
Aku meletakkan secarik kertas ke dalam MacBook yang tertutup di ruang kerja Adrian. Dapat dipastikan benda itu yang akan dibuka Adrian sebelum ia berangkat kerja. Karena Adrian adalah tipe orang yang selalu recheck segala sesuatu sebelum dipakai. Saat Adrian datang ke meja makan, ia membawa serta MacBook itu. Aku segera mengisi piring kosong di depannya dengan nasi goreng sebagai sarapan kami pagi ini. Jantungku berdebar tak karuan, membayangkan reaksi Adrian setelah membuka dan menemukan kertas di dalam MacBook nya.
"Siapa yang masak?" tanyanya menerima piring itu.
"Aku dong," jawabku bangga.
"Tiba-tiba rajin masak lagi nih istriku."
Aku tertawa kecil. "Nanti pulang kerja jam berapa, Mas?"
"Sebelum makan malam Inshaa Allah udah di rumah," jawabnya seraya membuka macbooknya sesuai perkiraanku.
Seketika kedua matanya melotot. "Ini.. apa?"
"Coba, baca dulu," ujarku meletakkan piring yang sudah kuisi porsi sarapannya.
Ekspresinya berubah seketika, ia kemudian menatapku tak suka. "Apa maksudnya?" tanyanya dingin.
"Kamu bisa baca, kan? Maksudnya sesuai dengan isi suratnya."
"Kenapa tiba-tiba kamu bikin surat ini? Aku nggak bisa terima."
"Oh, nggak cuma surat itu, aku juga bawa ini." Aku menyerahkan setumpuk kertas, kertas pemberian Garrin, kertas pemberian Henri, dan buku diary Khadija yang dititipkan Garrin malam itu.
"Kamu dapat dari mana semua ini?" Adrian menatapku dengan muka merah padam.
"Enggak penting aku dapat dari mana, Adrian... sekarang yang terpenting, Kamu harus menepati janji itu, kan?" ucapku dengan mata berkaca menahan air yang hampir tumpah.
"Aku nggak ngerti, Aleesa." Adrian semakin meninggikan nada bicaranya
Aku pun menyudahi sarapanku, beranjak dari meja makan ke tempat cuci piring, lalu berjalan menuju ke kamar, meninggalkan Adrian di ruang makan. Air mataku tak tertahan lagi hingga akhirnya keluar dengan isakan. Aku meringkuk di ranjang seraya menggigit ibu jariku. Aku tak berharap apa-apa lagi, karena yang kutahu, berharap pada manusia hanya akan membawa sakit pada akhirnya.
Masih meringkuk di atas tempat tidur, kurasakan kedatangan Adrian. Rupanya ia mengikutiku, Adrian segera mendekat, memelukku dari belakang, coba menenangkanku sebisa mungkin. Tapi tangis ini bukan sekedar tangis karena luapan sedih, tapi juga tangis lega dan kecewa yang keluar disaat bersamaan. Saat itu aku sendiri tak mengerti apa yang benar-benar aku rasakan sampai menangis seperti itu.
"Jadi kamu udah tahu kalau selama ini aku bohong?" tanyanya lirih.
"Iya, memang sejak awal aku yang salah, Aleesa. Nggak seharusnya aku melakukan ini padamu. Tapi aku sama sekali nggak berniat untuk melakukannya."
"Itu janji kalian berdua, Mas..," isakku.
"Tapi aku nggak akan pernah membagi apa pun yang sudah kuberikan kepadamu, Aleesa," tegasnya.
"Jangan gitu, Mas! Bayangkan perasaan gadis itu yang sampai sekarang masih menunggu kamu. Bahkan aku rela untuk menerima kamu men-"
"Nggak! Aku nggak akan pernah lakukan itu, Aleesa. Sesuai janjiku ke Ayah dan Bunda, yang aku pilih di dunia ini cuma kamu, untuk selamanya."
"Kenapa? Padahal gadis itu adalah gadis yang baik sifat, perilaku, dan agamanya. Kamu bisa nikahi dia, Mas, aku tahu bagaimana rasanya menjadi gadis itu karena aku juga perempuan." Mas Adrian hanya terdiam mendengarku, ia menundukkan pandangannya.
"Aku hanya satu gadis beruntung yang tak sengaja bertemu denganmu di stasiun kereta, tapi dia adalah gadis baik yang selalu mengalah untukku. Dia juga sahabatku, Mas! Dia yang menyelamatkan nyawa kita berdua. Dia yang sudah kamu beri janji untuk dinikahi. Nikahi dia. Jika memang itu yang terbaik untuk kamu, untuk kita. Aku ikhlas,"
__ADS_1
"Poligami nggak semudah itu Aleesa!"
"Ingat perjanjian sebelum kita menikah, Mas? Aku mengizinkan kamu untuk poligami bila itu adalah keputusanku sendiri. Karena aku yakin kamu bisa Mas! Aku percaya kamu bisa jadi suami yang adil."
