
...Hai! Sebelum baca, diingatkan untuk jangan lupa klik Like, dan tambahkan ke Favorit yaaa!...
...Tinggalkan juga komentar kalian setelah selesai baca, dan kalian bisa Vote untuk memberi support ke Author. Terimakasih(◠‿◕)...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kak? Ada apa?" Harun menatapku terkejut setelah kakiku spontan menginjak rem.
"Itu..., di depan bukannya mobil Mas Adrian, ya? Ngapain lewat jalan ini?"
"Bukan Om Adrian kali."
"Tapi itu mobil Kakak yang dipakai."
"Bener? Coba lihat nopolnya."
"Bener kok."
"Kakak mau buntutin?" tanyanya melipat kedua tangan di depan dada.
"Menurut kamu?" Aku balik bertanya.
"Ya udah ikutin aja."
Tanpa menunggu kelanjutan dari pendapat Harun, aku menginjak gas. Menambah kecepatan demi menyusul mobil dua pintu berwarna hitam di depan itu. Seperti yang kuduga, setelah beberapa menit mengikuti di belakangnya, tujuan dari pengemudi mobil itu bukan perumahan tempat kami tinggal, melainkan tempat lain. Sebuah hotel bintang lima yang cukup terkenal di daerah ini.
Tak ingin ketinggalan, kami mengikuti dengan jarak yang lebih dekat sampai portofino hitam itu berhenti. Aku mematikan mesin mobil di tempatku berhenti. Kaca mobil ini transparan dari dalam, tapi tampak gelap dari luar. Dengan begitu, aku lebih mudah melihat ke luar tanpa ada yang curiga. Detik dan detik berlalu, pupilku seakan membesar melihat sosok yang turun dari mobil itu.
Setelah cukup lama mengamati, tak salah lagi pria itu adalah Adrian bersama seorang wanita dengan mini dress warna hitam. Kenapa? Untuk apa mereka ke sini? Jangan-jangan ini bukan pertama kalinya dia ke sini. Rasa penasaranku membakar amarah hingga sampai pada puncaknya. Aku turun dari mobil, membawa tas di satu tangan. Berjalan meninggalkan tempatku memarkirkan mobil, menuju ke lobi.
"Selamat malam, Nona, ada yang bisa kami bantu?"
"Saya mau reservasi. Satu kamar, malam ini."
"Untuk berapa orang?"
"Satu orang."
"Baik, bisa tunjukkan kartu identitas terlebih dahulu sebelum kami proses."
"Kami punya tiga kelas untuk kamar satu orang, anda menginginkan yang mana?"
"Kelas teratas. Dan satu informasi." Staf hotel itu agaknya tersentak mendengar ucapanku. Tapi ia tak menyanggahnya.
Aku mengeluarkan lima lembar uang seratus ribu dari dompet, menyodorkannya. "Pria yang memakai setelan hitam di depan sana, ini bukan pertama kalinya dia datang ke hotel ini?"
Staf itu melihat ke arah Adrian sekilas, kemudian melihatku. Tangannya menarik uang yang kusodorkan tepat di depannya. "Iya. Kemarin orang itu juga datang, tapi sepertinya wanita yang dibawa berbeda dari kemarin. Setahu saya orang itu salah satu tamu yang mendapat pelayanan khusus dan sering memakai private service, jadi saya sendiri tidak tahu menahu dengan apa yang dilakukan di sini. Saya hanya staf baru di hotel ini."
Aku membuka kembali dompetku. "Saya bayar pakai debit." Aku mengulurkan kartu, sementara mataku memperhatikan pria yang masih berbincang mesra dengan wanita itu di sana. Tak berpindah dari tempat itu.
"Ini kuncinya, lalu kamar anda ada di lantai tujuh. Staf yang di sana, akan mengantar anda sampai ke depan pintu."
Aku mengambil kunci hotel, segera menuju ke lift. Hati dan pikiranku penuh akan kemarahan hingga aku luput, menghanguskan uang enam jutaku demi mencari tahu lebih lanjut tentang Adrian. Tak habis marah emosiku, seseorang menghentikan pintu lift yang baru akan tertutup.
"Loh? Hanna? Kamu ke sini juga?" Orang itu menyapaku.
__ADS_1
"Ah..., Iya."
Garrin yang tampaknya berusaha keras mengatur napas setelah berlari mengejar lift ini, akhirnya masuk dalam lift yang sama denganku. Tapi, apa maksudnya 'juga'? Tanyaku dalam hati. Belum sempat aku menanyakannya, Garrin sudah duluan bicara.
"Kok nggak barengan sama Adrian?" tanyanya.
"Barengan? Oh, enggak, gue ke sini sendiri."
"Ooh, lo berangkat dari rumah lama, pantesan, tadi kayaknya gue lihat Adrian juga sebelum berangkat. Rumahnya udah selesai renovasi, ya?"
