
“Kabar baik pertama, Alhamdulillah Hanna bisa lulus tahun ini, dengan predikat summa cum laude!”
“Mashaa Allah, Alhamdulillah, Nak. Selamat ya!” Bunda memelukku tersenyum bahagia.
Kak Zahra tersenyum, mengusap bahu Bunda dan Ayah bersamaan. “Kabar baik keduanya….”
“Zahra hamil, Yah, Bun.”
“Alhamdulillah, tabarakallah, selamat ya, Nak. Sebentar lagi kalian akan jadi orang tua! Mashaa Allah."
“Iya Ayah, doakan semoga Zahra dan bayi kami sehat-sehat di dalam sana.
Dalam keharuan itu, Harun datang dari belakang setelah meletakkan piring-piring kotor tadi ke tempat cuci. “Kabar baik ketiga?”
Aku melirik Harun yang diabaikan oleh bahagianya Ayah dan Ibu menyambut kehamilan Kak Zahra. “Kamu punya kabar baik juga?” tanyaku pada si bungsu yang seketika mengangkat sebelah alisnya.
“Kemarin aku udah selesaiin dua puluh lima juz sih. Inshaa Allah tinggal lima juz lagi sampai wisuda tahfidz,” tuturnya santai sembari melirik ujung-ujung jarinya dengan mulut manyun.
“Semuanya! Harun tinggal lima juz lagi sampai wisuda tahfidz!” beberku dengan suara keras, kemudian mereka melihat pada Harun yang bereaksi datar.
“Mo, mohon doa dan dukungannya,” ucapnya kemudian.
"Mashaa Allah, adik Kakak keren banget deh." Puji Kak Zahra dan Kak Ali sembari mengusap-usap kepala Harun.
"Semangat, ya. Tinggal lima lagi!" Kataku turut mendukungnya.
"Iya, bismillah."
Dalam satu malam, kami merayakan banyak kebahagiaan. Tentunya kita tak boleh lalai pada realita dan hidup yang terus berlanjut. Kabar gembira memang perlu disyukuri, tapi realita harus tetap kembali dijalani. Aku pun mulai memikirkan lagi tawaran lowongan pekerjaan dari perusahaan yang menghubungiku beberapa waktu lalu.
Aku sempat menanyakannya kepada Ayah dan Bunda, lantas mereka menyerahkan keputusan kembali padaku. Aku sendiri lumayan tertarik, itung-itung bisa jadi pengalaman pertamaku di dunia kerja, apalagi setahuku perusahaan itu merupakan anak cabang dari perusahaan multinasional. Pasti keren banget kalau aku bisa diterima di sana. Setelah kuceritakan dan kutanyakan pendapat Khadija pun, gadis itu juga mendukungku.
[Voice Call]
Khadija : Pelamar pasti ada interview, kan? Kamu coba aja Hann, nanti kalau belum berhasil, itu bisa jadi evaluasi kamu untuk melamar pekerjaan di tempat lain
Hanna : Aku juga kepikiran begitu sih. Jadi, sebaiknya aku coba, ya?
Khadija : Iya, coba dulu aja
Hanna : Okay, makasih, ya sarannya
Khadija : Sama-sama. Tapi kalau kamu mau jawaban yang lebih pasti, kamu bisa salat istikharah. Inshaa Allah, Allah akan kasih petunjuk untuk kamu, Hann. Eh udah dulu, ya, kelasku udah mau mulai. Assalamu’alaikum.”
Hanna : “Waalaikumsalam warahmatullah.”
__ADS_1
Aku kembali merenungkan persoalan ini sendirian di dalam kamar sepi itu. Kutimbang baik dan buruk, serta kemungkinan-kemungkinan kalau aku akan melamar pekerjaan di sana. Dalam kalutnya pikiranku, seseorang mengetuk pintu kamar.
“Kak Hanna, dicari temen Kakak.” Suara Harun dari balik pintu.
Tak beranjak dari tempat dudukku, aku sengaja mengeraskan suara, "Siapa?"
"Cowok!"
Hah? Cowok? Nggak mungkin, kan?
Aku segera berjalan membuka pintu kamar. “Siapa?” tanyaku melongokkan kepala.
“Rin, rin, gitu, tuh orangnya ngobrol sama Ayah di ruang tamu,” tunjuknya.
Aku menyipitkan mataku melihat Harun yang bisa saja menipuku dengan aktingnya. Namun setelah kudengar suara Ayah tertawa dari ruang tamu, aku segera mengambil hijab dan turun untuk memeriksa secara langsung.
Ayah duduk berhadapan dengan laki-laki dua puluh lima tahun itu dengan sesekali keluar tawa tulusnya. Meski pupilku membesar seketika melihat sosok Garrin Wijaya duduk di kursi ruang tamu rumahku, tapi aku berusaha tetap tenang dan jaga image, seolah bukan sesuatu yang mengejutkan untukku.
“Garrin? Udah lama?” tanyaku, kemudian duduk di sebelah Ayah.
“Belum lama, kok.”
“Ya sudah, kalian ngobrol santai aja, Ayah ada janji mau ke rumah pak RT hari ini.” Ayah berdiri meninggalkanku dan Garrin.
Seperginya Ayah dari rumah itu, keheningan tercipta di antara kami berdua.
“A- ada apa sampai ke sini segala?” tanyaku pada laki-laki itu, mencoba menutup kekakuan.
Ia tersenyum canggung menghindari tatapanku. “Bisa kita ngobrol di luar? Biar lebih santai.”
“AC rumah gue kurang dingin, ya?”
“Enggak sih, tapi lebih enak kalau kita bicaranya sambil jalan, atau beli minuman di luar, atau makan siang.”
“Lo mau ngajak gue jalan?” tanyaku to the point.