"Tapi aku nggak bisa benar-benar adil menerima keadaan rumah ini suatu saat menjadi bertiga. Cuma kamu satu-satunya yang aku pilih dunia dan akhirat. Karena cuma kamu yang aku cinta, dan aku tahu pasti kalau kamu memang satu-satunya jodohku."
"Istighfar, Mas.., jodoh, hidup, dan mati seseorang hanya Allah yang lebih mengetahui. Jika Karinda adalah jodohmu, aku yakin kamu bisa berlaku adil kepada kami berdua."
"Aku nggak akan pernah menikahi seseorang tanpa dasar cinta-"
"Dulu kita juga nggak saling mencintai, Adrian!" bantahku membungkam ucapannya seketika.
Air mataku kembali berlinang. Entah air mata apalagi ini, tapi hatiku semakin tak nyaman mendengar Adrian terus menolak gagasanku. Padahal aku hanya ingin dia bertanggungjawab atas apa yang telah ia janjikan di masa lalu. Kenapa aku jadi emosional begini?
"Tenangkan dirimu, Aleesa.., dan dengar, aku nggak akan pernah melakukannya." Adrian mengatakan itu sembari merobek surat pernyataan yang aku buat. "Aku harus berangkat ke kantor cabang sebelum terlambat, Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam."
Aku masih di posisiku meringkuk di ranjang yang sama, menangis dengan rasa sakit yang mengganjal dalam dada ini. Pikiranku tak bisa mencerna hal-hal rumit sekarang. Aku perlu menyendiri dan merenung bahwa keputusanku ini memang benar. Aku tak bisa jadi wanita egois dan merasa memiliki Adrian seutuhnya. Aku tak bisa menjadi wanita seperti itu. Aku mengerti betul bagaimana posisi Karinda saat ini. Apalagi yang bisa aku lakukan?
Waktu terus bergulir, sementara aku tetap pada tempat dan posisiku semula. Saat matahari mulai berangsur terik, aku tak juga bangkit dari ranjang itu, beringsut sedikit pun tidak. Hingga datang Mba Rina membawakan nampan berisikan makan siang untukku. Namun nampan itu juga tak kusentuh sedikit pun.
"Nyonya.. Nyonya harus makan, anda tidak boleh seperti ini," ucap lembut Mba Rina tiba-tiba membuatku teringat pada Karindah yang selalu jadi tempatku curhat dahulu.
"Mba Rina, ajak saya ke rumah Mba Rina, ya?" ujarku pelan.
"Ma- maksud Nyonya?"
"Saya perlu waktu untuk sendiri. Mba Rina bisa bawa saya ke kampung halaman Mba Rina, kan?" Aku menatapnya dengan senyum tipis.
"Aku sudah minta izin sama Mas Adrian," ucapku meyakinkannya.
Maaf aku berbohong,
"Baiklah, Nyonya.. tapi apa tidak sebaiknya Nyonya ke apartemen saya saja? Rumah saya di kampung sangat sempit dan-"
"Enggak apa-apa, aku yakin pasti lebih nyaman menyesuaikan diri dengan tempat baru yang tenang."
Setelah selesai salat dzuhur, aku mulai mengemasi pakaian-pakaian dan beberapa keperluan pribadiku dalam koper. Sampai selesainya salat Ashar dan menangis untuk kesekian kalinya, aku merasa siap untuk meninggalkan rumah ini. Kulepas cincin pernikahan dari jari manis ini kemudian memasukkannya dalam amplop berisi secarik kertas yang ditulis langsung oleh Karinda yang semuanya menceritakan tentang pertemuan dan kisahnya bersama Adrian tujuh tahun silam.
Matahari semakin condong ke barat, dan bersamaan dengan saat itu, aku bersama Mba Rina telah siap meninggalkan rumah ini untuk beberapa waktu. Mba Rina membantu membawakan koperku, mengaturnya ke bagasi taksi yang kupesan. Aku memandang pagar tinggi yang menutupi bagian depan rumah mewah itu selama beberapa waktu. Dengan mengucap syahadat dan basmalah, aku melangkah menuju taksi online yang telah menungguku.
"Aleesa!" Suara Mas Adrian memanggil namaku, membuat tanganku tak kuasa membuka pintu mobil.
"Kamu mau ke mana?" tanyanya seraya memegang pergelangan tanganku.
Air mataku menitik, namun segera kuhapus dengan cepat. "Aku mau ikut Mba Rina ke rumah orangtuanya selama beberapa hari ke depan. Aku rasa, kamu perlu waktu sendiri untuk memutuskannya, Mas. Kamu bisa jaga diri baik-baik, kan?"
"Cukup bertingkah gegabah seperti ini. Aku nggak mau!"
Aku mengeluarkan amplop dari tas yang kubawa di tanganku. Kuberikan amplop putih itu kepada Adrian.
__ADS_1
"Pikirkan lagi, Mas.. kita punya hutang nyawa dengan satu orang yang sama. Mungkin ini saatnya kita membayar hutang kita. Aku akan pulang saat kamu sudah siap untuk menikahi Karinda demi kita semua. Kamu juga ingin keturunan, dan aku belum bisa mewujudkannya. Ingat itu juga, Mas," bisikku lugas.
