
Pikiranku tak tenang mengingat Ummi berlaku demikian terhadapku. Tidak mungkin wanita yang begitu lembut dan penyabar seperti Ummi, tiba-tiba berubah dalam sekejap. Aku hampir melupakan fakta bahwa aku benar mengidap PCOS, karena tanggapan Ummi lebih menyakitkan dari fakta pemeriksaan medisku.
Sore tadi, Adrian bersama Erwin pergi ke kediaman Al-Faruq. Adrian memintaku menunggunya di rumah, sementara ia mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan perubahan sikap Ummi. Di rumah ini, aku duduk di kursi yang mengarah ke kolam renang di beranda samping rumah. Air yang bergerak-gerak memantulkan cahaya lampu taman sampai ke dinding-dinding kaca menjadi pemandangan wajar.
Agata juga Mba Rina hanya terdiam menemaniku di sana. Mereka telah memintaku kembali ke kamar, tapi aku terus menolak karena sesampainya di dalam kamar pun, aku hanya akan merenungkan ingatan kejadian pagi tadi. Kalau terus-terusan begini, sepertinya aku memang perlu mengambil master dan perlahan melupakan segalanya. Jika terus-terusan seperti ini, mungkin saja aku akan gila.
"Nyonya, Nyonya.., Nyonya, sepertinya Tuan sudah datang." Mba Rina memanggilku pelan. Aku segera bangkit dari dudukku, berjalan ke arah pintu masuk.
"Assalamualaikum,"
"Wa'alaikumsalam warahmatullah, gimana, Sayang?"
"Ummi masih nggak mau bicara. Beliau juga memintaku dan Erwin agar segera kembali ke rumah ini, karena percuma saja jika kita ingin meminta Ummi buka suara."
"Tapi kamu nggak perlu pikirkan ucapan beliau pagi tadi, aku yakin Ummi hanya sedang dalam emosi yang tidak baik. Kamu tahu sendiri kan Ummi itu orang yang lembut."
Aku tak menjawab, sekali pun aku mengeluarkan isi dari kepalaku, tak akan menutup fakta bahwa sebelum hari ini Ummi memang sosok lembut, berkharisma, dan pemaaf.
*****
Keras aku mencoba melupakan hal yang terus berputar-putar dalam kepala ini. Lalu, Adrian memberiku pekerjaan baru agar aku tetap ada di rumah, tapi pikiranku sesekali masih belum berhenti memikirkan kejadian kemarin.
Di perpustakaan basement rumah ini, aku duduk di kursi, menghadap meja yang menyuguhkanku pada dokumen keuangan dan layar monitor dengan isi yang sama. Sebagai istri, ini adalah salah satu hal yang sudah sepantasnya bisa kutangani. Memang cukup berat, karena biasanya aku hanya tahu uang dengan nominal enam atau tujuh angka nol, saat ini aku dihadapkan pada pembagian uang dengan dua belas digit angka nol di belakangnya.
"Nyonya, ada panggilan masuk di ponsel anda." Agatha yang duduk di kursi kosong beberapa meter dari tempatku itu, menatap ke arah ponsel yang kuabaikan.
[Voice Call]
Garrin Wijaya : Assalamu'alaikuam
Hanna Aleesa :Waalaikumsalam warahmatullah
Garrin Wijaya : Nyonya Al-Faruq lagi ngapain?
Hanna Aleesa : Lagi kerja
Garrin Wijaya : Kerja apaan? Masa Nyonya Al-Faruq dibolehin kerja sama Pak Adrian?
Hanna Aleesa : Boleh dong, lo mana tahu. Ada apa tiba-tiba telepon gue? Udah mau nikah juga, masih aja telepon gue
Garrin Wijaya : Lo sendirian? Atau ada siapa di situ?
Garrin memelankan suaranya, aku spontan melirik Agatha yang juga menatapku sembari menurunkan buku di tangannya. Perlahan aku melipir pergi dari basement.
Hanna Aleesa : Becanda, ya? Mana mungkin hahaha ...
Garrin Wijaya : Bisa gue tebak, lo akting sambil melipir pergi
Hanna Aleesa : Astaghfirullah, hahaha, bener banget. Kok tahu sih? Wah, gila, konyol banget, kan?
Garrin Wijaya : Sangat konyol. Udah belum sih aktingnya?
Hanna Aleesa : Hahaha, belumlah. Jauh tau.., apalagi kalau lari, ya ampun, nggak kebayang capenya, hahaha.
Garrin Wijaya : Buruan dong, gue juga masih ada kerjaan tau
Hanna Aleesa : Masa sih? Hahaha, ya Allah. Gue nggak tahu loh soal itu. Baru tahu sekarang haha ..., kudet banget, ya.
Garrin Wijaya : Buruan woi
Hanna Aleesa : Gue udah sendiri. Mau ngomong apa?
__ADS_1
Garrin Wijaya : Seperti yang lo tahu, besok gue nikah. Tapi ada sesuatu yang gue rasa harus gue tuntaskan antara kita
Hanna Aleesa : Antara kita?
