
Seingatku, sebelum jam kamar menunjukkan pukul sebelas malam aku sudah terlelap meringkuk di atas kasur dan bermimpi indah. Tapi pukul dua pagi, aku bisa tiba-tiba terbangun hanya karena merasa pintu kamar terbuka. Aku menyingkap selimutku melihat Mas Adrian masuk ke dalam ruangan ini.
“Belum tidur?” tanyanya melihatku yang mengubah posisi menjadi duduk.
“Udah tidur dari tadi. Barusan kebangun karena ngerasa ada yang buka pintu.”
“Udah-udah …, pintunya udah kukunci lagi. Tidur lagi aja, ya, masih jam dua pagi.”
“Semuanya udah pada pulang?” tanyaku dengan suara serak.
“Ayah sama Bang Ali barusan pulang diantar Erwin, Kak Danar juga pulang bawa mobilnya sendiri,” jelasnya.
Ia mengusap puncak kepalaku. “Udah ya …, sekarang tidur lagi aja. Masih terlalu pagi untuk bangun.”
"Aku mau salat dulu aja. Kamu kalau udah ngantuk tidur aja. Nanti sebelum subuh aku bangunin." Kataku berjalan menuju kamar mandi.
Air wudhu itu sejuk menyapa kulitku, menembus tiap inchi yang rindu akan terpaan segarnya. Tinggal suara hewan-hewan malam dan hening malam yang menemani tiap dua rakaat salatku. Setelah menengadahkan tangan pada sang pemilik hidup untuk mengutarakan segala harapan, dan mencurahkan rasa syukur atas nikmat sampai dengan saat ini, lantas mengakhirinya dengan hamdalah dan al-fatihah.
Setelah melipat dan menyimpan kembali mukena, aku kembali ke tempat tidur. "Kenapa nggak tidur?"
"Nungguin kamu."
Adrian mengembuskan napasnya berat ketika aku kembali duduk bersandar di kepala ranjang. “Aku tiduran di pangkuan kamu, ya?”
Aku mengangguk pelan, serentak membuat Adrian dengan antusias merebahkan tubuhnya. Tak lupa ia menjadikan pahaku sebagai bantalan kepalanya. Ia juga membawa satu tanganku ke atas dadanya, sehingga detak jantung tak beraturan itu bisa kurasakan, bahkan membuatku tersenyum dengan sendirinya. Ternyata seorang pria yang terlihat sangat tenang ini pun bisa berdebar jika dipertemukan dengan orang yang tepat. Beruntung sekali aku bis amenjadi pemicu debaran jantung itu.
“Gimana hari ini? Cape?” tanyanya dengan mata terpejam.
“Nggak juga. Mungkin cape ku terbayar dengan kepuasan melihat acara hari ini berjalan lancar. Apalagi kita bisa kumpul dengan kerabat.”
“Tadi aku lihat salah satu pengasuh panti ada yang sampai mau cium tangan kamu dan berterimakasih berkali-kali. Emang amplop tadi kamu isi berapa?”
“Itu uangku sendiri kok. Aku ambil dari tabunganku.”
“Bukan gitu …, aku cuma penasaran aja. Nggak apa, kan, kalau aku tahu nominalnya?”
“Dua juta seratus.”
“Hah?!”
“Iya amplopnya aku isi dua juta seratus ribu.”
Adrian menahan tawa dengan mata lurus menatapku. “Pantas aja waktu tadi kamu titipkan uang itu untuk anak-anak, pengasuhnya pada kaget. Tapi, ya, semoga bisa dimanfaatkan dengan baik lah.”
“Emang di paket yang kamu kasih buat anak-anak itu, kamu isi berapa?” Aku balik melempar pertanyaan.
“Aku minta diisi dua ratus sepuluh ribu.”
"Kenapa ada angka dua sama satu?"
"Nggak tahu, kepikirannya segitu sih."
__ADS_1
“Ternyata kita bisa sepemikiran juga, ya? Aku kira om-om 36 tahun ini nggak punya satu pun kesamaan pikiran sama istrinya.”
“Makanya, jangan suka meragukan om-om 36 tahun. Om-om gini pun masih bisa jadi sangat peduli dengan istrinya. Apalagi kalau istrinya muda begini.”
“Ih, si om genit, ya?”
“Genitnya sama istri sendiri, emang salah?”
“Nggak salah sih. Tapi awas aja kalo di luar juga genit begitu.”
“Mana pernah sih?”
Emang kalau di luar, Adrian nggak pernah genit sih, tapi kalau lagi di luar selalu aja ada cewek-cewek kegenitan yang deketin. Apa ini yang disebut, pesona pria dewasa? Ah sudahlah, syukuri aja punya suami ganteng gini.
"Kok diem? Udah ngantuk nih?"
"Belum. Cuma kepikiran sesuatu."
"Sesuatu apa hayo?"
“Itu ..., Tadi aku lihat kayaknya ada wanita yang ngajak kamu ngobrol di bawah tangga. Siapa? Kenalan kamu?”
