Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Birth of Al-Faruq Jr


__ADS_3

"Allahu akbar, Allahu akbar. Allahu Akbar, Allahu Akbar. Asyhaduallaailahailallah ... Asyhaduallaailaahailallah ... Asyhaduannamuhammadarrasulullah ... Asyhaduannamuhammadarrasulullah ... Hayya'alasholaah, Hayya'alasholaah. Hayya'alalfalaah, hayya'alalfalaah. Allahu akbar, Allahu akbar, Laailahailallah ...."


Lantunan adzan lirih dari bibir Garrin terkumandang di dekat telinga Al-Faruq junior. Hingga membuatku kembali menitikkan air mata entah karena terharu bahagia atau sedih karena bukan Papanya sendiri yang mengumandangkan adzan di dekat telinga Baby Al-Faruq untuk pertama kalinya.


Dengan senyumnya, Garrin menyerahkan Baby Al-Faruq padaku. Mungkin kalian belum mengerti bahagianya menggendong darah daging kita untuk pertama kalinya. Apalagi bibirnya yang merona dan bulu mata tebalnya itu mirip sekali dengan Adrian ketika tidur lelap. Memandanginya saja seakan tenagaku pulih seketika.


Keringatku hari ini, rasa sakitku hari ini, terbayar dengan kehadiran Baby Al-Faruq yang sehat, hingga memantik air mataku turun bergulir. Sesaat kemudian, Dokter Jennie, dan Dokter Reni masuk ke dalam ruangan ini bersama Mba Rina, juga Johana. Mereka juga mengembangkan senyum melirik pada Baby Al-Faruq dalam dekap pangkuanku. Sekarang kehadiranmu adalah pembawa kebahagiaan kami, Nak.


"Saya sudah menghubungi Pak Adrian, beliau segera berangkat setelah mendengar kabar ini," ujar Mba Rina melihatku penuh haru.


Aku mengembangkan senyum melihatnya, "Makasih, Mba." Lalu kulihat jam di dinding kamar yang menunjukkan pukul sebelas malam.


"Mau dikasih nama apa baby ganteng ini?" tanya Johana memandangiku yang hanya tersenyum.


"Lihat deh, wajahnya mirip banget sama Ibunya ... Kalau hidungnya, bener-bener Adrian sih ini mah," ujar Dokter Reni.


"Iya, bisa mirip banget, ya? Kalau alis matanya, DNA dari Mamanya nih, pasti."


"Baby kalian ini sepertinya sangat kuat ya? Lahir sepuluh hari sebelum perkiraan, bahkan lahirannya nggak menyulitkan sang Mama dan berat badannya juga normal."


"Terbukti, Pak Adrian benar-benar menjaga istrinya dengan baik selama kehamilan."


"Duh, jadi nggak sabar deh lihat ekspresi Adrian gendong Baby Al-Faruq nantinya."


"Iya ... Pak Adrian pasti senang sekali, anak pertamanya aja udah ganteng banget karena turunan DNA dari orangtuanya."


"Ehm, Mba Rina. Ummi sama Bunda ... udah diberitahu?" tanyaku kemudian.


"Sudah Bu. Orangtua anda sudah menunggu di rumah."


"Kalau begitu ... apa saya sudah boleh pulang hari ini juga, Dok?"


"Karena sudah jam sebelas malam, kami menyarankan untuk menginap satu malam saja di rumah sakit. Memang kondisi bayi dan ibunya sehat-sehat saja, tapi akan lebih baik pergi esok pagi."


"Baik, Dok. Terimakasih."


"Semuanya ... saya dan Jo pamit pulang duluan, ya ..., masih ada urusan yang harus kami selesaikan. Assalamu'alaikum," pamit Garrin di tengah riuhnya manusia-manusia itu yang bersuka cita menyambut kehadiran Baby Al-Faruq.


"Wa'alaikumsalam," balas yang lain serentak.


Johana yang tiba-tiba ikut ditarik keluar segera melihat ke arahku dengan kedua alisnya bertaut. Dengan gerakan bibir tanpa suara, aku mengatakan 'Semoga berhasil, ya!'


"Kalau begitu saya juga pergi dulu untuk mengurus administrasi. Sekali lagi selamat, ya Hanna," ucap Dokter Reni sembari tersenyum.