"Poligami ngga-"
"Aku pergi. Assalamu'alaikum," ucapku memotong perkataannya.
"Wa'alaikumsalam warahmatullah,"
Detik itu juga, aku terlepas dari Adrian. Pria yang awalnya berdiri tegap menahan air mata, kini ia tampak pasrah dan mengusap matanya berkali-kali. Pemandangan itulah yang masih sempat kulihat dari kaca spion mobil sebelum kami semakin jauh meninggalkan Adrian dan rumah yang menjadi saksi kisah kami selama satu setengah tahun pernikahan kami berlalu.
*****
Kampung halaman Mba Rina, tempat yang kami tuju itu cukup jauh dari rumah. Perjalanan memakan waktu sekitar tujuh jam, yang kemudian menjadi alasan kuat hingga membuatku kelelahan begitu sampai di depan rumah sederhana keluarga Mba Rina. Rumah itu bukan rumah mewah di kawasan kompleks elite, hanya rumah sederhana di perkampungan yang jauh dari kota. Tapi sangat sejuk dengan banyaknya tanah persawahan di dekat sana.
Menurut ceritanya, di rumah itu, Mba Rina hanya tinggal bersama ibu dan satu orang anaknya. Di apartemen pemberian Adrian, Mba Rina tinggal bersama satu orang anaknya yang bersekolah di kota A. Sementara suaminya saat ini bekerja di salah satu industri cabang AA Corporation di Surabaya, sehingga membuat mereka jarang bisa bertemu. Setelah menunjukkan satu kamar untuk kutempati, Mba Rina turut membantuku berbenah, dan menata pakaianku.
Ramah tamah dan kehangatan di dalam rumah itu begitu terasa hangatnya. Anak bungsu Mba Rina yang kira-kira baru berusia lima tahun itu juga sangat sopan menyambutku. Hingga tak sulit untukku beradaptasi dengan lingkungan baru yang jauh dari rumah. Kira-kira hanya perlu sehari mengobrol bersama hingga akhirnya aku sudah akrab dengan Ibu Mba Rina dan anak bungsunya.
"Sudah waktunya makan malam, Nyonya." Suara Mba Rina dari balik pintu menghentikan tangisanku.
"Iya, Mba..," ujarku tak beranjak.
"Apa perlu saya antarkan ke sini, makanannya?"
"Nggak usah, Mba.. sebentar lagi saya ke sana." Cegahku cepat.
Saat aku keluar dari kamar, ternyata Mba Rina masih berdiri di tempatnya, mengejutkanku, "Makan malam kali ini cak kangkung sama semur tahu, Nyonya," ucapnya seraya tersenyum.
"Jangan panggil saya Nyonya, ini kan rumah Mba Rina, saya cuma numpang di sini."
"Iya, tapi sepertinya saya lebih mudah memanggilnya begitu."
"Lain kali cukup panggil saya Hanna saja, saya tidak keberatan," pintaku.
Hari-hari berikutnya berjalan bagai waktu yang tertahan. Sangat lambat dan sepertinya aku pun semakin akrab dengan kebiasaan warga di kampung ini. Sampai satu waktu, aku meminta Mba Rina mengajakku ke pasar untuk membeli bahan makanan. Aku juga memohon agar diperkenankan memegang alat-alat dapur bersamanya meski ia sempat menolak dengan alasan klasik di awal.
Setiap yang kulakukan di sini terasa seperti sesuatu yang baru. Tanpa sadar aku menikmatinya. Menikmati suasana kehangatan dan obrolan antar penghuni dalam rumah ini. Tak terasa hari pun berlalu, aku belajar banyak hal dari rumah ini dan selama tinggal di sini. Ada pengalaman, ada kisah, ada cerita yang tak bisa kutulis satu per satu. Hari-hari di rumah itu sangat bermakna untukku pribadi.
"Kak Hanna! Kakak punya adik?" tanya si bungsu sehabis makan malam.
"Ada, namanya Kak Harun. Lain waktu, Kakak pasti kenalkan Andre ke adiknya Kak Hanna. Yah..., dia agak jutek sih, tapi kalau mainnya sama Andre, pasti Kak Harun mau."
"Andre juga nanti mau ketemu sama Kak Harun."
"Iya, kapan-kapan deh, kalau kamu mau datang ke rumah Kak Hanna, kamu tinggal bilang ke Mama Rina. Soalnya di rumah Kak Hanna sepi banget."
"Emang Kak Hanna belum punya Dede Bayi? Kan kalau ada Dede Bayi, nanti rumahnya jadi ramai."
Deg!
"Iya, Kak Hanna belum punya Dede Bayi sih."
__ADS_1
"Makanya, di sini Kak Hanna harus makan yang banyak biar perutnya ada Dede Bayinya. Nanti kalau udah ada Dede Bayi, Andre akan ajak main Dede Bayinya."
"Iya, Kak Hanna makan banyak kok selama di sini. Andre juga makan yang banyak biar makin pinter, ya?"