
“Jadi gimana? Kapan kita silaturrahmi ke rumah-rumah tetangga?”
“Mungkin besok aja kalau kamu udah nggak gitu repot.”
“Atau nanti malam aja? Kayaknya hari ini aku nggak akan pulang larut.”
“Boleh sih, Mas. Tapi, nanti kita ada bawa apa dong buat dikasih ke tetangga?”
“Apa, ya? Mungkin kue? Tapi kita harus beli dong.”
“Gimana kalau aku bikin sendiri?”
“Emang bisa?”
“Kamu meragukan kemampuan memasak istrimu ini?”
“Enggak …, aku percaya sih kalau kamu bisa. Tapi, emang kamu nggak ada kerjaan lain yang perlu dikerjain?”
“Kan, kerjaku cuma nunggu kamu pulang. Kalau kerjaan rumah tangga, mah biasalah itu. Kecil.”
Mas Adrian mengacak rambutku yang terurai, “Ternyata Aleesa-ku udah bertransformasi menjadi ‘Ibu-Ibu berdaster’ ya.”
“Sebentar lagi juga kamu bakal jadi bagian dari ‘Bapak-bapak komplek’.”
Mas Adrian tertawa mendengarku, rasanya lega karena kecanggungan pagi tadi tak berlanjut hingga kini. Waktu sarapan jadi lebih berwarna dengan tawa dan candaan ringan. Sehabis olahraga dan sarapan, Mas Adrian bergegas mandi sebelum akhirnya berangkat ke tempat kerja barunya. ‘Calon tempat kerja baru’ lebih tepatnya.
Setelan senada, dasi, tas, dan perlengkapan lainnya sudah kubantu siapkan, sehingga memudahkan Mas Adrian melalui hari pertamanya. Bukan hanya Mas Adrian sendiri yang berdebar karena hari pertama, aku pun yang hanya bisa menunggu sembari berdoa di rumah ikutan berdebar menunggu hasilnya nanti.
Dengan membawa mobil yang diberikannya untukku sebagai hadiah, Mas Adrian meninggalkan rumah sekitar pukul tujuh lebih lima belas menit. Semoga empat puluh lima menit tak kurang untuk berada di tengah kemacetan jalan pagi ini.
Aku sendiri segera mengerjakan tugas rumah sepeninggal Mas Adrian. Bagiku ini bukanlah hal yang sulit karena rasanya seperti mengulang keseharian ku dulu semasa kuliah. Bersih-bersih rumah dan sekitar, cuci piring dan pakaian, hanya saja, kini ada lebih banyak pakaian yang harus kucuci. Tak bisa kubayangkan kalau aku juga harus merawat anak suatu saat nanti. Apa aku bisa?
Ting! Tong! Ting! Tong! Suara bel rumah ditekan beberapa kali, aku segera berlari mengambil hijabku kemudian membukakan pagar, dan menyilakan dua orang tamu itu masuk. Setelah keduanya duduk di ruang tamu, aku pergi ke belakang untuk membuatkan minum, baru kembali ke depan untuk kemudian mengobrol.
“Perkenalkan, nama saya Yasmin. Saya tinggal di depan rumah, kemarin baru saja pindah, dan ini suami saya, Rizal. Semoga kita bisa bertetangga baik kedepannya.”
“Saya Hanna, kebetulan suami saya baru berangkat kerja, kami juga baru pindah beberapa hari ini. Oh ya, silakan diminum tehnya.”
“Iya, terimakasih.”
“Mba Hanna ini sudah ada kerja atau jadi ibu rumah tangga?” tanya Pak Rizal melihatku dengan tatapan kurang nyaman.
“Saya Ibu Rumah Tangga.” Jawabku mengurangi senyuman.
“Wah, sayang banget. Padahal kelihatannya pintar, sudah gitu cantik pula. Tapi cuma bisa dinikmati sama suaminya sendiri.”
