Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Tetangga Sebelah


__ADS_3

"Di depan rumah kita?" Aku segera berjalan cepat ke arah pintu depan.


Benar, Johana berdiri di tengah-tengah pekarangan rumah kami dengan kepala tertunduk. Aku berjalan keluar sementara kututup kembali pintu itu pelan. Mungkin setelah mendengar pintu depan rumah yang terbuka, ia lantas mengangkat kepalanya. Spontan aku berlari ke arah Johana ketika kulihat ia menyeka air yang keluar dari kedua sudut matanya.


"Kamu nggak apa-apa, Jo?"


Dengan sedikit sisa tangis, ia berusaha keras menjawab pertanyaanku. "Garrin ke sini, ya?" tanyanya lirih.


"Iya, dia mau bicara sama kamu. Kamu harus dengar semua penjelasannya sebelum pergi."


Kami berdua menoleh ke arah pria itu yang berjalan mendekat. Aku mundur beberapa langkah saat Garrin datang menghadap langsung pada Johana. Seperti shooting drama korea, dua orang itu benar-benar berakting dengan sangat baik. Sementara di dekat beranda rumah, Adrian merengkuh bahuku, berdiri menyaksikan langsung drama itu.


"Aku minta maaf soal hari ini."


Di luar dugaanku, Johana meminta maaf lebih dulu hingga membuat Garrin tersentak tak percaya.


"Kok dia yang minta maaf sih? Harusnya, kan Garrin," komentarku berbisik pada Adrian.


"Wonder girl," balas Adrian lirih.


"Aku terlalu egois dan selalu melempar kesalahan ke orang lain. Aku ke sini cuma mau kasih tahu kalau aku nggak bilang soal apa yang terjadi hari ini ke keluargaku. Aku mau kali ini kita bisa lebih dewasa, dan bisa selesaikan masalah kita sendiri."


Adrian menunduk, mendekatkan bibirnya ke telingaku. "Bagus tuh ceweknya, berani jujur dan minta maaf duluan. Jangan karena cewek, bikin ngerasa jadi yang paling benar," tanggapnya.


"Jadi maksud kamu aku nggak lebih baik dari Johana, gitu?"


"Nggak gitu Sayang.., kamu selalu yang terbaik buatku." Adrian menciumku, memelukku erat dan menggerakkan tubuhnya ke kiri-kanan seperti anak kecil.


"Kamu tenang aja, karena keluargaku nggak tahu tentang ini, jadi kita bisa beresin masalah ini besok, kan?" Johana kembali meneruskan ucapannya.


"Iya!"


"Hah?!" Aku dan Adrian menganga bahkan saling berpandangan mendengar Garrin hanya melontarkan kata iya.


"Apa yang begitu bisa disebut laki-laki? Udah kita masuk aja yuk!" bisik Adrian mengajakku berbalik badan kembali ke dalam.


Setiap manusia punya kisah cinta mereka masing-masing. Nggak harus sekarang, setiap individu akan menemukannya suatu saat nanti. Kisah yang akan membawa warnanya masing-masing. Di waktu yang tak terduga dan tempat yang masih menjadi misteri. Sampai kita benar-benar menemukannya nanti, kita akan takut kehilangannya. Tapi di sisi lain, ketika kita begitu takut untuk jauh darinya, sebenarnya Tuhan sudah punya rencana baik yang tak bisa kita mengerti.


Kisah cintaku, baru terbit setelah kami menikah. Dan setiap harinya selalu ada hal yang baru kupahami dari sosok Adrian. Tapi itu menyenangkan. Seakan setiap hari kami adalah misteri dan penuh kejutan.


"Sayang, aku jadi nggak ngantuk deh," cetusku melangkah mengikuti Adrian.


"Sama." Aku dan Adrian berpandangan selama beberapa waktu, kemudian menoleh ke belakang bersamaan.


"Kalian ngapain ikut masuk?" Sontak suara tinggiku keluar.


"Iya, kalian kenapa masih di sini? Pulang sana!" tambah Adrian membelaku.


