Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Ada Apa


__ADS_3

"Jadi kamu menyesal nikah sama laki-laki TUA kayak aku gini?" tanyanya berubah jadi serius.


“Bapak jadi mirip Elena kalau sedang merajuk,” candaku meluluhkan keseriusannya menanggapi candaanku.


“Emang sepenting itu, ya, selisih usia dua manusia untuk bisa dikatakan serasi?”


Dia marah beneran? Kenapa tiba-tiba jadi sensitif gini?  Aku mengerutkan dahi melirik Adrian.


Cup! Pertama kalinya aku mencium bibir seseorang atas inisiatifku sendiri. Tatapan mata kami bertemu sesaat akibat keterkejutan Adrian.


“Why is it so serious? I feel so lucky, getting this far, getting to be with you, Big Baby.” Aku melanjutkan kecupan itu setelah mengumpulkan keberanian.


Siapa yang peduli? Toh pria ini juga suamiku sendiri. Sesaat kecanggungan dan kekakuan yang kurasakan sejak bangun tidur hari itu sirna oleh tingkah manis Adrian. Sekali lagi aku terbuai pada pesonanya, jatuh hati pada pria yang empat belas tahun lebih tua dariku. Kini aku benar-benar jatuh cinta dengan pria itu.


Malam selalu berakhir dengan indah semenjak aku menikah dengan Adrian. Karena tak ada hubungan seperti pacaran sebelum kami menikah, rasanya justru lebih mendebarkan. Juga menyenangkan karena saat ini kami bisa merasakan pacaran dengan cara yang halal. Kami bisa bermesraan, kami bisa berdua, kami bisa melakukan berbagai hal tanpa takut dosa.


Justru setiap hal yang tidak diperbolehkan dalam pacaran, adalah ladang pahala bagi kami. Karena itu, aku tak menyesal menikah di usiaku saat ini. Setidaknya menikah muda lebih baik dari pada pacaran dan melakukan tindakan yang tak sesuai dengan ajaran agama.


Acara jalan untuk membeli beberapa pakaian, dan kebutuhanku lainnya terasa seperti kencan pertama untuk kami. Sejujurnya Adrian sama sekali tak tampak seperti pria tua yang mengganggu pandangan mata. Justru aku yang merasa tak nyaman karena banyak orang memperhatikan kami. atau lebih tepatnya memperhatikan suamiku.


Adrian yang terbiasa memakai pakaian serba gelap itu cukup menarik perhatian wanita-wanita cantik nan modis yang berpapasan dengan kami. Hanya beberapa menit saja, setidaknya sudah ada dua wanita yang mendekati Adrian, dan memberanikan diri mengajaknya berkenalan. Meski pada akhirnya Adrian tetap menolak berkenalan, tapi tetap saja rasanya menyebalkan melihat kejadian seperti itu terjadi berulang kali.


"Is that something wrong?" Adrian bertanya seolah ia benar-benar tak tahu dengan apa yang terjadi selama di mall tadi.


"No, nothing's wrong." Aku menunjukkan senyum yang kubuat dengan penuh paksaan.


"Are you sure?"


"A hundred persen yeah." Aku beralih menuju kamar mandi, mengganti dengan pakaian rumahanku kemudian berlanjut ke dapur untuk menyiapkan makan malam.


Dasar laki-laki memang sulit membaca situasi. Sedikit pun ia tak bergerak, apalagi mengikutiku atau memohon agar aku tak mendiamkannya. Aku hanya bisa menahan sabar sendirian sekarang. Sudahlah, lagi pula tidak ada untungnya mendiamkan orang yang tidak peka. Lebih baik aku bicara langsung, apa adanya.


Tok! Tok! Tok! "Pak ... makan malam udah siap." Aku berdiri di depan pintu kamar, menunggu hingga terdengar suara responnya dari dalam.


"Iya sebentar ... aku turun!"


Setengah berlari, aku segera menjauh dari pintu kamar. "Huuft ... Dasar Adrian," gumamku lirih ketika menuruni tangga.


"Eh! Pak!"


"Kenapa susah sekali memahamimu, Aleesa. Apa sulitnya mengatakan langsung keinginanmu, huh?" Adrian sudah menahan kedua tanganku ke belakang saat kusadari ia berdiri di belakangku. Sebelah tangannya menutup mataku, sementara bibirnya tiba-tiba menyentuh langsung kulit bahu hingga punggungku.


"Ah, Pak! Stop!"


"I won't stop, 'til I get the answer. What's wrong huh?"

