
“Assalamu’alaikum, hey, ya ampun, kangen banget seharian nggak ketemu.” Mas Adrian mendatangiku sampai ke dapur lantas memelukku.
“Waalaikumsalam. Itu tadi, di depan siapa, Mas?”
Pertanyaanku hanya dibalasnya dengan kediaman. “Kuenya udah jadi?” ujarnya balik bertanya.
Tunggu, apa? Mas Adrian mengalihkan topik?
“Hampir selesai kok. Tadi di depan siapa, Mas?” tanyaku sekali lagi.
“Temen kamu,” jawabnya setelah diam beberapa saat lamanya.
“Ngobrolin apa di depan? Kayaknya akrab banget?”
“Bukan apa-apa kok, dia cuma kasih undangan buat kita.”
“Undangan?”
“Iya, undangan peresmian berdirinya perusahaan cabang gitu katanya. Acaranya minggu depan.”
“Oh.”
“Aku naik duluan, ya, nanti kalau perlu bantuan panggil aja.”
Mas Adrian meninggalkan dapur tanpa ekspresi. Aku kembali melanjutkan persiapan terakhir kueku yang hampir jadi. Di sela-sela itu, aku sempat membaca pesan dari Garrin yang mengatakan kalau Ia tak memberitahu Adrian tentang kejadian siang tadi di depan rumah.
Hingga pukul enam petang, Adrian yang barusan pulang dari masjid kemudian mengajakku jalan ke rumah-rumah tetangga. Di antara rumah-rumah tetangga, rumah Pak Rizal dan Bu Yasmin adalah tempat yang paling tidak ingin kudatangi. Apalagi mengingat kejadian siang tadi, rasanya keikhlasanku bersilaturrahmi sedikit berkurang. Tapi Mas Adrian yang tidak tahu apa-apa, dengan ramahnya menyapa tetangga baru itu.
“Jadi ini suaminya Mba Hanna?”
“Iya, saya Adrian. Istri saya sudah cerita sedikit tentang tetangga depan rumah kami. Semoga kita bisa saling membantu, ya.”
“Pak Adrian kerja di mana?”
“Saya, alhamdulillah kerja di salah satu perusahaan konstruksi dan jasa arsitektur. Kebetulan juga tidak terlalu jauh dari rumah.”
“Loh, Pa?” Bu Yasmin menyenggol lengan Pak Rizal.
__ADS_1
“Jadi, Pak Adrian ini yang katanya arsitek hebat itu? Anda, kan yang baru diterima di perusahaan milik Ayah mertua saya? Seharian ini saya sudah mendengar orang-orang memuji karya anda, ternyata kita justru bertetangga.”
“Wah, jadi Pak Rizal ini menantu pemilik perusahaan tempat saya bekerja? Kebetuan sekali.” Pak Rizal menorehkan senyum bangga, sementara aku tercekat mendengar perkataannya. Firasatku mengatakan kalau ini bukanlah hal yang baik.
Astaghfirullah …, jangan suudzhon Hanna.
“Saya beneran masih tidak menyangka loh bisa bertetangga dengan Pak Adrian. Mungkin lain kali kita bisa berangkat kerja bersama, hahaha.”
Sampai akhir silaturrahmi kami, perasaan tak nyamanku pada Pak Rizal semakin nyata. Ia terus memandangku dengan tatapannya yang memiliki maksud lain. Tapi karena Mas Adrian tak menyadarinya, aku pun sengaja tak membahasnya.
“Kalau begitu kami permisi pulang dulu, terimakasih sudah menyambut kami,” pamit Adrian lekas berdiri.
Sampai di depan pintu, tangan itu menahanku. Aku tersentak kemudian menengok ke belakang. “Sepertinya jarak usia Mba Hanna dan Pak Adrian cukup jauh ya. Bukannya ingin ikut campur, tapi Mba Hanna bisa cerita ke saya kapan pun kalau Mba Hanna merasa tidak nyaman atau mendapat perlakuan kurang baik.”
