
Hari Jumat, sebulan setelah lamaran atau tepatnya masih dalam bulan syawal, tibalah akad nikah yang membuatku tak bisa tidur nyenyak selama berhari-hari sebelumnya. Kembali jantungku berdebar ketika baru akan keluar dari ruang make up. Akad nikah diselenggarakan di gedung yang sama dengan acara resepsi yang baru akan digelar keesokan harinya.
Ayahku duduk berhadapan dengan Pak Adrian. Hatiku semakin tergetar ketika hanya sanggup melihat punggung Pak Adrian dari jauh mengucapkan ijab qabul.
"Adrian Al-Faruq bin Harris Al-Faruq, Ankahtuka wazawwajtuka makhtubataka Hanna Aleesa Putri Darmawan binta Haidar Darmawan alal mahri, maedin thamin khamsumiayat jiram hallan."
“Qabiltu nikahaha watazwijaha alal mahril madzkuur wa radhiitu bihi wallahu waliyut taufiq,”
"Sah!" Setelah terucap kata itu, selanjutnya dibacakannya doa hingga seluruh yang hadir mengaminkan. Aku semakin menunduk dalam, Bunda, Ummi, serta Kak Zahra memelukku dengan cucuran air mata, sementara keluarga besar dari kedua belah pihak tersenyum bersukacita.
"Mempelai wanita memasuki ruangan."
Kak Zahra membantuku bangkit dari duduk menuju ke tempat Ayah berada. Benar saja, Ayah menitikkan air mata. Beliau yang dulunya tak pernah akrab denganku, menunjukkan rasa sayangnya melalui air mata yang menetes sebagai wujud rasa beratnya melepasku menjadi istri dari laki-laki di depannya itu. Setelah mencium tangan Ayah dan memeluknya cukup lama, baru kemudian Ayah mengantarku sampai kepada Pak Adrian.
Kami berdua berhadapan di tengah riuhnya sanak saudara yang mengelilingi kami sebagai tokoh utama dalam acara sakral malam itu. Ia tak menyentuhku, melainkan meletakkan tangannya di atas kepalaku seraya mengucap doa. Jantungku berdegub kencang ketika tangan kanannya berhenti di atas kepalaku selama beberapa waktu. Mataku tak kuasa menaikkan pandangan untuk melihatnya secara langsung dengan jarak kami yang hanya beberapa puluh senti. Jangankan melihat dalam jarak sedekat itu, membayangkan wajahnya saja aku masih belum berani.
Cahaya dari jepretan kamera di berbagai sisi yang mendokumentasikan momen itu menambah ketakutan dan rasa campur aduk dalam hatiku. Rasanya seperti aku ingin lari dari tempat itu. Jantungku semakin melompat-lompat ketika untuk pertama kalinya kulit tangan yang halus itu memasangkan cincin di jari manisku, bersentuhan langsung dengan epidermis tanganku. Perasaan yang lebih membuncah, ketika bergantian aku memasangkan cincin hitam itu ke jari manisnya. Tanganku bahkan spontan bergetar hebat hanya karena memasnagkan cincin.
"Aku tuh paling nggak suka sama formalitas begini. Rasanya jadi malas dan mengundang kantuk. Apalagi semalam aku nggak bisa tidur," bisik Pak Adrian lirih, spontan mengundang tawaku.
Dia berusaha tidak membuatku takut?
"Kukira aku sendiri yang semalaman nggak bisa tidur," balasku sama lirihnya.
"Benar, kan? Aku juga udah ngantuk dan cape banget ini. Mungkin kalau nggak harus jaga image, aku udah lari ke kamar. Punggungku cape banget, pengen rebahan." keluhnya lagi-lagi menarik senyumku. Ternyata pria itu bisa mengeluh seperti anak kecil.
Kemudian aku diminta mencium tangannya, berganti bibirnya mengecup keningku cukup lama. Perasaanku kembali membuncah seiring jantung yang ingin meletup. Ingatanku tentang pertama kali kami bertemu, ketika kami menjalani taaruf, hingga ajakannya untuk menikah di ruang interview, dan pengakuanku di depannya yang juga disaksikan sang asisten. Kini semua itu menjadi saksi perjalanan kisah realita kami.
Meski rasa tak percaya itu masih ada, tapi semuanya benar-benar terjadi pada kehidupanku. Mungkin hidupku akan 100% berubah setelah memutuskan pilihan terbesarku ini. Aku hanya berharap dalam lubuk hati, semoga ini memang jalan terbaik yang Allah pilihkan untukku.
Setelah ijab qabul malam itu, baik aku mau pun Adrian sama-sama penat karena tak bisa tidur selama beberapa hari sebelumnya. Sehingga tak terjadi apa pun di malam setelah ijab qabul. Baru ketika menjelang subuh, aku sempat terkejut karena seorang pria tidur lelap satu ranjang denganku. Namun setelah kuingat lagi, benar bahwa kami memang sudah menikah.