__ADS_1


"Iya, Dok ... terima kasih banyak atas bantuannya."


Karena baru diizinkan pulang esok hari, aku benar-benar bersyukur dan menikmati setiap waktu mendekapnya. Perjuangan dan perjalananku yang penuh liku berakhir indah dengan hadirnya buah cinta kami. Laki-laki yang akan jadi saleh dan bertanggung jawab seperti Papanya. Semoga


...----------------...


Pukul sepuluh pagi, bersama dengan Mba Rina dan Hugo, kami pulang kembali ke rumah. Masih saja senyum itu tak luntur dari wajahku ketika melihat Adrian Junior yang menggemaskan dengan suara tangisannya yang nyaring. Dan dengan bantuan Mba Rina yang sudah berpengalaman mengurus bayi, ia mengajariku semua hal yang baik dilakukan dan sebaiknya tidak dilakukan pada baby.


Selama di perjalanan, baby Al-Faruq sama sekali tidak menangis. Ia tertidur pulas dalam gendonganku. Baru beberapa saat kemudian, ketika mobil berhenti di garasi, suara ramai-rami terdengar dari luar rumah. Siapa lagi kalau bukan Ummi, Ayah-Bunda, Kakak dan Kakak Ipar yang datang bersamaan dengan mobil masing-masing. Wajah gembira dan haru mereka ketika melihat Baby Al-Faruq kusimpan dalam memori otak.


Mereka mengucapkan selamat dengan tulus hingga sama-sama menangis haru. Benar-benar kebahagiaan yang sulit diabaikan. Seandainya Adrian yang pertama kali melihatnya terlahir ke dunia, mungkin ia juga akan menangis haru. Sayang ia tak bisa jadi yang pertama melihat puteranya sendiri.


"Anak Bunda sekarang sudah jadi Mama ... semoga kelak jadi anak yang soleh, ya, Nak." Bunda memelukku dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata.


"Anak kita jadi Mama, Yah ...," ujarnya lagi pada Ayah yang juga berdiri di sebelah.


"Insha Allah akan jadi anak yang soleh ... Papa-Mamanya juga, kan solih solihah," timpal Kakak ipar.


"Udah kepikiran calon namanya, belum, Hann?" tanya Kak Zahra padaku.


"Belum, Kak ... nanti, Mas Adrian mungkin udah siapin nama."


"Nama anak itu bisa jadi doa dan harapan orangtua untuk anaknya. Kalian bisa pikirin sama-sama, apalagi masih anak pertama," nasihat Ummi yang duduk di sebelahku.


"Iya, Ummi."


"Ayah sama Bunda darimana? Hari ini pakai baju putih-putih lagi. Bukannya manasik hajinya sudah selesai?"


"Bukan ..., kami barusan dari sekolah Harun. Hari ini, kan Harun wisuda hafidz. Mashaallah banget, karena ternyata adikmu itu hafidz termuda seangkatannya."


"Mashaallah, Harun yang masih SD itu sudah wisuda hafidz Qur'an?" Ummi ikut dalam obrolan.


"Alhamdulillah, iya. Kami juga awalnya tidak percaya Harun yang masih kelas empat SD bisa menyelesaikan hafalan tiga puluh juz. Tapi nyatanya begitu kehendak Allah."


"Mashaallah, luar biasa sekali ya. Padahal tidak pernah kelihatan kalau dia seorang penghafal. Setiap bertemu, anaknya selalu santun dan rendah hati. Memang anda berdua sangat baik dalam mendidik anak. Semuanya sukses dunia dan akhirat."


"Anda bisa saja. Kami hanya mendidik dengan cara yang sama dengan orang tua Islam lainnya."


"Kalau begitu, anda berdua memang memiliki DNA yang Solih dan solihah dari lahir, ya? Ahhahaha."


Riuh tawa dan senda gurau terdengar menyenangkan. Seluruh rumah ini seakan penuh dengan kebahagiaan dan sukacita yang mengalir pada siapa saja di sekitarnya. Sepanjang siang, aku tak banyak bergerak, kecuali memberikan Adrian kecil minum. Dokter sendiri yang berkata, ASI eksklusif sangat penting untuk baby. Dan alhamdulillahnya, ASI sudah mulai keluar sejak pagi tadi. Jadi, tidak perlu repot-repot lagi bagiku mencari susu formula atau alternatif lain.


