Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Apapun


__ADS_3

Saat aku berpikir bahwa hari kemarin adalah hari yang panjang nan melelahkan, hari penuh kejutan dan dekat dengan canggung serta kediaman, namun nyatanya hari yang sama menyapaku pula. Malam itu, Pak Erwin bersama Agata datang menghadapku. Aku tak bisa berkata saat melihat benda yang sejujurnya tak begitu kuinginkan.


“Ini permintaan langsung dari Presdir, mohon untuk tidak menolaknya. Anda sudah banyak melakukan hal-hal di luar keinginan Presdir.”


“Dan dengan anda menolak Presdir kali ini, sama dengan anda berencana mengancam nyawa kami berdua.” Agata menambahkan dengan nada kesal penuh penekanan.


“Kalian diminta untuk memberikan ini dan saya hanya harus menerimanya, kan?”


“Iya, Nyonya. Itu permintaan Presdir.”


Tanganku mengambil kartu-kartu itu dari atas meja. “Kalian boleh pergi,” pungkasku membawa dua orang itu undur diri dari hadapanku.


Terserah sajalah! Toh menerima bukan berarti aku harus memakainya.


Suasana ini mengingatkanku pada waktu itu, kala manusia bernama Adrian mendatangi rumah kami dan menumbuhkan kebingungan layaknya yang saat ini kurasakan. Dirinya yang di awal tampak angkuh menurunkan kesombongannya di depan Ayah, dan meminta izin untuk mengambilku sebagai bagian dari hidupnya.


Bimbangku kini memunculkan kembali ingatan-ingatan masa itu di kepala, perasaan yang sama bingungnya dengan malam itu. Dalam benak ini aku menyimpan pertanyaan Kenapa pria mapan seperti Adrian mau menikah dengan gadis biasa sepertiku? Aku yakin Adrian bisa mendapatkan hati seorang top model kalau ia mau. Tapi peliknya kenapa ia justru memilihku.


Kling! Notifikasi muncul dari ponsel ketika aku sampai di depan pintu kamar.


...Trx Rek. 11XXXXXXXXXXXXX : CN MASUK KE TABUNGAN Rp. 1,500,000,000.00 29/11/2X 23:21:32 ...


Kling! [Notification]


Adrian : Ke depannya aku akan kirimkan uang bulanan untuk Ayah-Bunda


Adrian : Untuk sekarang tolong berikan itu untuk Ayah-Bunda, ya


“Huh?!” Aku melempar ponsel ke atas ranjang.


Gila, ya? Seenaknya banget kasih uang ke Ayah-Bunda segitu banyak. Emangnya dia nggak mikir kaya apa reaksi Ayah-Bunda tiba-tiba aku kasih uang segitu banyak? Semakin ke sini, semakin aku tak habis pikir dengan manusia bernama Adrian itu. Pikirku berjalan mengambil kembali ponsel yang kulempar ke sembarang arah tadi.


[LINE Chat]


Hanna Aleesa : Gila, ya?! Aku harus ngomong apa ke Ayah-Bunda dengan kasih uang sebanyak itu ke mereka?


Hanna Aleesa : Aku harus bilang kalau Adrian kebanyakan uang Bun, jadi dia sengaja mau buang-buang


Hanna Aleesa : Gitu?


Adrian Al-Faruq : Eh, dibalas. Aku kira nggak akan dibalas loh


Hanna Aleesa : Haha-_-


Adrian Al-Faruq : Kamu lagi di mana? Sama siapa?


Hanna Aleesa : Di kamar, sendiri


Incoming Call ... Mendadak aku panik membaca notifikasi dari layar ponsel yang kupegang dengan satu tangan.


[Voice Call]


Adrian Al-Faruq : Assalamu’alaikum


Hanna Aleesa : Wa, wa’alaikumsalam


Adrian Al-Faruq : Gimana? Udah baikan?


Hanna Aleesa : Alhamdulillah


Adrian Al-Faruq : Alhandulillah kalau gitu. Kalau ada keluhan apa-apa langsung bilang ke Erwin atau Agata, ya?


Hanna Aleesa : Iya,


Adrian Al-Faruq : Aku tahu kamu punya banyak pertanyaan dan dendam ke aku sekarang ini. Tapi tolong tahan dulu semuanya, ya. Kita selesaiin semua begitu aku pulang


Hanna Aleesa : Iya


Adrian Al-Faruq : Kamu lagi ngapain?


Hanna Aleesa : Nothing


Adrian Al-Faruq : Kalau nggak ngapa-ngapain kenapa jam segini belum tidur?

__ADS_1


Hanna Aleesa : Hmm


Adrian Al-Faruq : Nggak bisa tidur, ya? Mau aku nyanyiin nggak? biar cepet tidur


Hanna Aleesa : Ih, apaan sih


Adrian Al-Faruq : Akhirnya..., lega banget bisa dengar suara ketawa Aleesa.


