Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Kembali Bertemu


__ADS_3

"Mau ke mana sih, Kak?" Sekali lagi, dan Harun masih terus menanyakan ke mana aku hendak pergi, mengikutiku sampai ke beranda rumah kami.


"Makan malam, Harun, adikku yang tampan." jawabku sekali lagi mencubit pipinya.


"Iya. Tapi di mana? Lokasinya itu di mana?"


"Aku enggak tahu persisnya di mana, tapi ada alamatnya kok."


"Terus Kakak ke sana naik apa?"


"Kakak naik taksi, ini udah pesan kok." balasku seraya membenarkan hijab yang kupakai.


"Mobil Ayah enggak dipakai loh,"


Aku menghela napas panjang menghadapi bocah cerewet itu. "Tapi, kan Kakak juga enggak tahu di mana tepatnya, jadi mendingan Kakak naik taksi aja. Udah ya. Kakak pamit, Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam,"


Aku berjalan ke arah taksi yang telah menunggu di depan rumah. Berdasarkan alamat yang kutuju, perjalanan dari rumahku ke alamat yang diberikan tak begitu jauh. Perlu sekitar 26 menit, akhirnya aku sampai di sebuah rumah mewah dengan model rumah masih sangat baru. Rasanya tak mungkin jika aku menjadi salah stau dari undangan yang bisa masuk ke dalam rumah american modern itu. Tapi akhirnya aku tetap melangkah masuk meski agak ragu, namun beberapa saat kemudian seseorang menghampiriku.


"Apakah anda ... Nona Hanna?" tanya pria memakai tuxedo rapih itu.


"Iya benar, saya Hanna," balasku.


"Ah ternyata tidak salah lagi. Silakan ikuti saya, Nona. Nyonya besar sudah menunggu anda." ujar pria itu mengantarku masuk hingga bertemu dengan wanita yang kutemui di kereta.


"Mashaa Allah. Cantiknya anaknya Ummi" Wanita berjilbab panjang itu menyambutku. Ia juga memelukku seperti ketika kami berpisah di stasiun waktu itu.


"Assalamu'alaikum, Bu."


"Wa'alaikumsalam. Jangan panggil 'Bu', panggil Ummi aja."


"Ah, iya, Ummi."

__ADS_1


"Tadi naik apa? Susah nggak nyari alamatnya?"


Setelah menyapa dan beramah-tamah, Nyonya besar Al-Faruq menceritakan kepadaku maksud dan tujuannya mengadakan makan malam ini. Acara ini diadakan sebagai bentuk rasa syukur karena anak bungsunya telah resmi diangkat menjadi penerus perusahaan pengganti suaminya yang meninggal. Nyonya Al-Faruq juga bercerita tentang betapa sulitnya ia membujuk putranya agar mau melanjutkan perusahaan yang hampir bangkrut itu.


Di tengah jamuan yang hanya dihadiri oleh lima puluh tamu undangan itu, kehadiranku tampaknya cukup menarik perhatian. Pasalnya, sedari tadi Nyonya Al-Faruq terus menggandeng tanganku ke mana pun ia pergi, memperkenalkanku sebagai 'anak perempuan'nya pada tamu-tamu yang lain. Tapi entah bagaimana, aku tak begitu malu karena aku memakai hijab yang menutupku tak seperti biasanya. Di sela-sela perbincanganku dengan Nyonya Al-Faruq pun, beliau sempat menyinggung tentang hijabku setelah selesai acara utama makan malam.


"Hanna cantik loh kalau pakai hijab panjang begini, Ummi lebih suka lihat Hanna yang seperti ini," pujinya seraya tersenyum memandangiku.


Padahal gamis dan hijab ini kupinjam dari Kak Zahra. Batinku.


"Sebenarnya Hanna juga mau berhijab, Ummi, tapi masih ragu," curhatku.


Nyonya Al-Faruq menggenggam tanganku, "Apa yang bikin Hanna ragu? Kamu nggak nyaman pakai kain yang panjang begini? Atau takut dengan penilaian orang?" tanyanya membuatku merasa seperti sedang berbicara dengan ibuku sendiri.