Spontan aku memalingkan pandanganku dari pasangan suami istri yang bertamu itu. Aku mengerti ucapan Pak Rizal mungkin hanya candaan, tapi sepertinya ia mengatakan hal itu tanpa memperhatikan sopan santun. Setelahnya aku hanya lebih banyak terdiam, tak memberikan mereka pertanyaan lagi, karena faktanya kehadiran mereka jadi membawa hawa tak mengenakkan di rumah ini.
“Kalau begitu kamu permisi dulu, ya …, masih banyak tetangga yang perlu kami kunjungi.”
__ADS_1
“Ah iya, terimakasih sudah mampir.”
“Sama-sama, Mba Hanna juga boleh mampir ke rumah kami sewaktu-waktu, saya selalu ada di rumah kok,” tawar Pak Rizal sebelum akhirnya keduanya meninggalkan pekarangan rumah.
Huuft …, melelahkan. Padahal rasanya ini baru hari pertama bisa menikmati kehidupan normal di komplek ini. Kenapa tiba-tiba sudah ada rasa tak nyaman lagi. Semoga ini hanya perasaanku saja.
Untuk mengalihkan perasaan tak nyamanku, aku segera mandi dan salat dzuhur. Sehabis salat dzuhur, aku menghubungi Mas Adrian, sekedar menanyakan kabar, dan meminta izin keluar rumah untuk membeli beberapa bahan kue. Setelah diizinkan, aku pun memeriksa rumah sekali lagi, kemudian pergi ke supermarket terdekat.
Terigu, maizena, mentega, hingga keju dan bahan-bahan lain sudah masuk ke dalam bagasi. Selanjutnya adalah pertarungan memasak di dapur, atau mungkin lebih tepat kalau aku menyebutnya sebagai bersenang-senang di dapur. Ayo! Semangat Hanna!
“Hanna?” Suara itu memanggilku dari arah belakang. Spontan aku berbalik melihat ke arahnya.
“Ya?”
“Ternyata betulan Hanna. Apa kabar? Kebetulan banget bisa ketemu di sini, lagi belanja bahan makanan?” tanyanya seraya melihat bagasi yang belum sempat kututup.
“Oh, mau bikin kue ya? Ih, jadi kangen sama pastry buatan kamu,” cetusnya diiringi tawa.
“Udah ya, Rin, aku buru-buru.” Responku menunjukkan rasa tak nyaman.
“Eh, udah mau pergi aja.”
“Iya nih, duluan, ya!” pamitku segera berlalu menghindari laki-laki itu.
Ketika kukemudikan mobil hitam itu menjauh dari tempat parkir menuju jalan raya, masih tampak Garrin berdiri di tempatnya. Apa tadi aku kurang sopan, ya? Tapi, aku nggak bisa lama-lama bertemu dengannya, apalagi statusku sebagai seorang istri.
“Garrin Wijaya ….” Tanpa sadar bibirku menggumam lirih menyebut nama laki-laki itu.
Kecepatan mobil kuturunkan ketika sampai di gang masuk komplek. Pikiranku tentang Garrin segera kutebas habis, terganti oleh resep kue yang akan kubuat nanti. Sampai di depan rumah, ketika aku baru hendak membuka pagar rumah, sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel itu.
[LINE Chat]
Mas Adrian : Assalamu’alaikum,
Mas Adrian : Alhamdulillah semuanya lancar, desainku diterima bahkan dipuji, inshaa allah ini jadi rezeki kita
Hanna Aleesa : Waalaikumsalam warahmatulah
Hanna Aleesa : Alhamdulillah, Mas, selamat, ya
Mas Adrian : Oh ya, aku udah di jalan pulang nih, kamu mau nitip sesuatu?
Hanna Aleesa : Nggak usah, hati-hati aja jalannya, jangan ngebut
Mas Adrian : Iya, Sayang …
Aku tersenyum sesaat membaca pesan itu.
“Senyum-senyum sendiri, ada apa tuh?”
__ADS_1
Aku segera menoleh pada suara yang cukup membuatku terkejut. “Oh, Pak …, ah, bukan apa-apa.”
