
Karinda Amarini Nasyuf, 13 Juni 20XX
Aku terlahir dari keluarga yang hangat, dan tumbuh di lingkungan yang sederhana. Saat usiaku belum genap menginjak tujuh tahun, aku hidup dengan kebahagiaan sederhana sebagai anak tunggal. Lalu, perlahan kehidupan keluarga kami berubah dengan adanya adik perempuanku, Zahra.
Saat Zahra berusia tiga bulan, Ayah dipecat dari pekerjaannya sebagai pengantar barang antik. Alasannya, karena kelalaian kerja. Setelah itu, Ayah mendapatkan kerjaan sebagai security di sebuah rumah mewah. Pekerjaan kali ini bertahan cukup lama, hingga bisa membiayai sekolahku sampai ke jenjang SMP. Tapi, dari sana Ayahku mulai belajar sesuatu, beliau mulai mengundi nasibnya dengan berjudi. Awalnya tak ada yang tahu Ayah ikut berjudi, tapi Ibu mulai curiga saat Ayah tiba-tiba mengundurkan diri dari pekerjaannya, tapi keluarga kami bisa hidup berkecukupan.
Usiaku kala itu empat belas tahun, saat kami sekeluarga pindah dan bisa membeli rumah juga mobil di Pulau Jawa. Kehidupan sehari-hari kami pun terjamin, bahkan bisa dikatakan mewah. Sampai akhirnya, Ayah pergi dari rumah selama beberapa hari dan kembali dalam keadaan mabuk dan banyak bekas hantaman membiru di tubuhnya. Setelah itu, rumah kami bergantian didatangi rentenir, aku putus dari sekolah setelah mendapat ijazah SMP-ku. Biaya pendidikanku kuberikan kepada Zahra yang masih harus bersekolah di sekolah dasar.
Makin lama, rupanya keberuntungan tak lagi memihak pada Ayahku, ia kalah telak sampai harus menjual rumah kami. Tapi Ayah bertekad untuk mempertahankan rumah ini, ia menggali lubang baru untuk mendapat hutangan agar bisa kembali berjudi. Tapi faktanya, yang terjadi adalah sebaliknya. Ekonomi keluarga kami semakin tercekik, Ibu tetap memprioritaskan pendidikan Zahra, dan Ayah tetap ingin mempertahankan rumah dan mobilnya. Lalu, mereka memilihku sebagai anak pertama yang harus bertanggung jawab atas semua utang Ayah.
Aku ingat pertama kali aku dibawa Ayah ke tempat yang asing bagiku. Aku diminta untuk bekerja sebagai pelayan, dan sesekali aku juga diminta untuk membantu dalam perhitungan dan akuntansi. Kupikir dengan aku bekerja di sana, sudah cukup untuk biaya keluarga kami, karena aku sendiri bahkan tak pernah memakai gaji yang kudapat, semua langsung kuberikan kepada Ayah. Sayangnya Ayah tak puas hanya dengan gajiku sebagai pelayan, ia membawaku ke tempat baru.
Aku ingat kata-kata yang diucapkan Ayah kepada temannya di belakangku saat itu, "Titip anak gue, ya? Barangkali nanti ada duitnya. Masih suci kok, hahaha."
"Gila, ya? Anak sendiri loh. Segitu butuhnya ama duit?"
"Udahlah, coba dulu dua Minggu, kalau nggak cocok suruh pulang aja. Lagian mana mungkin sih anak secantik itu nggak ada yang mau?"
"Kalau anak lo jebol di sini gimana ceritanya?"
"Kalau jebol, ya, duitnya harus lebih gede dong. Mana mungkin sih gue bawa ke sini kalau gue takut dia jebol."
Aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan, karena Ayah hanya bilang kepadaku, bahwa aku akan bekerja sebagai pelayan di kapal pesiar itu. Bahkan aku bisa dipromosikan menjadi model kalau wajahku masuk kriteria yang mereka cari. Begitu kata Ayah.
Tapi dua hari setelah Ayah menitipkan aku kepada temannya itu, aku ditempatkan di bagian pelayan pengantar minuman dengan tuntutan aku harus mengenakan pakaian minim. Tak jarang aku mendapat perlakuan buruk dari mereka hingga membuatku hanya bisa menangis sendirian karena merasa dilecehkan. Tapi, teman Ayahku yang memiliki pengaruh di sana cukup memberitahuku.
"Ini adalah dunia yang sebenarnya. Kejam dan semua dikendalikan oleh tangan-tangan ber-uang. Wanita bukan hal yang mahal bagi mereka, tak semahal harga informasi dan benda-benda 'antik' yang mereka inginkan. Di sini, perlakuan mereka terhadapmu tak bisa disalahkan karena sejatinya yang salah adalah pria busuk yang membawamu ke tempat ini, dan membuatmu harus menanggung semuanya."
