Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Dinner


__ADS_3

Mas Adrian menghela napasnya berat. "Boleh aku minta tolong sama kamu?" ucapnya lirih.


Jujur saja aku tak suka mendengarnya menghela napas dan berucap lirih seperti orang yang kalah. Aku tak suka dengan Mas Adrian yang tampak begitu terpuruk dan patah semangat dengan apa yang harusnya kami hadapi sekarang. Tapi meski begitu, aku tetap membalas ucapannya.


"Aku minta tolong, nanti, tolong nggak usah kasih tahu Ummi, Kakak, Kakak Ipar, dan siapa pun soal Erwin, apalagi soal perusahaan. Ya?" Ujar Adrian menatapku lekat sebelum kami keluar dari mobil.


"Perusahaan itu amanah dari almarhum Baba, aku takut Ummi marah setelah tahu fakta itu. Aku takut melihat kekecewaan Ummi," tambahnya makin sendu.


Aku memegang lengannya mencoba menenangkan, "Iya, aku nggak akan cerita sama Ummi soal itu. Kamu tenang aja."


"Makasih, Sayang." Katanya kubalas dengan senyuman tulusku.


Kami berdua memasuki rumah Ummi segera disambut dengan hangat oleh beberapa asisten rumah tangga di sana. Mendengar suaraku dan Adrian, Ummi segera menemui kami dengan wajah gembiranya diikuti kakak ipar dan istri serta anak-anaknya. Ia memegang tanganku, membawaku dan Adrian sampai ke ruang makan.


Cumi-cumi saus inggris, cak kangkung, ayam rica-rica, gulai, rendang, dan sate klatak khas Jogja terhidang di atas meja makan. Ummi pun mengambilkan piring dan nasi untukku, sementara Adrian mengambil piring dan makan malamnya sendiri. Kakak ipar yang melihat pemandangan itu hanya tersenyum-senyum.


"Ayo dimakan, jangan sungkan-sungkan," ujarnya menyilakan kami.


"Iya Ummi."


Ini adalah satu hal yang baru aku tahu dari Ummi. Kalau beliau memiliki satu tujuan khusus, maka tujuan itulah yang akan didahulukan. Tujuan khusus Ummi sebenarnya adalah mengharapkan kami datang untuk makan malam, karena itu Ummi bahkan belum menanyakan kabar kami hingga selesai makan malam.


Baik aku mau pun Adrian sangat menikmati makan malam itu. Bukan hanya karena santapan yang dihidangkan, tapi juga karena kebersamaan di dalamnya. Entah bagaimana, aku jadi merasa nyaman dengan keluarga ini walau di awal sempat takut akan terasa canggung.


“Gimana kabar kalian?”


“Alhamdulillah … baik, Ummi.”


“Alhamdulillah."


"Adrian gimana Hann? Sering repotin kamu, nggak?” tanya Kakak ipar melirik pada adik laki-lakinya.


“Kayaknya aku yang lebih sering bikin Mas Adrian kerepotan,” ujarku melirik pada pria yang duduk di sebelahku.


“Bagus, repotin aja terus. Dia emang enggak bisa bertingkah dewasa, kalau udah direpotin baru bisa hilang sifat kekanakannya.”


“Iya, Adrian emang kekanakan, semoga kamu nggak kerepotan menghadapi sifat Adrian. Yah, namanya juga anak bungsu,” tambah Ummi.


“Ah engga Ummi … Mas Adrian orangnya dewasa, pemikirannya juga dewasa, malahan Hanna yang perlu banyak bimbingan dari Mas Adrian,” belaku diiringi tangan kanan Adrian mengusap kepalaku seperti anak kecil.


“Oh, ya. Kalian nanti tidur di sini, kan?” tanya Kakak Ipar memandangi kami bergantian.

__ADS_1


Aku dan Mas Adrian bertatapan selama beberapa saat. “Kayaknya nggak bisa, deh, Kak. Soalnya besok Adrian harus ke kantor pagi-pagi,” timpal Adrian beralasan.


“Cuma semalam kok, Hanna belum pernah tidur di sini, kan?” tambah Ummi.


