Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)

Tiba-Tiba Menikah (Suddenly Married!)
Tanpa Tetangga Baik


__ADS_3

"Hari ini kita bersih-bersih mana lagi?" Mas Adrian yang baru keluar dari kamar mandi seraya menyeka air yang mengalir di tubuhnya, menghampiri tempatku duduk.


"Udah selesai Mas, tinggal nata barang-barang kita sama jalan ke rumah-rumah tetangga. Terus nanti malam belanja buat keperluan kamu, baru besok kita ke kampus."


Mas Adrian menunduk lesu. "Sampai sekarang pun aku nggak bisa berhenti ngerasa bersalah karena kondisi kita berdua saat ini."


"Masih aja ngerasa bersalah? Padahal buatku ini semua udah cukup. Selama kamu nggak ninggalin aku sendirian."


"Mana mungkin aku ninggalin kamu sendirian." Akhirnya Mas Adrian menunjukkan sekilas senyumnya.


"Aku udah janji sama Ayah kamu untuk jagain kamu, bikin kamu bahagia, dan kasih yang terbaik untuk putri kesayangannya ini."


"Dan kamu udah lakuin yang terbaik sampai sejauh ini."


"Padahal aku udah lebih dari dewasa. Tapi masih aj-"


"Lagi-lagi itu. Memangnya kenapa kalau kamu udah lebih dari dewasa? Bukan berarti kamu harus jadi sosok yang sempurna, kan? Aku nggak mau dengar kamu menyalahkan diri sendiri terus, karena buatku kamu nggak melakukan kesalahan apa pun."


"Tapi aku ngerasa belum bisa ...."


"Yang kita lakukan ini adalah pertama kalinya. Kita masih belajar untuk bisa saling mengerti, saling menghargai, saling memaklumi satu sama lain."


Aku menatapnya serius beberapa saat. "Kamu tahu nggak? Aku bahkan masih ngerasa belum ngerti kamu yang sebenarnya. Rasanya masih ada beberapa hal yang kamu tutupi dari aku. Aku pun belum menunjukkan aku yang sebenarnya selama ini. Jadi tolong, jangan ada pura-pura lagi di antara kita, ya?"


Mas Adrian tampak sedikit terkejut. Ia terlihat seperti tak percaya dengan apa yang kuucapkan barusan. Bahkan jakunnya yang naik turun semakin meyakinkanku kalau dia mulai berpikir tentang apa yang kuucapkan.


"Makasih udah ingetin aku. Aku keluar sebentar, ya?"


"Eh! Mau ke mana?"


"Ke depan sebentar."


Aku menganggukkan kepala, membiarkannya pergi. Mungkin Mas Adrian mencoba mengerti apa yang sedang kami bicarakan. Setelah tiga bulan menikah, sejak peristiwa yang melibatkan Garin Wijaya itu, belum ada satu permasalahan yang muncul. Aku berharap tak kan ada yang berubah setelah ini. Meski masih ada sedikit rasa canggung, tapi aku ingin hubungan kami bisa lebih baik lagi ke depannya.

__ADS_1


Berada di rumah kecil ini, juga pasti membutuhkan adaptasi untuk Mas Adrian. Bagaimana pun juga aku harus mengerti akan hal itu.


Ting! Suara notifikasi ponsel mengalihkan perhatianku. Aku segera melihat layar ponsel berisi email singkat dari surel perusahaan. Aku baru akan memberitahu Mas Adrian, tapi segera kuurungkan mengingat ia masih beradaptasi. Dia sedang berusaha menyamankan diri di lingkungan baru. Mungkin nanti baru aku bicara dengannya.


*****


Sekira pukul satu siang, Mas Adrian telah kembali dari mushola. Makan siang sederhana pun telah siap di atas meja makan. Bagiku ini bukanlah hal yang berat karena semasa kuliah pun hal-hal seperti ini sudah biasa kulakukan. Justru dengan begini, aku merasa lebih leluasa dalam melakukan segala hal. Rasanya ini seperti rumah kami yang sebenarnya.


"Makan siangnya udah siap, Mas." Sambutku ketika melihatnya datang.


"I, ini pertama kalinya aku lihat kamu nggak pakai hijab di luar kamar," ujarnya tak berkedip.


"Ya, kan, di sini kita cuma berdua. Kalau dulu, kan ada Mba Puput, Mba Rani, nggak enak aja gitu."


Mas Adrian masih tak berkedip memandangiku. "Udah ah, makan, yuk! Jangan berdiri di situ terus."


"Kok kamu masak banyak banget sih? Emang uang yang aku kasih cukup sampai akhir bulan?" Tanyanya mengamati tiap wadah berisi lauk pauk yang telah kusiapkan.