“Oh ya, aku lupa kenalin kamu sama Aria. Dia wanita yang kumaksud sewaktu aku bilang jatuh cinta untuk pertama kalinya.”
“Artinya, dia gadis yang menolak lamaran kamu, dan memilih untuk jadi sukarelawan di negara konflik itu, kan?”
“Iya. Dia kehilangan suaminya sewaktu berada di Irak, ketika tengah mengandung putera pertama mereka.”
“Tidur dulu aja, belum adzan subuh kok. Semalam kamu cuma tidur sebentar.”
Setelah mendengar bisikan itu, aku tak lagi berontak dan menuruti kantuk yang masih menguasai diri. Aku kembali dibangunkan oleh suara adzan terakhir yang berkumandang di masjid dekat rumah kami. Saat itu pun Adrian masih juga belum bangun dari tidurnya. Namun segera kubangunkan sebelum ia terlambat pergi ke masjid.
Pagi harinya, kami menjalani sarapan normal. Ada aku, Adrian dan Khadija yang menyantap sarapan bersama. Jujur, lama kelamaan, aku sudah mulai beradaptasi dengan situasi itu yang menjadi rutinitas tiap pagi. Khadija dan Adrian membahas tentang pergi ke rumah sakit siang ini, dan Adrian yang mencoba mengusahakan untuk mencuri waktu makan siang. Sedangkan aku duduk menyimak keduanya.
Tak lama adanya momen kami bertiga, karena selanjutnya Adrian harus segera berangkat kerja. Tapi lagi-lagi pria tiga puluh enam tahun itu melupakan hal terpenting yang harusnya menjadi prioritasnya untuk dibawa kerja. Adrian melupakan laptopnya di perpustakaan rumah. Membuatku setengah berlari mengejarnya.
“Khadija? Mas Adrian mana? Udah turun?” Tanyaku pada Khadija yang baru berjalan dari lantai bawah.
“Udah di depan, atau ... mungkin udah berangkat.”
“Astaghfirullah …, gimana sih.”
Tanpa berpikir panjang, aku meneruskan langkah cepatku menuruni anak tangga. Sampai setengah jalan aku berlari, kejadian yang sama terulang untuk kedua kalinya. “Ah!” Kakiku menginjak tumpahan cairan di anak tangga, sehingga mengacaukan keseimbanganku.
“Hey awas!” Mas Adrian menangkap tubuhku yang hampir tumbang membentur lantai marmer.
Ia berhasil menyelamatkanku, tapi tidak dengan laptopnya yang jatuh terbanting sampai ke lantai dasar.
“Siapa yang tumpahin cairan di sini!” Aku tersentak. Untuk kedua kalinya mendengar Adrian berteriak. Bahkan Khadija yang ada di lantai atas segera berlari turun mendengar teriakan itu.
“Panggil semua asisten rumah tangga ke lobi depan! Nggak akan ada alasan dan maaf lagi kali ini,” sengit Adrian seraya merengkuh bahuku berjalan pelan ke lobi.
__ADS_1
“Mas, sabar …, istighfar dulu. Tarik napas pelan, jangan langsung meledak gini ,” bisikku berusaha menenangkannya.
“Tadi itu hampir aja. Coba kalau aku terlewat satu detik dan nggak bisa nangkap kamu. Aku nggak bisa bayangin apa yang akan terjadi.”
“Udah, udah. Kita duduk dulu, atur napas. Lihat, aku juga nggak kenapa-napa, kan? Allah masih baik sama kita. Kamu jangan bikin mereka takut.”
Semua berkumpul di lobi dengan atmosfer menyeramkan dari Adrian. Sembilan orang berjajar di depan kami seraya menundukkan kepala. Aku tak tega melihat mereka dengan wajah ketakutan seperti itu, tapi Adrian yang marah memang tak bisa dihentikan. Meski kemarahannya sudah lebih turun dari sebelumnya, tapi masih saja aura menyeramkan itu terasa mencekam.
“Jawab dengan benar. Di antara kalian, siapa yang menumpahkan air di tangga?”
Semua terdiam selama beberapa waktu. Sampai Adrian mengulangi kalimat yang sama untuk kedua kalinya, dan mereka hanya saling melirik, tak berani menjawab.
“Kalau tidak ada yang berani jujur, saya akan konfirmasi dengan Pak Han untuk memutar rekaman CCTV.”
“Sa- saya mengaku salah, Pak!” Mba Puput bersuara dengan tangannya yang bergetar. “Maaf Bu, saya yang lalai menjatuhkan botol air mineral tapi tidak segera membersihkannya.”
Adrian lagi-lagi bernapas berat. “Silakan semuanya kembali ke tugas kalian. Kecuali Puput, sekarang juga kamu buka ruang pertemuan, dan tunggu saya di sana.” pungkas Adrian mengakhiri kemarahannya.
