Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Egois?


__ADS_3

Looks like you didn't sleep well last night, so I decided not to wake you up. If you look for me, I'm behind the house.


~Your beloved husband


^^^Kelihatannya kamu susah tidur semalam, jadi aku sengaja nggak bangunin. Kalau kamu cari aku, aku ada di belakang rumah.^^^


^^^~Suamimu tersayang^^^


Sticky notes merah muda tertempel di cermin kamar mandi berisikan pesan singkat itu. Aku tersenyum sesaat kemudian, dan berinisiatif untuk segera menyusulnya. Tapi sebelum itu, aku memastikan turun ke dapur untuk menanyai Mba Rina keberadaan Ayah-Bunda.


“Mba, Ayah sama Bunda ke mana?”


“Pagi ini semua pergi ke belakang rumah, Nyonya. Termasuk juga Tuan.”


“Oh ya?” Aku segera berbalik ke pintu keluar yang mengarah ke belakang.


Aku yang hampir tak pernah menginjakkan kaki di sana, akan ke sana pagi ini. “Di belakang rumah ini …?” gumamku lirih.


“Ayo, Yah! Ayo Yah! Ayah pasti bisa!” Aku tertawa melihat Bunda berteriak-teriak mendukung Ayah yang bertarung di lapangan dengan menantunya.


“Out!”


“Yeay! Ayah hebat!” teriak Bunda lagi.


“Adrian mulai nggak fokus nih, ayo dong...”


“Maaf, Yah. Abisnya ada cewek cantik banget di luar lapangan. Apa kita ajak main sekalian aja, ya?”


Perkataan Adrian membuat Ayah dan Bunda kompakan memandang ke luar lapangan, melihatku berdiri di dekat pintu masuk lapangan seraya tersenyum kikuk. Tanpa menunggu intruksi dari Ayah, Bunda yang semula duduk di gazebo segera menarikku bergabung bersama mereka.


“Okay, Adrian udah fokus nih. Main lagi kita, Yah,” ujar Adrian mengisyaratkan Ayah agar segera service shuttlecock di tangannya.


“Ayo, Yah! Jangan mau kalah sama Adrian! Ada Bunda di sini …!” teriak Bunda memberi semangat.


“Udah berapa lama mereka tanding gini, Bun?”


“Satu jam? Kayaknya sih.”


“Emang itu Ayah nggak cape, ya? Kalau nurutin staminanya Adrian mah sampai nanti makan siang juga nggak akan selesai tandingnya.”


“Udah kamu tenang aja.., tua-tua gitu, Ayah masih kuat kok. Setiap sore masih tanding basket sama Harun dan Bapak-bapak kompleks.”


“Yang benar, Bun?”


“Iya..., makanya jangan remehin Ayah kamu.” Bunda menyenggol lengan atasku saat mengatakannya.


Beberapa menit kemudian, pertandingan sengit bulutangkis satu lawan satu antara bapak mertua dengan anak mantunya akhirnya disudahi. Adrian mengibarkan bendera putih karena tak tahan dengan banyaknya peluh yang mengucur di tubuhnya. Padahal baru beberapa menit setelah Bunda memamerkan kekuatan Ayah, dan ternyata Adrian pun menyerah.


“Ya udahlah, besok lagi, ya! Jangan sampai besok kabur loh.” Ayah menaruh raketnya ke salah satu gazebo di dekatnya.


“Iya, Yah...” Adrian membalas ucapan Ayah sembari mengatur napasnya.


“Lumayan juga itu suamimu. Tapi, lain kali Ayah nggak akan ngalah sama menantu sendiri,” lirih Ayah berlalu setelah mengambil botol minum di gazebo tempatku duduk.

__ADS_1


“Kita masuk duluan, ya.., kalian main-main lagi aja, mumpung masih pagi” Bunda mengikuti Ayah berjalan masuk ke dalam rumah.


