
Pagi kembali menyambut kami seperti keseharian kami biasanya. Sembari menunggu Adrian turun untuk sarapan, aku yang lebih dulu duduk di meja makan membalas beberapa pesan pagi itu. Rasa tak sabarku semakin membuncah untuk segera pergi ke rumah Ayah-Bunda yang dua bulan lalu kutinggalkan tanpa kabar. Kalau dipikir lagi memang parah sih. Anak macam apa aku ini, yang sampai melupakan kedua orang tuaku sendiri.
Selain itu aku juga penasaran dengan Kak Zahra dan Kak Ali yang pasti menyambut bahagia hari ini. Dua bulan lagi, aku akan mempunyai keponakan dari Kak Zahra. Akan ada yang memanggilku tante selain Elena. Membayangkannya saja sudah membuatku bahagia.
“Pagi!” Adrian akhirnya muncul setelah kutunggu-tunggu sejak tadi.
Setelah mengamati pakaiannya dari atas ke bawah, aku inisiatif bertanya, “Kamu … ke kantor hari ini?”
“Iyalah, abis nganterin kamu ke rumah Ayah-Bunda, aku langsung ke kantor.”
“Kamu enggak ikut ke acara tujuh bulanan itu? Cuma ... nganterin aku?” tanyaku agak terkejut.
“Iya, aku nganterin kamu terus langsung ke kantor,” jawabnya masih sama.
Aku terdiam, menatap Adrian yang mengambil roti dan selai untuk piringnya sendiri dan menikmati sarapannya. Tiba-tiba saja aku seperti ingin menumpahkan air mata dari kelopak kecil ini. Bukannya kami suami istri? Lebih lagi, masih terhitung sebagai pengantin baru? Akan jadi aneh kalau aku datang ke acara itu sendirian, kan?
Lagi pula, tak mungkin Adrian tak mengerti maksudku, sementara sejak subuh sudah kusiapkan satu set baju koko dan gamis dengan warga senada agar bisa kami pakai seperti pasangan suami-istri lainnya. Ada apa sebenarnya.
Adrian bahkan tak lagi melihat ke arahku sementara ia menikmati sarapannya hingga piring itu bersih. Aku masih melihat pada Adrian tanpa menyentuh sedikit pun sarapanku. Setelah meminum habis air dalam gelasnya, ia baru mau melihat ke arahku.
“Kenapa enggak dimakan? Udah jam delapan lebih, Aleesa,” ucapnya seraya melirik jam di pergelangan tangannya.
“Kemarin aku cuma nggak enak badan, kamu sampai nggak berangkat kerja, sekarang ada acara di rumah Bunda kamu justru pergi kerja. Kenapa sih? Kamu enggak suka sama keluargaku?” tanyaku penuh penekanan.
“Iya aku tahu rumah Ayah-Bundaku emang nggak semewah rumah kamu ini, tapi nggak apa-apa, kan kalau kita tidur di sana semalam aja? Emang rumah orang tuaku seenggak nyaman apa sih, sampai bikin kamu enggak mau ke sana?” lanjutku ketika melihatnya hanya bungkam.
"Udah ... kalau kamu nggak mau makan, mending kita berangkat sekarang."
"Jangan ngalihin topik, Adrian. Aku nggak ngerti kenapa kamu menolak pergi ke rumah Ayah-Bunda dan memilih kerja disaat begini. Kamu pikir keluargaku nggak sepenting keluarga kamu sendiri? Kalau emang pandangan kamu begitu, kenapa kita harus menikah?"
"Stop!" sergah Adrian lantang menatap lurus kedua mataku.
“Please … jangan bikin ribut pagi-pagi,” selorohnya datar.
__ADS_1
“Aku nggak bikin ribut, aku cuma penasaran kamu ini kenapa? Aku bahkan udah siapin baju ganti buat kita kalau nanti malam jadi nginap di rumah Bunda.”
Aku berpaling pada tas ukuran sedang berisi baju piyama kami yang sudah kusiapkan sejak pagi tadi. “Lupain aja, aku bisa minta tolong Garrin untuk anterin aku ke tempat Bunda kalau kamu terlalu sibuk sama kerjaan kamu.”
Tak!
Suara pisau membentur meja kaca nyaring menggema ke seluruh ruang. Adrian memicingkan senyum dengan mata tajamnya memandang ke tengah meja makan persegi panjang itu. Ia mencoba menahan tawa penuh amarahnya.
“Aku dari tadi diam karena enggak mau ada ribut pagi-pagi di rumah ini, sekarang kamu malah bawa-bawa nama laki-laki lain di meja makan. Kamu yang kenapa, Aleesa!” tampiknya dengan nada tinggi.
“Atau … kamu semangat banget mau ke rumah Bunda karena ada kesempatan ketemu sama laki-laki itu?” tuduhnya membuat amarahku tersulut.
“Jadi sekarang kamu nuduh aku ada main sama Garrin?”
“Kenapa enggak? Barangkali ada yang belum selesai di antara kalian?” tuntutnya seraya menyatukan kedua tangan di atas meja.
“Aku kira dua bulan tinggal di sini udah cukup untuk kita mengenal satu sama lain, ternyata kamu curiga dengan hal abstrak yang enggak ada buktinya sama sekali. Aku enggak ngerti sama jalan pikiran kamu.”