Selanjutnya adalah acara resepsi yang mengundang banyak teman dan kerabat kami. Khadija memberikan ucapan selamatnya dengan antusias, seraya memelukku. Ia datang bersama Garrin yang tak begitu lama melihatku, dan mencoba memaksakan senyumnya. Ini kali pertama aku melihat Garrin setelah ia pamit pergi hari itu.
Selain itu, banyak pula teman-teman lain yang datang. Seperti teman-teman Pak Adrian yang sengaja datang dari berbagai negara untuk memenuhi undangan. Bahkan tanpa sungkan Pak Adrian mengenalkanku kepada mereka, pun sebaliknya. Acara berjalan cukup baik, tapi tubuh ini rasanya tak tahan jika harus berdiri lama-lama.
"Ummi, Adrian sama Aleesa istirahat dulu, ya sebentar," pamitnya kemudian mengajakku keluar dari keramaian.
Seperti peramal, Pak Adrian seolah tahu aku lelah berdiri dan memaksakan senyum dalam waktu yang lama. Ia pun mengajakku beristirahat segera setelah berpamit dengan Ummi.
"Kamu belum makan, kan? Kamu mau makan apa? Bilang aja, biar Erwin yang bawain ke sini," tawarnya ringan.
__ADS_1
"Apa aja, Pak. Yang penting jangan pakai nasi," ucapku segera dibalasnya dengan anggukan kepala dan kilas senyum.
"Sayur enggak pakai nasi, anterin ke restroom sekarang." Pria itu dengan mudahnya memerintah melalui ponsel dari sakunya.
"ACnya kurang dingin, ya?" tanyanya gelisah.
"E, enggak kok, Pak ... udah dingin ini," komentarku.
Dengan kegelisahannya itu, ia lantas melepas jas yang dipakainya dan duduk di sampingku, meletakkan kepalanya bersandar pada sofa. Aku ingin mengatakan sesuatu kepada pria ini, tapi kata-kataku tersangkut di tenggorokan, aku hanya terdiam cukup lama, bimbang apakah aku akan mengataknnya atau tidak.
"Pak, anda terlihat lebih muda dari usia anda. Awalnya saya tidak percaya kalau anda sudah kepala tiga. Dan lagi ... menurut saya anda lebih tampan jika dilihat dari dekat. Bahkan saya berpikir anda terlalu sempurna untuk saya yang biasa-biasa saja ini."
Seandainya semudah itu untuk mengungkapkan apa yang kutahan saat ini. Tapi nyatanya susah hanya untuk mengatakannya secara langsung. Jadi, kurasa akan lebih baik kalau aku menyimpannya hingga aku punya cukup keberanian untuk mengungkapkannya.
Tok! Tok! Tok!
Aku segera berdiri menuju pintu restroom, ketika baru kusadari Adrian ketiduran karena sebegitu lelahnya. Pak Erwin yang berdiri di luar pintu memberikan sepiring sayur tanpa nasi sesuai permintaan Adrian. Aku pun menerimanya sebelum Pak Erwin pamit pergi lagi.
Kuletakkan pelan piring itu ke atas meja. Mataku tak bisa lepas mengamati pria itu yang terlelap bersandar pada sofa. Bahkan saat tidur pun pesonanya tak luntur sama sekali. Sepertinya sihir pria itu sudah meracuni mataku. Sesaat kemudian aku beralih melihat pemandangan ke luar dinding kaca dari lantai lima puluh enam. Langit siang itu cerah secerah suasana hatiku.
"Baba..."
Aku terkejut sesaat mendengar Adrian mengigau. Segera aku mendekatinya ketika pria itu terus menyebut 'Baba' berkali-kali.
"Ugh!" Adrian terbangun dengan cucuran keringat dan air mata.
Dengan cepat kuambil handuk dari kamar mandi. Kuberikan handuk itu untuk mengusap keringat yang membasahi hampir seluruh tubuhnya itu. Sesaat Adrian masih mengatur napasnya karena terkejut. Namun beberapa saat kemudian, ia mengucapkan terima kasih seraya tersenyum.
"Aku … barusan mengigau?" tanyanya kemudian.
"Iya, Bapak mengigau, apa Bapak merindukan seseorang?" balasku balik bertanya.
"Baba. Tiba-tiba aku merindukan Ayahku." Pria itu mencoba menutupi raut kesedihannya.
"Saya tahu ini pasti berat buat Bapak, tapi ... saya yakin, almarhum Ayah mertua akan bahagia jika melihat anak bungsunya juga bahagia." Tanganku mengusap lengan kekar itu, mencoba menghiburnya.