"Renovasi? Sorry gue nggak ngerti maksud lo. Emang benar gue berangkat dari rumah yang di deket sini."
"Iya..., Adrian yang ajak lo ke sini, kan? Ini pertama kalinya loh Adrian bawa istri, kenapa kalian nggak sama-sama? Atau..., oh, udah dikasih tahu tempatnya?"
Aku mengerutkan dahiku. "Tunggu, tunggu.., gue bingung. Adrian ke sini, ngapain? Kalian satu tujuan?"
"Kita ada rapat. Katanya besok Adrian ada urusan, jadi dia nyuruh gue dan beberapa partner nya rapat malam ini juga. Gue kaget sih sebenernya, emang besok ada urusan apaan sih? Sepenting itu sampai rapat tahunannya harus dimajuin dari jadwal awal."
Pintu lift terbuka sampai di lantai lima. Aku pun meminta staf hotel itu untuk kembali sementara aku mengikuti Garrin dan melanjutkan obrolan kami. Aku yang terus-terusan melontarkan pertanyaan lama-lama bosan dengan jawaban aneh Garrin yang kudengar.
"Maksudnya Adrian mewakili perusahaan konstruksi tempatnya kerja di meeting ini? Gimana sih?"
Garrin menghentikan langkahnya, kini ia yang menatapku heran. "Mewakili perusahaan konstruksi siapa? Adrian itu pimpinan rapat, Hann."
"Pim- pimpinan rapat? Adrian..." Aku makin bingung menatap Garrin.
Garrin menghela napasnya panjang. "Kalau gitu gini aja, sekarang lo tunggu di sini, gue ambil berkas-berkas di kamar, abis itu kita turun, dan gue jawab semua pertanyaan aneh lo itu. Okay?"
Tak lebih tiga menit aku menunggu di depan pintu kamar yang baru Garrin masuki. Aku seperti satu-satunya orang linglung di sini. Aku tak mengerti dengan keadaan sekitarku. Kepalaku tak sanggup memahami ritme rumit di sini. Sembari berjalan kembali ke lift, Garrin melanjutkan obrolan kami yang sempat terpotong.
"Okay, gue asumsikan lo sama Adrian nggak kenal satu sama lain, dan kalian nggak datang ke sini dengan tujuan yang sama. Jadi, apa yang mau lo tanyain?"
"Pertama, Adrian suami anda itu adalah pemilik hotel yang kita datangi saat ini. Bukan cuma hotel ini, Adrian punya banyak perusahaan, dan salah satunya adalah perusahaan tambang yang bekerja sama dengan saya, Garrin Wijaya. Karena itu, saya diperintahkan oleh suami anda, untuk rapat dadakan malam ini. Sampai sini paham?"
Aku hanya sanggup menundukkan kepalaku, bibirku beku, dan saat itu pula aku merasa begitu bodoh. Aku bodoh sendirian. Ini gila. Aku sama sekali tak bisa memahaminya.
"Hanna, Hann," Garrin memanggilku serentak menepuk bahuku, mengingatkan kami telah sampai di lantai tujuan.
Begitu turun dari lift, aku menepi kemudian berhenti. "Lo nggak apa-apa, Hann? Kenapa mua lo jadi pucat gitu?" tanyanya menahan tawa.
"Enggak..., gue nggak apa-apa kok." Aku memegangi kepalaku, mencoba tersenyum di hadapannya.
"Lo..., beneran nggak apa-apa?"
"Iya. Nggak apa kok." Aku mengangguk untuk meyakinkannya.
"Be- maksud saya, Pak Garrin." Seseorang berjalan cepat menghampiri kami.
"Oh, Hanna di sini juga..., aku kira siapa." Wanita itu tersenyum padaku kemudian merapat pada Garrin.
"Babe, kamu dicariin Papa kamu di dalam. Aku bingung mau cari alasan kayak apalagi untuk ngelindungi kamu. Buruan masuk gih."
"Iya bentar, Jo... Ini bantu aku susun berkasnya dulu." Garrin memberikan tumpukan kertas yang dibawanya kepada wanita yang dipanggilnya Jo itu.
"Eh, Hann! Itu ponsel kamu bunyi tuh." Garrin menunjuk tasku yang menjadi sumber bunyi di keheningan lorong.
__ADS_1
Aku membuka, kemudian mencari-cari benda itu. Notifikasi panggilan dari Adrian muncul, seakan pria itu tahu namanya sudah berkali-kali kusebut. Meski ragu hanya dengan membaca nama kontak di layarnya, tapi akhirnya aku pun mengangkat panggilan yang menghubungkan langsung dengan suara Adrian.
[Voice Call]
Adrian : Assalamu'alaikum, Sayang, kamu udah pulang dari supermarket?
Adrian : Halo? Sayang? Aleesa?
Adrian : Aleesa? Kamu dimana?
