Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Rasa Bersalah


__ADS_3

“Okay, udah, sekarang kita fokus bersih-bersih dan menata barang kita. Supaya besok lusa, rumah ini udah bisa ditinggali secara normal.”


“Ditinggali ‘Secara Normal’? Maksud kamu ...”


“Iya ... biar rumah ini bisa jadi tempat yang nyaman untuk kita aktivitas.”


“Seperti ... bisa melakukan kegiatan suami-istri lagi untuk kasih Ayah-Bunda cucu yang banyak?” tanyanya menggodaku.


“Bukan git-”


“Aku nggak tahu ternyata kamu berpikir sampai sejauh itu, Hanna Aleesa,” potongnya cepat mencegahku menjelaskan maksudku mengatakannya.


Mas Adrian melirik pada dua kotak berwarna biru dan satu tas bingkisan di sebelahnya yang tergeletak begitu saja di lantai, kemudian beralih menatapku, “Kamu mau cepat-cepat pakai pemberian Kak Erina? Kita bisa pakai sekarang kalau kamu mau. Aku juga akan pakai pemberian Kak Danar kalau kamu emang sangat menginginkannya.”


“Apa sih...” Aku menepisnya, berjalan mengambil sapu.


“Untuk pakai itu, nggak perlu nunggu sampai selesai bersih-bersih loh, Sayang.”


“Mas Adrian! Udah, ya, sekarang waktunya kita bersih-bersih. Kalau nggak dimulai sekarang juga, kita cuma buang-buang waktu.” Aku meninggalkan Mas Adrian yang terus menerus menggodaku.


Jantungku serasa mau meledak mendengarnya mengucapkan tiap patah kata yang hanya membuatku ingin terbang. Desir halus itu, dan rasa takut itu, semua pemicunya adalah seorang manusia yang empat belas tahun lebih dewasa dariku, tapi tak mau disebut tua. Aku tak menyangka sampai hari ini, detik ini, aku masih merasakan debaran sama seperti ketika kami saling bertatapan untuk pertama kalinya.


Sungguh, aku percaya jika ada yang mengatakan “Jatuh cinta itu bisa dirasakan kalau sudah menikah. Kalau belum menikah, **p**asti belum tahu arti sebenarnya jadi jatuh cinta.”.


Pernikahan bukan hanya sekedar dua orang yang saling mencintai. Pernikahan bukan sekedar menyatukan kamu dan orang yang kamu cinta, melainkan menyatukan dua keluarga yang banyak memiliki perbedaan, menjadi sejalan dalam beriringan. Pernikahan memiliki arti emosional yang lebih dalam dari anggapan kalian (para jomblo yang belum merasakannya).


Karena aku pun merasakan hal yang sama. Untuk kalian yang tak percaya, sepertinya kalian perlu waktu hingga menikah dan merasakannya sendiri. Kini, setelah kami menikah, aku baru mengerti rasanya jatuh cinta dengan sangat dalam.


Rasanya seperti ... Entahlah, rasakan saja sendiri:)


*****


"Sayang ...? Aleesa ...."


Kecupan-kecupan ringan menggelikan mengganggu ketenangan tidurku. "Hmm?"


"Kamu nggak bangun?"


"Sebentar lagi, Mas."


"Ya udah, lanjutin aja tidurnya, kayaknya kamu capai banget gara-gara seharian bersihin rumah."


"He'eh. Jam berapa sekarang?"


"Jam lima lebih lima menit."


"Okay  bentar lagi aku bangun."


“Aku mau jogging sekalian keliling kompleks, ya? Sekalian menyapa tetangga.” Suara pelan itu terdengar ketika aku masih berusaha mengumpulkan nyawaku untuk bangun dari tilam yang memberikan gaya tariknya kepada tubuhku.

__ADS_1


“He'eh. Jangan siang-siang pulangnya,” peringatku mencoba beringsut dari tempat tidur.


Cup!