"Aku kira kalian berdua yang undang kita masuk."


"Mana ada. Udah buruan sana pulang!" usir Adrian sekali lagi.


"Ini udah jam setengah dua belas malam. Masa kalian tega ngusir tamu?"


Aku menarik napas lantas mengeluarkannya kasar. "Rumah Bapak Garrin Wijaya tepat di sebelah rumah ini. Apa susahnya tinggal jalan lima langkah?" tunjukku ke arah pintu.


"Eh tunggu! Selagi ada kesempatan begini, kenapa kita nggak double date aja? Ya, kan?" usul Garrin.


"Keluar!"


"Oh ayolah..."


"Jangan ganggu kehidupan suami istri kami. Double date double date apa? Haram!"


"Okay fix kita yang keluar. Tapi sebelum itu, nih, ada sesuatu buat Hanna." Garrin memberikan bingkisan kecil dari tangannya.


"Apaan nih?"


"Dari Pak Rama. Dia ngebet banget minta nomor telepon sama alamat kamu, tapi aku nggak kasih, jadi dia nitip itu," tutur Garrin.


"Pak Rama? Pak Rama yang punya agensi itu?" tanya Johana.


“Iya, Babe, jadi dulu itu mereka berdua sempat deket. Satu kampus pun tahu.” Jelas Garrin singkat.


Aku menatap Adrian, dan pria itu pun menatap tajam ke arahku dengan kedua alisnya yang bertaut. Sontak aku menelan saliva dan menarik senyum untuk menangkis tajamnya kecurigaan. Sia-sia saja karena pria itu pasti akan segera memintaku menjelaskan semua cepat atau lambat.


"Bentar-bentar. Adrian belum pernah lo ceritain, Hann? Wah, parah nih. Masa sama suami sendiri belum cerita, Hanna pernah berkali-kali loh dirayu untuk masuk ke agensinya. Bahkan lo pernah sampai hampir dibeliin mobil, kan, Hann?" lanjut Garrin meneruskan provokasinya.


Adrian merengkuh bahuku, menepuk-nepuk tangannya di sana kemudian menarikku agak kasar ke arahnya. Aku spontan mendongak melihat ekspresi wajahnya kala itu. Tampak ia menunjukkan senyuman deep fake dari bibir itu. Serta suara tawanya yang pura-pura menambah kerutan mata kekhawatiran di wajahku.

__ADS_1


"Aku butuh penjelasan kamu, ya, Sayang," ucap Adrian terlampau lembut.


Aku tersenyum deeper fake. "Iya. Pasti," kataku diiringi kepalaku yang mengangguk-angguk.


"Kalian berdua udah boleh pulang loh. Saya ada some business dengan istri saya."


"Eh tunggu! Sebenernya ini jadi pertanyaan untuk kita juga sih. Sebagai calon pengantin nih ya. Kita mau tahu gimana sih cara kalian menangani masalah rumah tangga? Jadi, lebih baik kita lihat kalian praktik langsungnya aja," cerocos Johana masih berusaha merayu kami untuk tetap tinggal.


“Iya bener banget. Kita nggak butuh teori sih, kita butuhnya praktik. Ya, kan Babe.”


"Alasan nggak masuk akal. Lagian kita juga nggak akan bawa-bawa masalah keluarga kami di depan kalian," pungkas Adrian mengakhiri perdebatan kami berempat sejak tadi.


"Lagian kita kalau ada masalah selesaiinya in private. Soalnya udah halal."


*****


Masih dalam rangkulan tangannya, Adrian membawaku ke home theater yang sebenarnya jarang kami berdua ke sana. Sampai duduk pun, dua orang itu benar-benar mengikuti kami. Kemungkinan karena mereka memang tak ada satu hal pun untuk dikerjakan. Aku mengambil posisi duduk di sebelah kiri Adrian. Jo duduk di sebelah kiriku, sedangkan Garrin duduk di sebelah kanan Adrian untuk menjauhkan mereka dari fitnah.