"Akhlak Hanna belum sebagus jilbab Hanna," ucapku lirih, tapi hatiku bergetar tiba-tiba.


"Astaghfirullah ... Jangan gitu, Hann. Justru sebagai seorang muslimah, lakukan apa yang bisa dilakukan lebih dulu, yang penting niatnya baik. Nanti pasti akan berubah juga pelan-pelan," nasihatnya membuatku menitikkan air mata.


"Sebenarnya sehari sebelum pulang ke rumah, Hanna sempat menangis karena mendengar sholawat di salah satu kios di pasar. Tiba-tiba air mata Hanna jatuh begitu mendengar suara-suara itu menyebut 'Rasulullah dan Muhammad'. Tiba-tiba Hanna takut, Ummi."


"Sejak hari itu, Ummi. Hanna merasa kurang nyaman ketika orang lain memandangi Hanna. Tapi Hanna masih merasa belum pantas memakai pakaian seperti Ummi." ungkapku.


"Sekarang begini saja, yang terpenting adalah Hanna meyakinkan diri sendiri. Kemana Hanna mau melangkah? Karena yang tahu apa yang terbaik untuk kamu adalah diri kamu sendiri. Inshaa Allah, Nak, selalu ada jalan untuk memperbaiki diri. Apalagi Hanna, kan masih muda."


"Setelah dari sini, kamu bisa mulai dari salat taubat, kamu minta ampun, dan kamu bisa menjadi Hanna sebagai muslimah yang baru," sambungnya.


Berbicara dengan Nyonya Al-Faruq seolah menjadi hal berarti bagiku. Setiap kalimatnya memiliki pesan yang membuka mata hatiku, seolah membangunkan kembali jiwa muslimahku yang semula meredup hampir padam. Di samping perkataannya yang memotivasi, dapat kulihat indahnya menjadi seorang muslimah hanya dengan melihat pada sosoknya.


Ia mungkin kaya, tapi ia menganggap apa yang dimilikinya di dunia adalah sesuatu yang berharga. Usianya mungkin tergolong tua, tapi semangatnya tak padam untuk tetap menjalin silaturrahmi. Bahkan dari wajahnya pun tampak cerah bercahaya, dan awet muda dari usia yang sebenarnya. Hari dimana kami bertemu, sepertinya bukan hanya suatu kebetulan, melainkan ketetapan Allah yang sudah ditakdirkan untuk kami saling mengenal, hingga aku bisa menceritakan diriku, dan mencari jawaban dari satu per satu pertanyaan yang belum mampu kucari jawabannya.


Di tengah-tengah pembicaraan menarik antara aku dan Nyonya Al-Faruq, seseorang mendatangi kami. "Hanna?" panggilnya seraya melihat ke arahku.


"Loh? Garrin, di sini juga?" Aku balik bertanya melihatnya.

__ADS_1


"Dari tadi aku lihat kamu, mau menyapa duluan, tapi takut salah orang. Abisnya kamu kalau pakai hijab gini, cantiknya bikin pangling, Hann."


"Ah, kamu mah becanda terus," ucapku mencoba merendah. Sesungguhnya dalam hati ini perasaan campur aduk itu tiba-tiba datang lagi. Aku berasa mabuk hanya dengan dipuji oleh makhluk nyaris sempurna tapi tak bersayap ini.


"Beneran kok,"


"Kalian berdua ini ... temenan?" sela Nyonya Al-Faruq yang masih duduk di sampingku.


"Iya Ummi, Hanna ini adik tingkat saya. Dia ikut program double degree dan baru pulang Australia. Hanna ini yang paling muda loh di fakultasnya," jelas Garrin membuatku tersipu.


Bergantian Nyonya AL-Faruq menatapku. "Wahh, Hanna belum cerita sama Ummi."


