
Setelah kedatangan Ayah-Bunda malam tadi, kini semua kembali disibukkan pada kehidupan masing-masing. Hari ini pun sama seperti kehidupanku yang biasa, bangun pagi, langsung mandi, salat, lanjut siap-siap bikin sarapan untuk suami. Ditambah lagi kehadiran Harun di rumah ini. Walau tak kuanggap sebagai beban, nyatanya aku harus siap jadi istri dan Kakak perempuan yang baik dalam satu waktu.
Pagi ini pun Adrian orahraga di taman komplek, bahkan berangkat lebih awal dari biasanya. Mungkin kebetulan ia ingin jogging lebih pagi, mungkin juga dengan alasan lain. Misalnya, menghindar bertemu dengan Harun yang selalu memanggilnya dengan sebutan yang tak diinginkan?
Ketika waktu hampir menunjukkan pukul tujuh pagi dan cahaya matahari perlahan masuk ke dalam rumah melalui kaca ventilasi, baru terdengar suara Mas Adrian kembali dari olahraga paginya.
"Assalamu'alaikum ..."
"Waalaikumsalam warahmatullah."
"Pagi, Sayang. Kamu bikin sarapan apa hari ini?" Adrian berdiri rapat di belakangku yang sibuk menyiapkan sarapan.
"Pagi! Ehmm, sarapan sehat dan bernutrisi untuk Pak Suami" balasku diiringi tawa.
"Ini buatku?"
"Eits! No ..., yang ini buat Harun. Punya kamu..., yang ini." Aku menjauhkan lasagna dari jangkauannya, beralih menyodorkan salad sayur. Seketika itu pula ekspresinya berubah.
"Pagi Kak Hanna! Pagi Om!"
Aku melihat reaksi Adrian bertambah bete. "P, Pagi," balasku singkat.
"Jangan mesra-mesra an di depan anak kecil. Aku tahu sih kalian ini suami-istri, tapi aku masih kecil loh," cetus Harun tanpa ekspresi seraya mengambil duduk di meja makan tak jauh dari tempat kami berdiri.
Adrian selangkah mundur menjauh. "I can hardly believe he's your brother. Why do you have a brother like that?"
^^^Aku masih nggak percaya bocah itu adikmu. Kenapa kamu bisa punya adik kayak gitu sih?^^^
"Don't be mad, he's just a kid." Aku mencoba menenangkannya.
^^^Jangan marah atuh, dia, kan masih anak kecil.^^^
"If he wasn't your brother, I would've .... ih."
^^^Kalau aja bukan adikmu, pasti udah aku .... ih.^^^
"*Be patient Babe*. Let's have breakfast first! Don't make Harun feel uncomfortable. Okay?"
^^^Sabar Ayang, udah, kita sarapan dulu aja yuk! Jangan bikin Harun ngerasa nggak nyaman. Ya?^^^
"I just wish he didn't see me same the way he saw his uncle."
^^^Aku cuma berharap aja, dia nggak lihat aku kayak dia ngelihat pamannya.^^^
"Of course it's not. You're his brother-in-law."
^^^Nggaklah ..., kamu, kan Kakak Iparnya.^^^
"Hey Guys, I understand what you two have been talking about." Harun bersuara tiba-tiba setelah sedari tadi hanya memandangi kami berdua.
^^^Hei, aku ngerti sama apa yang kalian obrolin dari tadi.^^^
Aku dan Adrian bertatapan selama beberapa saat. "Kalian pikir aku nggak bisa bahasa inggris karena sekolah di pondok pesantren?" Harun menatap kami bergantian.
"Udah, udah ..., Kita sarapan aja, yuk!"
"Aku panggil Om Adrian karena kalau kita lihat dari jarak usia kita, itu sesuai. Benar, kan?" cecar Harun tak sadar akan situasi.
Aku memejamkan mataku seraya menghela napas panjang. Mendengar perkataan Harun barusan, Adrian segera meninggalkan dapur tanpa bicara lagi. Berdasarkan prediksiku, aku yakin dia akan langsung berangkat kerja dan nggak mau sarapan setelah ini.
"Harun..., Kan kemarin Kak Hanna udah bilang, jangan panggil Adrian 'Om'. "
"Apaan sih, biasa ajalah ... Kenapa dia baperan gitu?"
