Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Datang dan Pergi


__ADS_3

"Aku kemarin udah sempat bilang belum sih, kalau aku ada kerjaan di Surabaya."


Seketika tangan kananku berhenti menuangkan air ke dalam gelas. "Surabaya? Kapan? Kamu nggak belum bilang apa-apa tuh."


"Iya, jadi ada kerjaan di Surabaya, lusa aku berangkat. Karena lumayan jauh dan lama, rencananya aku mau ajak kamu sekalian sih. Dari pada di rumah sendiri, kan?"


"Emang berapa lama di sana?"


"Seminggu? Mungkin, kalau nggak ada tambahan lain-lain sih seminggu aja selesai."


Aku mengembuskan napasku panjang. "Minggu depan ada acara khitanan di rumah Bu Aris. Bu Aris pesan kue ke aku, jadi ...,"


"Ya udah …, nggak apa-apa. Kamu di rumah aja kalau gitu."


“Kira-kira pesanannya Bu Aris bisa aku cancel aja nggak, ya?”


“Eh, jangan gitu, nggak baik. Udahlah, nggak apa-apa kalau kamu nggak bisa ikut juga.”


Bibirku mengerucut seirama dengan mataku yang menyipit kesal. "Kamu perginya sama siapa aja?"


"Sama teman kantor, ada empat orang," terangnya seraya melihatku.


Aku berusaha mengelak dari tatapan itu. "Okay ..., yang penting hati-hati jalan, hati-hati juga di sana."


Beberapa langkah dari tempat Adrian menghabiskan sarapan, aku mencoba diam dan berpikir positif. Cuma seminggu kok, nggak apa-apa, kan? Ini pertama kalinya kami akan berpisah selama itu, jadi bisa disimpulkan ada perasaan tersendiri yang susah dideskripsikan. Kuberalih pada wastafel, mencuci peralatan makan yang telah dipakai.


"Temen kantorku yang ikut laki-laki semua kok," cetusnya sudah berdiri di sebelahku.


"Nggak nanya tuh." Aku menahan senyum mendengar suaranya.


“Oh, nggak peduli nih? Aku kira istriku akan peduli atau antusias soal hal-hal seperti itu,” tuturnya sembari menenggerkan dagunya di bahuku.


“Bukan gitu juga …, aku cuma nggak mau kekanakan, mikir yang aneh-aneh ke teman kerja kamu. Mana mungkinlah aku cemburu.”


“Kalau partnerku perempuan, kamu juga nggak akan cemburu?”


“Enggak,” balasku cepat.


“Kenapa enggak?”


“Karena …, karena kamu punyaku.”


“Pfft. Kamu lucu banget sih …, jadi makin gemes deh.” Jari telunjuknya bermain di pipiku yang memerah sekaligus kesal karena ia menertawakan apa yang kukatakan tadi.


“Tapi aku nggak cemburu kok, buat apa? Toh aku nggak akan kalah cantik.” Tambahku membalik badan.


Kedua tanganku berpegang pada wastafel kemudian memamerkan senyumku di depannya. Sepasang matanya berkerut heran, membuatku jahil menyapu bibir bawahku dengan lidah, menggigit sedikit bagian ujungnya, kemudian melepasnya.


Tak kusangka ia justru memejamkan matanya setelah melihatku seperti itu. Beberapa detik berikutnya, ia menghela napas panjang, dan mengeluarkannya cepat. Kedua tangannya telah bersarang di kedua sisi lenganku.


“Kamu mau bikin aku telat berangkat kerja?” wajahnya menunduk di atasku dengan suara bariton itu.


“Emang salah, ya? Padahal aku cuma mau mempertegas kalau aku ini cantik dan nggak cemburuan. Jadi segitu doang pertahanan kamu?”


“Kalau cantik sih iya, aku percaya. Percaya banget, malah. Kalau soal nggak cemburuan, mmm … masa sih?”


“Aku nggak cemburuan tahu.”

__ADS_1


“Kalau gitu kemarin siapa dong yang nangis katanya takut Adrian akan berpaling ke Karinda,” ungkapnya menyudutkanku.