Sungguh pertemuan yang sangat tidak disengaja. Setiap kali bertemu dengan laki-laki ini perasaanku selalu sama, dan hatiku mulai berharap. Padahal tak ada yang bisa diharapkan dalam kedekatanku dengan Garrin. Pasalnya kami sangat jauh, sejauh aku memegang tasbih, sementara masih ada salib tergantung di lehernya. Kenyataan seperti ini pernah membuatku merasakan pahitnya menelan kecewa.


*****


Aku mengangguk-angguk di hadapan Kakak dan Adikku yang baru saja menceritakan semua tentang CV Ta'aruf di mejaku itu. Rupanya Kak Zahra sebentar lagi akan mengakhiri masa lajangnya. Aku benar-benar bahagia mendengarnya, lebih lagi ketika diceritakan bahwa Kak Zahra sebenarnya telah menyimpan perasaan kepada laki-laki itu. Sebagai adik, tentu saja aku mendukung Kakak perempuanku.


Dan hari itu tiba, seorang laki-laki berparas tampan itu mendatangi rumah sederhana kami dengan maksud melamar Kak Zahra setelah semua sesi ta’aruf yang mereka lewati. Meski sedikit terkejut, tapi aku berusaha menutupi keterkejutanku dengan senyuman. Bagaimana aku tak terkejut jika ternyata pria yang dimaksud melamar Kak Zahra adalah Ali Abdullah Naafi Darwanto. Laki-laki itu adalah anak kedua dari Guru bahasa Inggrisku dan Kak Zahra ketika SD.


Lebih-lebih, Kak Ali adalah salah satu mantan pacarku ketika aku SMP. Ya, itu hanya kenangan 6 tahun silam ketika Kak Ali masih SMA. Tentunya bukan merupakan hubungan yang serius, karena bahkan aku tak memberitahu siapa pun kalau kami berpacaran. Tapi kurasa Kak Ali masih mengenaliku hingga pertemuan tak terduga itu membuatnya tak bisa menahan senyum dan tersipu malu.


"Kak Ali kok senyum-senyum gitu sih?" bisik Harun padaku.


"Mungkin dia udah tahu kalau lamarannya bakal diterima, jadi dia merasa situasi ini seperti permainan drama," jawabku asal.


"Tapi senyumnya ke arah sini, Kak Hann." bisiknya lagi.


"Hsst, udah, jangan berisik."


Kedatangan Kak Ali didampingi keluarganya disambut baik oleh Ayah dan keluarga kami. Lamaran itu diterima dan singkatnya pernikahan akan segera dilaksanakan bulan depan. Kakak tampak sangat bahagia, dan aku lebih bahagia lagi karena akhirnya Kakak tak menutupi kebahagiaannya.


Setelah seminggu di rumah, aku kembali ke realita kehidupan kampus dan segala kesibukannya. Meski begitu, silaturahmiku dengan Nyonya Al-Faruq masih berlanjut. Beliau jadi lebih sering menghubungiku bahkan untuk menanyakan hal-hal yang sederhana. Tentang pernikahan Kakakku, aku juga menceritakannya pada suatu kesempatan. Lantas, Nyonya Al-Faruq menitipkan salamnya pada keluargaku dan memberi ucapan selamat untuk Kak Zahra.

__ADS_1


Di kampus, entah mengapa aku jadi semakin sering bertemu dengan Garrin dalam sebuah ketidaksengajaan. Ia juga kerap menraktirku makan siang bersama dengan Khadija, karena aku tak mungkin menerima tawaran itu jika hanya kami berdua yang makan siang.


Selain itu, sesuai dengan niatku, kini Hanna menjadi Hanna yang baru. Setelah meyakinkan diri, kini aku merubah penampilanku, aku memutuskan untuk berhijab dan pelan-pelan mengubah satu per satu kekhilafan yang pernah kulakukan. Tentunya aku tak bisa berubah sendirian, aku memerlukan pertolongan Khadija dan Nyonya Al-Faruq yang begitu mengerti Islam lebih dariku. Aku sendiri bahagia mendapat dukungan positif dari orang-orang di sekitar.


__ADS_2