"Nggak gitu, Harun. Adrian itu kakak ipar kamu. Kalau kamu nggak bisa menghargai orang lain, kamu juga nggak akan dihargai."
"Apa sih, Kak. Kak Hanna aneh deh, padahal aku manggil Om Adrian karena emang panggilan itu sesuai sama dia," belanya tak mau kalah.
__ADS_1
"Tapi kamu lihat, kan, Kak Adrian nggak suka dipanggil gitu."
"Ya, kalau itu sih terserah dia nya. Toh aku nggak nyari gara-gara."
"Nggak nyari gara-gara gimana? Kamu nggak lihat Kak Adrian marah setiap kamu panggil gitu?"
"Mana aku tahu."
"Harun! Kakak ngerti kamu pinter kok, kamu pasti bisa menilai perasaan seseorang hanya dengan melihat ekspresinya. Kalau kamu mau tinggal di rumah ini, tolong hargai sesama penghuni rumah ini. Jangan bikin rumah ini jadi nggak harmonis lagi. Paham?"
"Iya, iya..., kalau aku ingat aku nggak akan panggil Om lagi."
"Beneran, ya. Awas loh."
"Iyaaaa."
"Nih\, sarapan kamu\, Bunda bilang katanya kamu minum susu yang mereknya ****. Karena Kak Hanna belum ada\, nanti siang Kakak beliin. Sementara kamu minum susu ini dulu aja\, yang ada di kulkas."
"Siap, Boss."
"Habisin sarapannya, jangan sisa," peringatku sekali lagi.
"Iyaaa. Cerewet banget udah kaya emak-emak marahin anaknya."
Gerutuan Harun barusan mungkin hanya asal celetuk dari mulutnya saja. Tapi seketika aku membeku selama beberapa saat. Lagi-lagi pikiranku terbentur ke arah sana. Selalu ke arah yang sama, dan perihal yang serupa.
"Kak Hanna!"
"Hmm? Ya?"
"Kak Adrian nggak ikut sarapan?" tanyanya disela-sela tangan kanan yang aktif memegang sendok.
Aku melihat ke arah tangga sesaat. "Sarapan di kantor," jawabku singkat.
"Emang biasanya nggak sarapan di rumah?"
Aku berjinjit mengambil kotak bekal tempat makan untuk salad sayur yang tak jadi dimakan sebagai sarapan pagi ini. Ini pertama kalinya Adrian nggak sarapan di rumah sejak pertama kali kami datang ke rumah ini. Rasanya jadi sedikit berbeda. Tapi aku juga tak bisa menyalahkan Harun sepenuhnya. Sebagai anak enam tahun menuju tujuh tahun, sifat kekanakannya masih perlu dimaklumi.
Sehabis menyiapkan kotak bekal untuk sarapan Adrian, aku bergabung dengan meja Harun. Menemaninya sarapan pagi, sekaligus menunggu Adrian turun dari kamar. Aku benci dengan suasana awkward di rumah ini. Rumah yang seharusnya penuh dengan kenangan indah, bahagia, senyum, dan tawa ini tak boleh sampai tercemar oleh hal-hal tak mengenakkan.
"Kak, aku udah selesai sarapan. Harun boleh ke depan, kan?"
"Iya, boleh. Jangan main jauh-jauh, nanti lupa jalan pulang lagi."
"Iyaa."
"HPnya jangan lupa dibawa. Kalau ada apa-apa, biar Kakak nyarinya gampang."
"Iyaa!" Harun mengangkat ponselnya tanpa berhenti melangkah keluar dari rumah.
"Sayang, aku berangkat, ya."
"Eh!, ini bekalnya, jangan lupa dimakan, ya. Hati-hati di jalan."
"Iya, makasih." Adrian setengah hati memegang kotak bekal itu, tapi tetap menerimanya.
"Oh ya. Kamu nanti pulang jam berapa? Besok..., jadi berangkat subuh?"
"Nanti nggak akan malam kok, besok harusnya jadi berangkat subuh, sih. Nanti aku coba pastiin lagi."
"Okay, kalau gitu nanti aku siapin baju-baju kamu."
"Makasih, ya. Ingat, jangan kecapean."
"Iyah ...."
"Harun mana?"
__ADS_1
"Huh?" Aku tersentak sesaat.
