Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Karinda adalah Karinda


__ADS_3

Aku kembali membuka mata saat tubuhku telah terbaring di tempat tidur. Kesadaranku pulih dengan kedua mata ini mendapati Mba Rina dan satu asistennya duduk menungguku. Pusing dan rasa seperti berputar menyerang kepalaku sesaat. Kupaksakan tubuhku untuk duduk sementara mengingat-ingat kembali apa yang terjadi sebelumnya.


"Jangan banyak bergerak dulu, Bu. Anda baru saja siuman," ujar Mba Rina memberikan bantalan untuk punggungku bersandar.


Ia juga sigap memerintahkan asistennya mengambilkan air minum. "Bawa air minumnya ke sini!"


"Silakan diminum dulu."


"Berapa lama aku pingsan?" tanyaku dengan suara serak.


"Hampir dua jam. Kami segera membawa anda pulang setelah tubuh anda melemah dan terjatuh."


"Ah, anda mau jeruk? Saya kupas kan, ya?"


"Nggak usah. Nanti aja." Aku memegangi keningku seraya menunduk.


"Oh ya. Adrian di mana?”


“Pak Adrian sedang ... be, berbicara dengan Henri di ruang tamu.”


“Berapa lama mereka bicara?”


“Lima belas menit yang lalu.”


“Karinda? Di mana?”


“Karinda pergi dari rumah. Dia kabur setelah melihat Henri datang ke rumah ini. Tapi anda tidak perlu khawatir, Hugo dan anak buahnya sudah diminta untuk mencari keberadaan Karinda, mengawasinya dari jauh untuk memastikan ia baik-baik saja. Semuanya akan baik-baik saja.” Mba Rina mencoba menenangkanku.


Ia mengisyaratkan pada asistennya yang kemudian keluar dari kamarku. Pergi entah ke mana. Kini kembali kepalaku pening dipenuhi oleh Karinda. Bahkan aku sudah tak bisa memanggilnya Khadija sekarang. Mendengar sekilas informasi yang dikatakan Henri, aku nyaris tak percaya. Wanita yang sangat kuhargai, bahkan contoh teladan baikku, yang pada akhirnya aku harus tahu kenyataan menyakitkan tentangnya.


Sampai beberapa saat, aku tak berani beranjak dari tempat tidur. Asisten Mba Rina yang kembali dari luar, membawa serta dokter Jennie bersamanya untuk memeriksa keadaanku. Menurut dari penjelasannya yang bisa kutangkap, aku hanya mengalami keterkejutan yang pada orang normal dan sehat akan berefek pada badan lemas, jantung berdebar atau keringat dingin. Tapi, kemungkinan karena aku sedang hamil, efeknya bisa sampai pingsan.


Setelah mendengar penjelasan Dokter Jennie, ia pamit pulang tanpa memberi resep apa-apa. Hanya memintaku untuk lebih berhati-hati ketika bergerak dan jangan melakukan aktivitas fisik yang terlalu berat. Dan kini tersisa aku, Mba Rina, dan satu asistennya dalam kediaman. Beberapa kali ia menawarkanku jeruk dan buah beri yang asam sesuai saran dokter. Tapi beberapa kali pula aku menolaknya.


Tok! Tok! Tok!


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam.”


Aku menelan salivaku, melihat Mas Adrian berjalan mendekat dengan raut muka yang tak dapat kubaca. Gambaran sedih, sesal, dan rasa takut. Mungkin itu yang tengah dirasanya dalam ekspresi wajah penuh tekanan. Ia mengambil kursi, membawanya ke sebelah ranjang dengan jarak setidaknya satu meter duduk menghadapku. Mba Rina dan asistennya pun berjalan keluar seraya menutup pintu kamar.


“Gimana? Masih pusing?” tanyanya dari jarak sekian meter.


Kedua alisku bertaut heran melihat Mas Adrian yang sengaja menjaga jaraknya. “Aku sudah dengar semuanya. Tentang Henri dan suami Karinda,” timpalnya.