Adrian : Aleesa..., jangan bikin aku takut deh. Ngomong dong....
Hanna Aleesa : Aku butuh penjelasan
Bibirku tak sanggup lagi bergerak. Air mata kebencian bercampur dengan kekecewaanku menitik pelan. Menuruni kedua pipi hingga jatuh mengenai karpet di sepanjang lorong itu. Pintu lift yang terbuka di sebelah kiri, membuatku menoleh. Sosok yang berdiri di sanalah yang membuatku tak tahu harus berbuat apa saat ini. Penipu!
"Aleesa! Kamu? Di sini?" Adrian mendatangiku terburu setelah beberapa saat hanya berdiri di dalam lift dengan pintu terbuka.
Spontan telapak tanganku menyambut pipi kirinya. Plak!
"Udah puas bikin aku malu!" Aku tertawa pilu, lari meninggalkannya.
Langkahku tak terhenti keluar dari hotel bintang lima itu sampai aku kembali masuk ke dalam mobil dan mengemudikannya ke jalanan. Ketika sadar sedari tadi aku meninggalkan Harun di mobil sendirian, aku lantas menghapus air mataku sebelum ia memberondongku dengan berbagai pertanyaan. Tapi dengan kepintarannya, ia memiliki kepekaan sehingga lebih memilih untuk mendiamkanku yang tak bisa diajak bicara sementara waktu.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, melewati jalanan lenggang yang sengaja kupilih agar terhindar dari kemacetan. Tangisku tak usai, sesenggukanku pun masih terdengar seiring dengan kecewa yang masih tertancap. Malam itu membuatku merasakan luka baru. Luka nan pahit dan pedih. Dipermalukan dan dibodohi oleh pria yang katanya berhasil membuatku jatuh cinta. Hanna yang naif.
Aku bodoh karena tak menyadarinya. Aku bodoh karena memilih untuk percaya pada penipu itu. Kenapa aku bisa se bodoh ini!
"Kak jangan ngebut-ngebut! Kak Hanna!"
Suara Harun berteriak melarangku semakin memacu amarahku makin tak terkendali. Tak peduli waktu itu jam berapa, aku hanya terpikir untuk kembali ke rumah, mengambil pakaianku dan pulang ke rumah Ayah-Bunda. Lemari di kamar kupastikan hanya ditempati oleh pakaian Adrian yang dengan sengaja kutinggalkan.
Brak! Pintu kamarku terbuka, tapi sekali lagi aku tak ingin peduli.
"Harun! Kemasi barang-barang kamu kalau kamu mau ikut sama Kakak!"
"Harun?" Suara laki-laki dewasa terdengar membalas perintahku pada Harun.
Mataku yang melirik ke kiri sanggup melihat ujung pisau ditempelkan ke bahu. Perampok? Orang itu tak bicara lagi setelah tanganku berhenti memasukkan pakaian dalam koper. Sepertinya tak hanya ada satu orang, salah seorang temannya menggeledah barang-barang di kamarku dengan kasar, membuat bulu kudukku bergidik ngeri.
"Nggak bisa dipercaya, ternyata Nyonya Adrian Al-Faruq masih muda banget. Lihat kulitnya, selembut kulit bayi," ucapan itu membuatku kembali pada kemarahan.
"Padahal masih muda, cantik begini, mau-maunya nikah sama Om Om sok suci itu. Hahahaa," tambah rekan di sebelahnya.
Aku hanya bisa diam tak melawan karena mereka semua membawa senjata. Sampai tangan salah seorang dari mereka mulai menyentuh kulitku, menyentuh bibir dan memegang tubuhku, tanpa pikir panjang lagi aku bertaruh dengan resiko. Mengambil langkah panjang menuju pintu kamar setelah berbalik badan tanpa memikirkan hal lain.
Cruk! Tajamnya logam pipih itu menembus kulit punggungku.
Lari! Yang penting lari! Kalau aku bisa lari sampai pintu depan, pasti akan ada orang yang datang. Pikirku meneruskan langkah guna menghindar dari para kriminal itu. Lebih baik pisau itu merobek kulitku daripada kubiarkan kesucian ini direnggut oleh orang asing hanya karena ancaman.
Bagus Hanna, setidaknya akal sehatku masih terpakai sekarang.
"Tolong! Toloong!"
Langkahku terseok menuruni tiap anak tangga dari lantai dua. Semangatku untuk melarikan diri dari kejahatan mereka seketika pupus begitu benda tumpul menghantam kepalaku dari belakang. Semuanya mendadak gelap. Suara-suara pun samar-samar memudar, dan tak ada lagi yang kuingat. Semua gelap.
__ADS_1
Kalau saja Adrian ada di sini, aku ingin minta maaf. Aku ingin memohon maaf karena sikapku. Aku menyesal melakukan tindakan bodoh itu.
Kalau saja ada Adrian, aku akan ....