Padahal tadi dia sampai marah gitu, sekarang malah nanya in Harun ke mana. Apa moodnya jadi baik setelah mandi?
"Barusan keluar. Dia emang nggak suka di rumah lama-lama."
"Jangan sampai jauh-jauh mainnya. Nanti kalau ada apa-apa, kamu juga, kan, yang kerepotan."
"Nggak kok, tadi udah aku bilangin."
Sembari berjalan di sebelahnya, aku mengantar Adrian sampai ke mobil. Seperti biasa, satu kecupan mendarat di keningku sebagai syarat sebelum ia meninggalkan rumah.
"Aku berangkat, ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam warahmatullah." Tanganku melambai pelan, melepasnya dengan senyum yang kemudian memudar bersamaan dengan hilangnya bayangan mobil itu di belokan.
Hari ini ada pesanan pastry untuk tetangga dari blok B. Meski pesanannya nggak banyak, tapi pastry membutuhkan banyak waktu dan kesabaran, karena itu hari ini akan sangat melelahkan. Belum lagi harus beli susu untum Harun, dan menyiapkan pakaian yang mau dibawa Mas Adrian untuk besok.
Semangat Hanna!
Saat matahari sudah cukup terik, bersamaan dengan itu pula pesanan pastry selesai dibuat. Berhubung pemesannya dengan sukarela mau mengambil ke rumah, aku pun memanfaatkan waktu yang ada untuk bersih-bersih sembari menunggunya. Lagi pula, setelah ini aku berencana pergi ke supermarket membeli susu untuk Harun.
Menunggu memang hal yang membosankan. Bahkan hingga aku selesai mencatat apa saja yang hendak kubeli, orang yang memesan pastry itu belum juga datang. Lebih membuat kesal lagi karena nomor yang ditinggalkan tak bisa dihubungi sampai detik ini.
"Kak Hann, nungguin siapa gelisah gitu?" Harun mendatangiku yang memang sejak tadi melihat ke arah jendela.
"Nunggu orang yang mau ambil pesanan."
"Belum diambil juga?" tanyanya kubalas dengan gelengan kepala.
"Bukannya udah janji dari tiga jam yang lalu?"
"Iya ..., makanya Kakak nunggu dari tadi ini."
"Di telepon kek, kirim pesan atau apa gitu," usulnya ikut-ikutan kesal.
"Udah Kakak telepon daritadi, nomornya nggak aktif."
"Wah, kacau nih. Mana pesanannya sebanyak ini. Tapi orangnya udah lama langganan sama Kakak, kan?"
"Baru pertama kali ini."
"Astaghfirullah, Kakakku yang pintar, mahasiswi double degree. Bisa-bisanya Kakak percaya sama orang asing gitu aja."
"Kamu apa sih? Kan kita belum tahu orangnya jadi ambil atau enggak. Jangan suudzhon dulu."
"Iya, sih ..., tapi kalau akhirnya sampai nanti orangnya nggak ke sini gimana? Kemarin Kakak begadang sampai pagi cuma buat bikin adonan pastry. Belum lagi jumlahnya banyak banget."
"Udah, mending kamu diam aja. Jangan bikin Kakak makin panik dong .."
Tanpa sadar aku menggigit ujung jari karena terbawa suasana panik setelah mendengar kata-kata Harun. Meski hati mencoba untuk terus berpikir positif, nyatanya logikaku takut memperkirakan berbagai kemungkinan terburuk. Kulihat tumpukan kotak berisi pastry yang sudah kususun sejak tadi. Rasanya aku sampai lupa sudah membuat 400 buah dalam sehari ini.
Hari berangsur gelap hingga membuatku semakin terendam dalam amarah. Sabar Hanna ..., tetaplah berpikir positif.
"Kak!" Harun mengejutkanku dengan tangannya yang sudah bertengger di lenganku.
"Itu ada telepon masuk," ucapnya menunjuk ponsel di atas meja.
"Oh, iya."
[Voice Call]
Hanna : Selamat sore, Bu. Iya, ini pesanannya sudah siap.
Pelanggan : Selamat sore. Ah, begini ....
Hanna : Iya, gimana, Bu?
__ADS_1
Pelanggan : Itu ..., bisa nggak kalau pesanannya dicancel?