Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Pulang Malam


__ADS_3

Kepulangan Bu Rahmi dari rumah kami siang itu kembali membawa pergi harmonisasi dalam rumah ini. Mas Adrian lebih banyak diam dan fokus dengan laptopnya di sofa ruang tengah, sementara aku menata ulang barang-barang di kamar yang kami tempati. Selain itu, masih ada pula barang-barang di lantai bawah yang harus dipikirkan lagi untuk penempatannya.


Rencana kepindahan Bu Rahmi tentunya meninggalkan sedikit rasa sedih untukku, karena tetangga terbaikku itu harus pergi disaat-saat seperti ini. Beberapa tahun lalu, masih sangat kental ingatanku ketika Bu Rahmi membantu dalam berbagai hal. Beliau jugalah yang membantuku bersosialisasi dengan warga kompleks hingga aku terbiasa dengan kehidupan masyarakat di Indonesia.


Jika saja Bu Rahmi tak harus pindah, mungkin kita bisa menjadi tetangga yang lebih dekat hingga seperti keluarga sendiri. Sayangnya itu tak berlaku karena kepindahan Bu Rahmi hari ini menjadi akhir pertetanggaan sekaligus perpisahan untuk kami.


“Sayang ...,” panggil Mas Adrian dari luar kamar beberapa kali.


“Di kamar belakang, Mas!” balasku setengah berteriak.


“Ada apa?” tanyaku melihatnya yang berdiri di ambang pintu.


“Malam nanti kita jadi belanja ATK, kan?”


“Jadi dong … udah ada list nya aku taruh di dekat kulkas. Kalau mau tambahin barang-barang lain, tulis aja di sana biar nggak kelupaan.”


“Okay.” Jawabnya singkat kemudian berlalu pergi.


Tak lama setelahnya, Mas Adrian kembali berdiri di ambang pintu dengan setengah badannya melongok ke dalam ruangan dengan pintu setengah terbuka itu. “Aleesa,”


Aku menoleh ke tempat Mas Adrian berdiri. “Apa lagi?”


“Kamu nggak perlu bantuan?” tanyanya ragu.


Aku tertawa lirih sesaat. “Nggak usah, kamu lanjutin aja kerjaan kamu. Aku bisa sendiri, kok.”


“Beneran?”


“Iya, Sayang ….”


“Kalau perlu bantuan panggil aku, ya.” Pungkasnya kubalas dengan anggukan dan acungan ibu jari.


Seperginya Mas Adrian, aku kembali memilah pakaian-pakaian kami yang selanjutnya akan ditata di lemari lipat atau digantung. Awalnya semua berjalan normal tanpa kendala, hingga kemudian pandangan mataku dipertemukan oleh helai-helai kain tipis dan pendek. Pakaian-pakaian lamaku yang terakhir kali kuingat hanya kupakai saat berada di Australia.

__ADS_1


Kenapa pakaian-pakaian ini bisa di sini? Kukira aku sudah membuangnya waktu itu. Pikirku lantas segera saja memasukkannya kembali ke tempat semula.


Beberapa pakaian itu adalah atasan crop top, rok pendek, dan beberapa lainnya seperti mini dress seksi yang hampir lupa kapan terakhir kali aku pernah mengenakannya. Tapi dengan kehidupanku yang sekarang, pakaian itu sudah jadi haram untukku. Aku pun segera menyimpannya lagi, setidaknya aku tak ingin mengundang kemarahan Mas Adrian ketika melihat pakaian itu masih tersimpan di sini.


Saat ini, gamis lebih terasa nyaman untuk kukenakan daripada pakaian haram itu. Ya, walau baru berjalan beberapa bulan, tapi rasa nyaman dan terlindungi itu lebih terasa kuat ketika aku memakai pakaian panjang yang menjulur menutupi seluruh tubuhku dibandingkan dengan kain-kain pedek dari masa lalu. Mungkin kalau bukan karena Ummi, aku tak akan merasakan rasa aman dari hijab panjang dan gamis ini hingga kini. Aku beruntung, Allah telah memberiku petunjuk melalui Ummi yang sekarang jadi mertuaku.


Aku menghela napas, kemudian bangkit membawa beberapa potong baju yang akan kubawa ke kamar di lantai dua. Prioritasku sekarang adalah menyiapkan pakaian untuk Mas Adrian dan mengatur ulang tata ruang agar ruangan kami tak tampak sempit.


Setelah selesai berkutik pada penataan ruangan, tanpa terasa hari semakin gelap dan aku kembali disibukkan dengan urusan dapur. Selepas maghrib, ketika Mas Adrian pulang dari masjid komplek, makan malam hasil karya tangan terampilku telah tersaji di atas meja makan. Aku meninggalkannya makan malam sementara aku sendiri bersiap untuk pergi belanja keperluan Mas Adrian mengajar besok.


