Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Terjebak Ancaman


__ADS_3

[Voice Call]


Hanna Aleesa : Ada apa? Terakhir kali saya bilang, saya tidak perlu informasi lain


Henri : Padahal saya hanya menelepon untuk bertanya tentang keadaan kandungan anda sebagai itikad baik


Hanna Aleesa : Tidak perlu basa-basi lagi. Cepat katakan tujuan anda menghubungi saya lagi


Henri : Informasi penting tentang Karinda. Karena anda bersikeras tidak ingin membelinya, maka saya akan menjual paksa informasi itu


Hanna Aleesa : Apa maksud kamu?


Henri : Saya sudah print out semua informasi dan fakta yang saya dapatkan. Semua berkas itu saya kumpulkan jadi satu, dan saya kirim ke salah satu alamat atas nama Adrian Al-Faruq. Yahh, Pak Adrian memang terlalu kaya sampai mampu membeli rumah di enam tempat berbeda. Kalau anda tidak ingin membayar biaya informasi ini, silakan menebak-nebak di mana kira-kira saya akan mengirimkannya


Hanna Aleesa : Jangan macam-macam. Sebaiknya katakan dengan jelas ke alamat mana anda akan mengirim berkas itu


Henri : Mungkin ke alamat anda? Mungkin ke rumahnya di Jakarta? Atau apartemennya? Mungkin ke kantor? Atau ke kantor cabangnya yang banyak itu? Lalu bagaimana kalau saya kirimkan ke rumah Ibundanya? Atau ... ke rumah paman Karinda yang tamak. Bagaimana menurut anda?


Hanna Aleesa : Saya tidak akan membayar


Henri : Kalau begitu, selamat bermain tebak-tebakan. Saya yakin permainan tebak-tebakan lebih seru untuk anda daripada membayar informasi yang saya kumpulkan dengan nominal yang sedikit lebih besar dari sebelumnya


Henri : Oh ya. Salah satu informasi yang saya jual adalah tentang Karinda yang memalsukan data rumah sakit. Sebenarnya Karinda tidak akan pernah bisa hamil, karena ia pernah melakukan pengangkatan rahim


Hanna Aleesa : Apa? Tunggu!


[Call Ended]


"Mba Rina? Bisa panggilkan Hugo?"


"Baik, Bu."


Aku mengelus perut yang sesaat merasakan tendangan dari dalam. Sabar, ya, Nak ..., jangan gelisah, Mama pasti bisa atasi ini. Hugo datang setelah beberapa saat Mba Rina memanggilnya ke luar.


"Ada apa, Bu?" tanyanya menghampiriku di ruang keluarga.


"Tolong kamu duduk dulu. Mba Rina juga."


Seusai keduanya duduk di sofa, aku mulai menyusun kata untuk menjelaskan pada mereka pokok masalah yang kuhadapi.


"Ada seseorang yang melakukan tindakan ancaman kepada saya. Saya dipaksa untuk menerima paket berisi informasi vital tentang Karinda. Permasalahannya adalah saya sendiri tidak tahu siapa orang di balik pengiriman paket itu dan ke alamat mana paket itu akan dikirim. Pelaku mengaku bernama Henri, dia sepertinya sangat tahu tentang keluarga Al-Faruq."


"Masalah selanjutnya adalah, paket itu tidak tahu akan dikirim ke mana, dan tidak tahu pula akan sampai kapan. Yang jelas penerima paket itu diatasnamakan Adrian Al-Faruq, sementara isinya termasuk surat yang sengaja ditulis pengirim dengan kalimat mengandung provokasi."

__ADS_1


"Maaf Nyonya. Apakah ada informasi lain yang bisa mendasarkan kemungkinan ke mana paket itu akan dikirim?"


"Tidak ada. Pengirimnya hanya mengirimkan pesan ini." Tunjukku menyodorkan layar ponselku.



