Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Sendiri


__ADS_3

Aku mengusap bahu Adrian yang menatap nanar kaca spion mobil. “Mungkin kemarin Bunda bilang kayak gitu, tapi aku yakin maksud Bunda enggak gitu ….”


“Nih, aku tadi dapat chat dari Bunda, Bunda bilang kalau Adrian harus datang,” ujarku seraya mencari history chatku dan Bunda pagi tadi.


Aku menunjukkan layar ponselku pada Adrian, “Lihat deh, in––”


“Adrian! Ad-!" Aku memukul-mukul punggung pria itu menyadarkannya dari serangan membabi buta yang sangat tiba-tiba.


“Adrian! Enough!” Aku menarik diri ke belakang, saat Adrian memberi celah melepas pagutannya.


Adrian menghela napasnya, “Aku emang enggak bisa marah lama-lama sama kamu,” ucapnya kemudian.


Aku yang masih mencoba mengatur napas hanya bisa menggelengkan kepala pelan mendapat serangan kejutan dari Adrian. Padahal Adrian sering mengejutkanku, tapi timingnya selalu saja tepat saat aku lengah. Entah harus bersyukur, atau beristighfar memiliki suami penuh kejutan seperti Adrian, tapi setidaknya aku tahu keadaan ini akan membaik.


“Jadi … kamu masih mau ke kantor?”


“Nggak. Buat apa? Kan aku Bossnya,” jawab Adrian sekenanya.


“Aku ganti baju dulu, ya,” ucapnya seraya membongkar tas berisi baju kami dan berpindah ke back seat.


Setelah menunggu Adrian selesai ganti baju sembari membenahi hijab dan bajuku, mobil diarahkan masuk ke pekarangan rumah momerable itu. Begitu mendapat tempat yang bagus, kami pun turun dengan baju koko dan gamis biru laut yang menambah keserasian kami. Senang rasanya perang dingin antara kami telah selesai, semoga saja ini pertama dan terakhir kalinya untuk kami.


Baru beberapa langkah setelah turun dari mobil, suara-suara riuh itu menyambut kedatangan kami. Enam orang yang semula duduk di ruang tamu serentak melihat ke arah kami ketika kami berdua mengucap salam dari depan pintu. Termasuk juga Kak Ali dan Ayah yang ada di antara kumpulan Bapak-Bapak itu.


“Eh, pengantin baru!”


"Wahh, pengantinnya sudah datang!"


“Alhamdulillah. Datang juga anak-anak Ayah.” Sambut Ayah segera berdiri.


“Sering-sering main ke sini, dong. Masa baru dua bulan udah lupa sama Ayah sendiri,” ujar Ayah pada Adrian seraya menyalami sekaligus memeluk menantunya itu.


Aku tersenyum melihat reaksi Adrian yang mendapat pelukan hangat dari Ayah seraya menepuk-nepuk punggungnya. Bahkan aku sendiri baru bersalam dengan Ayah setelah beliau puas memeluk menantunya itu. Aku nggak iri sih dengan sikap Ayah. Tapi Ayah nggak memelukku loh? Nggak salah nih? Yang anak kandung aku, kan?


“Bahaya nih. Baru dua bulan nikah udah lupa aja sama mertua,” sahut yang lain.


“Mungkin lagi bahagia-bahagianya kali.”


“Iyalah, kayak belum pernah jadi pengantin baru aja,” tambah yang lain semakin ramai.


“Bapak-bapak ini … suka julid, ya. Ayo Han masuk dulu! Ajak Adrian juga. Nggak usah dengerin omongan Bapak-Bapak ini.” Bunda mengajakku pergi dari ruang tamu yang telah dikuasai Bapak-Bapak.

__ADS_1


“Adrian! Kamu ke sini dong! Masa kamu mau ngekor istrimu terus,” panggil Ayah seraya mengajak Adrian bergabung dengan Bapak-Bapak yang lain.


“Tuh, kan … kehadiran kamu diharapkan di sini. Sana, gabung sama Ayah,” bisikku sesaat sebelum akhirnya mengikuti Bunda ke ruang tengah.