__ADS_1


"I'm jealous! Yeah, I'm jealous to all of strangers we met today. It feels hurt." Aku tersentak pada tangisan yang tiba-tiba saja keluar dari mulutku. Kenapa aku jadi emosional begini? Ah, tiba-tiba sampai keluar air mata. Aku kenapa sih?


Adrian terdiam beberapa saat, ia hanya membuat suasana semakin hening karena tersisa suara isakanku yang belum berhenti. Akhirnya aku terduduk di anak tangga terbawah sembari menenangkan diri. Timing yang tidak tepat, ditambah lagi Adrian mendadak jadi kaku.


Setelah tangisku mereda, perlahan Adrian menyelipkan rambut sampingku yang tergerai bebas. "Apa makanannya bisa dipanasin untuk nanti malam?" tanyanya.


"Bisa. Kenapa?"


"Bagus. Kalau gitu kita makannya nanti aja ya!" Adrian menarik tanganku, kembali menaiki anak tangga.


"Akan aku tunjukkan, ada hal yang lebih membuat mereka cemburu dengan Aleesa, karena hanya Aleesa yang bisa mendapatkannya dariku."


*****


Satu minggu rumah tangga kami berjalan, rencananya di minggu kedua aku dan Adrian akan pergi ke beberapa tempat di Jogjakarta untuk mengunjungi sahabat almarhum Ayah mertua. Karena kami juga tak merencanakan pergi honeymoon sejak awal, jalan-jalan kali ini bisa jadi alternatif honeymoon untuk kami.


Sahabat almarhum ayah mertua merupakan seniman yang mengenal Jogjakarta dengan sangat baik. Kami mendapat banyak pengetahuan baru dari ekspedisi kami menjelajahi kota istimewa ini. Sayangnya semua tak selalu mulus sesuai harapan. Konflik selalu ada, tak peduli itu besar atau kecil, bahkan konflik yang tidak kami inginkan.


"Satu bulan, Erwin, dan ini baru berjalan dua minggu. Siapa sekretaris baru itu? Bilang kalau mulai besok dia bisa berhenti. Kenapa? Yang kita butuhkan adalah SDM dengan dedikasi tinggi, bukan wanita yang mengeluh!" Suara Adrian terdengar penuh emosi.


"Pokoknya enggak mau tahu, cari pengganti secepatnya, dan jangan memperkerjakan wanita penggoda yang nggak becus kerja di kantorku." Ia mengakhiri panggilan video dari ZenBook nya kemudian menutupnya kasar.


Ini adalah pertama kalinya aku melihat Adrian marah. Meski dia sangat baik ketika memperlakukanku, tapi faktanya Adrian adalah pria yang dingin. Kulihat, pria itu masih mencoba mengatur emosi serentak memegangi keningnya. Jika aku langsung bertanya tentang masalahnya, mungkin ia akan semakin sengit melawan emosinya sendiri.


Apalagi aku tak mau membuatnya semakin emosi di tengah malam seperti ini. Aku pun memilih diam beberapa saat. Kuamati seksama wajahnya yang kesal dengan masalah pekerjaannya itu, kemudian aku segera merebahkan tubuhku di sebelahnya.


Adrian segera mengangkat wajahnya menatapku, "Kamu panggil aku apa?" tanyanya seketika.


"Sa yang ..," ucapku manja sementara kakiku bergerak-gerak menyentuhnya di bawah selimut.


Benar saja, ia segera mengubah posisinya yang semula duduk jadi berbaring di sebelahku. Aku pun berpindah menindihnya. Dengan posisi tengkurap, kutempelkan daguku di atas dada bidangnya, kumainkan ibu jariku pada bibir indah itu.


"I've something to say," bisikku lirih.


"So I wanna hear that."


"Actually, you looks younger than your age. At first, I didn’t believe you were thirty, and I thought … you'd be more handsome up close."


"You don’t wanna see me angry, do you?" tanyanya seraya melipat kedua tangan ke atas kepala.


"Honestly … yeah, so ... did I make it?"


"You really did it."


Adrian menjatuhkan tubuhku, membuatku berada di bawahnya dengan jantung yang hampir meledak. Lampu kamar yang remang menampakkan paras indah Adrian seperti hendak memakanku hidup-hidup. Kedua tanganku bersarang di leher belakangnya.

__ADS_1


Bibirnya aktif menciumi sekitar leherku. Suara yang keluar dari bibirku seakan membakar kembali keinginannya menjelajahi seluruh tubuhku. Untuk kesekian kalinya, kami melebur bersama dalam indahnya ibadah.


Seperti sebelumnya, Adrian memberiku hal yang tak bisa dibagi kepada orang lain. Dan hal itu juga yang jadi puncak musyawarah untuk mencapai mufakat bagi kami. Setelahnya, masalah apa pun pasti akan terselesaikan.


