
“Mas …,” panggilku mulai menyerah.
Setelah beberapa detik menunggu respon dan tak terdengar suara sama sekali, aku pun segera keluar dari kamar mandi. Jadi dari tadi aku takut keluar padahal di sini nggak ada orang? Ya ampun …. Lebih parah lagi karena semua pakaianku sejak tadi kuletakkan di lantai kamar. Memang dasar manusia kalau marah suka seenaknya.
Clik!
“Sayang …, mandinya udah selesai?”
Spontan kutarik selimut dari atas ranjang, meringkuk di depan lemari. “Aleesa? Kamu kenapa?” Adrian mendekat panik.
Oh Tuhan ...! Cobaan apalagi ini!
“Aku nggak apa-apa kok. Kamu mandi aja kalau mau mandi.”
“Aku barusan mandi di bawah. Kenapa tidur di lantai? Perut kamu sakit lagi?”
"Enggak."
"Terus kenapa? Mau aku bantu?"
Sepasang mataku kupaksa memejam karena malu dan kesal sekaligus, “Aku belum pakai baju!”
Krik! Krik! Krik!
Mas Adrian justru duduk di pinggir ranjang, tak melepaskan matanya dariku barang sedetik. “Kamu masih kesal soal yang tadi?” tanyanya datar.
Ya Allah …, kenapa dibahas sekarang sih. Bahasnya bisa nanti-nanti aja, nggak?
“Udah nggak kok.”
“Kamu emang belum tahu banyak hal tentangku, pun aku juga begitu. Tapi tolong jangan menyalahkan perkenalan kita atau pertemuan kita dulu.”
“Aku nggak pernah nyalahin perkenalan kita yang singkat, aku juga nggak mempermasalahkan mau kamu gimana. Tapi aku cuma mau, kamu sadar kalau sekarang kamu nggak hidup sendirian. Ada aku yang harus kamu hidupi, ada aku yang harus kamu hargai keberadaannya.”
“Kapan sih aku nggak menghargai kamu? Aku juga bukan laki-aki brengsek yang membiarkan istrinya kelaparan kok. Aku usaha, aku juga nggak mau kamu kesusahan. Karena itu aku nggak ngerti kenapa kamu nggak terima dengan apa yang udah aku berikan.”
“Bukan nggak terima, Mas. Aku terima mau kamu gimana, tapi aku mohon, kalau aku punya pendapat seenggaknya kamu hargailah. Aku juga nggak minta kamu manja in aku terus, justru aku mau memberikan yang terbaik untuk KI-TA.”
“Kalau gitu kamu juga harus bisa menghargai apa yang suami kamu berikan. Setidaknya itu adalah caraku membahagiakan kamu. Jadi tunjukkan sedikit aja rasa bahagia kamu dengan apa yang udah aku beirkan.”
“Cukup, Mas. Perlu kamu tahu kalau aku bukan wanita yang gila karena harta kamu aja. Aku nggak akan pergi hanya karena finansial kamu bermasalah seperti sekarang ini!”
Tak menghiraukan suaraku, Mas Adrian justru berjalan ke arah jendela, menutup dua lapis gordennya, kemudian berjalan ke arah saklar lampu. Tangan kanannya dengan cepat mematikan lampu kamar, membuat seisi ruangan ini berubah gelap.
__ADS_1
Clik! Lampu tidur di sisi kanan dan kiri menyala menepis gelap gulita.
“Is something wrong?”
^^^ Ada masalah?~^^^
Aku menggelengkan kepala karena bibirku belum sanggup membalas pertanyaan itu. Ditambah matanya yang menatap tajam membuatku semakin terintimidasi, juga bibirnya yang tak melukiskan senyum sangat membingungkan. Lantas ia mengulurkan tangannya padaku, membantuku berdiri.
“I’m sorry about what happen. So ….”
^^^ Aku minta maaf soal apa yang udah terjadi. Jadi ….~^^^
“Can we talk properly?”
Bisa kita bicara baik-baik?~
Adrian menarikku tengkurap menindih tubuhnya. Aku tersentak sesaat, jantungku seperti melompat-lompat hendak berpindah dari tempat normalnya. Tatapan mengintimidasi itu makin jelas meski kini hanya lampu tidur yang menyala.
Cup!
Adrian mencium keningku. Berlanjut mencium kedua pipiku, mencium setiap inchi kulit wajahku, hingga berhenti di depan bibirku. Ciuman itu berakhir di sana, berganti dengan pagutan-pagutan yang semakin dalam. Selayaknya kompetisi berebut oksigen, akhirnya aku mulai terbawa suasana. Dasar Adrian. Kalau begini, sudah pasti aku mengaku kalah.
Tangannya menyibak selimut yang sedari tadi menutupi tubuhku dari hawa dingin. Namun suasana sudah terlanjur panas sebelum dinginnya AC sempat menusuk kulit kami. Tangan dan bibirnya begitu lihai memainkan setiap bagianku. Membuatku semakin menggigit bibir atau suara-suara memalukan itu akan terlepas.
"Do not try to close your eyes! Just see me,"
^^^Jangan coba-coba tutup matamu! Lihatlah aku~^^^
Tangannya mencegah wajahku yang mencoba untuk memalingkan muka. Tapi melihatnya seperti ini hanya membuatku semakin berdebar.
*****
“Mobil itu aku beli waktu kita masih taaruf, rencananya aku baru akan pakai saat kamu benar-benar menerimaku. Dan setelah hari di mana kamu mengatakan semuanya di depanku dan Erwin, akhirnya aku pakai mobil itu.”