“Terimakasih atas perhatiannya, Bu Yasmin. Kami baik-baik saja kok, saya permisi.” Perlahan kulepas cengkeraman tangan itu dari pergelangan tanganku kemudian pulang menyusul Mas Adrian.
Apa-apaan tetangga baru itu? Nggak suami, nggak istri, dua-duanya hobi mencampuri urusan orang. Gerutuku sepanjang langkah sampai ke rumah.
Dua minggu kemudian, kami menghadiri undangan Garrin yang bertempat di ballroom sebuah hotel yang terletak cukup dekat dengan rumah barunya. Kupikir di sana akan mudah untukku melaluinya, karena ada Kak Danar bersama Kak Erina, Ummi, dan beberapa partner bisnis Adrian dulu yang hadir di pernikahan kami. Kecuali kehadiran Pak Rizal sedikit menggangguku.
“Wah, kebetulan sekali bertemu dengan tetangga depan rumah di sini.” Orang itu menyalami Adrian sembari tersenyum akrab.
“Saya mewakili Ayah mertua, jadi datang seorang diri saja. Nah, kebetulan bertemu seperti ini, bagaimana kalau kita duduk satu meja?” tawarnya melihat-lihat ke seluruh penjuru ballroom.
“Hanna? Adrian? Ternyata benar kalian. Baguslah kalian datang,”
Garrin berdiri ikut dalam grup perbincangan itu. “Kenalkan dia Amelie, dia sekretarisku. Kalian berdua ikut dengannya, dia akan menunjukkan meja untuk kalian,” pungkasnya kemudian tersenyum.
“Saya Amelie.” Wanita dengan maxi dress berwarna hitam itu menunduk hormat.
“Mari saya antar,” katanya kemudian.
“Wah! Anda pasti menantu Pak Hermawan, sepertinya ini bukan pertama kalinya kita bertemu, ya.” Kudengar suara itu menyapa Pak Rizal, namun segera kuabaikan karena setidaknya kini posisiku sudah lebih aman.
Meja kami berada di baris depan, tengah, posisi yang sangat sempurna hingga memancing perhatian mata undangan lain. Kenapa kami ada di meja ini? Apakah Garrin sengaja? Sebenarnya apa yang dia rencanakan? Pertanyaan demi pertanyaan terus beradu dalam pikiranku. Tapi kucoba untuk profesional dan tenang menghadapi situasi tak terduga ini.
“Ini adalah permintaan langsung dari CEO kami. Beliau juga menitipkan ini.” Wanita itu menyerahkan secarik kertas yang terlipat dua sisi, kemudian duduk di kursi semeja dengan kami. Adrian membuka kertas itu, membacanya seksama tanpa ekspresi, kemudian menunjukkannya padaku.
__ADS_1
...- Terimakasih sudah datang. Anggap saja ini sebagai ucapan permintaan maafku, dan janji aku tak akan mengusik kalian setelah ini. Aku pasti dapatkan Hana dengan caraku sendiri. -...
Tulisan tangan Garrin membuatku berpikir apa maksud dan tujuan terselubung di baliknya. Kalau hanya menebak, rasanya semua hal jadi serba tak pasti. Tapi apa yang sebenarnya laki-laki itu siapkan untukku dan Mas Adrian? Kuharap ini bukan kesekian kalinya rumah tangga kami diuji.
Lampu berangsur meredup hingga tak ada cahaya yang tersisa. Lampu sorot menyoroti panggung megah yang menjadi pusat perhatian mata seketika. Seorang Garrin Wijaya berdiri di tengah, membuka acara malam itu, menyambut semua tamu tanpa celah. Berikutnya adalah pemaparan detil perusahaan cabang yang baru didirikan.
