
Ting!
Suara pintu terbuka, lantas menarik perhatianku. Kukira Khadija yang datang, rupanya orang lain. Ketika aku menunduk fokus bermain game di ponsel, seseorang mendekati mejaku.
“Kamu...,” Pria yang tadi kulihat membantu driver taksi itu berdiri di dekat mejaku.
“Loh? Pak? Anda...,” Aku mencoba mengingat wajah yang nampak familiar itu.
“Iya, aku anak bungsu Ummi, maksudnya..., Ibu yang kamu tolong waktu di stasiun itu,” ucapnya antusias memperkenalkan diri.
“Ah, iya. Kita pernah bertemu sebelumnya,” balasku kikuk.
“Kebetulan sekali bisa bertemu di sini. Oh, ya. Apa..., orang tua kamu ada di rumah akhir pekan?”
“Hah? oh, A- ada, Pak.”
“Boleh aku datang ke rumah?”
“B- boleh? Silakan.”
“Kalau begitu aku akan datang dalam waktu dekat. Aku duluan, ya, assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam warahmatullah,” jawabku gamang.
Pria itu aneh, tapi dia baik sampai rela mengotori kemejanya demi menolong driver taksi tadi. Tapi tetap saja aneh karena ia mengingatku setelah kejadian di stasiun waktu itu. Kalau diingat lagi, waktu itu aku tak suka pada sikapnya yang seolah bisa mengganti apa pun dengan uang. Entahlah, itu hanya insiden beberapa bulan yang lalu.
Setelah menunggu lebih lama\, akhirnya Khadija datang. Kami pun menghabiskan waktu dengan bercerita seputar kegiatanku selama tinggal di rumah tanpa kesibukan kampus yang mulai kurindukan lagi\, juga cerita tentang *interview-*ku hari ini.
Seminggu berlalu, ketika aku tengah mempersiapkan diri untuk interview terakhi, suara ponselku yang berdering menghentikan aktivitasku kala itu. Rupanya panggilan suara itu dari nyonya besar Al-Faruq. Kebetulan juga sudah cukup lama aku tak memberi kabar pada wanita yang kutemui di stasiun itu.
[Voice Call]
Ny. Al-Faruq : Assalamu’alaikum …, Hanna apa kabar?
Hanna : Waalaikumsalam warahmatullah, alhamdulillah baik, Ummi.
Ny. Al-Faruq : Sudah lama loh, kamu enggak telepon Ummi. Kabar keluarga di rumah gimana?
Hanna : Alhamdulillah semua baik, akhir-akhir ini Hanna sedang mempersiapkan interview kerja.
Ny. Al-Faruq : Oh, kamu melamar kerja di mana?
Hanna : Ada perusahaan penerbit yang menawarkan lowongan kerja untuk fresh graduate, karena Hanna tertarik, jadi Hanna coba melamar di situ
Ny. Al-Faruq : Wahh mashaa Allah, semoga sukses, ya
__ADS_1
Hanna : Aamiin, mohon doanya, Ummi.
Ny. Al-Faruq : Iya, pasti. Oh, ya, Hann, orangtua kamu … ada di rumah?
Hanna : Ada, Ummi. Kebetulan juga kakak ada di sini beberapa hari ini, jadi agak ramai di rumah
Ny. Al-Faruq : Oh … begitu, iya, Inshaa Allah, kami punya niatan baik datang ke rumah Hanna akhir pekan ini. Ya ... silaturrahmi sama keluarga Hanna, begitulah. Boleh, kan
Hanna : Oh. Boleh Ummi … inshaa Allah Ayah dan Bunda Hanna juga senang menyambut kedatangan Ummi ke rumah kami
Ny. Al-Faruq : Alhamdulillah … nanti sebelum Ummi datang, Ummi kasih kabar lagi, ya?
Hanna : Iya Ummi
Ny. Al-Faruq : Kalau begitu sampaikan salam Ummi untuk keluarga di rumah, ya … Assalamu’alaikum
Hanna : Wa, wa’alaikumsalam warahmatullah
*****
Makan malam seperti biasa yang kami lalui penuh kehangatan bersama Ayah, Bunda, Kakak, Kak Ali, dan si bungsu Harun, kini kurasakan kembali. Hingga selesai makan malam, aku merasa ada hal mengganjal yang harusnya aku ungkapkan sejak awal. Ataukah hanya aku yang terlalu perasa, hingga hal sepele saja menjadi sesuatu yang besar untukku.
“Yah, Bun … itu … ingat yang Hanna cerita in soal Nyonya di kereta?” tanyaku.
"Oh, Nyonya besar Al-Faruq? Ada apa emangnya?”
“Wah, bagus dong … jadi makin banyak kerabat, silaturrahmi juga makin luas jadinya,” timpal Ayah.
“Iya sih … tapi, kenapa Hanna berat ya, mau kasih tahu soal itu?”