Ia menghela napas panjang setelah diam cukup lama, kemudian menatapaku. "Aku … dengar kamu manggil namaku,"
"Iya, karena Bapak mengigau, jadi ... saya coba membangunkan Bapak,"
"Bukan, maksudku kamu manggil namaku. Aku dengar suara kamu memanggilku Adrian," pungkasnya membuatku menelan salivaku sendiri.
__ADS_1
"Itu ... sepertinya Bapak yang salah dengar." Aku beranjak mengembalikan handuk ke kamar mandi.
"Oh, mungkin begitu. Tapi aku masih menunggu sampai kamu terbiasa memanggil namaku secara langsung. Habiskan makanannya, setelah itu kita bisa segera kembali," ujarnya lugas, mengangkat tubuh dari sofa restroom.
"Hmm ... Bapak enggak ikut makan?" tawarku.
Pria itu segera berbalik. “Apa boleh?”
"Sepertinya saya tidak sanggup menghabiskan makanan sebanyak ini."
Dengan gerakan cepat, Adrian kembali duduk di sebelahku. "Bisa ... kamu suapi aku?"
Deg!
******
Acara pernikahan mewah seperti yang diharapkan oleh Nyonya besar Al Faruq atau yang sekarang kupanggil Ummi, baru selesai pukul sebelas malam. Sangat lelah, selama seharian harus berdiri dan menyambut tamu yang datang, sembari memasang senyum. Sementara kini saat hanya ada aku sendiri, sebuah pertanyaan terlintas dipikiranku.
Aku pulang ke mana malam ini?
Tubuhku berdiri seorang diri di depan lobi hotel tempat resepsi pernikahan itu. Entah bagaimana tiba-tiba aku bisa berjalan sampai ke sini sendirian. Seingatku aku tadi masih berbincang dengan kakak dan Khadija, sejak kapan mereka pergi meninggalkanku seorang diri di sini.
"Permisi ... Nyonya, anda sudah ditunggu di depan." Pak Erwin, asisten Pak Adrian itu datang membawa jawaban atas pertanyaanku.
Deg! Tiba-tiba saja jantungku berdetak kencang seraya mengikuti langkah asisten Pak Adrian itu.
Benar saja, mobil warna putih itu telah menungguku. Di dalamnya tampak Adrian yang mengenakan kacamata, tengah duduk dengan membaca buku tebal. Aku pun masuk dan duduk dengan canggung di sebelahnya tanpa berkata.
"Jalan, Pak!" Perintah Pak Erwin pada driver pribadi itu.
Sepanjang jalan hampir tak terdengar suara Adrian, kecuali sesekali ia menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Pak Erwin seperlunya. Ia juga sama sekali tak mengajakku bicara. Membuat suasana semakin canggung, hingga akhirnya aku mencari kesibukan lain dengan membuka ponselku. Beberapa teman dan kerabat jauh yang tak sempat hadir hari ini mengirimiku ucapan selamat, aku pun tersenyum membalasnya satu per satu.
Terlalu asyik berbalas pesan dengan teman dan kerabat, aku tak sadar mobil yang kami naiki telah berhenti. Aku baru tersadar kala tangan besar itu menyentuh lengan kiriku, "Aleesa?"
"Ah ... Iya, Pak?" ucapku spontan. Pak Erwin yang mendengarku memanggil Adrian dengan sebutan “Pak” mencoba menahan tawanya.
"Kita udah sampai," lanjut Pak Adrian tanpa mempedulikan sikap Pak Erwin.
Aku pun turun, diikuti Pak Adrian, dan Pak Erwin. Inilah jawaban yang sebenarnya. Malam ini, aku akan tidur di rumah pribadi milik Pak Adrian, rumah yang dulunya hanya pernah kusinggahi ketika Ummi mengundang untuk acara makan malam. Lagi-lagi aku hanya menunduk, melihatnya dengan jarak sedekat ini hanya membuatku semakin gugup. Setelah menunggu Pak Erwin dan driver pribadi itu menurunkan barang-barang kami, akhirnya mereka berdua pamit pulang.
"Tugas saya hari ini sudah selesai, kalau begitu saya izin pulang sekarang, Tuan, Nyonya," pamit Pak Erwin seraya menunduk hormat, lantas kembali masuk dalam mobil itu lagi.
__ADS_1
Tak perlu waktu lama, sesaat kemudian Pak Erwin masuk kembali ke mobil yang mengantarkannya pulang. Pak Adrian pun mengajakku masuk ke dalam rumah yang masih asing untukku, meski ini bukan pertama kalinya aku datang ke sini. Rasanya, rumah yang luas, sepi, dan sejuk ini bahkan terlalu mewah untuk jadi tempat tinggalku nanti. Aku masih tak percaya akan tinggal di sini dan akan menghabiskan sisa usiaku bersama dengan Pak Adrian.
Apakah aku masih akan hidup malam nanti? Besok? Lusa? dan seterusnya?