“Saya perwakilan dari departemen rancangan marketing akan menjelaskan tentang perusahaan cabang yang baru didirikan sebagai perwakilan dari Direktur Utama. Perusahaan ini merupakan perusahaan multinasional yang kami percaya akan menyentuh pasar global lebih dari dua puluh lima negara di seluruh dunia. bla bla bla.”
Riuhnya tepukan tangan sebagai ucapan selamat kepada CEO muda itu menyambutnya kembali naik ke atas panggung.
“Terimakasih kepada semua atas support dan kerjasama yang telah terjalin. Semoga ke depannya kita bisa bersama melangkah menuju kesuksesan. Tapi di samping itu, saya juga ingin meminta doa kepada seluruh yang hadir, di mana hari ini bertepatan dengan ulang tahun saya ke-25. Saya mohon doa agar di tahun ini, bisa jadi tahun keberuntungan untuk saya.”
Tepukan tangan lagi-lagi saling sahut seolah membalas ucapan Garrin. “Dan ….” Sengaja Garrin memotong perkataannya guna menunggu tepukan tangan itu mereda.
“Saya ingin jujur pada perasaan saya walau ini sedikit terlambat. Disaksikan oleh semua yang hadir di sini.”
Deg! Tatapan mata itu jelas sekali mengarah padaku.
Oh, Tuhan, selamatkan aku.
“Saya telah menyukai seorang wanita sejak lama.” Aku hanya bisa menunduk seraya menelan salivaku mendengar suara itu.
“Dia adalah wanita yang baik, wanita yang bahkan jauh lebih baik dari saya sendiri. Sesekali saya merasa tak pantas, sesekali pula saya merasa ambisi dalam diri saya membakar keinginan untuk tetap melihat pada wanita ini.”
Garrin menjentikkan jarinya, beberapa saat kemudian lampu yang terletak di tengah bagian depan menyala. Lampu di atas meja ini menyala, hingga terasa bulir keringat lolos dari pelipisku. Tanganku bergetar lirih. Sangat lirih sampai Adrian sendiri tak menyadarinya.
“Awalnya saya mengira kalau perasaan ini hanya sebatas rasa kagum karena sosoknya yang kuat, mandiri, dan sangat beretika. Tapi semakin hari, saya semakin yakin bahwa ini bukanlah rasa kagum semata.”
“Saya berharap perasaan saya ini bisa terbalas di waktu yang tepat. Beruntungnya wanita itu kini ada di sini, saudara-saudara.” Garrin melanjutkan kata-katanya sembari mengambil buket bunga mawar putih dari pinggir panggung.
Aku ingat di ruangan ini ada Mas Adrian, ada Ummi, ada Kak Danar, juga Kak Erina. Bagaimana tanggapan mereka nanti jika sesuatu yang mengejutkan terjadi di depan mata mereka. Kumohon, Tuhan …, jangan sampai Garrin menjadi kerikil-kerikil lain yang menghantam dan menggoyahkan rumah tangga kami.
Langkahnya semakin jelas menuju ke arah meja tempatku duduk. Bibirku tak bisa berhenti bergerak ketika sekilas melihatnya semakin mendekat. Aku semakin memejam dalam, tak sanggup membayangkan apa yang terjadi setelah ini. Jantungku pun berdebar kencang disaat yang bersamaan. Bukan karena cinta atau rasa suka, tapi karena ketakutanku sendiri.
“Wanita itu adalah Hanna Aleesa.”
“Hanna …, aku harus sampaikan terimakasih karena wanita sepertimu tercipta di dunia yang sama denganku. Tolong terima ini.”
__ADS_1
Garrin berlutut di depanku seraya menyerahkan buket mawar putih di tangannya itu. Aku yang tak sanggup melihatnya karena perasaan campur aduk ini benar-benar bodoh sesaat dan segera menerimanya. Baru mataku melirik pada Adrian yang entah sejak kapan sudah memalingkan mukanya dariku.
Apa yang sebenarnya kulakukan?