
Seorang gadis berjalan dengan penuh percaya diri. Kedatangannya cukup menarik perhatian orang-orang yang berlalu lalang di lingkup kampus. Namun dalam sekejap, kepercayaan dirinya runtuh ketika menyadari ia tersesat di kampus yang menerimanya setahun lalu dan akan jadi tempatnya kuliah setahun nanti.
Lebih parahnya lagi, untuk kembali ke jalan semula pun tidak bisa. Gadis itu benar-benar lupa dengan jalan yang dilewatinya tadi. Menemukan lobi utama pun rasanya jadi sangat tidak mungkin. Sayangnya, rasa takutnya untuk bertanya dengan mahasiswa yang berlalu lalang masih terlalu tinggi. Ia pun meneruskan jalannya meski tak tahu ke mana arahnya pergi saat ini.
Sampai akhirnya ia terpaksa menyalakan mode 'mudah berbaur' untuk bertanya pada salah seornag mahasiswa yang melintas karena hari yang semakin sore. Setelah mengumpulkan keberanian dan menghilangkan rasa malu, ia pun bertanya pada salah seorang mahasiswi yang berhenti di depan jajaran loker.
"Permisi."
"Maaf." Ucap gadis itu seraya menepi.
"Saya ingin bertanya."
"Ah, ya. Sepertinya anda bukan mahasiswi atau dosen di sini. Apa anda tersesat? Mungkin ada yang bisa saya bantu?"
"Saya mahasiswi di sini, sedang dalam program double degree di Australia. Boleh tunjukkan kantor rektorat?" Ucap gadis itu agak ragu.
"Ooh, kenalkan saya Ka- Khadija, mahasiswi baru Matematika murni. Kantor rektorat ada di lantai 7 gedung rektorat. Jaraknya cukup jauh dari sini." Ujarnya ramah.
"Nama saya Hanna. Mungkin bisa antarkan saya ke sana?"
Singkat cerita, Khadija dengan senang hati mengantarkan Hanna ke ruangan yang dicarinya. Dan sejak saat itu pula, baik Hanna maupun Khadija berteman hingga saling meminta bantuan satu sama lain. Keduanya pun mulai akrab meski terpaut usia empat tahun. Memang umur tak bisa jadi kendala untuk mereka bisa berteman.
Dari cerita Khadija tentang dirinya, ada beberapa alasan khusus yang membuatnya baru bisa merasakan kehidupan kampus diusia ke-23 tahun. Tapi ia tak begitu menceritakan detil alasannya kepada Hanna. Sedangkan Hanna sendiri sedang dalam program double degree di Australia. Setahun lalu, status Hanna adalah mahasiswi di Kampus Kota B, satu tahun kemudian, Hanna diberikan kesempatan untuk menempuh studi semester tiga sampai enamnya di Australia atau selama dua tahun.
Sementara itu, laki-laki yang muncul di tengah pertemanan Hanna dan Khadija, adalah sesama mahasiswa Internasional di fakutas Managemen Bisnis yang mengambil double degree dua tahun lebih awal dari Hanna.
Pertemanan mereka semakin dekat hingga akhirnya banyak yang mengatakan mereka bersahabat. Selagi Hanna menempuh pendidikannya di Australia, Khadija adalah tempat curhat bagi Garrin. Di mana Garrin bisa mengungkapkan perasaan pada Hanna yang tak bisa ia ucapkan langsung. Begitu pun sebaliknya, Khadija selalu menceritakan setiap masalahnya kepada Garrin.
__ADS_1
Khadija telah menceritakan kisah hidupnya sejak awal, bahkan menceritkan tentang alasannya memulai kuliah diusia ke-23 kepada Garrin, tanpa diketahui Hanna. Hanya kepada Garrin ia berani menceritakannya.
Pada suatu kesempatan, ketiganya pergi menonton film drama romantis yang berakhir tragis diakhir pekan. Kala itu Hanna sengaja menraktir dua sahabatnya sebagai perayaan ulang tahun ke-19 nya. Di akhir film itu, Khadija menangis sejadi-jadinya di depan dua sahabatnya. Tapi setelah Hanna pergi, dan hanya tersisa Khadija serta Garrin, gadis itu baru mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi hingga membuatnya menangis.
“Ayahku meninggal Rin.” Tangisnya tersedu.
“Hah? Kapan? Kok lu enggak bilang?” tanya Garrin panik.
“Tolong jangan kasih tahu Hanna, di tengah film tadi, ibuku mengirim pesan kalau ayahku meninggal,” tangisnya berlanjut seraya menyodorkan layar ponsel yang menunjukkan pesan dari ibu Khadija.