*****


Setelah tiga minggu pernikahan, di hari-hari berikutnya Adrian kembali bekerja. Meski aku sudah memohon padanya untuk mengizinkanku bekerja, Adrian masih memintaku untuk menunggu sampai ia membuat keputusan akan hal itu. Keseharianku pun hanya berada di rumah dengan dua asisten rumah tangga yang sesekali menemaniku bercerita.


Terkadang Ummi datang ke rumah ini untuk memastikan keadaanku baik-baik saja. Beliau selalu menanyakan bagaimana sikap Adrian terhadapku dan memintaku berterus terang jika Adrian membuatku tak nyaman. Aku merasa beruntung memiliki mertua yang perhatian dan baik seperti Ummi.


“Kalau ada masalah, cerita aja sama Ummi. Adrian itu terkadang susah dipahami. Dia juga sering menyembunyikan masalahnya sendiri, jadi kamu harus banyak-banyak sabar,” pesan Ummi sebelum akhirnya pergi dari rumah ini.


“Iya, Ummi … terima kasih. Sampai hari ini pun Hanna masih enggak percaya Ummi benar-benar jadi Ummi untuk Hanna.”


“Takdir memang kita enggak pernah tahu. Sudah, ya … Ummi pamit pulang, Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam warahmatullah.”


Sepulang Ummi dari rumah ini, aku jadi memikirkan pesan Ummi. Apakah memang ada yang disembunyikan Adrian dariku? Sepertinya semua kisah yang diceritakan Adrian selalu saja kisah bahagia, seakan hidupnya tak memiliki masalah satu pun.


Setelah menghabiskan waktu cukup lama di perpustakaan, aku menemukan buku-buku dan beberapa album berisi foto-foto Adrian. Pria itu terlalu beruntung, dimasa mudanya ia telah berkeliling dunia dan bisa berprestasi.


Sekira pukul sembilan malam, aku menunggu Adrian di ruang makan seperti kemarin. Lima menit berlalu, 10 menit berlalu, bahkan 1 jam berlalu tanpa kabar darinya. Kucoba menghubungi ponsel Adrian beberapa kali pun masih tak ada jawaban. Kegelisahanku semakin menjadi saat nomornya kini berada di luar jangkauan.


Hingga pukul sebelas malam, tak ada tanda-tanda kepulangan Adrian. Hal ini jadi semakin membuatku khawatir. Lebih lagi Pak Erwin juga tak bisa dihubungi sama sekali. Beberapa kali Mba Rina asisten rumah tangga itu menyarankanku untuk makan malam lebih dulu, namun segera kutolak.


Suara nyaring bel pintu terdengar ditekan berulang. Aku segera bangkit membukakan pintu sebelum Mba Rina mendahuluiku. Mungkin saja itu adalah Adrian. Aku bergegas meraih gagang pintu dan membukanya.


“Astaghfirullah!” pekikku ketika melihat Adrian berdiri di depan pintu dengan tubuh yang penuh luka dan darah menetes di lantai.


“Adrian! Ada apa, Sayang!” teriakku seraya memeluk Adrian yang samar masih menunjukkan senyumnya.


“Ada apa, Pak … Bapak kenapa sampai seperti ini ….” seduku memeluk tubuh kekar itu terjatuh ke lantai.


Adrian tak menjawab satu pun dari pertanyaan dan teriakanku. Bahkan pria itu masih berusaha membuka matanya. Pecah tangisku tak bisa lagi ditahan melihat kondisi Adrian yang sudah seperti mimpi terburukku.


“Maaf … kamu …, aku enggak bisa … selalu melindungimu, Hanna.”


“Pak! Bapak! Jangan begini, Pak! Tolong! Siapa pun tolong!” teriakku berlinang air mata.


“Nyonya! Nyonya! Anda tidak apa-apa?” Mba Rina menepuk bahuku, mencoba membangunkanku dari tidur berbantal kedua lengan tangan.


Aku terduduk, bernapas besar-besar menyadari bahwa apa yang kulihat barusan hanyalah sepintas mimpi buruk. Aku tak bisa berkata-kata ketika masih kucoba mengatur napasku. Kenapa mimpi buruk seperti itu bisa menghampiriku.


“Nyonya, silakan diminum dulu airnya.” Mba Puput yang juga panik melihatku, menuangkan segelas air untukku.

__ADS_1


Tangan kananku segera menerima gelas yang disodorkan untukku itu lantas meminumnya perlahan.


“Ukh!”


__ADS_2