“Iya Bunda,” jawab Adrian


“Masa kalah sih sama Ayah?” tanyaku menghampiri Adrian, membawakannya handuk dan botol minum berisi air mineral.


Ia mengambil botol minum yang kubawakan itu, berjongkok, kemudian meneguk hampir separuh dari isi botol yang kuberikan. Kembali ia mengatur napas sampai normal, lalu berdiri memberikan botol itu padaku, dan mengelap keringatnya.


“Stamina Ayah emang lumayan sih. Tapi...”


“Tapi faktanya kamu kalah dari Ayah, kan?” Aku mengangkat kedua alisku.


“Tapi aku bohong waktu aku bilang udah nggak kuat lagi," balasnya.


Seketika aku menurunkan senyum pongahku. Adrian membungkuk, menyejajarkan wajah kami agar bisa menatapku lurus. “Kamu kan tahu staminaku, nggak mungkin dong aku kalah dari Ayah. Aku cuma pura-pura kalah biar ada kesempatan berdua sama kamu.”


“Oh.” Aku berbalik badan, meletakkan kembali botol minum itu ke gazebo terdekat lantas mengambil salah satu raket yang nyaman di tanganku.


“Kalau gitu ajarin aku main bulutangkis, ya?” pintaku.


“Boleh.”


Setelah ia mengiyakan permintaanku, Adrian dengan seriusnya mengajarkanku bermain bulutangkis. Dimulai dari cara memegang raket, memegang shuttlecock, service, receive, smash, dan banyak lainnya. Sebagai orang yang terlahir dengan kemampuan cepat memahami sesuatu, aku pun cepat tanggap dengan apa yang Adrian jelaskan.


“Okay, sekarang praktik service sendiri.” Adrian menjauh beberapa langkah dari tempatku berdiri.


Aku memegang shuttlecock di tangan kiri, melepaskannya di udara, kemudian memukulkan raketku tepat mengenai bulu shuttlecock, dan …, Bum! service pertama yang gagal. Kedua kalinya, aku masih melakukan hal yang sama, berikutnya dan berikutnya sampai kekesalan Adrian mulai terpancing.


“Sayang, kamu gimana sih. Mukulnya santai aja, nggak usah buru-buru, tapi pakai tenaga. Katanya tadi udah paham,” katanya mulai geram.


Ia menghela napas besar, berjalan ke arahku, kemudian berdiri tepat di belakangku. Tangan kirinya menyesuaikan tinggi tangan sebelahku yang memegang shuttlecock, sementara tangan kanannya memegang punggung tangan kananku yang bersiap memukul shuttlecock dengan raket.


“Satu …, dua …, tiga!”


Shuttlecock pun melambung melewati net satu setengah meter itu. Sepasang mata hazel Adrian fokus memperhatikan gerakan shuttlecock sampai jatuh ke lapangan seberang. Aku tersenyum sendiri melihat ekspresi seriusnya untuk hal sesepele ini.


“Nah, akhirnya. Bisa, kan, service,” lanjutnya bangga.


“Ya iyalah bisa. Pemain tunggal putri SMA masa nggak bisa service.” timpalku.


“Really? You lied to me? " Adrian seakan hampir menerkamku dengan kemarahannya.


^^^"Beneran? Kamu bohongin aku?"^^^


“Sengaja. Biar bisa nempel sama kamu,” celetukku berlanjut dengan tawaan.


Aku terlalu senang tertawa sampai tak sadar tangan ini menyentuh sesuatu yang mengganjal di bawah perutnya. Di saat yang sama, suara aneh keluar dari mulut Adrian. Sedangkan aku terdiam sebentar mencerna apa yang baru saja terjadi. Kebiasaan wanita kalau sedang tertawa pasti memukul orang di dekatnya, itu normal, kan? Tapi jadi lain ceritanya kalau salah target pukul.