Garrin Wijaya : Gini deh, lo dengar apa kata gue. Apapun itu, lo nggak boleh gegabah sampai waktunya tiba, okay?
Hanna Aleesa : Okay
Garrin Wijaya : Lo tahu Adrian pernah dekat sama cewek namanya Karinda? Itu kejadian sekitar tujuh tahun lalu.
Hanna Aleesa : Iya tahu, Adrian pernah cerita kok.
Garrin Wijaya : Lo tahu wajah Karinda?
Hanna Aleesa : Nggak tahulah, lagian itu kejadian udah lama.
Garrin Wijaya : Well, sekarang, lo tahu siapa nama lengkap Khadija?
Hanna Aleesa : Khadija Amarini Nasyuf
Garrin Wijaya : Atau Karinda Amarini Nasyuf? Lo nggak tahu kalau Khadija itu bukan nama aslinya?
Hanna Aleesa : Hah?!
Garrin Wijaya : Gue tahu ini sulit buat lo mengerti. Gue akan jelaskan detilnya setelah acara pernikahan gue nanti. Kalaupun lo nggak percaya sama gue untuk sekarang, gue bisa ngerti
Garrin Wijaya : Malam ini, Adrian akan pergi keluar sama asistennya untuk menjauhkan Khadija dari lo, gue nggak tahu spesifik rencana yang disiapkan Adrian, tapi sebisa mungkin lo harus cegah Adrian keluar malam ini
Hanna Aleesa : Ya ....
Garrin Wijaya : Sorry, ya, gue harus pergi sekarang, jangan lupa besok datang ke nikahan gue
Aku duduk di pinggir ranjang, terlalu tak mungkin aku bisa percaya dengan Garrin secepat ini. Bahkan Adrian dan Pak Erwin belum pulang dari pekerjaannya, dan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Belum selesai dengan masalah Ummi, kini Garrin menambahku semakin terpikirkan pada tudingan yang belum terbukti itu.
Kalaupun Khadija adalah Karinda, mana mungkin Adrian tak mengenalinya setelah bertemu beberapa kali? Atau justru ia memang merahasiakannya? Khadija juga tak pernah bilang kalau nama Khadija bukan nama aslinya. Aah.., siapa di dunia ini yang bisa kupercaya!
Kuambil kembali ponselku, kucari daftar nama mahasiswa di fakultas Khadija. Kucari-cari, satu nama Khadija Amarini Nasyuf dari puluhan nama di sana. Dan memang tak ada mahasiswa bernama Khadija Amarini Nasyuf. Yang ada adalah Karinda Amarini Nasyuf. Bagaimana aku bisa tak menyadarinya?
"Aleesa di mana?" Suara Adrian bertanya kepada Agatha, terdengar dari pintu kamar ini yang terbuka.
Cepat-cepat aku melepas pakaian dan berlari ke kamar mandi. Jika yang dikatakan Garrin tadi memang benar, aku tak boleh membiarkannya pergi tanpa alasan yang jelas. Dan ini adalah satu-satunya cara yang paling ampuh yang bisa kulakukan.
Click! Suara pintu kamar ditutup pelan.
"Assalamualaikum.., Sayang? Sayang? Aleesa?" Panggilnya beberapa kali.
Sengaja aku tak membalas panggilan itu, aku merendam tubuh di dalam bathtub yang belum sepenuhnya terisi air. Setelah melihat pakaianku tergeletak di lantai, harusnya ia mencariku ke sampai ke kamar mandi, kan?
Click! Pintu kamar mandi terbuka. Menampilkan pria itu berdiri di sana masih dengan pakaian rapihnya, melihatku seperti harimau kelaparan.
"Udah pulang? Mau mandi?" tanyaku sembari memainkan busa. Meski gugup setengah mati, tapi aku mencoba tak menunjukkannya.
Adrian serentak berbalik badan karena terkejut melihat respon ku yang sangat datar. "Aku mandi di bawah aja. Kamu kenapa dipanggil-panggil nggak jawab sih?" tanyanya kubalas dengan kediaman.
"Kenapa? Ada masalah lagi?" tanyanya lembut, tapi masih tak berani menghadapku langsung.
"Kamu nggak mau ke sini?" kataku balik bertanya. Kali ini aku benar-benar grogi mengatakannya.
"Kamu mau ngundang aku?" Adrian masih tak beranjak dari tempatnya berdiri seraya menunduk.
"Aku nggak tahu gimana harus ngomongnya. Tapi kukira kamu akan langsung mengerti maksudku setelah melihatku menyambut kedatanganmu seperti ini."
__ADS_1
"Jadi gitu..."
Adrian melepas pakaiannya, kemudian masuk sambil menutup pintu kamar mandi. Tak bisa kututupi lagi, jantung ini semakin berdebar kencang setiap saat Adrian berjalan mendekat. Rasanya hampir saja jantung ini meledak ketika pria itu akhirnya masuk ke dalam bathtub, dan duduk di belakangku. Napasnya berembus tak beraturan, menyapa punggungku terasa panas.