Aku menatapnya kesal, dia pikir hanya dia sendiri yang bisa marah? Segera saja aku berdiri dari kursiku yang hanya berjarak satu setengah meter dengan tempat Adrian duduk. Baru berniat pergi dari hadapan Adrian, kembali ia mencegahku dengan kata-katanya.
Layar ponsel yang menyala itu menampilkan sebuah riwayat obrolan di tanggal yang sama saat aku dan Adrian pergi ke Jogja.
“Sebenernya aku enggak mau bawa-bawa nama Garrin Wijaya, dari awal juga aku enggak mau bahas ini karena takut akan jadi masalah antara kita. Tapi karena hari ini kamu yang pertama mulai dan bawa nama Garrin Wijaya di antara kita, kita selesai in aja semuanya sekarang.” Tangan Adrian menarik ku agak kasar lantas mendudukkan ku kembali ke kursi semula.
Ekspresinya serius, datar, tanpa senyum, seketika membuatku ingin kabur dari hadapannya. Mba Rina yang sedari tadi membersihkan barang-barang di sekitar ruang makan telah bergeser menjauh. Begitu pula dengan Mba Puput yang seketika menghentikan kegiatannya mengepel lantai dan pergi.
“Lihat aku, Aleesa. Ada hubungan apa kamu sama Garrin, dulu dan sekarang.”
“Kita nggak ada hubungan apa-apa,” jawabku lirih.
“Cerita in aja, ada apa di antara kalian.” Suara Adrian mulai melunak, membuatku berpikir untuk mengatakan yang sebenarnya.
__ADS_1
“Terakhir aku ketemu Garrin di hari pernikahan kita, sejak saat itu aku enggak ketemu dia lagi, bahkan mengirim kabar pun enggak pernah.”
“Waktu kuliah, Garrin adalah salah satu sahabatku. Dia yang selalu bantu kalau ada masalah, dia yang selalu ada layaknya seorang Kakak. Selebihnya, hubungan kami hanya sahabat biasa. Kemana pun kami pergi, selalu bertiga sama Khadija.”
“Mungkin ada sesuatu yang lain?” tanyanya datar, membuatku diam sebentar.
Aku menundukkan kepala beberapa waktu dan menarik napas dalam, “Dia … sempat mengutarakan perasaannya, dan berniat untuk mualaf. Tapi aku nggak menerimanya, karena kamu datang lebih dulu ke rumahku. Dan bagiku dia terlihat sebagai seorang Kakak,” jelasku.
Aku masih tak mengangkat pandanganku saat Adrian membisu tak bereaksi apa-apa. Iya, ini salahku. Aku terlalu bahagia sampai lupa aku pernah hampir memiliki hubungan dengan laki-laki itu. Suasana kembali hening cukup lama, hingga Adrian mengulurkan tangannya untuk mengusap lembut kepalaku.
“Udah hampir jam sembilan, kamu ambil barang-barang yang mau kamu bawa terus kita berangkat.” Adrian berlalu menuju ke garasi seraya membawakan tas berisi pakaian itu.
Aku pun meninggalkan sarapan pagiku dan langsung mengambil structured bag milikku dari kamar. Setelahnya aku mengikuti Adrian masuk ke dalam mobil camry hitam yang mengantarkan kami sampai ke rumah Ayah-Bunda.
Di dalam mobil, Adrian masih tak banyak bicara meski aku juga tahu ia tak ingin terjadi kecanggungan antara kami. Aku berusaha mencari pertanyaan bagus untuk ditanyakan meski akhirnya hanya mendapat jawaban singkat. Ini adalah pertengkaran pertama kami yang hampir menjadi besar, aku sendiri jadi lebih hati-hati memilih kata untuk ku ucapkan.
Setelah lebih dari setengah jam perjalanan, mobil berhenti di depan rumah sederhana memorable itu. Aku tak langsung turun ketika mobil berhenti, walau aku mengerti Adrian masih belum berubah pikiran tentang ketidak ikut sertaannya dalam acara ini.
“Kamu … beneran nggak ikut?” tanyaku lirih.
“Maaf ….” Desisnya pelan.
"Ya udah, nggak apa-apa." Kataku seraya melepas seatbelt dan 'sedikit' memaksakan senyum.
“Kemarin waktu Ayah kamu telepon, beliau tanya kabar kamu, beliau cariin kamu. Waktu Bunda kamu telepon, beliau juga cuma minta Hanna yang datang. Bahkan kalau kamu ingat lagi, Bunda bilang aku suruh nganterin kamu ….”
“Bukan nemenin kamu,” pungkasnya.
Aku terdiam mendengar ucapannya dan melihat ekspresinya itu. “Jadi ini alasan kamu berubah tiba-tiba?” tanyaku tanpa perlu dijawabnya pun aku tahu jawabannya.
“Hei … maksud Ayah sama Bunda bukan gitu ….”
Aku mengusap bahu Adrian yang menatap nanar kaca spion mobil. “Mungkin kemarin Bunda bilang kayak gitu, tapi aku yakin maksud Bunda enggak gitu, Sayang.”
__ADS_1
“Nih, aku tadi dapat chat dari Bunda, Bunda bilang kalau Adrian juga datang kok,” ujarku seraya mencari history chatku dan Bunda pagi tadi.
Aku menunjukkan layar ponselku pada Adrian, “Lihat deh, in––”