"Saya tidak ingin paket ini sampai ke tangan Adrian atau Karinda sebelum saya. Karena sudah pasti akan menimbulkan kesalahpahaman. Jadi, saya mohon kalian berdua sigap ketika ada paket dengan ciri-ciri seperti itu yang sampai mungkin ke alamat rumah ini, mungkin ke kantor pusat, kantor cabang, bahkan bisa saja dikirimkan ke rumah Ummi."


"Secara garis besar saya cukup mengerti permasalahan anda. Malam ini saya akan mencari tahu keberadaan pria bernama Henri ini. Kalau sampai kerja keras saya ini tidak membuahkan hasil sampai esok pagi, maka jalan terakhir adalah menuruti permainan tebak-tebakan seperti yang orang ini inginkan," tanggap Hugo serius.


"Tolong diusahakan, ya. Saya percaya dengan kalian."


"Baik, Bu. Perlu anda ingat bahwa kami masih akan berusaha. Jadi anda tidak perlu cemas. Mba Rina juga akan lebih baik kalau selalu menemani anda."


"Benar, Bu. Saya sependapat. Pasti akan lebih baik kalau Ibu menyeimbangkan emosi, mengurangi cemas, dan berpikir positif. Hugo bukan staff keamanan biasa. Pasti kita bisa mengatasinya."


"Terimakasih. Saya tidak mungkin mengatakan hal ini kepada staff lain selain kalian. Karena saya percaya dengan kalian berdua. Tolong jangan sampai apa yang saya katakan hari ini bocor ke telinga Adrian dan Khad- Karinda."


"Baik, Bu."


Dari depan, suara pintu rumah terbuka. "Assalamualaikum ...."


"Wa'alaikumsalam," balasku lirih. Lalu sedikit kulirik Adrian dan Khadija yang berjalan masuk rumah, melewati ruang keluarga.


Mana mungkin aku tak cemas setelah hal yang menakutkan ini benar-benar mengancamku. Bohong kalau aku bilang aku baik-baik saja. Tapi demi tak membuat Mba Rina khawatir aku masih bisa berpura-pura baik-baik saja. Sementara itu, kulihat Adrian dan Khadija benar-benar hanya berlalu meski sempat melihatku duduk di sofa ruang keluarga.


...----------------...


Pagi tiba, dengan Hugo memberikan kabar padaku melalui surel yang baru aku periksa setelah salat dhuha.



Sedikit ada rasa kecewa. Tapi aku tetap harus menghargai kerja keras Hugo. Aku pun mencoba berpikir untuk mencari alternatif lain. Kalau sampai benar satu-satunya jalan adalah dengan bermain tebak-tebakan 'Ke mana paket itu nantinya akan dikirim', mungkin aku akan lebih memilih untuk mengeluarkan uang seharga mobil.


"Pagi!" Khadija datang dari lapangan belakang rumah, berjalan cepat sampai ke ruang makan.


Tak langsung duduk, ia menghampiriku. "Gimana? Katanya makin kuat, ya, tendangannya?" tanyanya berlutut di depanku dengan tangannya memegang perutku, menunggu adanya gerakan.


"Kalau dicariin malah ngumpet-ngumpet baby-nya. Nanti deh, kalau ada gerakan lagi, aku panggil kamu."


"Nanti tendang-tendangnya lebih kenceng lagi, ya, Sayang?" bisiknya diikuti tawaan.


Adrian muncul dari arah berbeda. Ia melihatku seakan bertanya "Ada apa nih?"

__ADS_1


"Mas coba sini deh! Kenapa kalau aku yang panggil, baby-nya malah ngumpet," panggil Khadija.


"Oh ya."


"Iya. Makanya coba kamu ke sini panggil baby deh."


"Udah-udah, kamu ngapain sih duduk di lantai gitu? Nanti kita telat ke kampus. Buruan selesaikan sarapannya."