“Ah, iya. Kalau cuma semalam nggak apa-apa, kan, Mas?” kataku meminta pertimbangan Mas Adrian.


“Iya, Sayang, tapi besok habis subuh kita harus cepat pulang,” sambung Adrian menggenggam tanganku.


“Nah, gitu dong, kerjaan kantor mah jangan dibikin pusing. Family time itu juga perlu,” imbuh Kakak Ipar.


“Iya deh.”


Percakapan pun berlanjut antara kami berlima di ruangan itu. Suasana tak sekaku yang kubayangkan hanya karena ini pertama kalinya aku datang ke rumah Ummi. Memiliki mertua yang baik adalah salah satu keajaiban yang patut disyukuri, kini aku mengerti posisi itu. Apalagi kakak ipar juga sangat baik, dan Elena menjadi sangat akrab denganku entah sejak kapan.


Perbincangan seru itu seakan tak bisa diakhiri hanya karena alasan waktu. Namun kemudian Kak Erina undur diri terlebih dahulu karena Elena telah terlelap di pangkuanku. Aku pun mengantarnya ke kamar bersama Kak Erina, meninggalkan Ummi bersama kedua anak laki-lakinya itu.


“Biasanya Elena tidur jam berapa, Kak?” tanyaku serentak menurunkan Elena dari gendonganku.


“Biasanya jam delapan malam, tapi karena hari ini di rumah Ummi banyak orang, dia juga kayaknya senang banget ketemu kamu, makanya dia baru tidur jam segini.”


"Kalau Alea udah bisa tidur sendiri, ya Kak?"


"Iya. Tapi kalau lagi manja, bisa-bisa tempat tidur adiknya dikuasai sama Alea sendiri."


"Oh iya, maaf ya jadi repotin kamu harus gendong Elena sampai ke sini."


“Nggak apa-apa, Kak, aku emang suka kok sama anak kecil, jadi nggak ngerasa direpotin. Nggak nyangka juga Elena bisa sampai tidur di pangkuanku, padahal kita baru dua kali ketemu.”


“Makanya kalian juga cepat bikin sendiri dong,” goda Kak Erina tersenyum lebar.


“Kebanyakan pasangan-pasangan baru itu nggak mau cepat punya anak karena alasan finansial. Kalau kalian kayaknya nggak mungkin karena alasan serupa, kan?" tambahnya.


“Mungkin belum waktunya aja, Kak.” balasku berjalan keluar dari kamar Kak Erina.


“Oh ya, hadiah dari aku sama Mas Danar, kalian udah pakai?”


Hadiah itu … isinya apa, ya? Bahkan aku lupa di mana naruhnya. Pikirku.


“Oh … itu ..., belum Kak.” Aku menggaruk kepalaku sesaat.


“Tapi aku salut loh sama Adrian. Di usia segitu dia tenang-tenang aja belum punya momongan. Mungkin harus kamu yang punya inisiatif, jadi agresif sedikit nggak ada salahnya loh, Han.” bisiknya lagi-lagi memaksaku menarik senyum.

__ADS_1


“Ya udah, Kak, selamat malam, selamat istirahat.”


Keluar dari kamar Kak Erina, aku kembali ke ruang keluarga karena jujur saja aku bahkan tak tahu di mana kamar Mas Adrian di rumah ini. Dan apa yang kulihat sekarang, ruang keluarga telah kosong tanpa seorang pun di sana. Aku sempat berpikir mungkin saja kamar Mas Adrian di lantai dua. Tapi aku memilih duduk sebentar di ruang makan dari pada naik ke lantai dua dan harus linglung sendiri.


“Hanna,” panggil Ummi mengalihkan perhatianku.


“Eh, iya, Ummi?” Aku segera berdiri mendekat padanya.


Wanita itu tersenyum melihatku, “Makasih, ya, udah datang ke sini malam ini. Makasih juga karena udah bujuk Adrian untuk nginap di sini walau cuma semalam,” ucapnya berbinar.


“Iya, Ummi, mulai sekarang, Hanna sama Mas Adrian akan sering mampir ke sini, deh.”