Ini salahku! Apa yang bisa kulakukan?


Bibirku hanya bungkam mendengarnya. Mataku berlinang air mata tak tertahan. Tapi keberadaan Mas Adrian di sana hanyalah penonton dari isakan dan tangisanku. Ia tak sedikit pun berpindah dari duduknya, walau hanya sekedar menyeka air mata itu.


“Bukan salahmu, Hanna. Kami akan segera bercerai, dan itu memang sudah seharusnya.”

__ADS_1


Untuk pertama kalinya seorang Adrian memanggilku dengan nama Hanna. Kini ia memanggilku dengan nada yang terdengar seperti orang asing. Aku tak suka suaranya yang seperti itu. Aku tak mau ia memanggilku demikian. Tangisku pun makin menjadi karenanya.


“Kamu mungkin marah padaku. Tapi inilah yang sebenarnya harus terjadi. Aku akan segera menyelesaikan semuanya. Jadi, bulan depan aku bisa pergi ke Vancouver tanpa beban.”


Aku masih tak sanggup memberinya balasan atas kalimat yang ia ucapkan. Bibirku kaku, dan kata-kata dalam otakku ini tak bisa keluar dengan mudahnya.


“Hanya itu yang ingin aku katakan. Kamu pasti mengerti, kan? Saat ini tolong jangan ganggu aku dulu. Aku perlu waktu berdua saja dengan Allah.”


Adrian bangkit dari kursi yang diambilnya. Ia keluar tanpa bisa kutahan. Aku ingat betul ekspresinya yang penuh tanda tanya di mataku. Sekarang aku harus bagaimana?


...----------------...


Sampai malam tiba, Karinda tak kembali ke rumah ini. Menurut pencarian Hugo, Karinda pulang ke rumah Pamannya dan tidak ingin diganggu sampai ia memutuskan siap untuk menghadapi kenyataan yang sebenarnya.


Di ruang makan, aku melihat sekeliling yang hening. “Adrian mana?” Pertanyaan semudah itu tak ada seorang pun yang sudi menjawabnya, sampai kulihat Erwin berjalan ke luar dari salah satu kamar tamu yang berada di lantai satu.


“Pak Erwin?”


“Iya, Nyonya?”


“Adrian mana?”


“Pak Adrian sedang di kamar tamu. Beliau akan keluar dari kamar setelah selesai dengan urusannya.”


“Berapa lama lagi?”


“Saya juga tidak tahu. Tapi beliau berpesan untuk tidak mengganggu waktu beliau. Jika sudah tidak ada yang ingin anda tanyakan, saya pamit mohon izin untuk pulang.”


Erwin kemudian melangkah dengan langkah kecil, mengikutiku ke arah ruang keluarga. Dengan tarikan napas dalam, ia menceritakan padaku dari awal. Ketika Henri datang dan lekas menyulut emosi Adrian. Pengakuannya sebagai adik ipar Karinda, dan menyebutkan tentang pernikahan siri antara Karinda dengan Ryan.


Mereka menikah tujuh tahun silam, atau sekira satu tahun setelah pertemuan Adrian dan Karinda tentang perjanjian yang mereka buat. Awalnya, Ryan berniat untuk menikahi Karinda secara agama dan secara hukum. Tetapi, Karinda menolak dengan alasan, ia masih ingin bersekolah, dan tidak ingin statusnya itu menjadi penghalang baginya untuk menempuh pendidikan.


Ryan adalah seorang arsitek bangunan. Ia sudah memiliki niatan untuk menikahi Karinda secara hukum dan agama. Tapi kala itu Karinda beralasan bahwa pernikahan mungkin akan menghalangi studinya. Karena itu, keduanya sepakat untuk menikah secara agama, tanpa pencatatan ke kantor urusan agama. Karinda juga menuntut agar Ryan bisa menjaga jarak dari Karinda. Setidaknya sampai ia lulus dengan gelar sarjana. Ketidak adaannya di sisi Karinda, membuat Karinda merasa lebih bebas.