“Lo enggak harus nyembunyiin ini, Khadija. Hanna juga pasti mengerti kalau lo bilang mau pamit pulang dulu, atau lo bilang yang sebenarnya.”
“Enggak Rin, aku enggak mau merusak kebahagiaan di hari ulang tahun Hanna, aku juga enggak bisa pulang hanya untuk melihat orang itu meninggalkan dunia ini.”
“Tapi dia ayah lo, Khadija.”
Setelah Hanna kembali bergabung dengan keduanya, suasana seraya senyap. Tak ada tangis, tak ada cerita sedih, tak ada kejujuran dari ekspresi wajah Khadija di depan Hanna. Ia kembali berpura-pura tersenyum seolah semua baik-baik saja.
Sama seperti saat Khadija menelepon Hanna untuk meminta bantuannya menyelesaikan tugas. Waktu itu, kejadiannya tak seperti yang diceritakan oleh Khadija kepada Hanna.
Yang terjadi waktu itu ….
"Maaf!" Seorang gadis dengan terkejutnya dan segera membereskan barang-barangnya yang berjatuhan.
"Kamu nggak apa-apa? Maaf, saya tidak sengaja." Pria itu membantu si gadis memunguti barangnya yang berjatuhan.
Ia kemudian membuka laptopnya yang barusan terbanting di jalanan kerikil. Kacanya pecah, dan bahkan tidak bisa dinyalakan meski dicoba berkali-kali. Sementara pria itu masih berdiri di sana dan melihat akibat kelalaiannya itu. Ia pun bersikeras untuk mengganti kerusakan yang disebabkan olehnya. Meski sempat menolak niat baik pria asing itu, tapi gadis itu pun mengiyakan pada akhirnya.
__ADS_1
"Biar saya perbaiki, atau saya ganti kerusakannya. Ini nomor telepon saya, anda bisa hubungi saya nanti." Pria itu memberikan kartu nama dan membawa barang elektronik yang berhasil dirusaknya.
“Ti, tidak usah, Pak, tidak perlu, saya bisa perbaikinya sendiri,” tolaknya.
“Jangan sungkan seperti itu, jelas itu tadi salah saya,”
"I, iya. Baiklah kalau begitu," Jawab gadis itu menunduk.
"Kamu mahasiswi di sini?" Tanya Pria itu dengan suara baritonnya yang khas.
"Iya."
"Kalau begitu bisa sekalian tolong beritahu saya, di mana ruang rektorat? Saya baru akan menjadi dosen di sini." Jelasnya.
"Gimana ya?" Gadis itu bergumam lirih.
Bukan sebab tak mau menjelaskan tempat ruang rektor, tapi kalau dijelaskan pun kemungkinan akan tersesat. Sementara jelas tidak mungkin jika gadis ini berjalan berduaan dengan pria yang sama sekali tak dikenalnya untuk mengantarkan sampai ke ruang rektor. Setelah diam beberapa waktu, gadis itu mengangkat tangannya menemukan ide.
"Sebaiknya anda jalan lurus, kemudian belok kiri, di sana ada miniatur dan denah kampus ini. Ruang rektor ada di gedung rektorat lantai tujuh." Terang si gadis dengan menundukkan pandangannya.
"Baiklah. Terima kasih atas petunjuknya, semoga dua atau tiga minggu lagi laptopnya sudah bisa saya kembalikan." Ucap pria asing itu kemudian berlalu menuju ke tempat denah dan miniatur kampus seperti yang ditunjukkan.
Setelah insiden itu, Khadija meminjam laptop tua milik saudaranya. Meski tahu laptop itu sudah tak layak pakai, tapi ia tetap harus menggunakannya demi meyelesaikan tugas selama dua minggu. Dan insiden selanjutnya menghampirinya lagi. Hari itu, laptop milik saudaranya tiba-tiba error, dan semua file terhapus.
Karena panik, ia menelepon Hanna, yang tak sengaja pula mempertemukannya dengan Garrin. Sebelum Hanna datang ke tempat itu, ia sempat menceritakan tentang ibunya yang melemah dan sering jatuh sakit. Keadaan sang ibu memburuk sejak ayahnya meninggal dunia.
Cerita sedih itu pun tak mampu terucapkan oleh bibir Khadija di depan Hanna yang tulus mau mendengar apa pun curhatan dari sahabatnya. Khadija hanya berani mengungkapkannya di depan Garrin. Hanya Garrin Wijaya, sampai malam emosional itu tiba.
__ADS_1