Malam itu, rencananya Bunda dan Ummi menginap di kamarku untuk berjaga jika Baby terbangun di malam hari, atau aku memerlukan sesuatu. Tapi sepertinya mereka tidak perlu berjaga karena Pak Suami yang sudah dalam perjalanan kembali dari Vancouver.

__ADS_1


Aku berjaga setelah memastikan Baby terlelap. Aku sendiri tak tahu pukul berapa aku baru bisa memejamkan mata karena Baby masih belum bisa membedakan waktu tidur dan bangunnya. Tanganku tak habis-habisnya menepuk lembut untuk menenangkan Adrian kecil yang tidur di sebelahku. Sampai ketika ia terbangun lagi, aku bisa merasakannya.


"Assalamualaikum ..."


"Waalaikumsalam. Sayang?!" Aku terkejut sampai-sampai hampir melompat dari ranjang melihat Adrian tidur menyamping menghadapku.


"Ssst ... jangan keras-keras, kamu mau bikin Asyqar bangun?"


"Asyqar?"


"Itu nama depannya. Kamu suka?" tanya Mas Adrian sembari menatapku dalam.


Aku mengangguk setuju. "Selamat tidur Asyqar Yusuf Muhammad Al-Faruq."


"Kamu bahkan udah siap in nama lengkapnya." Mas Adrian tertawa, mengusap kepalaku lembut.


Pancaran matanya hampir tak ada bedanya dengan anak ini. Anak laki-laki yang tidur di tengah kami ini, darah daging kami. Rasanya seperti ingin menangis karena bahagia melihatnya. Sekarang aku tahu kenapa banyak ibu yang menangis ketika anaknya sakit. Karena anak adalah titipan Tuhan yang tidak bisa melepas ikatannya dari orang tua. Sekarang aku mengerti kenapa ibu bisa sangat bahagia saat anaknya sukses dan bahagia. Karena memang emosional keduanya tak bisa terpisah oleh apapun.


Aku berusaha mendudukkan tubuh ini perlahan. "Maaf, ya, tadi aku nggak sadar sampai ketiduran. Kamu perlu se-"


"Udah ..., kamu tidur lagi aja. Karena aku udah ada di sini, biar sekarang aku yang jagain kalian berdua." Adrian mencium punggung tanganku, lama.


"Kamu udah lama?" tanyaku tetap pada posisi berbaring menyamping.


"Aku sampai rumah sekitar jam tujuh tadi. Sekarang baru jam sembilan lewat dikit."


"Kamu juga istirahat lah. Pasti capai setelah penerbangan yang memakan waktu berjam-jam."


"Lelahku hilang setelah melihat wajah puteraku yang tertidur tenang, dan melihat istriku juga tertidur tenang di sampingnya. Rasanya aku jadi manusia paling bahagia di dunia hari ini."


Tangan itu meraihku. Ia membelai rambutku yang terurai berantakan. "Terimakasih sudah memberiku kebahagiaan yang tidak bisa kudapatkan dari siapapun. Terimakasih banyak Hanna Aleesa."


Aku spontan tertawa. "Maaf, aku tidak bisa mengontrol tawaku. Perkataanmu terlalu exaggerated untuk kudengar sekarang. Bukan cuma kamu yang bahagia, Mas Adrian, aku juga. Bahagia menjadi Mama untuk putera kita, bahagia menjadi istrimu."


"I hope we'll continue like this until we're old and together in heaven."


^^^~Kuharap kita akan terus seperti ini hingga tua dan bersama di surga.^^^


...----------------...


^^^Telah lahir seorang bayi laki-laki bermata hazel di Rumah Sakit Harapan Buana, pada pukul 22.43 WIB, 9 September 20XX.^^^


^^^Dengan berat 3.9 kg, dan panjang 56 cm, bayi ini dilahirkan secara normal oleh sang Ibu, dan baru diizinkan pulang setelah sepuluh jam tinggal di rumah sakit.^^^

__ADS_1


^^^Selamat atas kelahiran Asyqar Yusuf Muhammad Al-Faruq. Selamat datang di kehidupan dunia, dan bertumbuh lah untuk menjadi pemimpin yang baik di masa depan.^^^


^^^♡Mama^^^


__ADS_2