Setidaknya dua kali dalam sebulan, Ryan pulang untuk menemui Karinda. Dan setiap bulan, tak pernah ia lupa untuk menjalankan kewajibannya memberikan nafkah. Selama beberapa tahun semua berjalan sebagaimana mestinya. Hingga Paman Karinda itu mulai mencampuri hal-hal tentang hubungan mereka. Pernikahan antara Karinda dan Adrian adalah rencana yang telah disusun oleh Pamannya, demi kepentingan pribadi.


"Karena itu, mulai besok Hugo yang akan mengurus berbagai dokumen untuk proses perceraian."


"Perceraian adalah hal paling dibenci oleh Allah. Apa Adrian sudah berpikir dua kali untuk memutuskannya?"


"Benar sekali. Pak Presdir sudah tahu kalau anda akan menghalangi beliau menceraikan Karinda. Karena itu beliau menitipkan pesan ini pada saya."


Pak Erwin kemudian membuka selembar kertas berisi tulisan tangan dari dalam sakunya. "Ini merupakan pendapat dari madzhab Maliki, yang menyatakan barangsiapa yang merusak pernikahan seorang perempuan dengan suaminya, maka tidak dihalalkan baginya untuk menikahinya, bahkan diharamkan atasnya menikahinya untuk selama-lamanya. Sehingga tidak ada alasan bagi saya (Adrian) untuk mempertahankan pernikahan yang sejak awal memang tidak boleh terjadi."


"Astaghfirullahhal'adziim."


"Hari ini, banyak sekali hal yang terjadi. Kalau boleh saya jujur, bukan hanya persoalan Karinda yang membuat Pak Presdir demikian."


"Memangnya ada hal lain apa?"


"AA Corps di Vancouver yang dipegang oleh sepupu Pak Adrian, mengalami penurunan saham drastis akibat duplikasi data. Hal ini berpengaruh pada hotel-hotel yang juga dipegang oleh nama AA Corps. Bisa dibilang, sekarang Pak Adrian sedang mendapat tekanan untuk bisa mengembalikan nama baik perusahaan. Dan satu-satunya jalan terbaik sekarang, Pak Adrian sendiri yang harus ke sana."

__ADS_1


"Adrian nggak pernah bilang soal perusahaan yang dipegang sepupunya. Tapi dia sempat bilang akan pergi ke Vancouver setelah urusan perceraian ini selesai," ucapku lirih.


Pak Erwin berdiri dari duduknya. "Sepertinya tugas saya hari ini sudah selesai."


"Terimakasih atas kerjasamanya."


"Saya yakin anda adalah satu-satunya orang yang bisa membantu Pak Adrian dari keterpurukan yang beliau rasakan seorang diri. Pak Presdir sangat membutuhkan bantuan anda, Nyonya."


"Terimakasih sudah mengatakannya."


Kepulangan Pak Erwin membawaku pergi ke kamar tamu, tempat Adrian bersembunyi dari kehidupan di rumah ini. Pintunya tak dikunci, sehingga dengan mudah aku bisa masuk ke dalamnya dan melihat Adrian tengah bersujud di atas sejadahnya. Perlahan aku menutup pintu, kemudian menunggunya sembari duduk di tepi ranjang. Tanpa menghiraukan keberadaanku, Adrian melanjutkan salatnya. Ia mengulanginya hingga aku tertidur di atas tempat tidur.


Aku tertidur cukup lama, hingga kembali terbangun pukul dua dini hari. Adrian kulihat masih ada di atas sejadahnya, sehingga kaki ini pun bergerak dengan sendirinya menuju kamar mandi dan mengambil wudhu. Setelah itu, kugelar sejadahku di belakang Adrian.


Adrian sekilas melirik sejadah yang baru saja kugelar, meski tanpa bicara satu kata pun. "Tolong imami aku salat tahajud."