“Aduh …, Mba Hanna kok jadi sungkan begitu sama saya? Padahal tadi waktu senyum cantik banget loh,” tukasnya dengan tatapan yang membuatku semakin tak nyaman.
“Maaf, Pak, saya masuk dulu.”
“Mba Hanna kenapa sih? Bawaannya menghindar terus kalau ada saya.”
“Maaf, Pak, saya minta maaf kalau kesannya saya menghindari Pak Rizal, saya cuma nggak enak kalau sampai dilihat tetangga. Apalagi sampai menimbulkan prasangka yang tidak-tidak.”
“Ya udah kalau gitu biar cepat, saya langsung to the point aja. Saya mau minta kontaknya Mba Hanna dong.”
Hah?! Apa-apaan orang ini. Aku terdiam sebentar, menunduk untuk menghindar dari tatapannya.
“Maaf, Pak, sepertinya lain kali saja. Suami saya juga belum pulang.”
“Apa sih! Saya cuma mau minta kontaknya Mba Hanna kok, bukannya mau ketemu sama suaminya Mba Hanna.”
“Iya, Pak, tapi saya nggak bisa memberikan konta–”
“Ada perlu apa, ya, Pak?” Seseorang yang baru keluar dari ferrari putih itu menghampiri kami.
“Saya ada urusan dengan Mba Hanna. Anda siapa, ya?” Pak Rizal balik bertanya.
Sesaat aku melihat padanya, mengisyaratkan bahwa ini bukanlah hal yang baik. “Sepertinya bukan urusan yang penting. Tamu mana yang berani menghambat tuan rumah, bahkan sebelum tuan rumah menyilakan masuk.”
“Cih! Ternyata begini cara memperlakukan pendatang baru di kompleks ini,” gerutu Pak Rizal kemudian berbalik kembali ke rumahnya.
“Makasih, ya, Rin. Tapi, maaf gue nggak bisa nawarin lo masuk.”
“Iya, nggak apa-apa, gue tahu kok.”
“Oh iya, kenapa lu bisa ada di sini?”
“Gue ada perlu, sama Ad– sama suami lu.”
“Oh, bentar lagi Mas Adrian pulang kok, mau ditunggu, aja? Maksud gue, nunggu di dalam mobil lu.”
"Iya. Gue tunggu di mobil aja." Garrin melangkah kembali ke mobilnya yang terparkir di pinggir jalanan komplek.
Segera kubuka pagar rumah dan pintu garasi, kemudian masuk kembali ke mobil sebelum kejadian itu menyita lebih banyak waktu yang harusnya kugunakan untuk memasak. Aku benar-benar membiarkan Garrin Wijaya menunggu di luar rumah sementara aku telah bertransformasi menjadi seorang koki dan bersiap dengan semua peralatan dapur. Pertama adalah Pie Crust, kemudian Nastar, dua jenis kue itu adalah resep kue yang paling dikuasai oleh tangan-tangan Hanna Aleesa. Satu jam berlalu, adonan sudah masuk ke dalam oven. It’s chill time!
Sengaja aku berjalan ke ruang depan untuk memastikan apakah Adrian sudah pulang. Dan tanpa sengaja sepasang mataku ini mendapati pemandangan yang baru pertama kalinya kulihat. Di luar rumah, atau tepatnya di luar pagar, Mas Adrian tampak berbincang akrab dengan Garrin. Keduanya sesekali menampakkan senyum seakan mereka adalah sahabat akrab.
Apa aku salah lihat? Pikirku kemudian segera kembali ke dapur.
“Assalamu’alaikum …, hey, ya ampun, kangen banget seharian nggak ketemu.” Mas Adrian mendatangiku sampai ke dapur lantas memelukku.
“Waalaikumsalam. Itu tadi, di depan siapa, Mas?” tanyaku hanya dibalasnya dengan kediaman.
__ADS_1
“Kuenya udah jadi?”
Tunggu, apa? Adrian mengalihkan topik?