“Kamu nggak makan?”


“Aku makan kok, nanti aja, aku mau siap-siap dulu.”


“Okay, nanti jangan sampai lupa makan loh," balasnya singkat tanpa komplain berkelanjutan.


"Iya, Sayang ...."


Pukul tujuh malam, akhirnya kami keluar dari rumah itu menuju ke salah satu toko ATK langgananku dulu. Aku memilihkan beberapa barang sesuai kebutuhan Mas Adrian yang tercatat di list yang dibuat sejak kemarin. Tanpa sadar sifat kekanakanku muncul saat itu juga. Aku bahkan lupa bahwa tujuanku saat ini adalah mencari keperluan untuk ‘suami’ ku.


“Mungkin ini adalah ketiga kalinya aku pulang malam,” gumamku lirih, masih menatap lurus ke depan, jalanan yang kami lalui.


“Hah? Pulang malam?”


Aku melihat wajah samping Mas Adrian yang sepertinya tertarik dengan ucapanku. “Iya. Bahkan ketika aku masih di Australia, Ayah sama Bunda melarang keras untuk aku pulang malam. Maksimal sebelum isya’ harus sudah sampai rumah.”


“Itu artinya Ayah sama Bunda sayang dong … sama kamu.”


“Iya. Mereka sayang banget sama anak-anaknya.”


“Tapi kamu bilang ini ketiga kalinya kamu pulang malam? Itu artinya kamu pernah pulang malam sebelum ini.”


“Iya. Pertama kalinya aku pulang malam, sewaktu aku datang makan malam ke rumah kamu atas undangan dari Ummi. Itu pertama kalinya aku pulang malam.” Ceritaku didengarnya serius.

__ADS_1


“Oh ya? Waktu itu … aku juga ikut antar kamu pulang, kan?” tanggapnya berbinar.


“Iya. kamu sama sopirnya Ummi yang antar aku sampai ke rumah. Makasih loh, waktu itu. aku sampai bingung nggak tahu mau ngomong apa, karena awkward, hahaha ….”


“Abisnya kamu pendiam banget. Aku juga takut mau ngajak ngobrol duluan.”


“Ih, mana ada. Yang ada juga kamu tuh, sombong banget, disapa aja cuma senyum tipis, mana senyumannya kelihatan nggak tulus lagi. Terus juga aku kira kamu tuh udah nikah atau udah punya anak gitu, jadinya kan aku bingung mau ajak ngobrol topik apaan.”


“Iya, iyaaa kamu masih muda. Emang aku kelihatan setua itu, ya waktu itu?”


“Iya waktu itu kelihatan tua emang. Baru sekarang nih kamu justru kelihatan lebih muda dari waktu kamu nganterin aku pulang malam itu.”


“Maklumlah … waktu itu, kan aku masih jomblo, nggak ada yang ngurusin. Sekarang udah ada istri, semua jadi serba terurus. Eh, tapi … malam itu, aku udah suka loh sama kamu."


"Huh?"


"Iya. Malam itu, waktu kamu datang ke rumah, pikiranku udah kotor banget ngebayangin wajah kamu terus."


"Ih masa sih? Ieuh, ko aku jadi ilfeel, ya?"


"Ya maaf, tapi kan sekarang udah halal. Walau dibayangin juga nggak dosa, kan? Eh terus, kedua kalinya kamu pulang malam itu kapan?”


“Itu ... Waktu itu aku sidang skripsi. Selesai sidang, ada acara syukuran kecil-kecilan sama Kak Ali, Kak Zahra, sama Khadija, sama … Garin juga.” Beberapa saat aku melirik Mas Adrian untuk emlihat ekspresinya ketika aku menyebut nama itu.


“Terus? Kenapa bisa pulang malam?” tanyanya tanpa reaksi berlebih seperti ekspektasiku.


Aku pun melanjutkan ceritaku dengan perasaan lega ketika melihatnya tak keberatan. “Waktu itu kondisi Ibunya Khadija tiba-tiba kritis di rumah sakit dan kita semua nyusulin ke rumah sakit sampai keadaan beliau membaik.”


"Jadi setelah itu kamu pulang malam?"


“Iya, setelah semuanya baik-baik aja, akhirnya aku pulang ke rumah. Dan itu udah malem sih.”


“Terus? Garin yang antar kamu pulang sampai ke rumah?” tanyanya terasa menyudutkanku tiba-tiba.

__ADS_1


Apa aku salah bicara? Apa harusnya aku nggak membahas ke arah sana? Tapi, kan Mas Adrian sendiri yang mulai duluan?


__ADS_2