“Dah lah, buruan sana berangkat kerja. Nanti telat lagi.”


“Yah, nggak mau ngaku nih?”


Kucoba mengabaikan setiap perkataannya yang terus-terusan mengangguku. Ke mana aku melangkah, ia terus-terusan menggoda bahkan mengabaikan perigatanku akan waktu yang semakin siang.


“Bapak Adrian yang terhormat, sekali lagi saya tegaskan bahwa saya ini tidak mudah cemburu,” tegasku.


Adrian diam beberapa saat, bersandar pada dinding seraya melihat ke arah lain. “Padahal di project kali ini, aku yang minta ke atasan supaya partner kerjaku laki-laki semua. Tahu gini mah aku pilih partnerku wanita dewasa aja, yang usianya di atas dua puluh lima tahun.”


“Oh, jadi sekarang Bapak sukanya sama wanita yang lebih 'dewasa' yang udah matang, gitu? Udah bosan sama yang muda-muda?"”


“Ehh! Enggaklah. Becanda tahu, kok kamu jadi serius sih.”


“Aku juga becanda kok, Pak Adrian,” geligikku menyusul kalimat yang barusan kulontarkan.


“Udah buruan sana berangkat. Nanti aku siapin koper yang kecil aja buat kamu ke Surabaya.”


"Makasih, ya."


Cup!


“Aku berangkat dulu. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam warahmatullah.”


Segera kututup pagar rumah setelah mobil itu keluar dari pekarangan. Mengantar suami berangkat kerja dengan senyum, rasanya masih seperti mimpi. Apalagi kalau ingat bahwa kami harus berpisah seminggu nanti. Akan seperti apa, ya, rasanya.


Sedikit memikirkan sekelebat pertanyaan itu membuatku termenung beberaa saat. Aku pun kembali ke dalam rumah untuk mengerjakan beberapa hal yang memang harus kuselesaikan hari ini. Namun, lagi-lagi seseorang menghampiriku ketika aku sedang tak ingin bertemu dengan siapa pun.


Setelah berbalik badan dan melihatnya, aku mengembuskan napas besarku lantas melangkah membukakan pagar. Sungguh ujian hidup tak pernah selesai menerpa kehidupanku. Baru tuntas satu hal, hal lain pun berdatangan silih berganti. Namanya juga hidup.


“Ada apa?” tanyaku datar.


“Aku akan menginap di sini selama seminggu. Malam nanti Ayah-Bunda akan datang untuk meminta izin ke Om Adrian.”


“Nginap? Kenapa tiba-tiba? Kok nggak bilang-bilang dulu sih.” Aku tak bis amenahan ekspresi terkejutku mendengarnya.


“Harun juga nggak tahu, Kakak …, tapi karena ini permintaan Ayah-bunda, ya udah, Harun nurut aja.”


“Ya udah, buruan masuk dulu gih,” ucapku menyilakannya masuk.


Selepas membuatkan minuman di dapur dan menyajikannya untuk bocah tujuh tahun itu, aku duduk di kursi sebelahnya. Bisa-bisanya anak kecil ini sampai ke rumahku sendirian. Bahkan berakting seolah ia adalah orang dewasa yang sedang bertamu.


“Udah minumnya?” tanyaku.


“Hm, udah. Masih enak buatan Mba di rumah sih, tapi nggak apa-apalah, kemampuan Kak Hanna emang baru segini.”


“Siapa yang nganter sampai ke sini?” tanyaku tak memperdulikan kritikannya.


“Aku nebeng sama kakak laki-laki yang Kak Hanna tolak waktu itu. Siapa namanya? Aku lupa lagi.”


“Garrin?”


“Iya, Kakak itu. Dari semalam aku udah bilang sama si kakak itu untuk antar aku ke sini, dan dia mau.”

__ADS_1


“Kamu selalu deh, bikin ulah terus. Jangan suka ngerepotin orang lain dong.”


“Katanya dia nggak kerepotan kok. Lagi pula aku minta diturunin di pintu masuk komplek, toh aku masih hapal jalannya.”


Aku memukul keningku dengan telapak tangan. “Dasar bocah.”