"Bagaimana caraku keluar dari sini, Paman?"
"Itu adalah pertanyaan terbodoh yang pernah kudengar. Karena sudah masuk ke tempat ini, kenapa tak memanfaatkannya untuk mengumpulkan uang sebanyak mungkin agar terhindar dari kemarahan pria busuk itu?"
"Dengar, malam ini adalah debut pertama untukmu. Lakukan yang terbaik, jadilah wanita polos dan pemalu meski harus berpura-pura. Jika kamu berhasil melakukan semua yang kusarankan, tak akan perlu waktu lama untuk keluar dari sini bersama uangmu."
'Debut', itulah sebutan untuk wanita muda yang baru belajar menjadi seorang ja*ng. Tentunya saat itu aku juga tak mengerti definisi 'Debut*' seperti apa yang mereka maksud sampai malam jahanam itu datang. Seorang pria memakaiku, pria yang bahkan usianya jauh di atas Ayahku. Tak hanya itu, ia juga memukul di beberapa bagian tubuhku agar dengar sengaja bisa mendengar rintihan dan tangis keluar dari bibirku.
__ADS_1
Setelah melalui malam jahanam di usia enam belas tahun, tanpa sadar aku mulai terbiasa dengan kehidupan ini. Hal-hal yang awalnya kuanggap sebagai pelecehan, kini mulai terbiasa menghampiriku. Alhasil, tamparan uanglah yang kudapat dari semua yang telah kulakukan. Sampai ketika, aku beberapa kali lemas, muntah dan sensitif terhadap bau. Teman Ayahku mulai curiga aku hamil saat itu, hingga ia mengantaku ke dokter.
Setelah melihat fakta, benar bahwa aku hamil. Tapi kandungan itu tak bertahan lama karena aku terus kembali bekerja. Dan yang kudengar, berhubungan saat usia kandungan masih muda bisa menggugurkan kandungan itu sendiri. Setelah itu pun aku masih tak merasa bersalah. Aku pulang kembali ke rumah setelah setahun bekerja dengan teman Ayah. Aku tak terpikir apa-apa saat itu, karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri agar tak kembali ke sana, karena uang yang kudapat sudah sangat banyak. Lalu aku mendengar Ayah dan Ibuku bicara di dapur. Saat itu tengah malam yang hening.
"Kamu mau ke mana? Bukannya temanmu itu mau ke sini besok?"
"Karena itu aku harus pergi. Dia adalah bandar yang terkenal di kalangan para penguasa, mungkin saja nyawaku tidak akan selamat kalau aku tetap di sini malam ini."
"Lalu bagaimana caraku membayar? Kamu gila mau membiarkan aku tinggal dengan Zahra dan anakmu itu?"
"Aku akan mencari jalan keluar terbaik untuk kita semua nanti."
"Nanti kapan? Kalau kamu pergi, ajak aku dan Zahra juga. Setidaknya manfaatkan kepulangan anakmu itu, jadikan dia jaminan atau apalah."
"Kenapa ada ibu tiri di dunia nyata. Kupikir ibu tiri kejam hanya di televisi. Tapi kamu sendiri kejam sama Ririn setelah apa yang Ririn berikan untuk kita selama ini."
"Aku udah coba jadi ibu yang baik, ya. Kalau aku ibu tiri yang kejam, mana mungkin aku mau ngerawat dia dulu? Kamu sendiri juga, anak kandung disuruh me**cur, hasilnya masih dipakai buat judi. Menang kagak, malah dikejar-kejar sama bandar."
"Udahlah, aku pusing!"
Malam itu aku baru tahu kalau wanita yang kusebut-sebut Mama bukanlah Mamaku. Aku menangis semalaman sampai mataku bengkak, aku bertanya pada Ayahku siapa sebenarnya Mama kandungku. Tapi beliau tak mau menjawab, justru memakiku karena diam-diam menguping pembicaraan mereka berdua di tengah malam.
"Ririn.., maafkan Ayah, gara-gara Ayah, kehidupanmu nggak senyaman kehidupan di masa lalu." Begitu kata Ayah ketika beliau siuman.
Aku pun merengek di hadapannya. Aku kembali memohon padanya untuk mengatakan siapa ibu kandungku, dan kenapa ia tak pernah mempertemukan aku dengan ibu. Tapi lagi-lagi Ayah bungkam, menolak untuk menjawab pertanyaan itu. Aku pun kembali menangis dan memohon tanpa henti selama berhari-hari. Sampai akhirnya ia berkata,
"Tenggat waktu pengembalian uang yang Ayah pinjam diperpanjang sampai bulan depan. Kalau kamu mau menyelamatkan keluarga kita, Ayah janji akan beritahu di mana Ibu kandungmu."