Aku menyentuh punggung tangannya pelan. "Masih cukup kok, Mas. Kamu juga perlu makan makanan dengan gizi yang cukup. Tenang aja, aku bisa atur keuangan kita kok."


Tindakan sederhana, percakapan sederhana, semuanya menjadi sesuatu yang istimewa hanya karena status kami bukan sebagai orang lain, tapi sepasang suami-istri yang sah di mata agama dan negara.


"Kamu kenapa senyum-senyum gitu?"


"Nggak apa-apa kok."


"Bener?"


"Iya. Lanjutin makannya, Mas."


Ting! Tong! Bell pintu rumah berbunyi hanya beberapa saat setelah kami menyelesaikan makan siang. Dengan cekatan, Mas Adrian berdiri serentak. Aku segera membereskan peralatan makan, membawanya ke tempat cuci kemudian naik ke kamar untuk mengambil hijabku. Segera setelahnya, aku kembali turun menyusul Mas Adrian yang menyambut tamu kami.


“Bu Rahmi.” Aku bergegas menyambutnya dengan senyum lebarku.

__ADS_1


“Mashaa Allah … makin cantik aja Hanna,” pujinya melihat dari atas sampai ke bawah, penampilanku yang berubah sejak terakhir kali tinggal di sini.


“Ah, Bu Mi bisa aja. Silakan duduk, Bu.”


“Sudah berapa bulan nggak ke sini? Sampai pagling lihat Hanna udah ada gandengannya. Maaf, ya … waktu itu anak saya sakit, jadi ndak bisa datang ke acara kalian.”


“Nggak apa-apa, Bu Mi … yang penting doanya sampai. Oh iya, kenalkan ini Mas Adrian, Bu Mi.”


“Bu Mi sehat-sehat aja? Dari kemarin Aleesa ngeluh terus sama saya katanya khwatir Bu Mi kenapa-napa soalnya lihat rumahnya kok tutup terus?”


“Makasih loh sudah khawatir, tapi itu … sebenarnya, kami sekeluarga mau pindahan.”


Aku yang baru datang kembali dari dapur dengan nampan berisi minuman segera duduk dan menyajikannya ke atas meja. “Pindahan? Pindahan ke mana, Bu Mi?” Spontan aku menjejal pernyataannya dengan pertanyaan.


“Ke Surabaya. Soalnya anak saya yang sulung, kan di sana. Jadi kita memutuskan pindah ke sana dan menempati rumah lama kami. Seminggu lalu, barang-barang sudah dibawa ke sana semua. Rencananya siang ini mau berangkat ke Surabayanya.”


“Oh, gitu. Yaah … nggak bisa tetanggaan lagi, kita? Padahal saya belum sempat datang ke rumah Bu Mi untuk silaturrahmi, sekarang malah Bu Mi yang datang ke sini untuk pamitan.” Kataku lesu. Sepertinya Mas Adrian pun menyadari perubahan ekspresiku, ia sampai menggenggam tanganku.


“Iya, saya juga baru mengenal Bu Mi dari cerita Aleesa saja. Tahu-tahu Bu Mi sudah mau pindah,” tambah Mas Adrian menanggapi.


“Ndak apa-apalah … nanti kapan-kapan kalian berdua main lah ke Surabaya, ya? Saya kasih alamat rumah saya di sana. Yang penting tetap komunikasi dan silaturrahmi dijaga. Jarang bertemu juga ndak apa-apa,” lipurnya dengan aksen khas Jawa timurnya.


“Sebagai suaminya Aleesa, saya berutang banyak terimakasih kepada Bu Mi yang sudah menjaga istri saya selama tinggal di sini. Makasih banyak, ya, Bu.” Mas Adrian menarik tanganku ke atas pangkuannya, menatapku dalam sejenak.


“Hanna itu dari dulu juga baik anaknya. Jadi wajar kalau tetangga kompleks banyak yang suka sama Hanna. Nggak cuma saya kok yang sering bantu-bantu Hanna, semua juga pasti bantuin apa aja kalau Hanna butuh bantuan,” jelasnya.


“Sambil diminum, Bu, tehnya.” Mas Adrian menyilakan Bu Rahmi.


“Terimakasih. Jujur saja dulu … saya sempat berpikiran mau kenalin Hanna sama adik bungsu saya, tapi ternyata saya kalah cepat sama Nak Adrian. Hahaha ….”


“Mashaa Allah, mendengar cerita Bu Rahmi jadi bikin saya bersyukur nggak salah ambil langkah."


"Iya, selamat, ya, Nak Adrian."

__ADS_1


"Sekarang ini untuk menemukan wanita sebaik Aleesa susah sekali loh, Bu. Saya merasa sangat beruntung bisa mendapatkannya.” Refleks aku memukul pelan bahu Mas Adrian karena tersipu mendengar perkataannya yang diikuti dengan senyuman manis itu.


__ADS_2