“Sebelumnya kamu pakai BMW juga, kan? Aku lihat waktu kamu jemput Ummi di stasiun. Makanya waktu itu aku bersikeras tolak tawaran Ummi kamu.”
“Iya. Itu BMW M4, mobil dua pintu pertamaku yang kubeli enam tahun lalu. Jangan-jangan …, kamu nggak terima tawaran Ummi, gara-gara itu?”
“Iya. Karena aku tahu duduk di belakang nggak nyaman. Hahaha ….”
“Dasar Hanna Aleesa. Ternyata kamu udah berpikir lebih jauh soal itu.” Adrian mengacak rambutku seperti anak kecil.
“Tapi, kenapa kamu beli mobil ini lagi? Maksudku tipe yang hampir sama kayak yang dulu.”
__ADS_1
“Mungkin mobil yang kubeli emang bukan mobil keluarga, tapi filosofinya lebih dalam untuk jadi mobil keluarga."
"Maksudnya?"
"Iya. Anak-anak yang duduk tenang di backseat, dan satu-satunya akses untuk keluar-masuk adalah pintuku atau pintu kamu. Jadi, kupikir dengan begitu, kita nggak perlu terlalu khawatir anak kita sampai bisa kelepasan buka pintu mobil sendiri.”
“Dan karena, yang ada dibayanganku waktu itu kamu akan duduk di sebelahku, sementara dua anak kita duduk di belakang sambil cerita tentang sekolah, teman, guru, dan banyak hal menyenangkan lainnya.”
Mendengar perkataan Mas Adrian barusan, spontan saja air mataku menitik dari sudut mata. Anak, ya? Walau Mas Adrian nggak pernah ngomong serius soal ini, tapi ia pasti sangat menantikannya. Sabar, ya, Mas ….
“Rasanya aku seperti baru mengenal Mas Adrian. Masih banyak yang nggak aku tahu tentang kamu.” Aku kembali dengan Aleesa yang biasa setelah beberapa saat menghapus air mata.
“Kenapa setelah beberapa bulan kita nikah, aku baru tahu kalau kamu lulusan arsitektur?”
“Karena kamu nggak tanya.” Adrian mencubit hidungku gemas.
“Jadi, ada berapa gelar yang tertulis di belakang nama seorang Adrian Al-Faruq?”
“Adrian Al-Faruq B.Sc, B.Ba, M.B.A.” Adrian tertawa kecil setelahnya.
“Aku yang cuma punya gelar B.Ba, jadi insecure deh sama suami sendiri.”
“Justru karena gelar, dan almamaterku, banyak perusahaan yang merasa aku ini terlalu rendah untuk diberikan posisi sebagai karyawan biasa setara sarjana, tapi mereka juga terlalu takut untuk memberiku posisi tinggi karena pada dasarnya aku adalah orang baru,” terangnya sembari mengusap kepalaku.
“Emang sih, gelar yang kamu punya itu … kedengarannya agak menakutkan. Tapi aku masih nggak ngerti kenapa kamu bisa punya gelar Bachelor of Science, tapi setelahnya kamu malah masuk ke Business Administration, sampai magister.”
“Jadi, dulunya Baba minta aku masuk Administrasi bisnis supaya aku punya dasar untuk mengelola perusahaan Baba. Tapi di sisi lain, aku punya bakat menggambar dan minatku awalnya memang arsitektur. Karena itu, akhirnya kami membuat kesepakatan. Aku harus dapat gelar B.Sc, baru melanjutkan pendidikan sesuai kehendak Baba.”
“Tapi untuk meyakinkan Baba kalau aku benar-benar akan mendapat gelar B.Ba, dan M.B.A, setelah lulus dari arsitektur itu susah banget. Baba bukan tipe orang yang mudah percaya, bahkan saat H-18 keberangkatanku ke Jerman, Baba belum sepenuhnya merestui keputusanku. Apalagi aku menempuh pendidikan sampai mendapat gelar pertamaku itu tanpa bantuan beasiswa mana pun.”
“Kenapa nggak pakai beasiswa? Katanya IP kamu selalu tinggi.”
“Karena Baba selalu bilang, ‘kalau kamu dapat beasiswa dari dalam negeri, jangan bangga, karena itu artinya kamu memberatkan negerimu sendiri. Apalagi nantinya kamu harus memberikan kontribusi yang setimpal untuk negeri yang membiayaimu. Kecuali beasiswa dari kampus tempatmu belajar, atau beasiswa dari negara yang jadi tempatmu belajar, kamu lebih baik menerimanya.’”
“Aku yang belum pernah ketemu Baba, rasanya jadi udah mengenal sosok Baba banget, apa ya? Rasanya jadi pengen deket sama Baba.”
“Itu artinya kita harus ke Turki, dan aku akan kenalkan kamu kepada Baba yang amat keras kepala, tegas, tapi baik banget.”
Aku tersenyum menempelkan pipiku ke dada bidangnya yang terasa berdetak konstan walau detakannya cukup cepat. “Kamu berdebar,” ujarku lirih.
“Selalu,” balasnya memelukku semakin erat, dan semakin dekat pula jarak kami.
Di posisi ini, aku selalu bisa merasakan kenyamanan dan rasa aman yang tak bisa kutemukan di mana pun.
__ADS_1
Gimana rasanya kalau kita punya anak? Apa Mas Adrian masih bisa sesayang ini padaku? Tapi bagaimana cara kami mencukupi kebutuhan kalau di rumah ini bertambah satu lagi penghuni? Kenapa aku masih ragu untuk menjadi seorang ibu? Kenapa?