Ia masih bernapas berat dengan mata terpejam sembari memegangi keningnya. Setelah cukup tenang, Adrian pergi mengambil air wudhu dan mengajakku menyusul Mba Puput di ruang pertemuan. Di hadapan kami, Mba Puput bersumpah bahwa itu adalah ketidaksengajaannya dan sama sekali tidak ada niat ingin mencelakaiku. Ia sampai menangis untuk membenarkan ucapannya. Meski bisa saja air mata itu adalah air mata buaya, tapi dari kacamataku, ia tak sedang berbohong.
Tak hanya sampai di situ, Adrian secara bergantian memanggil asisten rumah tangga yang lain untuk diberi pertanyaan berbeda. Keputusan bulatnya, Adrian tetap akan memindahkan tugas Mba Puput, sehingga ia tidak harus tinggal di rumah ini lagi. Aku mengerti betul kepercayaan Adrian terhadap Mba Puput yang runtuh karena kejadian pagi ini. Tapi sepertinya kebijakan itu tak cukup adil untuk Khadija.
Beberapa saat setelah Mba Puput diminta kembali ke kamarnya untuk mengemasi barang, Khadija datang ke ruang pertemuan. Sesuai perkiraanku, ia memohon pada Adrian agar mengizinkan Mba Puput tinggal di rumah ini. Karena bagaimana pun juga, di hampir semua aktivitas Khadija selalu ditemani oleh Mba Puput selama ini.
“Aku akan carikan asisten baru yang lebih kompeten.”
“Ini bukan masalah kompeten atau tidak. Berapa lama Mba Puput kerja sama kamu, Mas? Apa cuma karena satu kali ketidaksengajaan ini dia sampai harus keluar dari rumah?” Khadija semakin terbakar amarah karena ucapannya tak diindahkan. Melihat situasi itu, aku berniat meilipir pergi agar keduanya bisa saling bicara dengan kepala dingin.
“Aleesa, kamu tetap di sini.” Adrian menghentikanku yang baru beberapa langkah menjauh.
“Aku cuma memindahkan tempat tugasnya. Masih untung aku nggak memotong kontrak kerjanya.”
“Kenapa? Kenapa Mba Puput yang harus keluar hanya karena ‘hampir’ menyelakai Hanna. Tapi Mba Rina nggak harus keluar padahal dia yang udah bikin tangan aku kayak gini.” Khadija menunjukkan kulit tangannya yang berubah warna akibat cipratan minyak panas.
“Jadilah sedikit dewasa, Karinda. Mba Puput pernah terlibat hal yang sama sampai Aleesa kehilangan janin dalam kandungannya, dan itu adalah anakku. Apa aku harus diam jika ke depannya anakku harus menghadapi kejadian yang sama? Pagi ini hanya sebuah keberuntungan karena aku masih sempat mencegah hal buruk terjadi. Tapi siapa yang bisa menjamin ke depannya hal seperti ini nggak akan terulang lagi?”
“Aku mau pulang ke rumah Paman Herman. Jangan mencegahku pergi! Dan akan lebih baik kalau selama aku pergi, kamu dan istrimu ini berpikir lebih dalam tentang keputusan kalian.” Khadija berlalu keluar dari ruang pertemuan.
“Khadija!” Aku berteriak hendak mengikutinya.
“Bukannya dia sendiri yang bilang untuk jangan mencegahnya?” Adrian berucap datar, menahan pergelangan tanganku.
“Kamu gila, ya?! Kalau Khadija nggak balik gimana?”
“Dia pasti balik lagi ke rumah ini. Pak Herman bukan sosok paman yang rela melindungi tanpa imbalan apa-apa. Dia nggak akan pergi lama.”
Aaargh! Kenapa semuanya jadi seperti ini! Aku mendengus dalam keheningan ruangan yang menyisakan kami berdua. Setelah dua jam menunda untuk berangkat kerja, akhirnya Adrian pergi ke kantornya meski waktu hampir menunjukkan saat makan siang. Ia juga memabawaku bersamanya untuk alasan keamananku. Tapi tetap saja rasa bersalah pada Mba Puput dan Khadija yang pergi dari rumah, masih mengganjal. Seakan tahu betul dengan apa yang kupikirkan, Adrian menggenggam tanganku dan mengucapkan kalimat-kalimat yang bisa menenangkan pikiranku saat itu.
"Jangan khawatirkan hal lain, tugas kamu sekarang adalah menjaga diri kamu tetap sehat mental maupun fisik. Aku juga nggak mungkin membuat keputusan tanpa memikirkan bagaimana ke depannya."
"Sebenarnya sengaja aku membiarkan Karinda pergi dari rumah untuk sementara waktu, untuk melihat apakah dia masih akan berusaha mencari-cari Puput. Yang kulihat, Puput tidak memberikan efek baik untuk Karinda selama ini."
__ADS_1
Jadi sebenarnya Adrian sudah memperhitungkan semuanya? Dan ini semua ia lakukan demi siapa?