Hanna Aleesa : Gimana kerjaan di sana, lancar?


Adrian Al-Faruq : Alhamdulillah.., inshaa allah selesai dalam beberapa hari


__________


Kesokan harinya, Bu Aris datang ke rumah bersama dengan suaminya. Dari ekspresi mereka ketika masuk ke dalam rumah dan kupersilakan duduk, tampak sangat aneh. Antara terkejut dan ekspresi tak enak hati tampak di kedua orang itu.


"Itu.., ternyata sepupu saya yang biasa bikin kue nggak bisa datang besok. Kerjaannya sedang sibuk. Jadi, saya nggak bisa bantu tenaga."


"Ah..., soal itu. Kalau itu tidak apa-apa, Bu Aris. Sepertinya saya bisa selesaikan pesanan Ibu."


"Karena saya dengar, Hanna baru kecelakaan, jadi saya nggak mau memberatkan Hanna."


"Hanya kecelakaan kecil. Bukan apa-apa, kok, Bu."


"Benaran bukan apa-apa? Saya nggak mau membebani Hanna kalau harus bekerja sendirian untuk pesanan saya."


"Saya sudah siapkan pengganti yang juga pintar memasak, inshaa allah bisa tertangani, Bu."


"Syukurlah kalau begitu. Saya lega mendengarnya." Bu Aris sedikit membungkuk mendekat padaku. "E.., Kalau boleh tahu, itu di depan rumah Hanna kenapa banyak orang-orang berjas?"


"Ah itu..., itu teman-teman Mas Adrian, Bu."


Yah, terpaksa aku harus bohong. Bisa-bisa Bu Aris menarik pesanannya karena terbawa sungkan kalau aku berkata jujur. Lagi pula Bu Aris bukan tipe ibu-ibu komplek yang diam setiap kali ada berita terbaru. Aku tak ingin rumor aneh lagi menyebar tentangku dan Adrian.


"Ouh, temannya Pak Adrian. Saya kira ada sesuatu yang lain," tambah suaminya melongok ke luar jendela.


“Kalau begitu kami pamit dulu, sepertinya juga mendungnya gelap seperti sudah mau turun hujan.”


“Oh, iya, Bu.”


“Sama-sama, Bu, Pak.”


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam warahmatullah.”


Sepulang Bu Aris dari rumah ini mengingatkanku pada kewajibanku sebagai koki di 'Hanna's Kitchen'. Acara khitanan seperti yang ia bilang akan diselenggarakan besok, dan itu artinya malam nanti adalah saatnya untukku begadang dan lembur sampai pagi.


"Nyonya, anda serius?"


"Iya, saya udah izin sama Adrian juga kok. Tenang aja."


"Seperti biasa, Nyonya memang selalu penuh kejutan." Agata memandangku sementara tangannya bertengger di bahu Pak Erwin.


"Biar saya yang bawa mobil, Nyonya." Agata meninggalkan Pak Erwin dalam keadaan mematung.


"Saya juga bisa ikut, kalau Nyonya mengizinkan," tambah Mba Rina.


"Boleh kok, Mba Rina bisa bantu bawa belanja juga nanti."


Melihatnya tersenyum lega setelah aku menyetujui permintaannya, rasa ingin kembali bersyukur masih ada orang-orang baik di sekitarku. Meski sejatinya aku belum sepenuhnya percaya dengan Agata karena hal yang kulihat di hotel malam hari itu. Tapi perlakuan baiknya, membuatku tak lagi mengingat prasangka-prasangka burukku terhadap wanita kepala tiga itu.


"Kenapa nggak masuk?" tanyaku pada Agata yang hanya berdiri di dekat mobil.


"Karena Mba Rina juga ikut, kita nggak bisa pakai mobil Presdir. Saya sudah minta Hugo menyiapkan mobil yang lebih muat banyak. Sebentar lagi. Nah, itu dia."


Bersamaan dengan Agata menunjuk ke luar pagar. Sebuah mobil hitam tipe GLE berhenti di depan rumah. Tak lama, pria bernama Hugo yang kemarin dikenalkan padaku itu turun dari mobil.


"Mari, Nyonya." Agata mengantarku sampai membukakan pintu mobil untukku.


"Kejutan lagi..." Aku bergumam lirih ketika mobil perlahan meninggalkan komplek perumahan.


Duduk di kursi belakang sendirian membuatku merasa terasing. Sementara itu, Mba Rina juga tak banyak bicara. Agata pun tampak fokus mengemudikan mobil ini hingga tak sempat mengatakan apa-apa sampai kami tiba di tempat tujuan. Sama seperti sebelumnya, ia bergegas turun untuk membukakanku pintu.

__ADS_1


"Ini juga salah satu dari banyak mobil milik presdir. Anda tidak perlu canggung," ucapnya seolah menebak ekspresi tak nyamanku sejak tadi.