Ia tak bicara, tapi juga tak menolaknya. Adrian mengeraskan bacaan salatnya dan kami melaksanakan empat kali dua rakaat tahajud.


"Jangan begini, Mas." Mendengar suaraku, ia membatalkan takbiratul ihram untuk kesekian kalinya.


"Kamu nggak hidup sendiri sekarang. Kita bukan dua orang asing yang hidup dalam satu rumah tanpa hubungan apapun. Aku tahu mungkin kamu ingin banyak menghabiskan waktu berdua saja dengan Allah. Tapi jangan jadikan alasan itu untuk mengabaikan istrimu. Aku ingin mendengarmu berkeluh-kesah padaku. Menceritakan masalahmu dan mencari jalan keluarnya bersama."


"Kamu belum makan dan minum sama sekali sejak kemarin, kan? Aku tidak bisa diam melihat kakimu bengkak, dan lihat kantung mata yang menghitam itu, seakan berkata bahwa kamu hanya tidur sepuluh menit sejak kemarin. Tolong, Mas, jangan seperti ini." ujarku berakhir menjadi isakan.


Setelah mendengarku berkata panjang lebar, ia pun luluh. Seketika ia memelukku dan menangis mengatakan betapa takutnya ia pada seperti apa kemurkaan Allah padanya yang telah mencampuri wanita yang telah memiliki suami. Ia menangisi kebodohannya dan berkali-kali mengatakan takut pada besarnya dosa yang ia perbuat.


"Istighfar, Mas. Allah adalah maha pengasih dan penyayang. Tidak ada dosa yang tidak diampuni karena begitu luasnya pengampunan Allah. Kita hanya perlu berusaha melakukan sebagaimana yang Allah perintahkan, dan jangan berburuk sangka atas keputusan-Nya."


Setelah cukup tenang, aku keluar untuk menghangatkan makanan dan menemaninya makan hingga selesai.


Lalu aku pergi ke kamar mandi, mengambil air hangat dan garam untuk merendam kedua kakinya yang bengkak. Ia menurut dan diam saja melihatku melakukan semua itu. Tatapannya masih penuh beban dan ketakutan.


Seiring waktu berlalu, sampai dengan adzan subuh berkumandang, kami lebih banyak saling terdiam. Setelah usai menunaikan salat subuh, ia tertidur dalam pangkuanku. Aku pun bersandar pada pinggiran ranjang selagi Mas Adrian tertidur di atas sajadah berbantalkan pangkuanku itu. Sekiar pukul delapan malam, aku terbangun dari tidur dalam posisi duduk ketika kurasakan kakiku mati rasa karena keram.


"Tepat dengan keberangkatan kamu ke Vancouver, baby sudah berusia delapan bulan. Kalau kamu bisa cepat menyelesaikan urusan di sana, kamu bisa jadi saksi lahir anak pertama kita."


Adrian yang mengunyah makanan dari suapan terakhir berhenti beberapa saat. "Benar. Aku nggak mungkin melewatkan momen penting seperti itu."


"Eh, baby-nya nendang."


"Dia pengen banget dinotice sama Papanya nih."


"Papa nggak akan ke mana-mana, kok, Nak."


"Kamu sudah bicara dengan suami Karinda?"


"Dia ada di Palu, tapi kemarin aku sempat berbicara dengannya melalui panggilan di ponsel Henri. Mengingatnya membuatku merasa bersalah. Suaranya terdengar seperti seorang pria baik-baik. Jauh lebih baik dariku."


"Ayo besok kita belanja pakaian untuk baby. Aku ingin segera keluar dari pikiran negatif tentang Karinda."


Benar. Adrian tak lagi memanggilnya Khadija setelah tahu kenyataan tentangnya. Sama seperti anggapanku, nama istri Rasulullah tak bisa lagi dipakaikan untuk seseorang seperti Karinda. Sekarang, Karinda adalah tetap Karinda.

__ADS_1


__ADS_2