Seperti biasa ketika kami berdua menonton film, yang dilakukan Adrian adalah mencari kesempatan untuk bicara serius. Semacam deep talk antara dua manusia. Film yang berjalan cukup menarik perhatian Johana dan Garrin. Pembicaraan serius antara kami berdua juga jadi lebih mudah. Sedikit banyak aku sudah menceritakan tentang Pak Rama dan segala pengaruhnya terhadap hidupku. Itu adalah cerita belum lama yang tak begitu ingin kuingat.


Seperti yang disebutkan Garrin, benar bahwa Pak Rama merayuku untuk masuk ke agensinya sampai ia memberikan banyak hal untukku. Aku tak tahu alasan pasti ia melakukan semua itu, tapi hal itu membuatku tak nyaman. Apalagi saat itu usiaku baru 18 tahun dan Pak Rama yang berusia 30 tahun tampak seperti dompet berjalan untukku. Statement teman-teman kampus ketika melihatku dan Pak Rama seolah aku adalah peliharaan sugar daddy.


"Ada makanan nggak? Gue jadi lapar." Garrin berdiri seraya menghentikan film yang belum setengah jam berjalan itu.


"Biasanya ada di situ sih. Tapi karena ini baru renov, banyak yang belum kita pindah. Coba ke dapur deh, yang deket sama ruang makan tadi." Tunjuk Adrian.


"Okay-okay. Nggak apa-apa nih, ya, gue buka-buka kulkas di rumah lo?"


"Iya nggak apa-apa! Buruan balik! Filmnya belum ada satu jam udah di pause," gerutuku kesal.


"Iya, iya ...." Garrin berjalan keluar dari ruangan itu diikuti Johana setengah berlari mengejarnya.


"Aku ikut, Babe!"


Aku pun melanjutkan cerita yang sempat terpotong. Tentang Pak Rama yang makin lama makin membuatku tak nyaman. Ditambah lagi waktu itu Khadija memperjelas maksud Pak Rama bukan mendekatiku hanya untuk kepentingan agensi, melainkan ketertarikannya padaku. Di usiaku ke-18, ada pria 30 tahun yang tertarik padaku, itu adalah hal yang menjijikkan yang kupikirkan kala itu. Alhasil aku mencoba sebisa mungkin menjauh dari hal-hal yang berkaitan dengannya.


Selama berbulan-bulan aku berusaha keras memperbarui kehidupanku, dan meninggalkan hal-hal yang berkaitan dengan Pak Rama. Sangat sulit untukku lepas dari rumor warga kampus tentang hubunganku dan Pak Rama, tapi akhirnya aku berhasil melalui semua itu seiring dengan terus bergulirnya waktu. Rumor dan kabar burung tentang itu sedikit demi sedikit mulai tertutup oleh prestasiku.


"Jadi sekarang udah nggak pernah ada hubungan apa-apa lagi?" tanya Adrian selesai mendengar cerita versiku.


"Terakhir kali aku ketemu sama Pak Rama mungkin dua setengah tahun lalu. Setelah itu, aku kembalikan semua barang pemberiannya yang kebanyakan belum pernah kupakai, dan aku sampai harus ganti HP, ganti segala macem."


"Yang penting udah selesai, kan?"


"Berarti, waktu aku datang ke rumah Ayah-Bunda itu, kamu kaget banget dong?"


"Jujur, kamu nggak setua itu sih. I mean, wajah kamu, fisik kamu, di awal aku nggak percaya kalau ternyata kamu udah 35. Tapi tetap aja kaget. Orang aku nggak pernah pacaran, tiba-tiba aja ada Bapak-bapak yang ngajakin taaruf."


"Tapi kamu kok mau sih? Jangan-jangan kamu nggak ikhlas lagi."


"Awalnya sih ada kontra juga dalam batin. Apalagi waktu itu, kan, sebelum kamu datang ke rumah, Garrin bilang soal perasaan atau apalah itu. Jadi aku frustasi banget waktu itu. Tapi kalau dibilang nggak ikhlas, ya nggak mungkin dong..., masa ibadah nggak ikhlas."


"Iya juga. Kalau nggak ikhlas mana mungkin bisa ada baby di sini," kata Adrian mengusap perutku.


Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. "Masa lalu itu nggak perlu diungkit-ungkit lagi, kan?"


"Iya. Abisnya istriku ini cantik banget sih, jadi banyak yang suka. Untung akunya gerak cepat."


"Bukannya kamu gerak cepat karena emang udah umur, ya?" tanyaku.


"Salah satu alasannya itu juga." Suara Adrian pasrah itu mengundang tawaku.


Beberapa menit kemudian Garrin dan Johana datang dari pintu sebelah kiri membawa makanan ringan dan minuman. Aku kembali duduk dengan normal lagi, lalu film berlanjut hingga kami mengakhiri acara nonton bareng itu pukul satu dini hari.


"Sayang.., aku belum ngantuk juga, gimana dong?" bisikku pada Adrian.


"Mau minum susu? Aku bikinin deh,” tawarnya.


Aku menggelengkan kepalaku lesu. "Enggak, aku mau air jeruk. Tapi kamu sendiri yang peras, yah?"


Adrian tampak menelan salivanya begitu mendengar permintaanku. "Okay. Okay. Kamu tunggu di sini sama Garrin sama Jo, aku akan balik lagi dalam beberapa menit." Adrian pamit pergi ke dapur untukku.


"Makasih, Sayang!"


Di home theater yang tersisa hanya kami bertiga, membincangkan tentang teori bentuk bumi itu datar atau bulat. Tak seperti aku dan Adrian, mereka sepertinya sangat mengenal satu sama lain bahkan sebelum benar-benar menikah. Apa rasanya semenarik itu ketika kita sudah lebih dulu mengenal pasangan kita sebelum resmi menjadi suami kita? Tiba-tiba pertanyaan itu muncul dalam benakku saat melihat mereka berdua bicara layaknya suami-istri.


"Anyways, lo nggak kasih tahu alamat rumah gue ke Pak Rama, kan, Rin?" tanyaku bergabung dalam obrolan.


"Mana mungkin sih, lagian gue mana berani. Jangankan Pak Rama, sama keluarga gue aja gue nggak akan kasih tahu tanpa persetujuan pemilik rumah. Keamanan penghuni rumah ini tuh penting banget, makanya wajar kalau Adrian bikin pagar rumah ini seolah ini kelihatan rumah lama yang ditinggal penghuninya bertahun-tahun."

__ADS_1


"Tapi kenapa lo kasih tahu Khadija alamat rumah ini?"


"Khadija? Dia ke sini? Kapan? Kok dia ke sini nggak kasih tahu gue sih."


"Wait what? Bukan lo yang kasih tahu alamat rumah ini ke Khadija?"


"Impossible. I'm not gonna do that."


^^^Mustahil. gue nggak mungkin ngelakuin itu~^^^


"Yah!" Johana berdiri dari tempat duduk ketika baju yang dipakainya basah oleh air sirop yang semula dipegang.


"Babe! Gimana sih? Hati-hati dong..." Garrin dengan cepat menghampiri wanita itu, menyeka air yang tumpah sampai ke kakinya.


"Aku nggak sengaja, ya ampun."


"Udah nggak apa-apa, besok pagi dibersihin sama cleaning service Kok. Johana bawa baju ganti, nggak?"


"Nggak bawa..."


"Mau pakai punyaku? Daripada lembab gitu pasti nggak nyaman, kan?" tawarku.


"Boleh?" tanyanya ragu.


Aku memindai tubuh Johana dari atas ke bawah. "Kalau ada yang muat, nggak apa-apa."


"Ya udah buruan sana ganti baju. Biar ini aku yang beresin."


Karena Garrin menawarkan diri untuk membereskan kekacauan itu, kami berdua pun tak keberatan keluar dari home theater. Hanya karena aku selalu pakai gamis, bukan berarti aku tak punya baju-baju yang agak terbuka seperti style Johana. Aku mengantarkan wanita itu ke kamar tamu terdekat sementara aku mengambilkan beberapa pakaian yang bisa ia pilih sendiri untuknya.


