
Genap tiga hari berlalu, dan Adrian masih terbaring di ranjang ruang ICU. Ia tak memberikan tanda-tanda kesadarannya akan segera kembali. Selang-selang yang ada di tubuhnya juga belum satu pun dilepas. Sejauh ini, tidak ada peningkatan kesadaran, tapi juga tidak ada penurunan. Semuanya masih sama sejak pertama kali Adrian dibawa masuk ke ICU.
Alat-alat itu tak banyak membantu perbaikan tubuh Adrian. Membuat Hanna semakin tercekik oleh kesedihan saat menghadapi hal ini. Hari-hari seorang Hanna hampa, terduduk di samping ranjang suaminya sembari berdoa dengan tatapan kosong.
"Hann, Asyqar sepertinya mau ketemu kamu. Dia nangis terus dari pagi." Kak Zahra mengusap bahu Hanna, memintanya pulang.
Meski berat meninggalkan Adrian sendiri di sana, tapi Hanna pada akhirnya harus datang kepada Asyqar yang tak cukup mendapatkan perhatiannya selama tiga hari ini.
Di rumah, seakan mengerti keadaan Papanya, Asyqar tidak seceria seperti biasanya. Tatapan mata yang sebelumnya tajam dan teduh menenangkan itu terasa hampa seperti kehilangan cahayanya.
..... Hanna POV .....
"Pa! Mama! Pa?"
"Papa sekarang sedang istirahat, Sayang .... Nanti kalau Papa sudah sembuh, kita main sama Papa lagi, ya, Nak."
"Appa?"
"Iya, Papa masih istirahat sekarang. Kita harus tunggu Papa sembuh, sebentar lagi. Asyqar do'a in Papa, juga, ya?"
*Triing! Triing**!*
Ponselku berdering dari dalam tas. Biasanya itu adalah pihak rumah sakit yang perlu menanyakan suatu hal sebelum memberikan tindakan atau melaporkan perkembangan Adrian. Tapi rupanya itu bukan panggilan dari rumah sakit, melainkan Ayah dan Bunda. Mereka menanyakan kabarku, Harun, dan yang lain. Hampir saja aku tidak bisa menahan bibirku untuk berbicara tentang kondisi Adrian. Tapi pada akhirnya aku berhasil bungkam soal hal apa yang terjadi pada Adrian.
"Permisi Bu."
Aku menyeka sisa-sisa air mataku, menghindari tatapan langsung Mba Rina. "Ya?"
"Pak Erwin dan Bu Agatha ingin bertemu dengan anda, sekarang."
"Suruh mereka masuk, dan bawakan minuman."
"Baik."
"Hai, Hann? Halo Asyqar?" Sapa Agatha memasuki ruangan hening itu.
"Ata!"
Aku menggendong Asyqar yang duduk di karpet. Memindahkannya ke pangkuanku. "Iya, Sayang ..., ada Tante Agatha. Sini, Asyqar duduk sama Mama."
"Kalian berdua juga, silakan duduk," perintahku.
"Jadi, ada apa?"
__ADS_1
"Mohon maaf sebelumnya karena mengganggu waktu anda, ini tentang posisi direktur." Pak Erwin to the point mengatakan arah pembicaraan ini.
"Pimpinan perusahaan sudah kosong selama empat hari. Pertemuan beberapa klien juga sudah saya undur. Kalau Pak Adrian tidak segera kembali, kita bisa kehilangan kepercayaan klien."
"Maksud kami, bagaimana kalau anda kembali menggantikan Pak Adrian. Karena satu-satunya orang yang memiliki akses dan kewenangan tertinggi yang diberikan Pak Adrian adalah anda. Dan tidak ada orang sebaik anda dalam mengatasi masalah perusahaan sebelumnya."
Agatha tersenyum hambar menatapku. "Kami tahu anda sedang banyak tekanan. Tapi sejauh ini belum ada alternatif lain, Nyonya."
"Ah, iya. Baiklah. Terimakasih sudah mengatakannya dengan jelas. Aku juga perlu menghirup udara segar. Saya akan kembali ke kantor mulai besok, tolong bantu siapkan dan beritahu apa yang harus saya lakukan."