Sebuah kecupan tertinggal di keningku sebelum akhirnya Mas Adrian benar-benar pergi, keluar dari kamar meninggalkanku. Aku pun bergegas bangkit menuju kamar mandi, dan segera turun untuk sekedar melanjutkan bersih-bersih halaman. Sekalian menunggu tukang sayur untuk membeli bahan-bahan masakan hari ini. Tukang sayur yang biasanya berhenti tepat di depan rumah seperti rutinitasku dulu, apakah sudah berganti orang, ataukah masih orang yang sama?


Hanya menunggu beberapa saat sembari merapikan rumput di pinggir pagar hingga tukang sayur datang dan menjadi tempat berkerumunnya ibu-ibu kompleks. Kedatanganku kembali ke rumah itu juga nampaknya cukup menjadi perhatian mereka. Karena selama dua hari kepindahanku dan Mas Adrian, kami hampir tak keluar rumah sama sekali karena sibuk menata dan membersihkan isi rumah, pastinya mereka juga agak terkejut dengan kedatanganku kembali ke rumah ini membawa serta seorang pria bersamaku.


Tapi di antara ibu-ibu yang ramai berkumpul dan bergosip, aku mencari seseorang lain yang tak kutemukan di antara wajah-wajah mereka.


Dari mana Bu Rahmi?


“Iya ... nggak pernah lihat Hanna keluar rumah sejak pindahan.”


“Rencananya mau ngajar di kampus kamu dulu, ya, Han?” tanya seorang ibu.


“Iya, Bu ... Inshaa Allah ngajar di kampus saya dulu.”


Tahu dari mana kalau Mas Adrian mau ngajar ke kampusku?


“Oh, ya. Bu Rahmi kok nggak keluar rumah, ya? Tumben loh,” celetuk seorang lainnya.


Aku segera melihat ke rumah Bu Rahmi yang hanya berjarak beberapa meter dari rumahku. Rumahnya masih bersih, lampu depannya pun masih menyala hingga ibu-ibu kompleks membubarkan diri dari perkumpulannya. Aku pun segera masuk untuk mengisi kulkas dan menyiapkan sarapan, meski dalam hati ini masih ada rasa penasaran tentang keberadaan Bu Rahmi.


Setelah memikirkan resep masakan hari ini sembari berdiri di depan kulkas dengan pintu terbuka, aku mengambil brokoli, wortel, kubis, dan sosis ayam untuk sarapan hari ini. Meski sebenarnya pagi ini mood ku kurang baik sejak bangun tidur, tapi aku tetap harus memasak, mengingat nggak ada asisten yang bisa membantuku masak dan menyelesaikan pekerjaan rumah tangga lainnya di rumah ini.


Astaghfirullahhaladziim ... kamu mikirin apa sih, Hanna! Ayo konsentrasi! Nggak apa-apa! Nggak apa-apa! Meski hatiku berteriak demikian, tapi air mataku kembali menetes deras.


Hingga hidangan yang kubuat hampir selesai, akhirnya tangisku baru bisa berhenti. Aku beralih, melanjutkan tahap akhir masakanku dengan menambahkan bumbu-bumbu terakhir. Baru kemudian, tinggal menunggu kuah sup dalam panci itu sampai mendidih.


“Assalamu’alaikum ....” Suara Mas Adrian terdengar memasuki rumah.


Aku segera menaruh alat masak yang sudah selesai kugunakan ke tempat cuci, kemudian melepas celemekku dan berjalan cepat ke ruang bagian depan rumah. Saat kulihat Mas Adrian sudah berdiri di ruang tamu sembari melepas jaketnya, tak kusangka air mataku terpantik untuk turun tiba-tiba.


“Ada apa, Sayang?!” tanya Mas Adrian terkejut dengan sikapku yang tiba-tiba, datang berlari memeluknya.


Mas Adrian mencoba mundur beberapa langkah, namun tetap tak kulepaskan lingkaran tanganku di pinggangnya. “Aku keringatan loh, yakin nih, nggak mau lepas dulu?” Aku hanya menggelengkan kepala mendengar pertanyaannya.


“Ya udah, jadi maunya gimana? Ini masih pagi loh, katanya hari ini kamu mau anterin aku ke kampus B.” Aku masih bungkam mendengar perkataannya, juga tak melonggarkan sedikit pun pelukan itu.


