nggak bisa dipaksakan. Meski nantinya aku nggak bisa adil dalam hal perasaan, tapi aku akan berusaha sebisa mungkin menjadi suami yang adil untuk kalian berdua." Adrian membawaku dalam dekapannya.


Dengan posisi itu, aku bisa menyembunyikan wajahku di ceruk lehernya. Kuharap ia tak mampu melihat kesedihan dan penyesalan dalam air mukaku saat itu. Aku yang hampir tak percaya mendengar ucapannya, lantas memeluk tubuh Mas Adrian kian erat.


Apakah aku tidak bisa menarik kata-kataku waktu itu? Bagaimana ini?


"Terima kasih sudah memikirkan permintaan egoisku itu. Aku yakin kamu bisa menjadi suami yang adil," ucapku dengan suara sembab.


"Kamu ...."


Apa yang aku katakan? Kenapa aku tidak bisa menolaknya? Bukan saatnya untukku pua-pura tegar!


Cukup lama aku bertahan di posisi menyakitkan itu. Beberapa saat setelahnya, aku pamit keluar kamar untuk mengambil minuman yang kusimpan di kulkas lantai bawah. Tentunya itu hanya alasan agar aku bisa menemukan tempat yang sesuai untuk menangis dan dengan leluasa menumpahkan seluruh penyesalanku.


Dalam seminggu, Mas Adrian sudah berubah pikiran dan setuju untuk menikahi Khadija. Mana mungkin hal seperti itu bisa terjadi kecuali memang keduanya masih menyimpan perasaan yang sama sejak tujuh tahun yang lalu? Sadarlah Hanna, orang baru yang merebut Adrian adalah aku! Maka ini sudah selayaknya terjadi. Tapi kenapa berat hatiku untuk membagi Mas Adrian dengan sahabatku sendiri? Apakah aku memang terlalu serakah?


Aku menangis hingga isakannya tak bisa dihentikan dengan tarikan napas panjang. Aku terlanjur merasakan sesak dan sakit yang tak terhitung dalam dada ini. Rasanya sudah tak ada kekuatan untukku mengatakan kabar kehamilanku. Kali ini saja Hanna, mengalah lah untuk kebahagiaan sahabatmu. Hatiku terus memotivasi hasrat tak rela ini meski logika terus menolak.


*****


Waktu begitu cepat berlalu, hingga sahabatku Khadija, datang ke rumah kami untuk membuat perjanjian sebelum akad dilaksanakan. Bertempat di ruang pertemuan di bagian samping rumah ini, kami duduk dalam suasana yang tak begitu nyaman. Awalnya aku menolak hadir di sana, tapi Adrian sampai memohon padaku agar menjadi penengah bila saja aku merasa ada beberapa hal yang kurasa kurang adil.


"Ini pertama kalinya loh kami datang kemari. Terima kasih sudah menjamu keluarga kami sampai sedemikian ini. Nak Adrian ini sepertinya memang tak salah bila disandingkan dengan Karinda," ucap paman Karinda yang hadir sebagai wali hari itu.


Aku hanya bisa menunduk mendengar pujian-pujian yang dilontarkan keluarga Karinda terhadap baiknya sikap Mas Adrian dalam menghargai pertemuan itu. Jujur, aku kesal duduk di kursi yang berjarak beberapa meter dari tempat duduk Mas Adrian dan melihat keduanya saling melempar senyum beberapa kali.


"Baiklah, langsung saja ini merupakan syarat yang kami ajukan. Di dalamnya merupakan pengajuan dari Karinda dan pihak keluarga kami." Pria itu menyerahkan kertas bertuliskan poin-poin yang boleh dan tidak boleh dilakukan Adrian ketika ia resmi menjadi suami untuk Karinda nantinya.


Aku kembali menundukkan kepala ketika suasana ruangan berubah senyap saat Mas Adrian membaca isi kertas itu. Apakah aku perlu tahu syarat yang diajukan Karinda? Aku bahkan tidak tahu secara posisi, siapa yang lebih kuat nantinya. Istri pertama? Ataukah istri kedua?

__ADS_1


"Ukh!" Aku menutup mulutku serentak berdiri.


"Maaf, saya permisi ke belakang." Dengan langkah cepat aku peegi ke toilet terdekat, untuk menghilangkan rasa mual itu.


Setelah selesai memuntahkan sarapan pagiku dan menenangkan diri, tak kusangka Mba Rina telah menunggu di depan pintu toilet. "Anda baik-baik saja, Nyonya?" tanyanya menyambutku.


"Nggak apa-apa. Mba Rina kenapa ke sini? Acara pertemuannya belum selesai, kan?"


"Sudah tugas saya untuk memastikan anda selalu dalam keadaan baik. Pekerjaan yang lain hanya sampingan untuk saya."


Aku tersenyum mendengar kata-kata mba Rina. Sepertinya walau aku harus berbagi Mas Adrian dan semua yang ku punya dengan Karinda, tapi masih ada hal yang tak bisa kubagi. Mba Rina.


"Akan saya buatkan air jeruk peras kalau anda mau."


"Iya, boleh. Saya tunggu di meja makan."


Mba Rina segera pergi ke dapur untuk membuat perasan air jeruk yang saat itu sangat ingin kuminum. Hanya dengan menebak saja, Mba Rina pun tahu apa yang aku mau. Kejeliannya memang patut diapresiasi, sebagai asisten rumah tangga yang berkualitas di rumah ini.


Berbeda dengan Mba Puput yang disekolahkan di sekolah keperawatan karena kedua orang tuanya adalah asisten yang bekerja dengan Ummi sejak dulu. Mba Rina datang dan dipercaya untuk bisa meng-handle pekerjaan rumah ini setelah ia melalui beberapa tahap tes. Posisi Mba Rina sebagai orang baru juga mudah tergantikan bila saja ia melakukan kesalahan. Berbeda dengan Mba Puput yang selalu dipertahankan karena pengaruh kedua orangtuanya.


Selesai acara pertemuan itu, Karinda bersama keluarganya pulang kembali ke kediaman mereka. Dan aku mulai terpikirkan pada respon Ayah dan Bunda jika mendengar Adrian akan menikah lagi. Kapan aku akan bicara langsung dengan Ayah-Bunda perihal ini?


"Aleesa." Suara itu memanggil namaku.


Aku yang melamun di balkon kamar segera tersadar dari lamunan. "Ya? Ada apa, Mas?"


"Kamu di sini," ujar Mas Adrian berjalan ke arahku.


"Iya. Lagi cari inspirasi."


"Gimana perut kamu? Udah minum obat? Nggak telat makan lagi, kan?" katanya memberondongku dengan pertanyaan.


"Udah mendingan, udah minum obat juga tadi."


Kalau Karinda jadi istri kedua Mas Adrian dan tinggal di rumah ini, apakah Mas Adrian akan tetap seperhatian ini padaku?


"Nah kan, ngelamun lagi. Mikirin apaan sih? Hari ini kamu banyak diam loh."


"Itu.., sebenernya aku kepikiran, kamu nggak mau bilang ke Ayah-Bunda, kalau Minggu depan kamu menikahi Karinda? Aku nggak maksa kamu untuk bilang sih, toh aku juga udah kasih izin. Bisa aja kalau aku yang bilang langsung ke Ayah-Bunda."


Ia meraih kedua tanganku, menggenggamnya erat. "Malam ini aku berencana datang ke rumah Ayah-Bunda. Aku merasa, sebagai mertua mereka berhak tahu langsung dariku. Bagaimana pun, aku ingin Ayah yang jadi saksiku di akad nanti."


"Makasih, Mas. Seenggaknya kamu masih menghargai orangtuaku."

__ADS_1


"Kamu ngomong apa sih? Mereka juga, kan orangtuaku." Adrian menarikku dalam peluknya. Meletakkan dagunya di atas kepalaku seakan itu adalah posisi ternyaman. Kuharap takkan ada yang berubah bahkan setelah aku harus membagi Mas Adrian dengan Khadija.


__ADS_2