Di ruang tengah yang menjadi ruangan terluas dalam rumah ini, telah duduk Kak Zahra bersama Harun dan para Ibu-Ibu yang juga kerabat dekat tengah serius bergosip. Menyadari kedatanganku, mereka tak ketinggalan hebohnya menyambutku dengan sukacita. Dan seperti biasa, pengantin baru selalu jadi bahan bully-an di antara para Ibu-Ibu yang sudah pengantin lawas.


Tapi rasanya senang bisa berkumpul dengan kerabat lagi di rumah ini. Rasa bersalah karena telah melupakan penghuni rumah ini selama dua bulan lamanya masih terasa walau Bunda sudah beberapa kali bilang “Nggak apa-apa”. Tapi setelah beberapa menit berlalu, tanpa terasa suasana terus bergulir hingga membuatku lupa dengan rasa bersalah itu.


Seperti perkumpulan Ibu-Ibu pada umumnya, kerabatku ini juga membicarakan anak-anak mereka masing-masing, membicarakan keluh-kesah dalam rumah tangga, ini dan itu. Aku dan Kak Zahra pun memilih untuk sedikit menyisih agar jauh dari ghibah. Lama juga aku tak bertemu dengan Kakak, bahkan komunikasi jarak jauh juga jarang, membuat kami asyik sendiri menceritakan ini dan itu.


Keseruan perbincangan kami juga lengkap dengan bergabungnya Harun yang sebenarnya tak tahu banyak topik dalam obrolan kami. Meski banyak mengobrol dan bercerita, tangan kami juga tak berhenti memasuk-masukkan beberapa jenis jajanan ke dalam kotak karton untuk acara tujuh bulanan ini nanti.


“Kakek nggak datang?” tanyaku melihat pada Harun dan Kak Zahra bergantian.


“Datangnya baru sore nanti sama Tante Siti, rencananya.”


“Loh, nggak sama Om Andi? Atau emang Om Andinya nggak pulang?”


“Ini, kan cuma acara kecil-kecilan, setelah selesai pengajian sama doa-doa, kita bagiin makanan ke tetangga, udah gitu doang, Hann.”


“Ya, kan aku enggak tahu … oh, ya. Udah USG, Kak? Cewek atau cowok?” penasaranku seraya memegang perut Kak Zahra.


“C–”


“Coba tebak?”


“Cowok, ya?” tebakku asal.


“Iiih, kok tahu?”


“Padahal aku cuma ngasal sih, enggak tahu kenapa dari semalam aku nggak bisa tidur sambil nebak-nebak bayinya pasti cowok.”


“Bisa aja,”


“Sa- ah, Han … Hanna,”


“Iya?”


Aku menoleh ke kanan dan kiri, mencari ke sumber suara yang ternyata berasal dari manusia yang baru saja memasuki ruang tengah. Adrian yang baru muncul dari ruang tamu itu berdiri kikuk di sana. Apalagi hanya ada kumpulan ibu-ibu dan bocah laki-laki (Harun) di ruangan ini, pasti rasanya nggak nyaman karena hampir memanggil "Sayang" barusan. Segera aku pun beranjak dari dudukku dan mendekatiknya.


“Kamu bawa baju ganti buat aku, kan?” tanyanya dengan suara pelan.

__ADS_1


“Bawa kok, ada di tas, tadi masih di mobil kayaknya belum dibawa ke sini,” ujarku lugas.


“Aku mau ganti baju, kamar kamu … di mana?” tanyanya lagi.


Oh ya, aku lupa memang sejak kami saling berkenalan, akad, hingga dua bulan usia pernikahan kami, Mas Adrian belum pernah sekali pun menjelajahi seluruh ruangan di rumah ini. Bahkan di hari lamaran ia hanya duduk sampai di ruang tamu.


“Anterin aja Hann, biar kita yang lanjutin sisanya. Ini juga udah hampir selesai,” celetuk Kak Zahra mengusirku dengan cara halus.


“I, iya, Kak.”


