Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Rumah Tangga (1)


__ADS_3

“Mikirin apa sih? Nggak baik memendam sesuatu sendirian.”


“Enggak, nggak apa-apa. Nanti kalau aku ngomong, kamu pasti marah.”


Adrian menarik napasnya dalam, lantas mengeluarkannya perlahan. Tangan kanannya merengkuhku, “Mobil itu hadiah buat kamu, Sayang. Aku nggak mau kamu berkorban banyak untuk apa yang udah terjadi sama kita. Biar ini jadi tanggung jawabku, yah?”


“Iya, aku tahu kok kamu bakal ngomong gitu. Makanya aku nggak bilang apa-apa. Tapi aku jadi nggak enak kalau suatu saat mau ke mini market. Nggak enak dilihatin orang-orang kompleks,”


“Ya, mau gimana, kita adanya mobil cuma ini. Bukan salah kita juga.”


“Atau … gini aja, kalau kamu nggak enak sama tetangga, kita tukeran aja. Jadi nanti, aku kerja bawa mobil kamu, terus nanti kalau kamu mau ke mini market, kamu bisa pakai mobil kita.”


Aku memutar bola mataku, pergi dari sebelahnya, “Kamu pikir orang kompleks nggak tahu harga BMW?”


“Nggak gitu juga, seenggaknya harga mobil kita nggak semahal mobil kamulah.”


“Makanya, kalau aku bilang jual, jual aja …, hidup kita itu udah terlalu mewah, Adrian. Kita terlalu buang-buang uang untuk sesuatu yang sebenarnya nggak perlu.” Aku terus menghindarinya, berjalan ke depan dengan maksud menutup pagar rumah.


“Aku ngelakuin itu cuma mau buat kamu bahagia, Aleesa.”


“Tapi aku nggak bisa nurutin kemauan kamu itu, kamu terlalu foya-foya, menghamburkan banyak uang untuk sesuatu yang nggak penting. Kamu sadar nggak sih?”


“Nggak, aku emang nggak sadar. Aku nggak ngerti, aku nggak tahu caranya jadi laki-laki terbaik sesuai ekspektasi kamu. Karena kamu nggak pernah bilang apa-apa.”


“Kamu nggak pernah bilang aku salah, kamu nggak pernah bilang kamu nggak suka. Kalau gitu caranya, sampai kapan pun aku nggak akan bisa jadi seperti yang kamu mau, Aleesa,” tambahnya lagi membuatku semakin kesal. Tapi daripada menyikapi Mas Adrian yang keras kepala dengan omongan belaka, aku memilih diam dan membiarkannya introspeksi diri.


“Tetangga baru kita udah pulang. Ke mana aja nih? Udah tiga hari loh rumahnya sepi-sepi aja. Itu suaminya Neng Hanna, kok nggak diajak ke rumah-rumah tetangga? Jangan-jangan mau diumpetin sendiri, ya?”

__ADS_1


Suara itu …. Oh Tuhan, dari semua makhluk di muka bumi, kenapa harus wanita itu yang muncul di depan rumahku?


“Iya Bu, saya suaminya Hanna, nama saya Adrian. Salam kenal, ya, Bu.” Mas Adrian sudah mengulurkan tangannya sebelum aku sempat mencegah. Bahkan ia tersenyum ramah menyapa wanita itu.


“Nama saya Ida Cahya Karlina. Biasa dipanggil Nyonya Kos, bisa juga dipanggil Bu Ida,” balas wanita itu.


“Neng Hanna gimana sih? Kok suami seganteng gini diumpetin sendiri, hahaha … Masa takut dilirik sama ibu-ibu komplek?”


Merasa terpanggil, aku segera mendekat pada manusia se-spesies Tante Jihan itu. “Bu Ida bisa aja. Hanna juga udah lama nggak ketemu Bu Ida. Bu Ida gimana kabarnya? Asam lambungnya jarang kambuh, kan, Bu?”


“Hanna ini masih ingat aja, kalau Bu Ida punya asam lambung. Bisa aja ah.” Aku menghela napas kesal, apalagi melihat matanya yang seakan memindai sesuatu di belakang kami.


“Pak Adrian ini … kerjanya apa, sih? Itu … saya lihat ada BMW seri - 8, ya?" celetuk sang Nyonya Kos dengan mata membulat menunggu jawaban kami.


“Alhamdulillah kerjaan halal, Bu. Ibu sendiri gimana? Anaknya udah dapat kerja?” Jawabku tanpa ekspresi.


“Ah, Neng Hanna kok sinis gitu sih. Saya itu tanya, soalnya anak saya mau beli BMW juga, siapa tahu saya bisa tanya-tanya sama Pak Adrian, ya, kan? Kalau nggak salah pertama kali BMW M8 itu di Indonesia baru ada lima. Tapi nggak tahu sih kalau sekarang udah ada lebih dari lima.”