Aku sedikit melirik Adrian. Bad mood? Kenapa ketus begitu pagi-pagi?


Pukul sembilan pagi, rumah sudah hening kembali. Adrian dan Khadija berangkat ke kampus, sementara aku yang harus tinggal di rumah, hanya bisa berpikir dalam jeruji kecemasan. Sampai ketika, Mba Rina mengajakku pergi berbelanja karena tahu aku tak bisa berhenti memikirkan paket itu.


"Ah, maaf Bu. Sepertinya ada barang saya yang tertinggal. Anda bisa menunggu di dalam mobil." Mba Rina yang hampir duduk di bangku depan, segera berlari kembali ke rumah.


Tok! Tok! Tok*!*


Kaca jendela mobil diketuk oleh seseorang dari luar. Aku memastikan siapa orang itu sebelum akhirnya membukakan pintu mobil. Ketika wajah itu kuamati sedemikian lama, spontan aku menelan ludah. Henri***!***


"Di mana paketnya! Cepat berikan sebelum saya beritahukan kepada Adrian." Aku yang tersulut emosi segera keluar dari dalam mobil.


"Nyonya Al-Faruq ..., tenanglah. Saya datang ke mari untuk membuat perjanjian antara kita. Lagipun saya tidak percaya anda akan melaporkan hal ini kepada Tuan Al-Faruq. Anda tahu kira-kira bagaimana nasib sahabat anda, ketika Tuan Al-Faruq mengetahui bahwa istri keduanya tidak bisa memberikan keturunan? Apakah ..., sahabat anda itu akan segera menjadi janda?"


"Shut up*!"*


"Baiklah, singkat saja. Saya akan beritahu alamat penerima paket itu, jika anda mau memberikan uang sesuai yang saya minta kemarin. Mudah kan?"


Aku terdiam dalam emosi dan panasnya kepala. "Ayolah, Nyonya Al-Faruq. Saya yakin uang delapan puluh ribu dolar setara dengan dua kali uang bulanan anda," sambungnya melempar senyum penuh kelicikan.


"Wah, ada apa dengan ekspresi anda? Sepertinya tebakan saya tepat sasaran. Uang bulanan anda pasti tidak kurang dari empat puluh ribu dolar. Hahahah."


"Bisa beritahu saya alasan lain kenapa saya harus membeli informasi itu?"


"Baiklah-baiklah. Jadi, di dalamnya ada informasi dan bukti-bukti nyata tentang Karinda yang melakukan pemalsuan dokumen dan identitas, pengangkatan rahim, lalu percobaan aborsi."


"Ukh-" Aku spontan menutup mulutku yang tak tahan mengeluarkan isi perut.


"Jangankan anda. Saya juga sangat jijik dengan wanita itu."


Astaghfirullahhal'adziim ..., Laa ilaha illalaah. Jangankan Mas Adrian yang mendengar hal ini. Aku saja tak tahan mendengar ucapan Henri. Kedua kakiku seketika lemas mendengar hal itu. Padahal sejak awal aku sudah berpikir bahwa informasi yang dibawa Henri adalah sebuah kebohongan. Tapi kenapa aku harus merasakan perasaan ini sekarang.


Dari dalam pekarangan rumah, Mba Rina berlari menuju ke arahku dan segera membantuku fufuk kembali ke bangku belakang mobil. Ia sempat memaki Henri, lalu aku dengan segera mengambil keputusan terbaik.


"Saya beli," kataku mengeluarkan ponsel untuk memerintah Hugo mengirimkan uang sejumlah delapan puluh ribu dolar ke rekening Henri.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, pria itu memeriksa ponselnya, dan tersenyum puas. "Senang bertransaksi dengan anda. Paket itu saya kirim ke kampus tempat Tuan Al-Faruq mengajar. Paketnya akan sampai hari ini, dan seperti yang saya jelaskan, bahwa informasi di dalamnya amat sensitif."


__ADS_2