Aku segera mendorong tubuh kekar Adrian ke luar rumah untuk mengambil tas berisi baju ganti yang sudah kusiapkan, kemudian mengantarkannya ke kamarku. Kamar yang masih tak berubah sedikit pun, kecuali baju-baju di lemari yang beberapa memang sengaja kutinggal di sana. Wangi parfum ruangannya masih tetap sama seperti sebelum aku meninggalkan rumah ini.


Sesaat setelah masuk ke dalam kamar yang biasa saja itu, Adrian melihat-lihat ke sekeliling dengan wajah terpananya. Melihat-lihat isi rak bukuku, meja belajarku, juga melongok keluar dari jendela kamar yang menghadap ke barat itu. Dari ekspresi wajahnya, bisa kuambil kesimpulan bahwa pria ini cukup antusias mencari tahu apa pun yang ada di ruang ini.


“Wellcome to my ordinary room.”


“Kamu tahu? Ruang yang indah bukan hanya karena ruangsn itu mewah. Kamu pintar menata ruang, dan … ruangan ini nyaman.”


“Iya, dan ruangan ini tempat aku menuliskan impian dan harapanku tiap sore, sambil duduk menghadap ke jendela,” tunjukku melihat pada jendela tempat Adrian masih terkagum.


Jika diingat lagi, beberapa tahun lalu aku pernah menulis penuh pada sebuah buku diary. Saat itu mungkin aku masih kelas sepuluh SMA. Secara garis besar, aku masih mengingat tulisan dalam buku itu. Setelah diingat-ingat lagi, inisiatifku untuk mencari buku itu tiba-tiba muncul dalam benak ini. Apa buku itu masih ada?


Perhatianku teralih pada rak buku di sebelah kiri yang tersusun rapi sesuai dengan bagaimana aku mengaturnya dulu. Setelah kucari beberapa saat dan dengan diamati oleh Adrian, akhirnya aku menemukan buku yang aku cari. Buku bersampul merah tua dengan tebal kira-kira tiga sentimeter.


Ingat akan tujuanku menulisnya dulu, membuatku malu sendiri sekarang. Aku hanya tersenyum sebentar kemudian mengembalikan buku itu ke dalam susunannya ketika rasa penasaran Adrian juga mulai bangkit. Tentu saja aku tak akan menunjukkan buku itu pada Adrian. Setidaknya sampai tak ada kecanggungan di antara kami berdua.


“Buku apa?” tanyanya seraya menautkan kedua alisnya.


“Diary waktu SMA. Tiba-tiba aja ke ingat buku itu. Tapi nggak penting kok,” balasku.


“Nggak ada hubungannya sama Garrin Wijaya lagi?” tanyanya sontak mengubah ekspresiku.


Kukira perang dingin kami sudah berakhir sampai Adrian menyebut lagi nama itu. Aku menahan kesal seraya menatap mata elang itu lekat tanpa berkedip. Tanpa sadar tanganku dengan beraninya mengungkung Adrian di dinding kamar itu.


“Jangan percaya sama omongannya. Aku sama Garrin enggak pernah ada hubungan lebih dari sahabat. Kalau kamu percaya dia …”


“Aku percaya kamu, Sayang …” ujarnya kemudian mencubit gemas hidungku.


Ia memegang sebelah tanganku, menahannya agar tak banyak bergerak, mendekatkan wajahnya beberapa senti dari leherku. “Ternyata kamu bisa agresif juga, ya? Tapi jangan sekarang, ya, enggak enak kalau suara kamu kedengeran sama orang-orang di bawah,” bisiknya menggodaku.


Aku bernapas besar-besar setelah Adrian melepaskan tanganku dan berdiri tegap di depanku. “Udah buruan sana ganti!”

__ADS_1


Untuk soal ini, aku selalu kalah, pipiku terlalu mudah memerah hanya dengan mendengar rayuan-rayuan Adrian. Bahkan tiap sentuhan kulit kami selalu memunculkan getaran-getaran aneh serupa sengatan listrik dan menimbulkan desiran-desiran halus dalam dada ini.


__ADS_2