"Yang barusan itu sengaja juga?" Suara bariton itu keluar dari bibir seksinya.


"Sorry, aku nggak sengaja."


"Bohong. Kamu sengaja ngundang aku, kan? Wahh, Aleesa mulai berani, ya?"

__ADS_1


"Ngundang apa sih?" kilahku cepat-cepat pergi meninggalkan pria itu. Meninggalkan lapangan basket yang bertransformasi menjadi lapangan badminton.


Di dalam rumah, selama beberapa saat aku mengatur napas dan pikiran tak senonohku, baru kemudian duduk di kursi ruang makan. Dalam kondisi yang kacau itu, Mba Puput datang menuangkan minuman ke dalam gelas di depanku. Tapi otakku tak bisa husnudzon dengan isi minuman itu, bahkan sampai sarapan berakhir, aku tak meminumnya karena kalut dengan ketakutan dalam pikiranku sendiri.


Jika benar yang dituduhkan Mba Rina pagi itu, bahwa obat yang diresepkan Dokter Rani ditukar oleh Mba Puput, maka aku tak akan bisa tenang. Tapi tiga hari lagi Agatha dan Pak Erwin akan pulang dari liburannya, kuharap Mba Puput nggak akan melakukan sesuatu yang gila lagi saat ada Agatha di dekatku.


Aku segera bangkit setelah menghabiskan sarapan untuk pertemuan kantor via video conference. Begitu juga dengan Adrian, karena tak ada Pak Erwin, jadi otomatis ia sendiri yang harus turun tangan mengatasi pekerjaan. Dalam pertemuanku dengan inti pembahasan tentang agenda bulan depan Alhamdulillah berjalan lancar meski memakan cukup banyak waktu, dari pukul sembilan pagi sampai dengan satu siang.


Di ruang belajar perpustakaan basement itu, aku merentangkan kedua tangan setelah layar pc di depanku sudah seratus persen kumatikan.


“Cape, ya?” Adrian menghampiriku yang tengah melakukan gerakan peregangan.


“Enggak juga. Kamu udah selesai?” kataku balik bertanya.


“Udah sih, sisanya bisa dikerjain Erwin kalau udah pulang dari liburan. Anyways, kita makan siang, yuk!”


Aku berdiam sebentar, tak segera membalas ajakan itu. “Sebenernya, Mas. Aku … kepikiran untuk ambil S2.”


Akhirnya kukatakan! Hwaaa kira-kira gimana, ya, respon Adrian?


“Kalau menurut kamu gimana?” tanyaku lagi.


“Kenapa tiba-tiba kepikiran mau ambil S2? Udah punya rencana kampus tujuan? Terus kamu mau tinggal di mana? Kamu bukannya mau ngejauh dari aku, kan?”


Kepalaku yang tertunduk seketika terangkat mendengar tanggapannya. “Aku nggak ada niatan untuk ngejauh. Sebenarnya dulu targetku sebelum menikah harus punya gelar master. Tapi sekarang di posisi ini, aku jadi kepikiran untuk ambil S2. Itu pun kalau kamu izinin.”


“Kita bicarain lagi nanti.” Adrian menatap ke ruang hampa, matanya menghindar dari tatapanku.


Waktu bergulir dan Adrian sama sekali tak membahas hal itu lagi. Ia baru kembali membahasnya ketika aku hampir tertelan oleh rasa kantuk di pukul sebelas malam.


"Kampus tujuan kamu mana?" tanyanya sembari masuk ke dalam selimut.


"Aku sendiri belum tahu sih. Buatku mau kampus mana aja asal aku bisa dapatkan ilmunya."


"Kalau aku belum izinin kamu ambil master, apa kamu akan kecewa?" Aku membatu mendengar pertanyaan retoris yang sebenarnya tak ingin kudengar.