Keadaan ini memaksaku tegar. Bahkan setelah Pak Erwin menyampaikan pesannya itu, aku harus lebih tegar lagi. Akan semakin sedikit waktu yang kumiliki untuk melihat Adrian. Tapi aku sadar ini adalah resiko yang harus kuterima jika aku menanggung nama seorang Adrian Al-Faruq.
...----------------...
Sebelum berangkat ke kantor, aku sempatkan lebih dulu ke rumah sakit untuk bertemu dengan Adrian walau sebentar. Beberapa saat menanyakan perkembangannya kepada dokter, baru berangkat dengan pikiran yang lebih tenang. Karena ini bukan kali pertama, rasanya hanya seperti mengulang kejadian yang sama beberapa waktu lalu. Duduk di kursi direktur, dan menjalani keseharian yang biasa dirasakan Adrian.
Yang lebih berat justru karena harus berpisah dari Asyqar untuk waktu yang cukup lama. Takutnya ia jadi lebih gelisah karena tidak ada Mama atau Papa di dekatnya. Tapi kekhawatiranku itu terkesampingkan seketika saat Mba Rina dengan rutin mengirimkan foto Asyqar yang tidak menangis sama sekali ketika bermain dengan Harun dan asisten-asisten rumah tangga yang lain.
Alhamdulillah..., teruslah jadi anak pintar dan nurut dengan orangtua, ya, Nak.
“Bu ... Hanna?” Seseorang memanggilku ketika aku menunduk memperhatikan kiriman video Asyqar dari Mba Rina.
“Iya?”
“Oh, ternyata benar. Saya Rere, sepupunya Adrian.” Perempuan itu mengulurkan tangan kanannya padaku.
“Sepertinya ini pertama kali kita bertemu, ya?”
“Iya, sepertinya begitu.”
“Ah, Adrian pasti tidak pernah menceritakan tentang saya ke kamu. Kalau kamu ingin dengar cerita saya, kita bisa mengobrol kapan-kapan.”
“Ah iya. Terdengar bagus.”
“Sebenarnya saya datang ke sini dari Vancouver untuk menyelesaikan urusan bisnis dengan Adrian. Tapi sepertinya Adrian sedang dapat kemalangan. Saya turut prihatin.”
“Terimakasih atas perhatiannya. Mohon doa terbaiknya untuk Adrian.”
“Pasti."
"Emm, mungkin anda ingin mampir ke rumah kami setelah jam kerja?" tawarku.
"Saat ini saya belum bisa menerimanya. Mungkin lain kali saja. Kalau begitu saya permisi." Wanita itu berbalik dan pergi begitu saja.
__ADS_1
Aneh. Dia datang hanya untuk menyapa dan menyebutkan namanya lalu pergi begitu saja. Wanita itu baru pertama kali kutemui. Tapi pikiranku sudah buruk sejak pertama melihat kehadirannya di sini. Semoga saja apa yang ada dipikiranku itu salah. Tapi ketika aku kembali ke ruangan ku, Agatha menceritakan segalanya.
*Click**!* Pintu tertutup, dan aku kembali pada layar monitor di hadapanku.
"Tolong anda jangan dekat-dekat dengan sepupu Pak Presdir. Kalau saja beliau ada di sini pun, pasti Pak Adrian tidak ingin anda dekat-dekat dengan wanita itu."
Aku melihat ekspresi serius Agatha. "Kenapa? Itu benar sepupunya Adrian, kan?"
"Anda pasti tahu dalam agama anda diperkenankan seseorang untuk menikahi sepupunya. Perlu anda tahu wanita itu terobsesi dengan Pak Adrian sejak SMA."
"Informal aja. Apa yang terjadi selama ini?"
"Adrian sejak awal memang sudah menolak Rere dengan berbagai alasan. Orangtua Rere juga sebenarnya tidak setuju jika anaknya menikah dengan Adrian yang saat itu baru seorang mahasiswa dan karyawan magang di perusahaan Ayahnya. Sampai semua berubah saat kesehatan Ayah Adrian makin menurun drastis, dan beliau mengembuskan napas terakhirnya."