“Ah, kapan-kapan saja saya bawa anak saya kemari, biar bisa sharing sama Pak Adrian. Kalau saya nggak begitu ngerti soal mobil. Ini juga saya mau ke kost, ada yang mau pindahan soalnya. Saya pamit pergi dulu, ya …. Mangga,”


“Iya, Bu …, hati-hati di jalan,” ucap Adrian mengantarkan kepergian Bu Ida.


Aku yang hampir tersulut marah segera menjauh dari pagar. Kutinggalkan pagar rumah dan pintu garasi yang masih setengah terbuka itu agar Mas Adrian sendiri yang menutupnya setelah mengantar kepergian Bu Ida. Aku memilih untuk masuk ke rumah lebih dulu dari pada meladeni omongan wanita itu.


Setelah seharian dilalui dengan kepenatan, rasanya tubuh perlu relaksasi, mandi air hangat, dan tidur, adalah cara paling mudah merelaksasi tubuh. Bahkan karena pikiran dan emosi yang sedang kacau, sanggup diatasi hanya dengan sentuhan air hangat dan merebahkan diri di ranjang yang nyaman. Selalu seperti itu. Sama halnya dengan perasaan tersesat, yang paling kita inginkan ketika kita tersesat adalah, kembali ke rumah kita sendiri. Tak peduli seperti apa pun rumah kita.


Selagi menunggu air hangat, tak sengaja aku melihat beberapa orang menurunkan barang-barang di depan rumah Bu Rahmi.  Mungkinkah itu orang baru yang membeli rumah Bu Rahmi? Pikirku ketika melihatnya dari balik jendela kamar yang menghadap langsung ke rumah Bu Rahmi. Tapi sosok pemilik rumah tsk begitu jelas karena hanya ada sedikit cahaya lampu jalan yang meneranginya.

__ADS_1


Lagi pula, orang mana sih? Bisa-bisanya pindahan abis maghrib begini?  Pertanyaan-pertanyaan itu segera kuabaikan setelah mengingat air yang kuhangatkan beberapa menit lalu. Aku pun segera masuk ke kamar mandi untuk melaksanakan ritualku sebelum Mas Adrian naik dan melanjutkan perdebatan kami yang sempat terjeda saat Bu Ida tiba-tiba datang menyapa kami.


“Ah ….” Aku menghela napas lega, menikmati air hangat yang begitu nikmat.


Lelah segera hilang bersamaan dengan air hangat yang mengalir ke seluruh permukaan kulit. Begitu juga harum body wash yang kupakai membantuku merileksasi pikiran dan emosi yang kacau beberapa saat lalu. Sungguh kenikmatan dunia yang seutuhnya.


Clik!  Suara pintu kamar dibuka dan ditutup ‘agak kasar’ terdengar sampai kamar mandi.


Tunggu, tunggu! Apa!


Ekspresi rileksku seketika hilang saat kusadari aku lupa membawa handuk ke kamar mandi. Hanna ceroboh!  Bisa-bisanya mandi lupa bawa handuk?  Aku memukul keningku sendiri.


Jika dipikir lagi, rasanya nggak mungkin aku minta tolong Adrian mengambilkan handuk dari lemari karena pertengkaran kami tadi. Ah …, gimana dong? Apa iya aku harus menunggu sampai Adrian keluar kamar? Tapi harus menunggu berapa lama?


Aku semakin panik ketika Adrian mengetuk pintu kamar mandi sembari memintaku cepat keluar dari sana. “Aleesa? Masih lama? Aku mau mandi nih.”


“I, iya, Mas, bentar lagi. Kamu turun aja dulu.”


“Buruan, ya! Aku udah nggak nyaman banget nih keringatan.”


“I, iya!”


Berpikir Hanna! Berpikir! Apa yang harus kamu lakukan di saat seperti ini! Ayolah …, tunjukkan kemampuan otak pintarmu ini! Ayo Hanna Aleesa! Berpikir!


Entah berapa puluh menit aku bertahan di kamar mandi, sampai kulitku berkerut karena kedinginan. Tapi memang pada akhirnya aku tahu aku yang harus mengalah. Meski setengah hati, tapi aku harus menurunkan egoku walau untuk kali ini saja.


“Mas …, Mas Adrian …,” panggilku cukup nyaring.

__ADS_1


Karena tak ada balasan, aku pun membuka sedikit pintu kamar mandi. “Mas Adrian …!” panggilku hingga beberapa kali namun tetap tak ada balasan juga


“Mas ….”


__ADS_2