Aku tahu maksud perkataan Ayah adalah agar aku kembali ke tempat itu dan menghasilkan uang. Tapi apa pun itu, aku mengiyakan permintaannya demi bisa bertemu dengan ibu kandung yang belum pernah kutemui sejak aku lahir. Singkatnya aku benar-benar kembali ke tempat itu dan melakukan sebaik yang kubisa.
Usiaku telah mendekati akhir tujuh belas tahun saat aku bertemu dengan seorang pria yang kemudian mengubah pandanganku tentang uang, keluarga, pendidikan, dan arti hidup yang sebenarnya. Harusnya pria itu memakaiku seperti yang telah direncanakan. Tapi ia menolaknya, bahkan caranya melihatku membuat aku malu dan merasa tak berharga sama sekali sebagai manusia.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" Itu kalimat pertama yang diucapkannya di dalam kamar super mewah di mana hanya ada kami berdua yang sama-sama duduk di tepi ranjang.
"Aku hanya bisa menjual tubuhku, Tuan. Itu satu-satunya caraku mendapat uang. Karena itu, tolong jangan menolakku, biarkan aku bekerja seperti pekerjaanku, dan kita tidak akan pernah bertemu lagi kedepannya."
__ADS_1
"Kenapa harus uang? Apa kau tidak memikirkan perasaan orangtuamu? Kau juga masih sangat muda, seharusnya fokus saja dengan sekolahmu agar dapat pekerjaan yang lebih layak."
"Orang kaya seperti kalian tidak tahu bagaimana orang miskin seperti kami harus berjuang mati-matian demi bisa hidup. Belum lagi hutang yang setiap hari bunganya semakin membesar, mencekik kami dari hari ke hari." Aku menangis sembari meluapkan emosi itu.
Pria itu bangkit, mengambil sapu tangan dari atas meja, memberikannya kepadaku, kemudian duduk di kursi beberapa meter dariku. Jadilah aku menumpahkan segalanya di depan pria itu. Kukira pertemuan kami akan berakhir setelah pagi datang. Tapi ternyata perkiraanku salah. Itu adalah awal pertemuan kami, dan banyak hal yang terjadi antara kami berdua setelah saat itu.
Namanya Adrian, dia pria yang aneh karena kami baru mengetahui nama satu sama lain saat kami bertemu untuk ketiga kalinya di sebuah cafe.
"Siapa namamu?"
"Ririn."
"Sesingkat itu?" tanyanya sambil menuangkan gula ke dalam cangkir kopinya.
"Karinda Amarini Nasyuf," jawabku seraya tersipu.
"Nama yang bagus. Selanjutnya aku harus memanggilmu apa?"
"Panggil Ririn saja."
"Tidak. Aku ingin memanggilmu Khadija, dan kamu bisa memanggil nama depanku, Adrian. Apa boleh begitu?"
Seketika aku mengangkat kepalaku, "Iya, A- Adrian."
"Bagus."
"A- Adrian.., aku ingin berterimakasih atas uang yang kamu berikan. Berkatmu, keluarga kami bisa hidup tanpa utang."
"Santai saja, ayahku senang mendengar keputusanku mengeluarkan uang sebanyak itu untuk membantu keluargamu." Pria itu mengakhiri ucapannya dengan senyuman tulus. Jantungku berdegup kencang tetiba melihat ia berekspresi sedemikian rupawannya. Aku lantas menunduk.
"Tapi, aku sangat-sangat berterimakasih sampai tidak tahu harus seperti apa cara membalas budi. Mungkin ada yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikanmu? Jika ada, katakan saja, aku akan dengan suka rela melakukannya."
Ia terdiam sebentar memikirkan ucapanku. "Bagaimana kalau kita membuat kontrak?"
"Kontrak?"
__ADS_1
"Iya, kontrak. Seperti yang dilakukan para pelaku bisnis saat mereka membuat kesepakatan."
"Kontrak seperti apa?" tanyaku tak mengerti. Lantas pria itu mengambil kertas dan pena dari dalam tasnya. Ia menuliskan beberapa poin di atas kertas itu. Aku tak bisa melihatnya, tapi setelah ia selesai menulis, dengan senyumannya yang begitu tulus itu ia menyerahkan kertas itu ke hadapanku. Tentu saja aku terkejut membacanya. Tulisan tangan itu benar-benar di luar dari apa yang pernah kubayangkan.