“Oh iya, kamar buat aku di sebelah mana Kak? Aku cape, mau istirahat.”


Sekali lagi aku menghela napas panjang, “Ya udah tunggu sini dulu, biar Kakak beresin kamar buat kamu.”


Aku mengangkat tubuh dari sofa ruang tamu menuju ke lantai dua. Setelah pintu yang mengarah ke kamarku, masih ada satu lagi pintu yang mengarah ke ruangan kosong. Baru beberapa hari lalu aku membersihkan sekaligus menata barang-barang di ruangan itu. Tinggal memeriksa ulang, baru kemudian menyilakan anak kecil itu untuk menempatinya.


Cukup lama aku membersihkan ruang berdebu itu, sampai akhirnya aku keluar dari sana setelah memasang pengharum ruangan. Saat kaki melangkah hendak menuruni tangga, telingaku menangkap suara yang volumenya tak begitu besar, tapi masih sanggup kudengar. Setelah kupastikan, rupanya suara itu berasal dari ponselku di atas ranjang kamar yang berdering. Sesaat setelah aku meraihnya, aku segera mengangkat panggilan itu


[Voice Call]


Hanna Aleesa : Halo? Assalamu’alaikum


Bunda : Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh


Hanna Aleesa : Ada apa Bun?


Bunda : Hann, kamu di mana sekarang?


Hanna Aleesa : Di, di rumah Bun, ada apa?”


Ayah : Adik kamu hilang!


Hanna Aleesa : Hah?? Kok bisa? Kapan?


Eh, tunggu …, adik? Aku segera berlari turun ke ruang tamu tanpa memutuskan panggilan itu. Sudah jelas Harun sedang duduk di sofa sambil memakan nastar dan kue dalam toples.


Hanna Aleesa : Yah, Bun, Harun ada di rumah Hanna. Ini dia lagi makan nastar di ruang tamu.


Bunda : Astaghfirullah …, yang bener kamu Hann?


Hanna Aleesa : Iya, Yah, Bun. Ini dia nih anaknya.


Aku menyerahkan ponselku pada Harun. Meski ia sempat ogah-ogahan dan berusaha menolaknya, tapi tetap kupaksakan hingga ia mau memegang ponsel itu, menjawab panggilan Ayah-Bunda.


Harun : Ha, halo?


Ayah : Harun …, astaghfirullah, gimana kamu bisa sampai ke sana, Nak.


Harun : Maaf, Yah. Harun minta tolong sama temennya Kak Hanna untuk antar ke sini.


Ayah : Kan semalam udah janji berangkatnya sama-sama.


Harun : Iya, maaf, Yah, Bun.


Aku melangkah pergi meninggalkan bocah itu dimarahi habis-habisan oleh orangtuanya. Ini bukan pertama kalinya Harun melakukan sesuatu yang mengejutkan kami sekeluarga. Sejak dulu, ia memang sering memberikan kami kejutan dengan hal-hal yang sebenarnya tak pernah terpikirkan oleh seorang anak kecil seusianya. Di umurnya yang masih sangat muda, Harun adalah anak yang sedikit berbeda dari teman-temannya.


Di satu sisi, aku merasa sangat beruntung mendapatkan adik yang spesial. Tapi di sisi lain, orangtua kami yang merawatnya mau tak mau harus memberikan perhatian ekstra dengan selalu memonitor setiap hal yang dilakukan Harun, kapanpun, dimanapun. Tak jarang kami mendapatkan pandangan berbeda dari wali murid teman-teman Harun. Dua sisi itu membuatku senang serta sedih di saat yang bersamaan.


Tapi bagaimana pun juga, Harun tetap adikku satu-satunya. Dan dia spesial sebagaimana adanya.


......Terimakasih kepada teman-teman yang setia membaca karya-karya Author. Terimakasih juga atas doa kalian untuk kesembuhan Author. Author dan seluruh keluarga mengucapkan Selamat Tahun Baru 2021. Semoga apa yang kita ingin kan di tahun ini, bisa segera kita capai.......

__ADS_1


...Tetap semangat, patuhi protokol kesehatan, dan selalu jaga kesehatan semuaaa!...


__ADS_2