Agatha menghela napasnya. "Sejak Ayah Adrian meninggal, Adrian berubah menjadi seseorang yang gila kerja. Ia tidak ingin siapapun termasuk Rere mengganggu kehidupan personalnya. Dan untuk mencegah Rere kembali ke Indonesia, Adrian sengaja menempatkannya di perusahaan Vancouver sampai Adrian menemukan wanita yang tepat, yang akan menjadi alasan untuk Rere berhenti mengejarnya."
"Tapi ..., meski nggak pulang ke Indonesia, Rere tahu, kan, tentang pernikahan Adrian?"
"Tidak, sampai Adrian menikah kedua kalinya. Berita itu sampai kepada Rere dan membuatnya depresi. Ia sempat menerima perawatan mental selama beberapa bulan, dan didampingi oleh ahli kejiwaan di kesehariannya. Karena kondisi itu, orangtuanya semakin melarang Rere pulang ke Indonesia. Citra keluarga mereka bisa jatuh jika muncul berita bahwa Rere, putri mereka itu memiliki gangguan jiwa yang disebabkan oleh hubungan tak direstui."
Hanya dengan mendengar cerita singkatnya, sebagai sesama wanita, aku cukup mengerti rasa sakit itu. Perasaan dikekang, tekanan pihak keluarga, dan tidak bisa meraih kebahagiaan untuk dirinya sendiri. Perasaan itu juga mungkin akan membuatku gila jika melaluinya.
"Tapi jangan terkecoh." Agatha meneruskan ujarannya.
"Dia mungkin punya kisah yang menyedihkan. Tapi wanita itu sama sekali tidak bisa dikasihani. Salah besar kalau anda mengasihani Rere setelah mendengar cerita tadi."
"Aku nggak kasihan sih. Tapi aku sedikit tahu bagaimana rasanya ada diposisi itu."
"Maaf, tapi sepertinya anda tidak benar-benar tahu. Yang barusan anda dengar baru kisah sedihnya saja. Jangan lupa dia yang membuat perusahaan ini merugi miliaran rupiah hanya demi menuruti ego dan dendam pribadinya kepada Adrian, juga anda. Keberadaannya sudah cukup menjadi parasit bagi kita."
...----------------...
Hari pertama kerja sangat melelahkan. Aku tidak bisa langsung pergi ke rumah sakit untuk bertemu Adrian. Malam harinya, selepas makan malam, aku pergi ke rumah sakit setelah mendapat telepon dari rumah sakit tentang Adrian yang baru saja menggerakkan jari kelingkingnya. Kali ini pun Dokter Reni yang mengantarku sampai ke rumah sakit.
Dari lorong panjang yang kulalui menuju ke ruang ICU, aku terlalu bersemangat hingga semangatku terpatahkan oleh sapaan seorang wanita yang baru saja keluar dari ruang ICU. "Alhamdulillah ya, Adrian ada peningkatan kesadaran. Barusan itu dia menggerakkan jari kelingkingnya karena merespon ucapan dan genggaman tanganku loh."
"Haha. Ah ya, alhamdulillah."
Wanita itu mendekat, dan berbisik lirih di dekat telingaku. "Aku semakin penasaran. Kalau Adrian kembali sadar dari komanya nanti, siapa nama wanita yang pertama dia ingat. Karena terlalu banyak wanita yang pernah terjerat asmara dengannya, bisa jadi dia lupa nama istrinya sendiri."
"Rere, maaf mengatakan hal ini, tapi saya kasihan sekali dengan kamu. Pertemuan pertama kita sepertinya sangat tidak menyenangkan, ya? Sayang sekali karena sepertinya semua tidak akan berjalan sesuai yang kamu harapkan. Dan tolong jangan menggenggam tangan suami saya sembarangan. Kalian bukan mahram, dan tidak akan merubah statusmu sebagai sepupu sampai kapan pun."
"Huh? Cukup tajam, Hanna. Tapi jangan menangis kalau nantinya Adrian lebih dulu mengingat namaku."
__ADS_1
"Sepertinya memang sudah seharusnya Adrian mengingat namamu lebih dulu, Rere. Kamu tahu, otak manusia cenderung lebih mudah mengingat nama orang yang paling dibenci daripada yang paling dicintai."
Maaf, mungkin kata-kataku terlalu pedas, dan bisa jadi ucapanku hari ini akan menimbulkan masalah besar di masa depan. Tapi aku terpaksa mengatakannya agar bisa segera menghindari perdebatan itu.