"Loh, kamu di sini? Itu baju buat apa?" Tanya Adrian ketika aku tak sengaja berpapasan dengan pria itu saat melewati dapur.


"Buat Jo. Bajunya ketumpahan minuman tadi."


"Eh, ini jeruk perasnya udah jadi. Cobain dulu gih."


"Sekarang?"


"Iya. Bentar aja, nanti kalau ada yang kurang, kan bisa langsung revisi."


Aku meneguk sedikit air jeruk dari gelas kaca yang dipegangi Adrian untukku. Dan.., belum banyak air jeruk yang sempat masuk ke mulutku, aku sudah menjulurkan lidah karena tersentak dengan rasa asamnya. Bahkan aku sampai memejamkan mata dan kedua bahuku naik begitu merasakan sensasi asam mengejutkan itu.


"Asem banget, Sayang..., kamu mau ngerjain aku?"


"Masa sih? Kayaknya tadi rasanya udah pas deh." Adrian sendiri mencoba minuman buatannya itu.


Beberapa detik kemudian Adrian dengan santai meneguk hampir setengah gelas dari minuman yang dibuatnya itu, membuat mulutku menganga. "Itu asem banget, Sayang. Kok kamu?"


"Ini enak Aleesa, rasanya pas. Kamu gimana sih?"


"Ah nggak tahulah. Pokoknya aku mau yang nggak asem kayak itu." Aku berlalu kembali ke kamar tamu bawah tempat Johana menungguku.


Di depan pintu kamar tamu, setelah aku memanggil, akhirnya Jo membukakan pintunya. Seperti yang kuduga, ia tak percaya aku punya baju seperti itu karena aku tak pernah memakainya kecuali sedang berdua saja dengan Adrian. Tapi kulihat wanita itu sempat merenung sejenak, lalu memilih satu yang menurutku itu tak seperti style-nya.


"Aku hampir nggak pernah pakai pakaian tertutup, ya? Kelihatannya kamu kaget waktu aku pilih baju ini."


Astaghfirullah ..., Barusan dia sadar aku julid soal pakaian yang dipilih itu?


"Enggak juga sih. Aku kira ini modelnya agak ketinggalan jaman, jadi mungkin kamu nggak akan pilih itu," kelakarku, dibalas anggukan percaya Johana.


"Oh ya, Hann. Aku boleh tanya sesuatu?"


Aku melihat wajahnya berubah serius dalam beberapa saat setelahnya. "Mau nanya apa?"


"Khadija, Khadija itu. Aku nggak tahu apa-apa tentang dia. Garrin sering cerita tentang kamu, tapi soal Khadija, rasanya ini adalah pertama kalinya aku dengar. Apa ..., dulu Garrin pernah ada sesuatu sama wanita itu?"


Aku memegang bahunya. "Nggak ada apa-apa. Kami bertiga emang sahabat waktu kuliah, dan peran Khadija di situ, seperti penghubung antara aku dan Garrin. Jadi mungkin kebanyakan momen Garrin selalu sama aku, bukan Khadija."


"Aku nggak tahu kenapa, tiba-tiba perasaanku nggak enak saat pertama kalinya Garrin sebut nama itu di depanku."


"Jo..., kalau kamu mau cemburu, wanita yang harusnya kamu cemburui itu aku yang udah pernah dijanjiin mau dilamar sama Garrin." Aku tertawa mengakhiri kalimatku.


"Kalau itu sih aku udah nggak bisa cemburu lagi. Toh udah ada Pak Adrian Al-Faruq yang super protektif ke istrinya."


“Eh, besok lusa aku ke dokter kandungan lagi loh. Kakak kamu, kan, yang tangani nanti?”


“Kalau nggak salah sih, besok lusa emang jadwal Kak Jennie ke rumah sakit.”


“Bagus deh. Nggak enak soalnya kalau dokternya ganti gitu.”

__ADS_1


"Btw, Pak Rama kasih kamu apa, Hann?" tanya Jo berbisik hampir tak terdengar.


"Bukan apa-apa kok."


__ADS_2