“Iya.” Katanya tersenyum kalah.
Aku menghela napas panjang, akhirnya aku terjebak dalam atmosfer aneh bersama Garrin Wijaya yang selalu mengacaukan isi otakku. Tak seperti biasa, kali ini ia terlalu banyak mengobrol basa-basi. Tampaknya sulit bagi Garrin untuk mengatakan apa yang ada di kepalanya itu.
Baru ketika waktu menunjukkan pukul tiga sore, yang artinya aku telah menemaninya selama beberapa jam, ia menjurus pada topik yang agak sensitif. Ia sendiri kelihatan bingung bagaimana merangkai kata untuk mengatakannya.
"Hann, aku emang belum, tapi akan segera mualaf.”
“Hah?” Aku menoleh melihat keseriusan di wajahnya.
__ADS_1
“Iya, seperti yang kamu dengar barusan.”
“Kenapa? Maksud gue ..., apa alasan lo memilih jalan itu?” tanyaku ragu.
“Kamu.”
Aku menelan salivaku, mendengar begitu mudahnya ia menjawab. Cukup lama aku terdiam, begitu pula Garrin yang bungkam menunggu responku. Setelah berpikir selama beberapa waktu, aku menarik napas dalam sebelum menjawabnya.
“Sorry Rin, tapi kalau lo masuk ke dalam agama ini hanya karena seseorang. Apalagi seseorangnya itu gue, kayaknya ada yang perlu diperbaiki dari niat lo itu." Mendengar responku, Garrin hanya terdiam.
Aku pun melanjutkan ucapanku. "Beberapa waktu lalu gue nggak sengaja sempat lihat buku bacaan tentang islam di dalam tas lo, gue sempat kaget juga. Tapi begitu tahu alasan lo jadi mualaf hanya karena gue, gue enggak bisa bahagia karena itu. Lagi pun, kakek lo seorang pastur, keluarga lo taat beribadah, apa lo enggak mikir gimana efeknya nanti sama diri lo?” lanjutku.
"Aku udah pernah bilang, beliau bukan kakek kandungku."
"Iya, tapi bukan itu poinnya. Lo nggak mikirin gimana perasaan beliau? Cucunya masuk ke agama Islam demi satu wanita yang disukainya."
Laki-laki dua puluh lima tahun itu menunduk diam. Setelah mendengar segala komentar dan nasihatku, ia tak lagi membantah dan lebih banyak diam. Ia pun mengantarkanku sampai ke rumah dengan ekspresi berbeda dari saat ia datang ke rumah ini. Sejak di dalam mobil, ia memang tak buka suara. Bahkan ketika aku telah turun, laki-laki itu masih tak bergeming.
Melihatnya yang seperti itu membuatku merasa sedih sendiri. Tapi di sisi lain, perasaan yang sebelumnya campur aduk setiap saat Garrin ada di dekatku, semua itu perlahan runtuh. Pandanganku terhadap Garrin Wijaya menjadi sedikit berbeda. Perasaan kagumku pada sosok itu seakan pudar akibat cara pandangnya terhadap hal sensitif 'agama'. Sore itu, setelah ia menurunkanku di depan rumah, ia berpamit seolah ini adalah pertemuan terakhir kami. Dengan wajah lesu tak bersemangat Garrin meninggalkanku. Hingga hari-hari berikutnya, ia tak menghubungiku sama sekali.
Bagiku, agama adalah pegangan hidup yang tak akan terlepas sampai kita menemui akhir kehidupan. Ikatan itu sudah tertancap sejak sebelum aku terlahir ke dunia, hingga aku menyatu kembali dengan tanah nantinya. Itu adalah agama bagiku.
*****
Aku menyipitkan mataku ketika membuka sebuah email yang baru saja masuk. Dengan jantung yang berdebar, kubuka perlahan mataku, untuk melihat tulisan dari email itu. Setelah kubaca dalam hati tulisan yang terpampang jelas di layar, aku berteriak dan melompat-lompat kegirangan di atas tempat tidurku.
“Selamat! Anda lolos dalam seleksi online yang kedua. Untuk seleksi tahap selanjutnya adalah interview, silakan datang ke kantor pusat kami hari Senin, X Maret 20XX.”
Kalimat singkat itu meningkatkan kepercayaan diriku, bahwa seorang Hanna Aleesa akan siap mengarungi kerasnya dunia kerja. Aku segera memberitahu Khadija tentang berita menggembirakan ini, sekaligus berterima kasih karena selalu menyemangatiku.
Dan … hari itu pun tiba, aku bersiap untuk interview kerja tahap pertama. Dengan banyaknya pesaing yang lebih senior dariku, tak menyempitkan semangatku sedikit pun. Interview offline pertama hari itu pun berhasil kulalui dengan mudah. Meski sempat takut, tapi ternyata interview kerja tak lebih menyeramkan dari sidang skripsi.
*****
“Terima kasih, Pak.” Seorang driver taksi menunduk berkali-kali pada pria berjas yang baru membantunya meminjamkan dongkrar untuk mengganti ban mobil.
Pria itu mengambil kembali dongkrak yang dipinjamkannya, kemudian mengusap peluh yang menetes di tengah hari sepanas ini. Hanya itu yang sempat kulihat dari balik kaca café tempatku bertemu dengan Khadija. Sembari menunggu kedatangan Khadija, aku memainkan ponselku.
*Ting*!
Suara pintu terbuka, lantas menarik perhatianku. Kukira Khadija yang datang, rupanya orang lain. Ketika aku menunduk fokus bermain game di ponsel, seseorang mendekati mejaku.
“Kamu...,” Pria yang tadi kulihat membantu driver taksi itu berdiri di dekat mejaku.
“Loh? Pak? Anda...,”
__ADS_1