“Jangan terlalu dipikirkan, Bunda tahu … kamu itu, kan tipe orang yang menghormati tamu. Nggak apa-apa, tenang aja … kan ada Kak Zahra sama Harun yang bisa bantu masak makanan terbaik untuk menyambut tamu kamu,” ujar Bunda seraya menepuk bahuku pelan.
“Iya Bun …” aku menggaruk-garuk kepalaku salah tingkah.
Benar juga sih, memangnya aku harus khawatir soal apa? Dasar Hanna aneh.
Setelah kupikir-pikir lagi, sepertinya benar aku hanya terlalu takut dan cemas karena akan menyambut tamu seorang nyonya besar dari latar belakang 'wahh'. Lebih lagi beliau tampak sangat agamis, sudah pasti itu juga membuatku semakin grogi. Tapi seiring waktu berjalan, kecemasan itu pun terkikis perlahan. Keseharian di rumah Ayah-Bunda kembali berlanjut tanpa kekhawatiran seperti sebelumnya.
Meski tak merasa cemas atau gugup lagi, tapi aku memanfaatkan sisa waktu sampai akhir pekan tiba, dengan memperdalam kemampuan memasakku. Mulai dari memasak menu makan malam, hingga pencuci mulut dan camilan berupa kue kering. Dalam lubuk hati ini juga sesekali bertanya-tanya, kapan Ummi akan memberikan kabar terbaru tentang kedatangannya. Sampai-sampai, ketika Garrin menghubungiku, aku sempat menyangka itu ad alah telepon dari Ummi.
[Voice Call]
Hanna: Halo Assalamu’alaikum
Ny. Al-Faruq: Wa’alaikumsalam, Hanna lagi di mana?
__ADS_1
Hanna: Di rumah, Ummi
Ny. Al-Faruq: Oh, di rumah, ya … ini Ummi cuma mau kasih kabar kalau besok ba’da isya’ Inshaa Allah Ummi ke situ
Hanna: Iya, Ummi, nanti Hanna kasih tahu ke Ayah sama Bunda
Ny. Al-Faruq: Oh ya, Hann. Tolong jangan repot-repot, ya. Ummi jadi nggak enak kalau mau silaturrahmi ke sana, tapi malah jadi keluarga kamu yang kerepotan
Hanna: Nggak repot, Ummi. Semuanya senang waktu dengar Ummi mau ke sini
Ny. Al-Faruq: Ya, pokoknya jangan sampai kedatangan Ummi ke rumah kamu jadi beban. Nggak usah mempersiapkan segala macam, biasa saja
Hanna: Iya Ummi. Eh, tapi kalau mungkin Ummi ingin makan sesuatu, Ummi bisa request ke Hanna loh, nanti Hanna bikinkan khusus untuk Ummi
Ny. Al-Faruq: Ummi suka rendang sih. Eh, tapi nggak perlu repot-repot bikin rendang kok, Hann
Hanna : Yah, udah terlanjur Hanna catat nih. POkonya nanti Hanna akan bikinkan rendang spesial untuk Ummi, hehehehe
“Siapa Hann?” tanya Bunda yang baru muncul dari balik pintu.
“Nyonya Al-Faruq,” bisikku lirih.
[Voice Call]
Ny. Al-Faruq: Kayak ada suara, siapa Hann?
Hanna: Bundanya Hanna, Ummi.
Ny. Al-Faruq: Wah kebetulan. Ummi boleh ngobrol sebentar sama Bundanya Hanna?
Hanna: Oh iya, boleh Ummi, sebentar
Aku lantas memberikan ponselku kepada Bunda. “Bun, Nyonya Al-Faruq mau bicara sama Bunda,” kataku.
Setelah menerima ponsel itu, Bunda dan Ummi terlibat dalam perbincagan panjang dengan sesekali diiringi tawa. Karena lama menunggu, akhirnya aku meninggalkan ponsel itu di tangan Bunda, membiarkannya sementara aku Kembali ke kamar.
Setelah panggilan singkat itu, seolah matahari cerah menemani setiap langkahku. Tiada hal lain selain senyum yang terukir dalam wajah ini. Aku terlalu kaku hingga tak tahu harus berekspresi bagaimana untuk menyikapinya.
“Dari mana, Hann?” tanya Kak Zahra melihatku menaiki tangga dengan langkah cepat ke kamar.
“Dari depan mau ke kamar,” jawabku singkat.
“Tumben banget jam segini keluar kamar, biasanya diem nggak mau diganggu,” cetusnya.
“Iya nih, ini mau masuk ke kamar lagi.” Aku hanya mengukirkan senyum mendengar suara Kak Zahra keheranan.
__ADS_1
“Pasti ada apa-apa nih …”
“Hemm, ada apa ya kira-kira?” Aku berjalan cepat masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam.