
“Wanita itu adalah Hanna Aleesa.”
“Hanna …, aku harus sampaikan terimakasih karena wanita sepertimu tercipta di dunia yang sama denganku. Tolong terima bunga ini.”
Garrin berlutut di depanku seraya menyerahkan buket mawar putih di tangannya itu. Aku yang tak sanggup melihatnya karena perasaan campur aduk ini benar-benar bodoh sesaat dan segera menerimanya. Baru mataku melirik pada Adrian yang entah sejak kapan sudah memalingkan mukanya dariku.
Garrin segera bangkit dari posisinya tak lama setelah aku menerima bunga itu. “Dan pria yang duduk di sebelahnya ini adalah suaminya. Pria baik yang saya rasa jauh lebih pantas untuk menjaga Hanna Aleesa dibandingkan saya.”
Adrian menatap dingin ke arah Garrin yang tetap menunjukkan senyum. Dahinya berkerut, tapi aku tak sanggup membaca ekspresi itu. Tak bisa diartikan sebagai ekspresi heran, tapi juga tak tampak seperti ia sedang marah.
“Maaf sudah membuat kalian berdua sampai terkejut seperti ini. Saya hanya ingin memberi Hanna bunga itu sebagai keseriusan saya, bahwa saya sepenuhnya ikhlas atas pernikahan kalian. Entah kenapa perasaan saya jadi jauh lebih lega sekarang, dan …, saya percaya Adrian adalah satu-satunya yang bisa menjaga Hanna.”
Garrin mundur perlahan, tak sampai kembali ke atas panggung. “Ucapan, perasaan, dan tindakan saya, benar-benar tulus malam ini. Sejujurnya sangat berat untuk saya lakukan di hadapan banyak tamu saya yang terhormat. Namun, ada seseorang yang membuat saya membuka pikiran dan hati saya."
“Orang itu adalah yang mengatur semua ini, dia yang memilihkan warna karpet yang anda pijak saat ini, dia juga yang memilihkan souvenir yang anda bawa saat ini. Dan bagi saya, dia adalah support mental, yang juga seseorang yang sangat luar biasa, Hana.”
“Johana Amelie, wanita yang duduk di sini, wanita kuat, wanita baik, dan pelindung bagi saya. Wanita yang tak gentar mengukuhkan perasaannya, dan meyakinkan bahwa saya bisa menemukan Hana saya sendiri.”
Aku bernapas lega melihat pemandangan luar biasa yang jarang terjadi itu. Tangan Adrian menggenggamku erat di atas pahanya, sekilah terukir senyum dari bibir itu, juga helaan napas lega. Dan sepasang mata teduh itu, menatapku penuh makna.
“Johana Amelie, di depan seluruh undangan yang hadir malam ini, aku ingin mengutarakan niat baikku untuk melamarmu menjadi istriku. Maukah … kamu menerimanya?”
*****
Udara pagi menusuk kulit yang terbiasa menerima sentuhan hangat dari selimut tebal. Puncak kemarau telah datang, membawa hawa dingin di malam hari. Tiap hari yang berlalu bagai sisa ruang dalam selembar kertas untuk menorehkan tulisan. Beberapa bulan telah berlalu, kehidupanku dan Adrian di rumah sederhana itu berangsur membaik.
Adrian telah mendapatkan kepercayaan di perusahaan yang menunjang profesinya sebagai arsitek. Aku pun mulai menjajal bisnis kue untuk menambah penghasilan kami. Dengan bantuan Bu Ida yang ikut mengenalkan bisnis rumahanku ini, akhirnya nama ‘Hanna's Kitchen’ cukup terkenal dan mendapat banyak respon baik hanya dalam beberapa bulan.
Setiap harinya kesibukanku pun semakin bertambah, mulai dari menyiapkan pakaian kerja Mas Adrian, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, belanja bahan kue, membuat kue pesanan, hingga menyambut kembali kepulangan Mas Adrian. Rutinitas itu pun lambat laun membuatku semakin terbiasa dengan kesibukan ini.
“Sayang, lihat USB Drive yang kemarin aku pakai nggak?”
“Yang mana?”
“Warna hitam, yang kamu beliin buat aku waktu itu.”
“Kemarin kayaknya kamu taruh di atas kulkas deh.”
“Kulkas? Ah! Iya, ketemu. Makasih, Sayang ….”
“Sama-sama.”
__ADS_1
“Sayang, Kunci mobil aku taruh mana, ya?”
“Kunci mobil di gantungan tempat biasa, Mas. Kamu kenapa jadi pelupa deh akhir-akhir ini.”
“Nggak ada, Sayang.”
“Masa sih? Kayaknya kemarin ada. Coba deh cari di saku jaket, kali aja nyelip.”
“Ketemu! Kamu pinter banget sih! Gemes deh. Eh, aku berangkat dulu, ya.”
“Nggak makan dulu?”
“Nggak usah, buru-buru nih. Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumsalam warahmatullah. Hati-hati!”
Keseharianku setelah tiga bulan tinggal di rumah ini, menjadi rutinitas yang cukup mengasyikkan. Hari ini pun sama, ketika matahari mulai naik mengusir pagi, aku bersiap keluar dari rumah untuk membeli bahan kue. Selembar kertas panjang yang kulipat beberapa kali tak luput dari barang bawaanku. Karena di sanalah aku menuliskan semua yang hendak kubeli hari ini.
Baru beberapa langkah hendak masuk ke dalam mobil, suara perbincangan beberapa orang dari arah sebelah rumah membuatku berhenti. Atmosfer panas seakan turun menyapaku dan merubah suasana hati ini saat nama ‘Hanna’ disebutnya.
“Iya. Hanna itu emang pinter, masih muda juga. Tapi, ya ..., kalau soal itu jangan tanya deh.”
“Awalnya saya kaget loh, waktu pertama kali Hanna datang ke rumah saya sama suaminya. Lah, saya kira itu Omnya, atau kerabatnya gitu.”
“Oh, gitu. Pantes aja Hanna nggak pernah kelihatan kurang uang jajan, atau ngeluh gitu. Udah ada yang jamin sih. Wah, nggak nyangka ternyata Hanna dipelihara sugar daddy gitu, ih.”
“Tapi kasihan loh, setelah mereka menikah, katanya bisnis Pak Adrian itu bangkrut, jadinya mereka pindah ke mari, dan hidup jadi orang biasa di sini.”
“Iya, saya kadang suka lihat Neng Hanna jadi jarang senyum kalau keluar rumah. Apa mereka nggak baik-baik aja ya?”
“Pastinya susah sih, harus hidup sama orang yang jarak usianya aja terlampau jauh.”
“Eh! Bisa jadi, ini juga alasan kenapa Neng Hanna nggak hamil-hamil.”
“Apa hubungannya?”
“Sebagai wanita, Neng Hanna pasti pengen punya anak, tapi Pak Adrian pasti ngelarang Neng Hanna, soalnya tahu sendirilah, wanita kalau lagi hamil, atau habis melahirkan, body-nya nggak akan sebagus sekarang.”
“Bener juga. Yah, lain kali aja kalau kita ketemu Hanna, kita lebih perhatian lagi, siapa tahu Hanna mau cerita sesuatu. Kasihan tahu kalau masih muda harus nanggung beban ‘rumah tangga’ yang segini berat.”
“Iya, Bu …, makanya jangan percaya dulu sama Bu Yasmin kalau Neng Hanna itu mandul. Pasti Neng Hanna nggak hamil-hamil itu ada alasannya.”
__ADS_1
“Minggu depan di rumah saya ada acara loh, Ibu-Ibu jangan sampai nggak datang, ya. Ini saya sekalian mau mampir ke sini, untuk pesan kue. Duluan, ya!”
Aku bernapas besar-besar, menengadahkan kepala, berusaha menahan air mata yang hampir terpantik keluar. Jangan nangis, Hanna! Bukan saatnya nangis!
“Assalamu’alaikum, Hanna.”
“Wa’alaikumsalam,” jawabku setengah berlari menghampiri wanita itu
“Eh, Hanna mau belanja, ya?”
“Iya, Bu, kebetulan ada pesanan kue untuk lusa. Silakan masuk dulu, Bu,” sambungku ramah.
“Bu Aris ada perlu apa, ya?”
“Jadi gini, saya juga mau pesan kue untuk acara khitanan si bungsu, minggu depan. Kira-kira bisa nggak, ya?”
“Mau pesan berapa, ya, Bu? Untuk berapa jenis?”
“Mungkin sekitar tiga ratus lima puluh aja untuk masing-masing jenis kue, yah, yang diundang juga nggak banyak kok. Kalau soal jenisnya, saya mau empat jenis yang beda-beda. Apa aja deh yang menurut Hanna enak, gitu. Gimana?”
“Minggu depan, ya …,” gumamku lirih.
“Sebenarnya saya bisa aja sih, Bu. Tapi kayaknya saya kurang tenaga, soalnya semua pesanan biasa saya kerjain sendirian. Dan kalau untuk segitu banyak, kayaknya saya belum berani.”
“Ah! Gimana kalau saya bawain dua orang lagi, untuk bantuin Hanna bikin kuenya? Soalnya saya suka sama pastry dan donat buatan kamu itu, Hann. Saya percaya, kamu bisa kok, yah?”
“Ehmm…, nggak apa-apa sih, kalau Bu Aris mau bawain orang untuk bantu saya. Inshaa Allah, saya usahain.”
“Nahh, alhamdulillah …, makasih, ya, Hann. Lega banget akhirnya udah ada yang bikin kue. Oh iya, nanti untuk dua orang yang mau bantu kamu itu, secepatnya akan saya kabari.”
“Iya, Bu.”
“Ya udah kalau begitu saya pamit, dulu ya …, maaf jadi bikin kamu nunda belanja.”
“Iya, nggak apa-apa, Bu, bentar lagi juga dzuhur, sekalian salat dzuhur dulu aja.”
“Saya pulang dulu, ya, Hann! Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam warahmatullah.”
Senyumku hilang setelah orang itu keluar dari rumah ini. Aku masih ingat suaranya beberapa waktu lalu yang menyebutku dipelihara sugar daddy.
__ADS_1
Aargh! Menyebalkan. Memangnya salah kalau aku menyukai pria dewasa seperti Adrian? Tapi, kenapa juga aku harus peduli dengan perkataan orang lain? Bukannya itu terserah mereka mau menilaiku seperti apa.