Entah mengapa di depan Mas Adrian, aku tak bisa menutupi perasaanku lagi. Hanya kepada Mas Adrian aku bisa jujur pada perasaan yang kurasakan saat itu juga. Rasanya tak ada lagi yang bisa kututupi jika berhadapan dengan pria ini. Pria yang membuatku jatuh cinta ini, bagaikan mantra yang menyihirku untuk tak takut mengatakan apa pun perasaan yang kurasakan.


Setelah memeluk Mas Adrian cukup lama tanpa penolakan lagi darinya, aku teringat dengan supku yang harusnya sudah matang. Aku pun melepaskan pelukan itu, meninggalkan Mas Adrian ke dapur tanpa berucap sepatah kata pun. Benar saja supku sudah masak, dan sudah saatnya untuk menyajikan sarapan pagi pertama kami di rumah ini.


Mas Adrian mengikutiku hingga dapur, aku merasakan ia telah berdiri di belakangku. “Kamu kenapa sih? Tadi minta peluk tiba-tiba, sekarang kabur demi sup nggak ngomong apa-apa,” bisik Mas Adrian dengan keningnya menempel di bahu kiriku.


Aku berbalik ragu, masih menundukkan pandanganku meski aku tahu Mas Adrian akan menganggapku aneh. Setelah berani menatapnya, aku berjinjit, kedua tanganku memegang wajah itu meski bergetar. Kami semakin mendekat hingga bibir kami menyatu dan bermain untuk waktu yang demikian lama.


“I have something to say,” bisikku setelah melepas ciuman itu.

__ADS_1


^^^(Aku punya sesuatu yang ingin kukatakan)^^^


Mas Adrian segera mengangkat tubuh kecilku dan mendudukkannya ke atas meja makan. “Sure, you can tell me everything,” ujarnya menatapku lurus dengan posisi kami yang hampir sejajar.


^^^(Tentu, kamu bisa mengatakan semuanya padaku)^^^


“I’m sorry, I really sorry.”


^^^(Aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf)^^^


“For what?”


^^^(Untuk apa?)^^^


“I Have my ... first period. I don’t want it, but ... this is happen.”


^^^(Hari ini hari pertamaku menstruasi. Aku tidak menginginkannya, tapi ... ini terjadi)^^^


“Is that the reason why you look so sad this morning?” tanyanya menyelipkan rambut yang menutupi mataku.


^^^(Inikah alasan kenaoa kanu kelihatan sedih pagi ini?)^^^


“I won’t make you dissapointed.”


^^^(Aku tidak ingin membuatmu kecewa)^^^


“You are the one who’s never make me dissapointed. It’s not a big problem, Babe, we can try again.”


^^^(Kamu adalah satu-satunya orang yang tidak pernah membuatku kecewa. Ini bukan maslaah besar, Sayang, kita bisa mencoba lagi)^^^


“Sorry ...”


^^^(Maaf)^^^


“It’s okay. I’ll try harder then, don’t give up okay?”


^^^(Tidak apa-apa. Aku akan mencoba lebih keras kalau begitu, jangan menyerah, ya?)^^^


Mas Adrian mengacak rambutku seraya tersenyum. Ia meletakkan kedua tangannya di pinggiran meja makan untuk menyejajarkan tingginya denganku. Ia menarik napasnya dalam, menghembuskannya perlahan, kemudian mengangkat daguku agar menatapnya.


“It’s not your fault, Babe. Trust me,” tuturnya kubalas dengan anggukan. Ia tahu dalam kelapaku aku masih merasa bersalah.


^^^(Ini bukan salahmu, Sayang. Percayalah padaku)^^^


“Okay, it’s breakfast time! Show me what you cook this morning.”  Adrian cepat mengubah topik.


^^^(Baiklah, sekarang waktunya sarapan! Tunjukkan padaku apa yang kamu masak pagi ini)^^^


Ia menghiburku dan segera mengambil mangkuk kosong untuk diisi dengan sup buatanku. Pagi itu, meski aku sedih dan bingung karena tak ingin membuat Mas Adrian kecewa, tapi nyatanya justru Mas Adrian lah yang menguatkanku dan menerima keadaan sekarang ini.

__ADS_1


__ADS_2