Dari pukul sebelas, ketika kami memasuki supermarket untuk membeli bahan-bahan membuat kue, kami baru keluar pukul setengah dua siang. Kala mobil kembali melaju di jalanan, baik Agata maupun Mba Rina tak ada yang membuka suara.


Aku yang tak tahan dengan suasana canggung ini pun membuka suara. "Kenapa tadi bukan saya yang bayar?"


"Karena memang tugas saya untuk membayarkan semua yang anda beli, setiap kali anda pergi dengan saya, Nyonya."


"Terus apa fungsi dari kartu-kartu yang kamu berikan untuk saya semalam?"


"Kartu-kartu itu hanya akan anda gunakan saat anda tidak pergi bersama saya atau Erwin. Misalnya saat anda pergi dengan Mba Rina, atau keluarga anda."


"Atau saat anda dan Presdir sedang pergi berdua tanpa kami, di saat itulah anda bisa memakai kartu-kartu itu."


"Adrian bahkan tak punya waktu untuk sekedar jalan berdua," gumamku lirih.


"Anda mengatakan sesuatu, Nyonya?"


"Bukan apa-apa. Kalian berdua malam nanti bisa bantu saya bikin kue, kan? Mungkin kalian nggak akan ada kesempatan untuk tidur sampai subuh."


"Bukan masalah. Tapi bisakah saya meminta waktu istirahat jam sepuluh sampai jam satu malam nanti?" tambah Agatha.


"Iya, tidak apa-apa untuk alasan yang jelas."


"Saya harus menyisakan waktu itu bersama suami saya karena besok adalah peringatan hari pernikahan kami."


Aku tersenyum sekilas. "Bukan masalah."


*****


Sejak selesai salat isya berjamaah, aku sudah tak sabar untuk segera memegang peralatan dapur dan menguasai seluruh dapur dengan keterampilanku. Meski punggungku sesekali masih merasa nyut-nyutan, tapi tekadku membuat kue yang enak tak bisa luntur hanya karena alasan kecil seperti itu.


Pukul sembilan malam, Mba Rina sudah siap di dapur untuk membantuku menyiapkan bahan dan alat yang akan dipakai. Di ronde pertama kali ini akan dimulai dari jenis kue dengan level paling mudah, sampai ke level sulit. Karena pesanan cukup banyak, aku sangat mengandalkan bantuan Mba Rina dan Agatha nantinya.


"Kayaknya masih ada bahan yang ketinggalan di mobil, Nyonya. Biar saya panggilkan Agatha."


"Nggak perlu. Biar saya aja yang ke depan." Aku menutup tabloid di tanganku, beranjak ke depan.


Sampai di pintu depan hampir saja aku melompat karena terkejut mendapati Pak Erwin yang hendak melangkah masuk ke rumah.


"Maaf, Nyonya. Saya tidak mengira anda akan keluar rumah jam segini."


"Iya, nggak apa-apa. Pak Erwin dari mana?"


"Saya baru keluar untuk membeli sesuatu. Apa ada yang Nyonya perlukan?"


"Saya mencari Agatha. Ada bahan kue yang tertinggal di mobil."


"Oh, kebetulan saya yang membawa kunci mobilnya." Pak Erwin segera memeriksa seluruh saku di setelannya, dari atas sampai ke bawah.


Eh? Aku nggak salah lihat, kan?


Kalau tak salah, mataku sempat melihat tangannya mengeluarkan kotak perhiasan dari saku jas.


"Mari Nyonya, sekalian saya bawakan untuk anda."


Lewat dari satu jam, waktu yang kutunggu tiba. Aku dan Mba Rina memulai aksi di dapur tanpa Agatha. Malam ini aku sudah siap untuk lembur sampai pagi sebagai bentuk totalitas dan keseriusanku di Hanna's Kitchen.


Hingga pukul satu pagi, ketika Agata datang dengan wajah cerah, kami melanjutkan membuat kue pesanan. Dari apa yang kulihat, aura Agatha yang cerah itu, pasti ia mendapati hal baik di ualng tahun pernikahannya. Aku memahami kebahagiannya, entah apa yang ia dapat. Tapi sengaja aku tak membahasnya.


Pekerjaan membuat kue yang dikerjakan oleh tiga orang itu baru selesai ketika terdengar suara tarhim subuh dari musholla kompleks. Meski aku tak banyak bekerja karena mereka tak membiarkanku melakukan banyak hal, tapi pada akhirnya semalaman ini aku berhasil terbangun.


“Sisanya biar saya dan Mba Rina yang menyelesaikan. Sebaiknya Nyonya segera istirahat.”


“Apa yang dikatakan Agatha benar, Nyonya. Untuk urusan packaging, kami berdua bisa tangani.”


“Mohon bantuannya kalau begitu, saya mau ke ….”


“Nyonya! Nyonya!”


“Nyonya! Anda tidak apa-apa?!”


“Nyonya! Anda bisa dengar suara saya?!”

__ADS_1


“Panggilkan Pak Erwin, cepat!”


__ADS_2