"Ada apa sampai Aleesa tiba-tiba berbuat sejauh ini, huh?" bisiknya lirih.
"Tidak salah, kan, kalau istri ingin bermain dengan suaminya?"
"Bermain? Maksudnya seperti ini?"
Akhh! Sentuhan itu memunculkan kupu-kupu beterbangan dalam perutku. Ditambah napasnya yang menyapa kulitku, lalu bibirnya yang dengan sensual membuat banyak tanda di punggung dan leherku. Atmosfer semakin panas dari setiap sentuh yang kurasakan.
"Mungkin sebaiknya kita selesaikan mandi dulu. Aku terlalu cape hari ini."
Tunggu! Apa? Adrian tiba-tiba berdiri, berjalan mengambil shower gel, mengakhiri permainan yang baru saja dimulainya.
Mau tak mau, aku pun segera menyelesaikan mandiku. Aku kesal melihatnya keluar dari kamar mandi lebih dulu, tak tampak wajah lelah di sana, tapi dia bilang sedang cape hari ini. Lalu kenapa dia terburu? Benarkah yang dikatakan Garrin?
Masih dalam balutan selembar handuk, aku berdiri memperhatikan pria itu keluar dari walk-in closet. "Kamu mau keluar lagi?" tanyaku tak bersemangat.
"Iya. Aku dan Erwin harus bertemu dengan seorang klien."
"Di tengah malam seperti ini?" tanyaku lagi.
Adrian memegang kedua bahuku. "Sebentar doang. Soalnya susah atur jadwal sama klien yang ini."
"Oh." Aku melepaskan diri dari kedua tangannya di bahuku, berjalan ke walk-in closet. Tanpa mengatakan apa-apa, aku memilih pakaian sopan dan rapih untuk ikut pergi bersama dengan Adrian. Setelah memakai pakaian rapih dan bersiap pergi, aku berjalan keluar dari walk-in closet, membuat pria itu tak bisa menutupi keterkejutannya.
"Tunggu, tunggu. Kamu mau kemana?" tanyanya bingung.
"Kemana lagi? Ikut kamu dong," balasku ringan.
"Sayang.., aku mau ketemu klien loh."
"So? Aku nggak bisa ikut? Aku bisa kok tinggal di mobil tanpa keluar, aku mau nunggu kamu sampai selesai."
Adrian menundukkan badan, menyejajarkan tatapan mata kami berdua. "Sekarang udah malam. Kamu istirahat aja, okay?"
"Ini hari Jumat, dan besok Sabtu. Harusnya akhir pekan di rumah aja dong? Habiskan waktu sama istri. Kamu malah mau pergi, gimana sih?"
"Ini, kan urusan bisnis, Sayang..."
"Bisnis itu lebih penting daripada waktu sama istri? Bisnis apa sih sampai kamu rahasiain dari aku?" Aku mundur beberapa langkah dari hadapannya.
"Emang dari awal kamu nggak pernah bicara terus terang tentang semuanya, kan? Kamu nggak pernah mau jujur sama istri kamu sendiri, Adrian. Gimana aku bisa jujur sama kamu?" cecarku berlanjut dengan air mata yang tertumpah.
"Hey, hey. Maafin aku, Sayang. Iya emang aku belum bisa ngertiin kamu, aku salah."
Adrian memeluk tubuhku yang meringkuk di atas tempat tidur. Ia masih memelukku meski aku tak menjawab apapun perkataannya. Ia enggan melepas pelukan itu selagi aku masih menangis. Sampai saat sisa-sisa isakanku perlahan mereda, Adrian melonggarkan sedikit pelukannya. Salah satu tangannya beralih mengusap rambut teruraiku.
Notifikasi dari ponselnya mengalihkan perhatian kami berdua sesaat. Ia masih mengusap rambutku, tak segera mengambil ponselnya. "Dari siapa?" tanyaku lirih.
"Erwin. Sepertinya dia sudah menungguku di bawah," jawab Adrian berat.
Aku bangkit mengambil ponsel itu, mematikannya, kemudian menunggu sebentar seperti apa reaksinya. Adrian tak menunjukkan reaksi seperti marah, ia hanya diam melihat layar ponselnya yang mati kutaruh ke atas meja di sebelah ranjang. Adrian juga membiarkanku berpindah duduk ke atasnya.
"Nggak apa, kan, kalau malam ini kamu tetap tinggal?" tanyaku seraya memasukkan tangan di balik kemejanya.
"Sepertinya nggak ada alasan untuk menolaknya." Tangan Adrian dengan cepat meraih saklar lampu, mematikannya dan mengganti dengan lampu yang lebih redup.
"Ajari aku jadi istri yang baik yang sesuai dengan keinginan kamu, agar aku tak perlu takut akan ada wanita lain yang lebih kamu sukai daripada aku."
__ADS_1