"Adrian jarang, bahkan hampir nggak pernah mau tidur di sini. Katanya, setiap kali dia menginjakkan kaki di rumah ini, dia selalu ingat dengan Ayahnya. Bahkan semua baju dan pakaian di kamar Adrian tak ada satu pun yang dibawa ke rumahnya, karena semua itu memiliki makna yang mendalam untuk Adrian sendiri." terang Ummi berkaca-kaca.


Benar juga, aku bahkan belum tahu alasan meninggalnya Ayah Mertua. Kenapa Adrian tak pernah cerita soal itu? Apakah ada sesuatu yang tak biasa dari meninggalnya Ayah Mertua, sampai membuat Adrian menolak melihat benda-benda di rumah ini?


“Eh, maaf malah cerita in kamu cerita sedih gini."


"Nggak apa-apa Ummi. Hanna justru senang karena Ummi mau cerita tentang Mas Adrian yang belum Hanna tahu."


"Jaga Adrian, ya, Nak. Ummi tahu kamu wanita yang Inshaa Allah tepat untuk Adrian." Ummi memelukku cukup lama.


"Dan, ini surat untuk Adrian yang Ummi bilang tadi, selamat istirahat, ya.” Tangan itu menyodorkan amplop coklat bertuliskan alamat dan nama penerima.


“Oh iya, kamar kalian di lantai dua pintu pertama. Kamar lamanya Adrian,” tunjuk Ummi.


Setelah menerima surat itu, mengakhiri pembicaraan dengan Ummi, aku melangkah pasti menaiki tiap anak tangga dari marmer itu menuju ke lantai dua. Di pintu pertama sebelah kanan, aku berdiri beberapa saat. Mengetuk pintu kayu itu pelan, kemudian masuk ke dalamnya.


Mas Adrian mungkin sedang di kamar mandi, terdengar dari suara air yang bergemercik dari sana. Apa ini yang dirasakan Adrian saat pertama kali masuk ke kamarku di rumah Ayah-Bunda? Kenapa sekarang aku merasa takut karena ini bukan milikku. Perhatianku terbawa menuju sisi dinding yang penuh dengan foto, piala, dan medali.


Seperti baru mengenal Adrian, aku terpana dengan semua dokumentasi prestasi-prestasi suamiku itu. Dan lagi, foto Mas Adrian bersama ayah mertua di rumah sakit membawa suatu rasa bagiku yang hanya bisa melihatnya. Seolah aku bisa merasakan seperti apa rasanya ketika Adrian memaksakan senyum saat kamera mengarah pada mereka.


“Aku masih dua puluh delapan tahun waktu itu. Baba memintaku segera menikah, bahkan beliau mengatakan aku tak akan mendapat istri jika usiaku sudah lebih dari tiga puluh tiga tahun.” Adrian menatap lurus pada foto yang kupegang.


“Tapi ternyata Baba salah, aku bertemu dengan wanita luar biasa dan berhasil mendapatkan istri sebaik dan secantik Hanna Aleesa diusiaku ke tiga puluh lima,” pungkasnya meraih foto dalam bingkai kayu itu.


“Kamu mirip banget sama ayah mertua di foto ini,” ujarku.


“Semua juga bilang begitu, tapi mungkin sifatnya tak diwariskan kepadaku. Kak Danar lebih mirip dengan Baba, dia lebih bijaksana, dia nggak ceroboh sampai tertipu oleh asisten pribadinya sendiri.” Mas Adrian tertawa sedih menertawakan dirinya sendiri.


“Kamu masih memikirin soal itu, seakan itu semua salah kamu sendiri?” Aku menatap Adrian dengan dua alis yang bertaut.

__ADS_1


“Iya, aku tahu kamu pasti mau bilang kalau itu hanya persoalan dunia, tap–”


Dua tanganku telah berhenti pada leher Adrian dengan posisi sedekat ini. Aku menghentikan kalimat Adrian seperti ketika ia menghentikan kalimatku. Berebut oksigen dan saling mengimbangi kemampuan kami hingga AC ruangan tak sanggup mendinginkan tanganku yang bersentuhan langsung dengan epidermis dada bidang itu.


__ADS_2