"Sudah seringkali aku diingatkan tentang ujian lima tahun awal pernikahan, bahkan ada yang selalu mengingatkanku juga akan jarak usia kita. Sebenarnya aku maunya kamu ambil master di Amerika atau Jerman. Tapi kalau kamu ambil master sekarang, kita terpaksa harus berpisah karena aku belum bisa ninggalin perusahaan di Indonesia. Kita akan menyia-nyiakan waktu dua tahun pernikahan kita. Kamu akan sibuk belajar, aku sibuk bekerja. Kehidupan kita sebagai sepasang suami-istri, juga akan terpotong." Kini ia menatapku lekat.


"Dalam dua tahun kamu akan jadi wanita dewasa, dan dalam dua tahun aku akan jadi pria tua yang hampir kepala empat. Lalu bagaimana dengan keturunan? Bagaimana jika salah satu dari kita bosan? Lalu siapa yang akan memperhatikanku ketika aku marah, stress, dan sesekali merajuk? Aku terlalu takut dengan kemungkinan yang bisa saja terjadi kedepannya."


Aku setengah bangkit meraih pelipis kiri Adrian dengan tanganku. "Sayang, aku yang minta maaf. Aku nggak mikirin kamu ketika ambil keputusan ini. Kamu benar kok. Emang belum saatnya aku ambil master."


Adrian menggenggam tanganku. "Aku juga minta maaf. Bukan maksudku mau menghalangi impian dan pendidikan kamu. Tapi sekarang kita bukan dua orang asing yang hidup masing-masing. Kita harus memikirkan satu sama lain. Semoga kamu ngerti."


"Kalau aku boleh jujur, selain alasan yang udah aku bilang ke kamu siang tadi, sebenarnya pikiranku nggak tenang akhir-akhir ini. Setiap kali aku sendirian, aku teringat dengan janin yang gugur karena kesalahanku. Aku nggak bisa berhenti menyalahkan diriku sendiri. Aku tahu aku juga nggak boleh meratapinya, tapi aku tetap seorang wanita yang telah kehilangan darah dagingku. Kupikir, dengan aku melanjutkan studi, aku nggak akan memikirkannya lagi." Air mataku terpantik setelah menuturkannya.


Adrian pun melunak, ia mengusap lembut rambutku mencoba menenangkan keadaan. Mungkin setelah mendengar alasanku ia akan berubah pikiran dan memutuskan untuk menuruti permintaanku. Tapi jika sampai akhirnya ia tak menyetujui, mungkin memang saat ini belum datang kesempatan itu untukku. Memiliki seorang suami yang bisa berlaku dewasa dan memikirkan yang terbaik untuk istrinya adalah satu dari banyak kenikmatan yang Tuhan kirim. Ego-ku masih terlalu tinggi untuk menghadapi realita kehidupan rumah tangga.


Sejak hari di mana Adrian mengucapkan akad di depan Ayah dan kerabat saudara, saat itu pula aku percaya bahwa aku bisa bergantung kepada Adrian. Saat itu pula aku merasa aku tak pernah salah memilih jalan itu. Faktanya hingga kini, ketika Adrian serius membuat keputusan, memang itu adalah keputusan terbaik. Aku tak sanggup behenti mengagumi pria yang meluluhkan hatiku itu. Sempurna adalah gambaran tepat untuk mendeskripsikan Adrian Al-Faruq.


"Mungkin aku juga terlalu egois karena mengekang kebebasan kamu sejak kita menikah. Sejujurnya aku cuma takut kehilangan Aleesa-ku satu-satunya. Tapi, ayo kita pertimbangkan sekali lagi permintaan kamu itu. Aku yakin kita berdua akan menemukan keputusan terbaiknya bersama. Aku juga nggak mau kalau kamu sampai harus merasa kalah." Suara tuturan itu menenangkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...Jangan lupa untuk Like, Komentar, dan Vote cerita ini yaa, sebagai dukungan kepada Author. Terimakasih banyak semuaaa...


__ADS_2